Tampilkan postingan dengan label Pakan Alternatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pakan Alternatif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2012

Hemat Biaya Pembuatan Pakan Itik dengan Limbah Agroindustri

Permasalahan yang dihadapi pada usaha produksi daging itik adalah biaya produksi yang cukup tinggi, kira-kira 50% lebih tinggi dibanding biaya produksi ayam potong. Penyebabnya adalah rasio konversi pakan yang tidak sebaik seperti pada ayam potong. Untuk mencapai bobot badan antara 1100-1200 g diperlukan waktu 10 minggu dengan konversi pakan 4,19-6,02. Pemanfaatan bahan pakan dari limbah agroindustri  dapat mengurangi biaya pakan

Di Indonesia bahan pakan lokal dari limbah agroindustri cukup melimpah namun masih jarang digunakan untuk  pakan itik. Limbah yang cukup besar potensinya sebagai bahan pakan diantaranya adalah onggok dan kulit ari biji kedelai (Kleci). Onggok adalah sisa pemerasan umbi ubi kayu untuk mendapatkan pati. Satu ton ubi kayu dapat menghasilkan 114 kg onggok. Kulit ari biji  kedelai adalah limbah dari pengupasan biji kedelai. Potensi kulit ari kedelai atau kleci sangat besar karena pada proses pembuatan tempe selalu dihasilkan limbah kulit ari biji kedelai. Sedangkan tempe dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Beberapa kendala dalam pemanfaatan limbah agroindustri sebagai ransum unggas adalah tingginya kandungan serat kasar serta adanya protein yang sulit dicerna. Salah satu cara untuk meningkatkan nilai nutrisi pakan adalah dengan melakukan fermentasi. Fermentasi ini bisa dilakukan secara sederhana dan mudah diadopsi oleh peternak.

Pemanfaatan bahan pakan dari limbah agroindustri dapat mengurangi biaya pakan. Untuk membuat pakan ternak tersebut, anda dapat mencoba teknologi berikut ini. Sebagai contoh adalah pembuatan ransum sebanyak 10 kg bahan. Jika ingin membuat lebih banyak  tinggal mengalikan sesuai kelipatan yang diinginkan. Bahan yang diperlukan adalah 1,5kg  Kleci, 1,5 kg  Onggok, 4kg Jagung dan 3 kg Menir Kedelai. Jadi perbandingannya 15% Kleci, 15% onggok, 40% jagung dan 30% menir kedelai. Aduklah bahan tersebut sampai merata kemudian lakukan proses fermentasi.

Ada dua cara fermentasi yaitu dengan Aspergillus niger atau dengan multi mikroba Untuk fermentasi dengan Aspergillus niger tempatkan 10 kg bahan ransum dalam ember besar dan tambahkan 8 liter air hangat. Aduk sampai rata dan biarkan beberapa menit. Setelah agak dingin tambahkan 100 gram ragi tempe (Aspergillus niger) dan 100 gram urea, aduk kembali hingga merata. Kemudian tutup ember dan biarkan selama 3 hari. Selanjutnya ransum sudah siap untuk diberikan pada itik.

Untuk fermentasi dengan Multi mikroba siapkan 8 liter air dalam ember, tambahkan 10 ml multi mikroba  dan aduk merata. Tambahkan 10 kg bahan ransum sambil diaduk. Kemudian masukkan dalam karung dan tutup rapat lalu dibiarkan selama 3 hari. Bahan yang telah difermentasi dalam jumlah banyak dapat disimpan sebagai pakan. Sebelum disimpan agar dijemur terlebih dahulu sampai kering supaya tidak  bau ataupun  ditumbuhi jamur.

Penggunaan pakan dari bahan limbah ini menunjukkan adanya kenaikan bobot yang lebih tinggi pada itik yang dipelihara. Sedangkan banyaknya pakan yang diperlukan menjadi berkurang. Berarti biaya pakan juga menjadi lebih murah. Kalau mau lebih murah, disarankan pembuatan pakannya dengan cara fermentasi multi mikroba.



Sumber : BPTP Yogyakarta

Selasa, 13 Maret 2012

Berbagai Komposisi Pakan Alternatif untuk Budidaya Ikan Lele

    PAKAN 1

    Biasanya, para peternak akan meramu pakan yang terdiri dari :

    1. Dedak halus (bekatul) 20%,

    2. Ampas tahu 20%,

    3. Menir atau jagung giling 20%,

    4. Ayam broiller mati/ ikan rucah 35%,

    5. Tepung tapioka 5%

    6. Vitamin C serta B Complex.

    7. Kuning telur



    Ayam broiller atau ikan tadi dibersihkan dan hanya diambil dagingnya. Tulang, jeroan serta kulit dibuang. Selanjutnya bahan-bahan itu digiling menggunakan gilingan daging manual. Hasilnya berupa adonan yang liat. Adonan dibentuk lempengan seperti pempek Palembang lalu dikukus sampai benar-benar masak. Tanda kemasakan adalah,apabila ditusuk, sudah tidak ada bagian yang berwarna keputih-putihan. Pakan ramuan sendiri inilah yang dijadikan menu sehari-hari lele tersebut. Baik yang masih berupa burayak, kebul, putihan maupun lele konsumsi. Bedanya, pada pakan burayak, komposisi protein hewaninya diperbesar menjadi 50% dengan ditambah kuning telur. Telur-telur ini pun merupakan telur afkir yang kondisinya masih bagus, yang dibeli di pengusaha penetasan telur ayam maupun itik. Dedak halus, ampas tahu dan menir atau jagungnya dikurangi hingga masing-masing tinggal 15%.



