Tampilkan postingan dengan label Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peternakan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 April 2012

PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PETERNAKAN KABUPATEN SERGAI




PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PETERNAKAN KABUPATEN SERGAI


Pendahuluan


Pembangunan
pertanian ke depan menghadapi tantangan dari dua arah yaitu tantangan
internal dan eksternal. Tantangan internal adalah bagaimana masyarakat
pertanian mampu mengembangkan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya
saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan tersentralisasi sejalan dengan
semangat otonomi daerah, sedangkan tantangan eksternal adalah menyangkut
isu perdagangan bebas yang menuntut produk pertanian yang mampu
bersaing dalam kancah perdagangan global. Untuk menyikapi tantangan
tersebut salah satunya adalah meningkatkan sumber daya manusia.
Keberhasilan pembangunan pertanian tidak terlepas dari sumber daya
manusia dalam melakukan usaha tani melalui pemanfaatan modal, penerapan
teknologi dan pemasaran.


Potensi
pertanian tanaman pangan yang dapat dikembangkan di Kabupaten Serdang
Bedagai adalah padi sawah, padi ladang, jagung, kedelai, kacang hijau,
kacang tanah, ubi kayu dan ubi jalar. Sedangkan untuk tanaman
hortikultura meliputi aneka tanaman sayuran seperti cabai, sawi, kacang
panjang dan bayam.


Potensi
peternakan yang dapat dikembangkan diantaranya adalah ternak sapi perah
dan sapi potong, kerbau, kambing, domba dan babi. Potensi ini didukung
oleh lahan budidaya dan padang gembalaan yang cukup luas. Terdapat juga
potensi pengembangan ternak unggas seperti ayam ras pedaging, ayam ras
petelur, ayam buras dan itik.





Kondisi dan potensi


Kondisi


  • Luas wilayah: 190.022 km2

  • Jumlah penduduk: 588.263 orang

  • 17 kecamatan dan 243 desa/kelurahan

  • Batas wilayah:

    • Utara: selat malaka

    • Timur: asahan dan simalungun

    • Selatan: simalungun

    • Barat: sungai ular dan sungai buaya



  • Ketinggian tempat: 0-500 m dpl

  • Kelembaban udara: 84%

  • Tipe iklim: A, D1 dan E2

  • Hari hujan rata-tara: 8-26 hari/bulan

  • Temperatur udara: 23,7 – 32,2 C



Potensi


Sumber daya lahan sawah




















































































kecamatan


irigasi


non-irigasi


jumlah


Perbaungan


6.670


30


6.700


Pantai Cermin


2.900


488


3.388


Sei Rampah


8.015


1.485


9.500


Teluk Mengkudu


1.600


1.350


2.950


Tanjung Beringin


1.785


2.530


4.315


Tebing Tinggi


3.356


765


4.121


Bandar Khalifah


700


3.300


4.000


Dolok Merawan


25


25


50


Dolok Masihul


3.460


663


4.123


Sipispis


382


0


382


Kotarih


995


89


1.084


JUMLAH


29.888


10.725


40.613




Sumber daya lahan kering




















































































kecamatan


pekarangan


tegal/kebun


ladang/huma


Perbaungan


1.624


2.378


0


Pantai Cermin


719


415


305


Sei Rampah


1.878


1.535


322


Teluk Mengkudu


370


771


0


Tanjung Beringin


300


242


0


Tebing Tinggi


1.699


5.313


325


Bandar Khalifah


304


200


0


Dolok Merawan


225


574


745


Dolok Masihul


855


3.441


2.045


Sipispis


429


9.462


0


Kotarih


4.631


4.590


1.155


JUMLAH








46.852




Sasaran luas tanam, panen dan produksi/populasi (sd Juli 2006)







































































KOMODITI


TARGET


REALISASI


2006


Padi sawah

Luas tanam (ha)

Panen (ha)

Produksi (ton)




69.254

66.560

312.832





41.333

40.207

188.972


Jagung

Luas tanam (ha)

Panen (ha)

Produksi (ton)




6.625

6.625

22.392





2.374

3.252

10.992


Kedelai

Luas tanam (ha)

Panen (ha)

