Tampilkan postingan dengan label Microorganism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Microorganism. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2012

Hemat Biaya Pembuatan Pakan Itik dengan Limbah Agroindustri

Permasalahan yang dihadapi pada usaha produksi daging itik adalah biaya produksi yang cukup tinggi, kira-kira 50% lebih tinggi dibanding biaya produksi ayam potong. Penyebabnya adalah rasio konversi pakan yang tidak sebaik seperti pada ayam potong. Untuk mencapai bobot badan antara 1100-1200 g diperlukan waktu 10 minggu dengan konversi pakan 4,19-6,02. Pemanfaatan bahan pakan dari limbah agroindustri  dapat mengurangi biaya pakan

Di Indonesia bahan pakan lokal dari limbah agroindustri cukup melimpah namun masih jarang digunakan untuk  pakan itik. Limbah yang cukup besar potensinya sebagai bahan pakan diantaranya adalah onggok dan kulit ari biji kedelai (Kleci). Onggok adalah sisa pemerasan umbi ubi kayu untuk mendapatkan pati. Satu ton ubi kayu dapat menghasilkan 114 kg onggok. Kulit ari biji  kedelai adalah limbah dari pengupasan biji kedelai. Potensi kulit ari kedelai atau kleci sangat besar karena pada proses pembuatan tempe selalu dihasilkan limbah kulit ari biji kedelai. Sedangkan tempe dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Beberapa kendala dalam pemanfaatan limbah agroindustri sebagai ransum unggas adalah tingginya kandungan serat kasar serta adanya protein yang sulit dicerna. Salah satu cara untuk meningkatkan nilai nutrisi pakan adalah dengan melakukan fermentasi. Fermentasi ini bisa dilakukan secara sederhana dan mudah diadopsi oleh peternak.

Pemanfaatan bahan pakan dari limbah agroindustri dapat mengurangi biaya pakan. Untuk membuat pakan ternak tersebut, anda dapat mencoba teknologi berikut ini. Sebagai contoh adalah pembuatan ransum sebanyak 10 kg bahan. Jika ingin membuat lebih banyak  tinggal mengalikan sesuai kelipatan yang diinginkan. Bahan yang diperlukan adalah 1,5kg  Kleci, 1,5 kg  Onggok, 4kg Jagung dan 3 kg Menir Kedelai. Jadi perbandingannya 15% Kleci, 15% onggok, 40% jagung dan 30% menir kedelai. Aduklah bahan tersebut sampai merata kemudian lakukan proses fermentasi.

Ada dua cara fermentasi yaitu dengan Aspergillus niger atau dengan multi mikroba Untuk fermentasi dengan Aspergillus niger tempatkan 10 kg bahan ransum dalam ember besar dan tambahkan 8 liter air hangat. Aduk sampai rata dan biarkan beberapa menit. Setelah agak dingin tambahkan 100 gram ragi tempe (Aspergillus niger) dan 100 gram urea, aduk kembali hingga merata. Kemudian tutup ember dan biarkan selama 3 hari. Selanjutnya ransum sudah siap untuk diberikan pada itik.

Untuk fermentasi dengan Multi mikroba siapkan 8 liter air dalam ember, tambahkan 10 ml multi mikroba  dan aduk merata. Tambahkan 10 kg bahan ransum sambil diaduk. Kemudian masukkan dalam karung dan tutup rapat lalu dibiarkan selama 3 hari. Bahan yang telah difermentasi dalam jumlah banyak dapat disimpan sebagai pakan. Sebelum disimpan agar dijemur terlebih dahulu sampai kering supaya tidak  bau ataupun  ditumbuhi jamur.

Penggunaan pakan dari bahan limbah ini menunjukkan adanya kenaikan bobot yang lebih tinggi pada itik yang dipelihara. Sedangkan banyaknya pakan yang diperlukan menjadi berkurang. Berarti biaya pakan juga menjadi lebih murah. Kalau mau lebih murah, disarankan pembuatan pakannya dengan cara fermentasi multi mikroba.



Sumber : BPTP Yogyakarta

Jumat, 22 Juli 2011

PERTANIAN TERPADU DENGAN TEKNOLOGI EFFECTIVE MICROORGANISM (EM)

Pertanian terpadu merupakan suatu metode pertanian dimana lahan yang tersedia dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menghasilkan produk pertanian yang beragam dengan kualitas tinggi.