    Pakan berupa "kue kukus" tersebut bisa tahan disimpan di kulkas sampai dengan 1 minggu. Hingga produksi pakan yang sangat merepotkan ini bisa dilakukan selang 1 minggu sekali, 3 hari sekali atau sesuai dengan kesempatan dan kebutuhan. Cara pemberian pakan cukup dengan ditaruh dalam tampah, nyiru atau nampan kayu dan dimasukkan ke dalam bak atau kolam. Tampah, nyiru atau kotak kayu ini dibuat tiga susun. Tampah paling bawah berukuran paling besar, yang ditengah tanggung dan yang di atas paling kecil. Tiga tampah ini diikat kawat dengan jarak sekitar 15 cm. dan diberi gantungan untuk mengikatkannya di tiang pancang, hingga tampah paling atas hanya masuk ke dalam air sebatas 10 sd. 20 cm. Pakan hanya ditaruh pada tampah bagian atas. Tetapi karena lele itu akan makan secara berebutan, maka pakan akan berhamburan dan jatuh pada tampah kedua. Di sini pun pakan diperebutkan dan kembali berhamburan. Tetapi karena pakan di tampah kedua hanya merupakan ceceran dari tampah diatasnya, maka yang jatuh ke tampah ketiga pun volumenya terbatas.



    Harga dedak halus, saat ini Rp 800,- per kg. (kering). Harga ampas tahu sekitar Rp 150,- (basah). Harga ayam mati Rp 1.000,- per ekor bobot 1,5 kg. kotor atau 0,75 kg.daging. Menir atau jagung giling Rp 1.500,- per kg. Tepung tapioka Rp 2.000,- per kg. Vitamin-vitamin senilai Rp 50,- per kg. ramuan. Dengan komposisi dedak halus, ampas tahu dan menir 20%, ayam 35% dan tepung tapioka 5%, maka nilai pakan dengan bobot 10 kg adalah Rp 10.900,- atau per kg. basah Rp 1.140,- Biaya produksi (tenaga kerja + bahan bakar) sekitar Rp 200,- per kg. Hingga total nilai pakan Rp 1.340,- bobot basah atau bobot kering Rp 2 000,- Dengan asumsi harga pakan pabrik Rp 2.500,- per kg, maka harga pakan ramuan sendiri ini lebih murah Rp 500,- per kg. Harga lele di tingkat peternak, saat ini Rp 5.500,- dari harga tersebut, peternak mengambil marjin sekitar 20%, hingga harga pokoknya Rp 4.400,- Dari harga pokok tersebut, sekitar 70% atau Rp 3.080,- merupakan nilai pakan. Harga ini menggunakan patokan perhitungan pakan pabrik dengan bobot 1,232 kg. Apabila menggunakan pakan ramuan sendiri dengan nilai Rp 2.000,-per kg, maka nilai pakan itu hanya Rp 2.464,- Berarti, dari tiap kg. ikan lele yang diproduksi menggunakan pakan ramuan sendiri, peternak memperloleh tambahan marjin Rp 616,- Dengan volume pembesaran lele 10 ton dalam jangka waktu 3 bulan, maka marjin tambahan yang bisa diperoleh peternak dari penggunaan pakan tambahan adalah Rp 6.160.000,-



    Perhitungan ramuan pakan dengan konversinya pasti akan sangat bervariasi, tergantung lokasi peternakan dan kejelian peternak untuk memperolehbahan pakan yang berkualitas sama baik tetapi dengan harga yang jauh lebih murah. Kelebihan penggunaan pakan buatan sendiri adalah, peternak bisa mengatur komposisi protein hewani maupun nabatinya, sesuai dengan ketersediaan bahan yang ada. Peternak juga bisa mempertinggi prosentase protein hewaninya agar pertumbuhan lele bisa dipercepat, namun tanpa terlalu besar menambah beban biaya pakan akibat pembengkakan nilai protein hewani terebut. Ini semua memerlukan kejelian yang luarbiasa, hingga keong sawah atau darat, kepompong ulat sutera dan cacing tanah misalnya, akan mampu memperbesar marjin. Pemeliharaan cacing tanah, paling tinggi hanya boleh menghabiskan biaya produksi Rp 2.000 per kg. Ini dimungkinkan sebab komponen pakan cacing adalah limbah organik. Meskipun nilai gizi cacing tanah terlalu tinggi untuk dimanfaatkan bagi pembesaran lele. Cacing tanah lebih cocok untuk pakan pembesaran ikan yang nilai ekonomisnya juga lebih tinggi dari lele.