Produksi (ton)




1.850

1.778

2.2027





758

545

621


Kacang hijau

Luas tanam (ha)

Panen (ha)

Produksi (ton)




1.150

1.105

1.204





480

410

447


Ubi kayu

Luas tanam (ha)

Panen (ha)

Produksi (ton)




10.050

10.050

126.027





5.102

5.968

74.839


Cabai

Luas tanam (ha)

Panen (ha)

Produksi (ton)




250

250

750





137

45

135


Pisang

Panen (pk)

Produksi (ton)




230.000

7.360





155.985

4.836


Sapi potong


8.518


8.404


Kambing


49.552


48.529


Ayam ras telur


594.449


585.667


Ayam ras daging


1.240.201


1.223.077


itik


332.471


327.639




SENTRA PRODUKSI DAN DAERAH PEMASARAN


































































KOMODITI


SENTRA PRODUKSI


DAERAH PEMASARAN


Padi sawah


Pantai
Cermin, Perbaungan, Teluk Mengkudu, Tanjung Beringin, Sei Rampah,
Bandar Khailfah, Tebing Tinggi, Dolok Masihul dan Kotarih


Lokal, Medan, Ttebing Tinggi, Deli Serdang dan Simalungun


Jagung


Sei Rampah, Tebing Tinggi, Sipispis, Dolok Merawan, Dolok Masihul dan Kotarih


Lokal, Medan, Tebing Tinggi, Deli Serdang dan Simalungun


Kedelai


Perbaungan, Dolok Masihul, Pantai Cermin, Tteluk Mengkudu dan Sei Rampah


Lokal, Medan, Tebing Tinggi, Deli Serdang


Kacang hijau


Perbaungan, Pantai Cermin, Tebing Tinggi, Bandar Kalifah dan Dolok Masihul


Lokal, Tebing Tinggi, Deli Serdang


Cabai


Perbaungan, Pantai Cermin, Dolok Masihul, Teluk Mengkudu, Tebing Tinggi dan Sei Rampah


Tebing Tinggi dan Medan


Ubi kayu


Sei Rampah, Perbaungan, Dolok Masihul, Tebing Tinggi, Dolok Merawan


Lokal, Tebing Tinggi dan Medan


Pisang


Sipispis, Dolok Merawan, Pantai Cermin dan Sei Rampah


Lokal, Medan, Tebing  Tinggi, Deli Serdang


Sapi potong


Pantai Cermin, Dolok Masihul, Sipispis, Tebing Tinggi, Perbaungan, Dolok Merawan, Bintang Bayu, Serba Jadi



Lokal, Medan, Tebing Tinggi, Deli Serdang, Tanah Karo


Ayam


Pantai Cermin, Sei Rampah, Perbaungan, Tebing Syahbandar, Dolok Masihul, Sei Bamban, Pegajahan



Lokal, Medan, Tebing Tinggi, Deli Serdang, Jakarta


Kambing


Sei Rampah, Kotarih, Dolok Masihul, Sipispis, Tebing Tinggi, Tebing Syahbandar, Perbaungan, Pantai Cermin dan Teluk Mengkudu



Lokal, Medan, Ttebing Tinggi, Deli Serdang


itik


Pantai Cermin, Sei Rampah, Teluk Mengkudu dan Tanjung Beringin


Lokal, Medan, Tebing Tinggi









Minggu, 26 Februari 2012

Pengaruh Model Kandang Bertingkat Vertikal Terhadap Produksi Telur Burung Puyuh



Pengaruh Model Kandang Bertingkat Vertikal Terhadap Produksi Telur Burung Puyuh PDF Cetak E-mail