Metode ini biasanya dilakukan dengan cara konvensional, yaitu limbah komoditas pertanian tertentu didaur ulang secara maksimal sebagai sumber masukan energi untuk melakukan aktivitas pertanian lainnya.


Dalam prosesnya, masih banyak energi yang dimasukkan dari luar untuk menunjang terlaksananya seluruh aktivitas untuk menghasilkan produk pertanian, sehingga dapat disimpulkan masing-masing unit pertanian belum sepenuhnya terpadu.




Siklus dalam pertanian terpadu secara konvensional ada yang terputus, dimana pakan ternak masih berasal dari luar sistem dan limbah yang berasal dari ternak tidak termanfaatkan sebagai sumber energi untuk proses selanjutnya. Limbah organik tersebut banyak yang terbuang, mengalami proses pembusukan yang akhirnya menjadi pupuk organik.



Pada pertanian terpadu dengan menggunakan Teknologi EM, limbah organik yang berasal dari kotoran ternak dan sisa tanaman di fermentasi menjadi pupuk organik ( Bokashi ) dalam waktu singkat. Kotoran ayam dan kambing dapat difermentasi menjadi pakan ternak ( bokashi pakan ternak ) untuk makanan ayam, babi dan bebek Kotoran ayam masih mengandung protein 14 %, sedangkan kotoran kambing mengandung protein 12 % dan 80% serat kasar dari hijauan pakan ternak.



Dengan menggunakan Teknologi EM, masukan energi dari luar sistem pertanian dapat diperkecil atau ditiadakan sama sekali, karena melalui proses fermentasi kandungan nutrisi pakan ternak menjadi lebih tinggi.



Model pertanian terpadu dengan Teknologi EM ini sudah diterapkan di Pusdiklat Teknologi EM yang berlokasi di Kabupaten Buleleng, Bali.



Berdasarkan hasil percobaan, pemberian bokashi pakan ternak ( fermentasi bahan organik dari kotoran ayam dan kambing ) pada ayam petelur, biaya pakan ternak dapat ditekan 53.6 % dan meningkatkan keuntungan 47.6 % terhadap pemberian pakan ternak konvensional.



Pemberian bokashi pakan ternak pada babi dapat menekan biaya pakan sebesar 69.2 % dengan meningkatkan keuntungan 178.4 % terhadap pemberian pakan konvensional.



Penelitian terhadap kualitas telur ayam, tidak ditemukan perbedaan yang berarti pada kandungan protein dan vitamin A antara perlakuan bokashi pakan ternak dengan pakan ternak konvensional. Dan kandungan kolesterol lebih sedikit daripada perlakuan pakan ternak konvensional.



Air limbah pertanian digunakan untuk mengairi dan memupuk lahan pertanian lainnya. Dimana lahan pertanian tersebut ditanami berbagai jenis sayur, kelapa, pisang, cengkeh, rambutan, kopi dan padi. Hasil pengamatan menunjukkan tanaman – tanaman tersebut, yang tidak dipupuk bahan kimia mengalami peningkatan produksi. Produksi padi meningkat 60 % dibandingkan metode konvensional.



Di dalam kolam penampungan air limbah dibudidayakan eceng gondok yang berguna sebagai hijauan pakan ternak ayam dan babi.

Pertanian terpadu dengan Teknolgi EM dapat menjadi solusi di tengah sulitnya upaya petani menekan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan, yang selama ini sangat mengandalkan masukan energi dari luar seperti pakan ternak, obat-obatan, pestisida dan pupuk kimia.



Pertanian terpadu konvensional juga kurang memuaskan, karena begitu banyaknya energi yang terbuang dari proses pembusukan , berupa panas dan gas.



Teknologi EM dalam pertanian terpadu diharapkan juga dapat diterapkan di tengah-tengah masyarakat khususnya petani sehingga perbaikan ekonomi dan kondisi lingkungan bersih dan sehat dapat tercapai.



Sumber:

http://id.shvoong.com/exact-sciences/agronomy-agriculture/1971941-pertanian-terpadu-dengan-teknologi-effective/#ixzz1SpwrscFX





Logitech Keyboards