    PAKAN 2

    Untuk menghasilkan 1 ton ikan lele siap konsumsi, jika menggunakan pakan pellet menghabiskan pakan 1 ton, sedangkan apabila menggunakan pakan organik hanya membutuhkan 2.300 liter. Sementara bobot dalam 1 kilogram ikan lele yang diberi pakan pelet berjumlah antara 8 hingga 9 ekor, sedangkan yang diberi pakan organik 7 hingga 8 ekor. Saat ini harga ikan lele di pasaran mencapai 14.000 rupiah per kilogram.

    Untuk menghasilkan pakan lele organik ini, peternak hanya mengumpulkan limbah kotoran sapi ke dalam bak yang dicampur air beserta enzim bakteri silanace untuk mempercepat proses penguraian kotoran sapi. Selang lima hari kemudian, dengan proses aerasi, kotoran sapi yang telah berbentuk cairan siap diberikan ke ikan lele dengan cara disiramkan.



    PAKAN 3

    Cara Aplikasi yang kami berikan adalah sebagai berikut dibawah ini :

    Lahan di Pupuk NPK Organik , Dosis 600 KG – 1.000 KG / HA. Kemudian didiamkan selama 10 hari agar tercipta ZOOPLANKTON dan PHYTOPLANKTON, dan hari ke-11 bibit ikan baru dimasukan. Pemberian PAKAN baru dilakukan setelah kira – kira ZOOPLANKTON dan PHYTOPLANKTON berkurang atau habis.

    Cara membuat pakan ikan buatan ( Per 110 KG ) :

    bahan – bahan :

    katul : 100 kg ( harga rp. 1.500/kg )

    tepung gaplek : 10 kg ( harga rp. 1.500/kg )

    garam kasar : 2 kg ( harga rp. 1.000/kg )

    tesaki cair : 4 botol/0,5 liter ( suplemen organik ) – ( harga rp. 30.000/botol )

    Garam Kasar/Grosok dihaluskan kemudian dicampur RATA dengan KATUL dan TEPUNG GAPLEK, setelah itu dikukus sampai warna coklat tua. 3 Botol TESAKI CAIR dicampur dan diaduk RATA dengan 50 liter Air matang / Air isi ulang. Hasil KUKUSAN dicampurkan merata dengan TESAKI + AIR, setelah itu dimasukan mesin pellet atau Gilingan Daging kemudian dikeringkan ( Dijemur atau di Oven pakai Oven Kue ).



    PAKAN 4

    Tanaman yang bisa untuk Pakan Ternak sekaligus Kesuburan Tanah (contoh di Madura):

    1. Rumput gajah rakus unsur hara

    2. Jagung

    3. Kleresede

    4. Kacang-kacangan

    5. Kaliandra

    6. Ketela rakus unsur hara

    7. Lamtoro gung

    Pengolahan Pakan Ternak:

    I.Hay

    Mengeringkan hijauan/tanaman Cara alami (dengan sinar matahari) maupun menggunakan mesin pengering Kandungan air 12-20% ? tidak tumbuh jamur. Tujuan: penyediaan hijauan untuk pakan ternak pada saat kritis & saat ternak diangkut jarak jauh Dapat diperjualbelikan Kualitas hijauan akan menurun apabila tertimpa hujan Pengeringan terlalu lama mengakibatkan kehilangan nutrisi & mudah tumbuh jamur

    Syarat tanaman yang dibuat Hay:

    1. Bertekstur halus

    2. Dipanen pada awal musim berbunga

    3. Dipanen dari area yang subur

    Pengawet:

    1.Garam dapur 1-2%:

    mencegah timbulnya panas karena kandungan uap air mengontrol aktivitas mikroba menekan pertumbuhan jamur

    2.Amonia cair

    mencegah timbulnya panas meningkatkan kecernaan hijauan memberikan tambahan Nitrogen

    Kriteria Hay yang baik:

    1.berwarna tetap hijau meskipun ada yang kekuning-kuningan

    2.daun yang rusak tidak banyak

    3.bentuk hijauan masih tetap utuh & jelas

    4.tidak terlalu kering sebab akan mudah patah.