Oleh Nur Rizqi B   
Kamis, 15 Desember 2011 09:47
Burung puyuh merupakan ternak yang relatif cepat menghasilkan telur yaitu pada umur 6 minggu dan dapat menghasilkan telur 200-300 butir dalam setahun. Pemeliharaan puyuh membutuhkan modal yang relatif kecil dan dapat dilakukan pada skala rumahtangga. Kandang bertingkat vertikal banyak dipakai oleh sebagian peternak karena membutuhkan lahan yang tidak begitu luas dengan daya tampung yang besar. Hasil penelitian BPTP Kaltim 2007 menunjukkan bahwa produksi telur mengalami penurunan dari tingkat 1 sampai tingkat 4 yaitu berturut-turut 70,53%, 64,34%, 60,17 %, 58,68% tetapi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Produksi yang menurun ini disebabkan oleh kurangnya cahaya pada tingkat yang lebih rendah. Angka Mortalitas burung puyuh menunjukkan perbedaan yang sangat nyata dari tingkat 1 sampai 4 yaitu 2,22%, 11,11%, 15,56%, dan 2,2%. Mortalitas yang tinggi ini disebabkan oleh tingkat kesehatan yang rendah karena kurangnya sirkulasi udara pada tingkat yang lebih rendah. Oleh karena itu disarankan pada peternak burung puyuh yang menggunakan kandang vertikal supaya membersihkan kandang telur puyuh terutama yang berada di posisi tengah. Kandang vertikal dapat dilihat pada Gambar 1.

Sumber ; Wafiatiningsih dan Sulistyono, 2007

 

Kamis, 23 Februari 2012

Kemitraan Menjamin Keberlangsungan Usaha Peternak

Harga pakan kian melambung, tapi harga jual ayam tak jua membubung. Lantas, dengan pola bisnis yang bagaimana agar usaha peternakan terus bergulir dan meraup untung?


Para pelaku usaha mafhum, bisnis ayam ras pedaging penuh ketidakpastian lantaran harga hasil panennya naik turun. Kemarin boleh jadi meraup untung segunung, tapi besoknya bisa jadi malah buntung.
“Bisnis ayam ras (pedaging) itu 70% gambling. Sebab, setelah dipelihara 35 hari, tidak seorang pun tahu harga jualnya berapa,” komentar H. Ajat Darajat, pemilik Naratas Poultry Shop di Cikoneng, Ciamis, Jabar, yang menjalin kemitraan dengan 854 peternak. Walau begitu, selama 27 tahun, ia tetap eksis menjalankan roda bisnis perunggasan. Pasalnya, ia memiliki jurus agar usahanya menguntungkan (baca juga: H. Ajat Darajat, Benteng Peternak Rakyat Kecil).
Diakui banyak pihak, semenjak krisis moneter 1998, ditambah merebaknya wabah flu burung pada 2002, sampai sekarang kondisi bisnis ayam ras masih samar-samar. “Kondisi bisnis saat ini mirip saat krisis. Bedanya, kalau dulu berimbas pada semua sektor, sekarang lebih ke unggas,” ucap Darmansyah, Vice Presiden PT Inter Agro Prospek (grup PT Charoen Pokhand Indonesia).
Hari Wibowo, Ketua Umum Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo), membenarkan, kondisi usaha ayam ras sekarang lebih kritis. Hal ini dipicu oleh banyaknya bencana alam sehingga ayam yang belum cukup umur untuk dipanen harus segera keluar kandang. Yang terjadi kemudian, pasar kelebihan pasokan. Kejadian itu berbarengan pula dengan datangnya bulan Suro (tidak banyak pesta), sehingga permintaannya menurun. Harga ayam pun melorot.
Pendapat serupa dilontarkan Ajat. “Dari pengalaman selama ini, setiap Januari—Maret, bisnis ayam lesu. Kejadian ini merupakan siklus tahunan,” jelasnya. Hanya saja, saat ini diperparah dengan melambungnya harga pakan, akibat terus meroketnya harga bahan baku pakan yang diimpor.
Minggu pertama Januari, menurut pengakuan Hari, harga pokok produksi (HPP) rata-rata Rp8.600/kg. Perhitungan Ajat, HPP di Priangan Timur, Jabar, sudah menembus Rp10.350/ekor. Sementara di Bogor, Jabar, menurut catatan Tri Hardiyanto, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Andalan Nasional (Gopan), HPP berkisar Rp10.500—Rp11.000 untuk ayam berbobot 1,4—1,5 kg/ekor. Tapi secara umum, peternak menghitung biaya produksi dengan rumus: 2 kg pakan ditambah harga DOC (anak ayam umur sehari). Kala itu, harga pakan Rp4.100—Rp4.300/kg. Sementara DOC sekitar Rp200—Rp1.750/ekor.
Di lain pihak, harga jual ayam di tingkat peternak tidak bisa serta-merta didongkrak. Pada kurun waktu yang sama, harga ayam potong di tingkat peternak berkisar Rp6.500—Rp8.200/kg. Praktis, peternak berada dalam kondisi serba sulit. Mau tetap beternak, jangan-jangan kerugian bertambah. Mau berhenti beternak dan pindah ke usaha lain, belum tentu berhasil, sebab keahlian mereka terbatas di bidang peternakan ayam.


Nasib Peternak Mandiri
Ada tiga tipe peternak ayam pedaging di tanah air, yaitu kemitraan, mandiri, dan komersial farm yang dimiliki pabrikan (industri). Pelaksana kemitraan (inti) adalah industri seperti gGrup Japfa, Charoen Pokphand (CP), CJ Feed, Sierad Produce, Wonokoyo, poultry shop (PS), maupun pribadi pemilik modal besar. Peternak kemitraan tidak membeli sapronak dan tidak memasarkan hasil panen sendiri. Mereka memperoleh penghasilan atas dasar kesepakatan dengan inti.
Sementara peternak mandiri adalah mereka yang membeli sapronak dari pabrikan dan menjual hasil panen sendiri sehingga untung maupun rugi ditanggung sendiri.
Menurut Tri Hardiyanto, kondisi bisnis seperti sekarang sangat memberatkan peternak mandiri. Apalagi modalnya pas-pasan. Sebab, untung rugi tidak bisa dihitung hanya dari satu periode pemeliharaan. Tapi dibutuhkan 3—4 periode produksi guna melakukan evaluasinya. Bahkan, menurut Ajat, lantaran iklim bisnis sudah berubah, untung rugi baru bisa dihitung dalam siklus 3 tahunan.
Namun, Lucky Ranti, pemilik PS di Tangerang, Banten, berpendapat lain. Menurut pria yang sudah merintis PS sejak 1992 dan mulai beternak pada tahun 2000 itu, jika mempunyai cukup modal, berusaha sendiri (mandiri) akan lebih menguntungkan. Sebab, mata rantai usahanya lebih pendek. Sementara pada kemitraan, lanjut dia, semua sisi (pakan, DOC, dan obat-obatan) inti mengambil untung sehingga marginnya tipis.
Namun, menurut pengalaman H. Idung, peternak di Desa Tapos, Kec. Tenjo, Bogor, peternak mandiri menghadapi risiko besar. “Sebelum memilih kemitraan, saya berusaha sendiri. Namun untuk memasarkan 500—1.000 ekor saja saya bingung. Apalagi dalam kondisi bisnis perunggasan seperti saat ini. Sekarang banyak peternak mandiri bingung karena terlibat utang. Ditambah lagi piutang di agen-agen di pasar belum lunas, peternak sudah kembali panen. Kejadian itu terus berantai,” paparnya.


Saling Menguntungkan
Menurut Achmad Dawami, Senior Vice President PT Primatama KaryaPersada (grup Japfa), untuk menyikapi iklim bisnis saat ini, peternak lebih baik bermitra. Pasalnya, biaya produksi mahal akibat harga pakan meningkat terus. Sementara harga jual ayam elastisitasnya tinggi. “Dengan bermitra, modal dan sarana produksi, serta pasar, dijamin inti,” jelasnya.
Tanpa mengesampingkan pola mandiri, tampaknya sistem kemitraan menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan bisnis dalam budidaya ayam ras saat ini. Apalagi, menurut Heri Setiawan,  Communication Manager PT Wonokoyo Jaya Corporindo di Surabaya, Jatim, sebagian besar peternak ayam ras adalah peternak rakyat kecil. Mereka memiliki keterbatasan dalam banyak hal seperti modal, teknologi, maupun sumber daya. Di lain pihak, inti khususnya pabrikan memiliki kelebihan di bidang tersebut.
Tjeppy D. Soedjana, Dirjen Peternakan, Deptan, menegaskan, kemitraan perunggasan mempunyai tujuan utama untuk saling berbagi sumber daya dalam mengoptimalkan nilai tambah dari input, proses produksi, maupun output. Kemitraan tersebut dibutuhkan oleh perusahaan besar (penyandang modal besar) karena dapat berperan sebagai pasar sapronak dan berbagi risiko. “Prinsip share in resources and benefit tersebut dapat meningkatkan manfaat ekonomi bagi kedua belah pihak yang bermitra,” ujarnya.
Dawami menambahkan, win-win solution bukan berarti segala sesuatunya dibagi rata. Namun, “Wajar seandainya pada saat harga ayam potong hancur, si mitra tidak mengalami kerugian. Demikian pula ketika harga tinggi, si mitra juga bisa menikmati sesuai porsi masing-masing,” urai Dawami. Walaupun pembagian risiko, terutama pasar, akan dihadapi oleh inti.
Melalui kemitraan, paling tidak peternak plasma mempunyai kepastian usaha 5—6 kali dalam setahun. Soal perolehan keuntungan, tergantung model kemitraan mana yang dipilih dan indeks prestasi yang dihasilkan peternak selama memelihara ayam.