    II.Silase

    Hijauan makanan ternak ataupun limbah pertanian yang diawetkan dalam keadaan segar melalui proses fermentasi Kandungan air: 60-70% Tujuan: pemberian hijauan sebagai pakan ternak dapat berlangsung secara merata sepanjang tahun, atau untuk mengatasi kekurangan pakan di musim paceklik dalam silo Silo: tanah, beton, baja, anyaman bambu, tong plastik, drum bekas, dsb. Pencacahan: memutus/menghentikan proses respirasi/pernafasan pada tanaman agar kandungan air hijauan dapat mencapai titik dimana aktivitas air dalam tanaman dapat mencegah perkembangan mikroba

    Prinsip pembuatan Silase:

    1. Keadaan hampa udara ? pemadatan hijauan yang telah dicacah dengan cara ditekan atau diinjak-injak

    2. Terbentuk suasana asam saat penyimpanan ? penambahan bahan pengawet: garam, gula, dedak, bakteri

    3. Tempat penyimpanan (silo) jangan ada kebocoran & harus tertutup rapat yang diberi pemberat

    Jenis hijauan yang dapat dibuat Silase: rumput, sorghum, jagung, biji-bijian kecil

    Kriteria Silase yang baik:

    1.pH sekitar 4 (asam)

    2.Bau segar atau bukan berbau busuk

    3.Warna hijau masih jelas

    4.Tidak berlendir

    5.Tidak berbau mentega tengik.



    III. Amoniasi atau Urease

    Melepaskan serat kasar dari hijauan agar dapat dimanfaatkan oleh tubuh ternak

    Kandungan gizi:

    Jerami: protein 3-5%, kecernaan 25-45%, kadar vitamin & mineral rendah (jangan diberikan pada ternak perah atau yang sedang menyusui)

    Rumput gajah: protein 12-14%

    Keuntungan Amoniasi:

    1.Kecernaan meningkat

    2.Protein jerami meningkat

    3.Menghambat pertumbuhan jamur

    4.Memusnahkan telur cacing yang terdapat dalam jerami

    Pemberian Urea 3% dari berat jerami atau air kencing secara berlapis lalu dipadatkan

    Kriteria Amoniasi yang baik:

    1.Berwarna kecoklat-coklatan

    2.Kering

    3.Jerami padi hasil amoniasi lebih lembut dibandingkan jerami asalnya.



    PAKAN 6



    1. dedak halus (karbohidrat)

    2. tepung kedelai (protein)

    3. tepung jagung (karbohidrat)

    4. bekicot (protein)

    5. cacing (protein)

    6. tepung daun pepaya, lamtoro, (protein dan karbohidrat)

    Komposisi :

    1. 1,2,3,dengan porsi 50 :20 :30

    2. 1,2,4 dengan porsi 50 :20 :30

    3. 1,2,5 dengan porsi 50 :20 :30

    4. 1,2,6 dengan porsi 50 :20 :30

    cara membuat

    1. semua bahan dicampur

    2. aduk rata dengan air panas

    3. lemparkan ke kolam dalam bentuk basah (untuk satu hari saja)



    PAKAN 7

    Cara membuat pakan ikan lele

    Tepung teri

    Tepung udang

    Tepung darah.

    Tepung ikan

    Tepung kedelai

    Tepung jagung tepung singkong

    Minyak ikan.

    Tepung kanji

    Bila di tempat anda sulit mencari bahan2 di atas, anda bisa membuatnya dengan 3bahan yg ada di atas. Misal : TEPUNG IKAN, MINYAK IKAN DAN JAGUNG GILING. bisa juga di tambah tepung kanji agar bahan bisa merekat. Kenapa minyak ikan harus ada? Karena minyak ikan adalah salah satu penambah nafsu makan. kadang ikan tak mau makan pelet buatan sendiri karena tidak di campur dengan minyak ikan. jadi minyak ikan bisa dikatakan bahan utama dlm pembuatan pelet sendiri. Campur ketiga bahan tersebut sampai merata lalu tuangkan air hinga menjadi seperti pasta. dan ingat! usahakan dlm pembuatan pelet sebaiknya jangan terlalu encer. kemudian anda masukan kemesin cetak, klo tidak punya mesin bisa anda buat seperti cacing dengan tangan anda sendiri lalu potong pendek-pendek. setelah itu bisa anda keringkan. bila pelet / pakan ikan sudah kering atau sudah siap untuk di jadikan makanan ikan lele, taburkan secukupnya pada pagi dan sore hari.



    PAKAN 8

    Tapi ada cara lain untuk budidaya ikan lele yang lebih hemat biaya, yaitu dengan menggunakan “ kotoran Sapi “ sebagai pakan. Cara ini ternyata sangat baik untuk pertumbuhan ikan lele dan rasanya pun lebih gurih daripada ikan lele yang diberi pakan sentrat. Cara ini sangat populer di daerah Banyuwangi Jawa Timur. Dengan memberi pakan ikan lele secara Organik maka seakan lele hidup di alam bebas, dimana hidupnya dari makan bahan2 organik.

    Hasil panen dari Budidaya ikan lele Organik dengan ikan lele non organik sangatlah berbeda. Ikan lele organic hasilnya bisa lebih panjang 20 – 35 cm. Warnanya juga berbeda, ikan lele organic biasanya warnanya agak kemerah-merahan terutama di bagian sirip dan insang. Sedangkan ikan lele non organic warnanya agak kehitam-hitaman.

    Benih tersebut dipisahkan di kolam berikutnya selama dua minggu hingga benih berdiameter 10 milimeter. Dua minggu berikutnya, lele diseleksi untuk yang berukuran 20 milimeter. Sejak benih lele berdiameter 10 milimeter itu, kolam yang berisi air dicampur langsung dengan pupuk organik dari kotoran sapi hingga setinggi 20 centimeter.



    PAKAN 9

    Pengolahan limbah pertanian, termasuk limbah cair industri pengolahan banyak dikembangkan menggunakan proses fermentasi metan yang menghasilkan energi berupa gas metan. Belakangan ini telah dikembangkan kombinasi fermentasi metan dengan fermentasi hidrogen yang disebut perlakuan dua tahap (two-step treatment). Yakni perlakuan fermentasi hidrogen yang dilanjutkan dengan fermentasi metan. Satu kelompok 5 orang ilmuwan Jepang belum lama ini mencoba penggunaan campuran kotoran ternak (sapi) dengan limbah organik lainnya untuk perlakuan fermentasi satu dan dua tahap. Temuan-temuan mereka membuka peluang dan manfaat baru dalam kegiatan penanganan limbah organik. Kelompok ilmuwan tersebut, Hiroshi Yokoyama dkk dari tim riset daur ulang limbah dan tim riset pengendalian polusi pada Lembaga Nasional Ilmu Peternakan dan Lahan Rumput Badan Nasional Riset Pertanian dan Pangan Jepang menggunakan kotoran sapi sebagai campuran limbah organik lain karena kotoran hewan biasanya mengandung bakteri penghasil hidrogen. Sehingga pada fermentasi hidrogen tidak perlu menambahkan benih bakteri tersebut pada substrat yang akan difermentasi. Limbah organik yang digunakan sebagai substrat fermentasi secara bersama atau terpisah sangat beragam meliputi sisa-sisa makanan dari bahan serealia, daging, ikan, susu, kembang gula, telur, selai, sayuran dst. Pada fermentasi dua tahap, mereka menggunakan campuran kotoran sapi dengan makanan anjing sebagai substrat. Fermentasi tahap pertama berlangsung secara anaerobik selama 4 hari pada suhu 60oC. Dilanjutkan dengan tahap kedua dengan perlakuan penyesuaian pH menjadi 7,0-7,5 menggunakan larutan NaOH, dicampur dengan lumpur metanogenik dan ditambahi air, lalu dibiarkan selama 10 hari pada suhu 37oC.

    1. dedak halus (karbohidrat)

    2. tepung kedelai (protein)

    3. tepung jagung (karbohidrat)

    4. bekicot (protein)

    5. cacing (protein)

    6. tepung daun pepaya, lamtoro, (protein dan karbohidrat)

    Komposisi :

    1. 1,2,3,dengan porsi 50 :20 :30

    2. 1,2,4 dengan porsi 50 :20 :30

    3. 1,2,5 dengan porsi 50 :20 :30

    4. 1,2,6 dengan porsi 50 :20 :30

    cara membuat

    1. semua bahan dicampur

    2. aduk rata dengan air panas

    3. lemparkan ke kolam dalam bentuk basah (untuk satu hari saja)



    sumber: http://rcn56.blogspot.com/2011/02/pa...5546746fdf0dac

Kamis, 08 Maret 2012

Daun Enceng Gondok Bisa Tingkatkan Kualitas Telur Itik

Makassar, Sinar Harapan Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IPPTP) Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), berdasarkan pengkajiannya menyarankan pemberian daun eceng gondok pada makanan itik untuk meningkatkan kualitas telur.



Kepala IPPTP Makassar, Dr.lr. Djafar Baco menjelaskan hari Jumat (21/6), ternak itik berpotensi besar untuk dikembangkan, karena mampu memproduksi telur yang tinggi, tidak mengerami telurnya, harganya relatif stabil dan pemasaran telur relatif murah.



Salah satu faktor yang paling menentukan dalam usaha ternak itik adalah faktor makanan sebagai kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi bagi kelangsungan hidup dan proses biologis di dalam tubuh ternak, tambahnya.

Eceng gondok merupakan gulma air yang sering merusak lingkungan dan tidak dimanfaatkan dapat dipergunakan sebagai salah satu bahan makanan yang bisa menekan harga ransum. Menurut Djafar Baco, pemberian eceng gondok pada makanan itik itu, tidak mempunyai pengaruh negatif terhadap produksi telur baik dari segi berat maupun jumlah butirnya. Penggunaan eceng gondok itu berpengaruh terhadap warna kuning telur dan tebalkulit telur.



Selama ini kualitas telur untuk perlakuan kontrol (pakan basal) berat telurnya rata-rata 57,7 gram/butir dan untuk perlakuan yang diberi makanan eceng gondok mencapai 59,19 gram/butir.Kontrol adalah 7,29 dan pada perlakuan yang diberi daun eceng gondok adalah 9,10. Kemudian persentase berat kuning telur pada perlakuan kontrol 35,16 persen dan 35,99 persen pada pemberian daun eceng gondok. Rata-rata persentase berat putih telur pada perlakuan kontrol adalah 46,76 persen dan perlakuan dengan pemberian daun eceng gondok adalah 48,69 persen.