Lebih Nyaman
Manfaat bermitra sudah banyak dirasakan para peternak yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, NTB, dan Sulawesi. Indikasinya, dari 2,5 juta peternak ayam ras saat ini, 70%—90% adalah peternak kemitraan. “Padahal, sampai dengan 1997, sebelum krisis, peternak ayam ras didominasi oleh peternak mandiri. Peternak yang bermitra hanya sekitar 20%,” papar Dawami.
Contoh peternak mitra (plasma) adalah Iwan di Desa Ciherang, Kec. Linggasari, Ciamis. Pada 1997 ia memutuskan untuk beternak ayam ras. Tapi modalnya hanya cukup untuk membangun kandang. Oleh sebab itu ia memilih menjadi peternak mitra Naratas PS.
“Dengan bermitra, usaha lebih nyaman, lantaran nyaris tanpa risiko kerugian. Saya pun tidak pusing dengan kontinuitas pasokan sapronak maupun pemasaran karena dijamin inti,” aku Iwan, yang saat ditemui ia memelihara 1.500 ekor broiler per siklus. Bahkan, lanjut dia, plasma tidak peduli terhadap melambungnya harga sapronak maupun anjloknya harga hasil panen. Peternak hanya terfokus terhadap budidaya untuk berlomba menghasilkan indeks prestasi pemeliharaan (IP) yang tinggi. Sebagai peternak kecil, Iwan bersyukur, setiap periode masih mengantongi keuntungan rata-rata Rp1.000/ekor.
Contoh lain adalah Maman Surachman, peternak di Sindang Heula, Serang, Banten, yang bermitra dengan PT Super Unggas Jaya (SUJA), grup CJ Feed. Ketika ditemui AGRINA sebelum Idul Fitri tahun lalu, ia memelihara 5.000 ekor broiler per siklus. Maman mengaku, setelah dipotong biaya produksi, ia masih mendapat keuntungan bersih Rp6 juta—7 juta/periode.
Pun Agus Saefulloh yang bermitra dengan PT Tunas Mekar Farm (TMF) di Bogor, Jabar. Saat ditemui November tahun lalu, dari populasi 10.000, ia mengaku kebagian untung bersih Rp4 juta—Rp5 juta/periode.
Demikian halnya dengan H. Idung. Setelah 6 tahun gonta-ganti mitra, sejak 2007 ia bergabung dengan PT Prima Karya Persada (PKP). Dari populasi 11.000 ekor broiler, setiap periode ia meraih keuntungan bersih rata-rata Rp4,4 juta. Jumlah itu diperoleh dari hasil penjualan produksi 16 ton, ditambah insentif (baca juga: Biar Nggak Buntung, Mendingan Bermitra)