Pada perlakuan kontrol (pakan basal), itik diberikan ransum basal dengan kandungan protein kasar 16,06 persen dan energi metabolisme 2544,22- kilo kalori/kg ransum. Melalui pemberian daun eceng gondok pada makanan itik diperoleh konsumsi ransum berdasarkan bahan kering sebanyak 111,79 gram/ekor/hari.Eceng gondok dapat diberikan sampai 10 persen dalam ransum.

telur

Cara pemberiannya ransum basal ditambah daun eceng gondok dalam keadaan segar. Guna menjaga kesegaran dari daun eceng gondok, sebaiknya pengambilan dari lokasi dilakukan setiap pagi.”Sebelum diberikan, daun terlebih dahulu dicincang hingga kecil,” kata Djafar. (ant/san)

Semoga bermanfaat



Selasa, 13 Desember 2011

JENIS PAKAN ALTERNATIF LOKAL UNTUK PAKAN UNGGAS DAN TERNAK





Ampas yang berasal dari hasil ikutan pengolahan makanan ternyata sangat potensial sebagai pakan alternatif. Beberapa diantaranya ampas minyak sawit, kecap, tahu, tempe, onggok, molasses dan orgami. Bahkan juga siput air tawar dan keong mas. Jangan terpukau dengan pakan impor.


DAPATKAN BUKU-BUKU PETERNAKAN
 PESAN ONLINE KIRIM KE SELURUH INDONESIA
UNTUK PEMESANAN KLIK GAMBAR ATAU 
VIA SMS 0852.57090.372
Jangan gelisah dengan meningkatnya impor bahan pakan seperti jagung dan bungkil kedelai. Indonesia memiliki bahan pangan lokal yang dapat cukup untuk menggantikannya.
Yang paling gampang dan sudah banyak digunakan sebagai pakan ternak adalah ampas yang berasal dari hasil ikutan pengolahan makanan seperti onggok, molasses, ampas tahu, ampas kecap, CPO, dll. Penggunaannya sebagai bahan pakan dapat dicampurkan dengan bahan tambahan pakan lainnya atau dapat diberikan secara langsung pada ikan/ternak antara lain
Ampas Minyak

Sawit Minyak inti sawit merupakan minyak murni hasil ekstraksi biji sawit. Sedangkan sisa dari pembersihan/ pemurnian tersebut diperoleh ampas minyak sawit yang berbentuk padat. Sejauh ini sudah banyak yang memanfaatkan hasil ikutan ini sebagai pakan ternak (sapi). Penggunaan minyak sawit (CPO) pada pakan dapat langsung dicampur pada pakan siap, sedangkan ampas minyak sawit dapat dicampurkan dengan bahan-bahan tambahan pakan lainnya. Sedangkan ampas minyak sawit sebagai bahan baku pakan ikan terlebih dahulu harus diproses menjadi tepung dengan nilai gizi yang terkandung di dalamnya protein 16,09%; lemak 5,39% dan abu 8,59%.
Ampas Kecap

Ampas kecap merupakan hasil ikutan dari proses pembuatan kecap yang berbahan dasar kedelai yang memiliki kandungan protein cukup tinggi. Untuk menjadi bahan baku pakan, ampas kecap harus diolah menjadi tepung dengan lebih dahuhr dikeringkan dalam oven/dijemur. Nilai gizi yang terkandung adalah protein 10,32%;Iemak 6,93%;air 52,98% dan abu 6,72%.
Onggok

Onggok yang berasal dari ubi kayu merupakan hasil ikutan padat dari pengolahan tepung tapioka. Sebagai ampas pati singkong (ubi kayu) yang mengandung banyak karbohidrat, onggok dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi, nilai gizi yang terkandung pada onggok adalah protein 3,6%; lemak 2,3%;air 20,31 % dan abu 4,4%.
Ampas Tahu

Ampas tahu merupakan hasil ikutan dari proses pembuatan tahu. Untuk menjadi bahan baku pakan, ampas tahu dapat langsung diberikan pada ikan/ ternak dengan tambahan sedikit ikan asin, atau dapat juga diolah lebih dulu menjadi tepung dengan mengeringkannya dalam oven/dijemur lalu digiling. Nilai gizi yang terkandung adalah protein 8,66%; lemak 3,79%; air 51,63% dan abu 1,21%.
Ampas Tempe

Hasil ikutan pengolahan tempe yang berasal dari bahan baku kacang kedelai, baik berupa kupasan kulit ari kacang kedelai juga limbah cair berupa air rebusan dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan ikan/ternak.
Molases.

Molases merupakan sisa hasil produksi pada industri pengolahan gula yang berbentuk cair. Molases sudah banyak dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan ternak, karena kandungan gizinya cukup baik.
Orgami

Orgami merupakan hasil buangan pengolahan penyedap rasa. Setelah melalui proses penyaringan raw sugar (tetes tebu) dan molases sebagai bahan baku, dihasilkan gypsum. Selanjutnya melalui tahap koagulasi (penggumpalan) dihasilkan orgami sebagai hasil ikutan cair dan dielet humus sebagai hasil ikutan padatnya. Nilai gizi orgami adalah protein 5,28%; lemak 3,41%; air 68,29% dan abu 4,77%.

Selain bahan lokal yang berasal dari nabati juga dapat memanfaatkan bahan lokal dari hewani yaitu siput air tawar dan keong emas yang sering dijumpai pada areal persawahan dan kolam ikan.
Siput air Tawar

Dari hasil penelitian bahwa pemberian dedak padi ditambah siput air tawar (Lymneae Auricularis) dengan perbandingan I : 2 dapat meningkatkan kualitas telur itik seperti nilai nutrisi telur, bobot telur dan warna kuning telur yang lebih baik.
Keong Mas

Pemberian keong mas yang direbus pada ayam buras yang di berikan selama 13 minggu dapat menaikkan pertambahan bobot badan lebih baik dan penghematan biaya sebesar Rp. 764 - 927 perekor.
Minuman Kesehatan Unggas

Seperti manusia yang memerlukan minuman kesehatan dari bahan-bahan herbal maka unggas-pun memerlukan minuman kesehatan. Bahan-bahan yang diperlukan antara lain : kencur, temu kunci, lengkuas, jahe, kunyit, bawang merah, bawang putih, bengkuang, daun sirih, sereh, belimbing wuluh, kemangi, temu lawak, temu hitam, masing¬masing sebanyak 0,25 kg.

Proses pembuatannya sebagai berikut Bahan-bahan dicuci sampai bersih; Diiris tipis¬tipis, lalu digiling; Hasil gilingan dimasukkan ke dalam jerigen ukuran 20 liter dan ditambahkan dengan I liter molasse dan I liter EM-4; Tambahkan air bersih sampai penuh. Kocok sampai merata. Tutup rapat jerigen untuk proses permentasi secara anaerob dan biarkan berlangsung selama 2 minggu, namun selama proses permentasi berlangsung sebaiknya gas dibuang dengan membuka tutup jerigen dan menutup kembali dengan rapat setelah 2 minggu, hasil permentasi disaring dan disimpan secara anaerob ditempat sejuk sehingga sewaktu bisa digunakan

Untuk minuman kesehatan maka diminumkan pada ayam dengan dosis unt I liter air minum ditambahkan 2,5 ml bal ramuan.. Ramuan ini akan bermanfaat bal peningkatan kerja organ pencernaan dan meningkatkan nafsu makan ayam.
Masih Banyak Peluang untuk Pakan

Indonesia masih memiliki bahan pakar lokal yang belum lazim dimanfaatkan, diantaranya adalah lumpur sawit yang merupakan hasil ikutan pengolahan miny, sawit, bungkil kopra, bungkil kelapa sawit, gaplek dan bekatul.
Lumpur sawit

Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa lumpur sawit dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk ternak unggas. sapi, domba, babi. Lumpur sawit mengandung serat kasar yang tinggi dan kecernaan gizi yang rendah sehingga penggunaannya untuk pakan unggas sang terbatas. Salah satu usaha yang dilakukan Balai Penelitian Ternak dalam rangka pemanfaatan baban ini adalah melakukan ferment,asi untuk meningkatkan nilai gizin) serta menurunkan kadar serat lumpur sav Pengujian biologis menunjukkan bahwa produk fermentasi lumpur sawit dapat digunakan hingga 10% di dalam ransum ayam broiler dan ayam kampung, tetapi di dalam ransum itik sedang tumbuh dapat digunakan sebanyak 15%.
Bungkil Kopra

Bungkil kopra merupakan hasil ikutan proses ekstraksi minyak kelapa.Tetapi penggunaan bungki kopra dalam pakan unggas menghadapi kendala seperti: kadar asam amino esensi rendah, kerusakan protein akibat suhu tii dan tingginya kadar serat kasar. Akibatny bungkil kopra tingkat penggunaannya ha sebatas pada level tidak lebih dari 10 %. atas level itu besar kemungkinan akan berpengaruh buruk terhadap tingkat konsumsi makan, laju pertumbuhan dan produksi telur.
Peranan Penyuluh Pertanian

Para penyuluh pertanian perlu mendorong peternak untuk menggunaka bahan baku dari dalam negeri sehingga ketergantungan kepada pakan impor semakin berkurang.

Antara lain dengan terlibat dalam program pemerintah yang akan memberi advokasi dan edukasi pembuatan formula pakan berbasis sumberdaya lokal, dan mengembangkan bahan pakan lokal yang prospektif dikembangkan sebagai alternat diantaranya hasil ikutan pengolahan min; sawit dan ubi kayu (singkong) dan hasil ikutan perkebunan lainnya.