Beragam Model
Secara umum, kemitraan ayam ras pedaging di tanah air terbagi menjadi 3 sistem: bagi hasil, harga kontrak, dan manajemen fee atau makloon (lihat boks). Meskipun dasar perhitungan laba rugi dalam sistem kemitraan tersebut adalah IP, tapi pola kemitraan yang diterapkan inti bermacam-macam. Persyaratannya pun beragam. Namun yang pasti, di setiap kantong peternak kemitraan, polanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan budaya.
Menurut Dawami, pola kemitraan yang diterapkan PKP tergantung daerah peternak masing-masing, ada sistem kontrak, ada pula bagi hasil. Di Kecamatan Tenjo, Bogor, misalnya, menerapkan sistem bagi hasil karena kondisi alamnya kurang mendukung untuk pemeliharaan ayam besar.
Soal skala usaha plasma, di PKP rata-rata 5.000 ekor/peternak agar mereka memperoleh keuntungan Rp4 juta—Rp5 juta/siklus. Namun di luar Jawa ada juga yang 2.000 ekor/peternak. Syarat lainnya adalah agunan, berupa personal garansi atau bentuk lainnya, plus nota kesepahaman. Dengan menerapkan dua model kemitraan, sejak 1995 sampai sekarang PKP sudah menggandeng ribuan peternak yang terkonsentrasi di Sumatera dan Jawa.
Sistem kemitraan di Grup CP yang dibangun mulai 1987, lebih ke harga kontrak. Skala usaha plasma minimal 5.000 ekor/peternak, plus agunan sekitar 10% dari nilai sapronak dan surat perjanjian. Dengan pola semacam itu, Darmansyah mengakui, kini pihaknya mampu merektut ribuan peternak yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusatenggara Barat.
Demikian juga sistem kemitraan yang dilakukan Wonokoyo. Menurut Heri, sistem dan persayaratan yang diterapkan hampir sama dengan pabrikan lain. Hanya saja skala usaha plasma minimal 10.000 ekor/peternak. Kemitraan itu sudah diterapkan sejak 1999, tapi masih terbatas di Jawa, khususnya Jatim.
Kemitraan harga kontrak juga diterapkan di TMF sejak 2004. Menurut Muslikhin Irmat, Pimpinan TMF, dengan skala usaha 5.000 ekor/plasma, TMP sudah menjaring 150 peternak.
Lain halnya dengan CJ Feed. Menurut Paulus Widanarko, General Manager Produk Unit Bisnis Kemitraan SUJA, sistem kemitraan yang baru dilakukan selama 1,5 tahun dengan menerapkan tiga pola. Namun, dari ratusan peternak yang sudah bergabung, lebih banyak memilih sistem kontrak. Skala usaha peternak mitra di SUJA minimal 4.000 ekor/peternak. Syarat lainnya, tak jauh beda dengan PKP maupun CP. Peternak plasmanya kini baru ada di Banten dan Jabar.
Sistem harga kontrak dan bagi hasil, dianut juga oleh Kelompok Duta Technovet (KDT) di Yogyakarta, yang diketuai Hari Wibowo. Hingga kini KDT sudah menjalin dengan 600 peternak di Gunung Kidul, Sleman, Bantul, dan Kulonprogo, semuanya masih di Provinsi DIY.
Apapun model yang dipilih, bila kedua belah pihak menjalankan hak dan kewajiban masing-masing dengan benar, kemitraan akan mendatangkan keuntungan. Buktinya, di Thailand, Filipina, Malaysia, dan Amerika, kemitraan bisa berjalan mulus, walaupun dengan sistem berbeda.
Dadang WI, Enny Purbani, Yan Suhendar, Selamet R., Ryan (Yogyakarta), Indah Retno Palupi (Surabaya)







Garis Besar Pola Kemitraan
Kemitraan harga kontrak:
o      Tidak peduli harga ayam di pasar seperti apa (harga mengikat)
o      Kerugian ditanggung peternak (kekeluargaan). Tapi kalau terjadi musibah alam atau wabah penyakit, kerugian ditanggung inti. Sebaliknya, jika akibat keteledoran peternak, kerugian ditanggung plasma.
Kemitraan bagi hasil:
o        Harga pokok/sapronak terbuka, alias ditentukan di muka.
o        Kerugian ditanggung bersama.
o       Harga panen tergantung pasar. Tapi inti menjamin plasma tetap mendapat keuntungan
 Kemitraan makloon:
-          Biaya operasional dihitung inti
-          Kerugian ditanggung inti
-          Harga panen mengikuti pasar


sumber : http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=7&aid=1177

Rabu, 21 Desember 2011

PANDUAN, CARA DAN TIPS BUDIDAYA PETERNAKAN BURUNG PUYUH





DAPATKAN BUKU BUDIDAYA BURUNG PUYUH. KLIK GAMBAR 
atau PESAN ONLINE via SMS 0852.57090.372
(SMS JUDUL BUKU/KOTA/KAB./PROPINSI}