Pemerintah sendiri sedang berusaha meningkatkan penggunaan bahan baku k Oleh karena itu Ditjen Peternakan telah memberikan bantuan mini feedmill (pabri pengolahan pakan mini) untuk kelompok peternak di 14 lokasi pada tahun 2007, dan 38 lokasi pada tahun 2008. Sad Hutomo Pribadi Penyuluh Madya Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Sumber : Hasil penel dan tulisan dari Balai Penelitian lingkup Badan Litbang Pertanian dan berbagai tulisan di website.badan litbang.
Sumber : Sinar Tani Edisi 9-15 Juli 2008


GUNAKAN SEARCH ENGINE INI UNTUK MENEMUKAN ARTIKEL ANDA :

Loading
Logitech Keyboards

Selasa, 04 Oktober 2011

KEONG MAS, PAKAN ALTERNATIF ITIK/BEBEK DAN IKAN LELE



Meningkatnya harga pakan ternak pabrikan membuat para peternak Itik mencari bahan makanan alternatif untuk pakan ternaknya. Dimana dengan harga pakan yang terjadi saat ini membuat para peternak merugi, untuk itulah para peternak yang ada di desa Taras Kecamatan Labuan Amas Selatan (LAS) mencoba memanfaatkan KEONG EMAS yang ada dipersawan milik petani yang tersebar dipedesaan dijadikan makanan tambahan pengganti sebagian pakan pabrikan untuk ternak mereka. Yang mana selama ini Keong emas disawah merupakan hama penggangu padi yang sangat merugikan para petani di desa ini.



Seperti yang telah dilakoni oleh Basit ini. Peternak ini tak begitu pusing lagi menaggung /memikirkan makintingginya harga pakan ternak bebek atau itik yang telah dipeliharanya sekian lama sampai sekarang ini. Peternak itik yang berasal dari Kecamatan Labuan Amas Selatan ini sekarang mulai berburu mencari dan mengumpulkan keong emas yang ada dipersawahan milik petani padi yang tersebar luas di desa Taras tersebut. Alhamdulillah, ternyata keong emas ini juga bisa diolah menjadi salah satu pakan tambahan pengganti pakan pabrikan (pakan alternatif). Saat kami coba untuk pakan itik ternayata keong emas ini sangat baik, dan membuktikan peningkatan produksi telur semakin meningkat, katanya. Proses pembuatan pakan alternatif yang berbahan keong emas ini ternyata sangat mudah dan sederhana sekali, hanya dengan menggiling keong emas tersebut secara halus lalu dicampur dengan pakan pabrikan langsung bisa di makan oleh ratusan itik tersebut.



Dengan menggunakan pakan dari campuran keong emas ini ternyata tidak mengurangi produksi telor itik peliharaan, tetapi bahkan mengalami peningkatan dari pada pakan pabrikan sebelumnya. Yang dulunya saat masih menggunkan pakan pabrikan telur yang dihasilkan hanya sekitar 450 butir perhari. Kini produksi telurnya sudah mencapai 500 butir setiap harinya bahkan terkadang bisa lebih dari 600 ekor itik yang Basit pelihara. Setelah menggunakan pakan alternative ini selai bisa mengurangi biaya juga bisa mengurangi ketergantungan dengan pakan pabrikan yang terkadang susah untuk mendapatkannya, dan ternyata hasilnya sangat memuaskan bagi kami, terangya.



Penggunaan pakan alternative ini, diakuinya dapat menekan biaya hingga Rp. 50 ribu perharinya. Yang mana sebelum menggunakan pakan alternative ini , peternaka harus mengeluarkan uang untuk pakan pabrikan sebesar Rp. 1.5 juta untuk membeli pakan pabrikan dalam setiap minggunya, dengan menggunakan campuran keong emas ini, pengeluaran untuk membeli pakan pabrikan bisa ditekan menjadi Rp. 1 juta setiap minggunya. Dimana penggunaan pakan pabrikan yang dulunya 7 karung sekarang hanya 5 karung. Bila dihitung – hitung, kini para petani yang ada di desa Taras bisa menghemat pengeluaran untuk pakan sebesar Rp. 500 ribu perminggunya.



Sedangkan untuk pengeluaran membeli keong emas sebesar Rp. 50 ribu an dalam setiap minggunya, yang dibeli dari anak-anak yang mengumpulkan dengan harga sekitar Rp. 5 ribu sampai Rp. 6 ribu perbelek keong emas. Dari hasil percobaan dari peternak inilah, selain dapat menekan biaya untuk pembelian pakan pabrikan, juga sangat membantu para petani padi, dimana selama ini keong emas oleh para petani selama ini merupakan salah satu hama tanaman padi yang sangat mengganggu tanaman yang ada di persawahan yang sanagt merugikan dan susah untuk di basmi.






GUNAKAN SEARCH ENGINE INI UNTUK MENEMUKAN ARTIKEL ANDA :

Loading
Logitech Keyboards