Sebagian besar masyarakat Indonesia pasti sudah menikmati sedapnya telur puyuh. Jenis unggas yang dikenal sebagai Gemak merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Burung puyuh cukup mudah dibudidayakan. Dengan tingkat kebutuhan pasar yang tinggi menjadikan budidaya burung puyuh ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan.


puyuh-telur

Berikut ini adalah serba-serbi budidaya burung puyuh dimulai dengan sejarah singkat burung puyuh, sentra  budidaya burung puyuh, jenis-jenis burung puyuh, manfaat burung puyuh, persyaratan lokasi budidaya burung puyuh,  pedoman teknis budidaya burung puyuh, hama dan penyakit burung puyuh dan lain-lain.


SEJARAH SINGKAT
Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.


SENTRA PETERNAKAN
Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah


JENIS
Kelas : Aves (Bangsa Burung)

Ordo : Galiformes

Sub Ordo : Phasianoidae

Famili : Phasianidae

Sub Famili : Phasianinae

Genus : Coturnix

Species : Coturnix-coturnix Japonica


MANFAAT
  1. Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat

  2. Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya

  3. Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman

PERSYARATAN LOKASI
  1. Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk

  2. Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran

  3. Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit

  4. Bukan merupakan daerah sering banjir

  5. Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.

TEKNIS BUDIDAYA BURUNG PUYUH
Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan. Secara rinci akan kita bahan lebih lanjut satu persatu.


PENYEDIAAN SARANA DAN PERALATAN
1. Persiapan kandang
Untuk budidaya burung puyuh, persyaratan kandang yang baik perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25- 40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang. Sehingga kondisi kandang tidak lembab.
Dalam mempersipkan kandang burung puyuh ini, kita mempunyai 2 alternatif yang biasa diterapkan peternak puyuh, yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Sedangkan ukuran kandang yang digunakanumumnya untuk 1 m2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjutnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m2 sampai masa bertelur.
Ada beberapa tahapan dalam budidaya burung puyuh. Masing-masing tahapan idealnya memerlukan persiapan kandang yang sesuai, yaitu :
  • Kandang untuk induk pembibitan

Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan menghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasa membutuhkan luas kandang 200 m2.
  • Kandang untuk induk petelur

Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.
  • Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)

Jenis kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Sebaiknya kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (ukuran ini cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).
  • Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu)

Jenis kandang berikutnya, bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.
2. Kelengkapan kandang
Perlengkapan yang diperlukan dalam kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan.


PENYEDIAAN BIBIT
Seperti sudah diainggung diatas, penyediaan bibitmerupakan tahapan yang penting dalam budidaya burung puyuh. Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:
  1. Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.

  2. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.

  3. Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.

PEMELIHARAAN
Setelah kita dapatkan bibit yang baik, selanjutnya yang perlu mendapatkan perhatian adalah pemeliharaan puyuh, meliputi :
  • Kebersihan/Sanitasi dan Tindakan Preventif

Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin.
  • Pengontrolan Penyakit

Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup.
  • Pemberian Pakan

Pemberian pakan merupakan faktor yang penting dalam keberhasilan beternak burung puyuh dengan hasil yang maksimal. Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematukmatuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan diberikan terus-menerus.
  • Pemberian Vaksinasi

Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral).


HAMA DAN PENYAKIT
Seperti usaha pada umumnya, budidaya burung puyuh ini mengalami beberapa hambatan, umumnya serangan hama maupun penyakit. Untuk pencegahan ada baiknya kita mengetahui jenis-jenis hama ataupun penyakit yang sering menyerang unggas ini.
1. Radang usus (Quail enteritis)
Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pada usus.
Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.
Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.
2. Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yangspesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
Pengendalian:
  • menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang

  • pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.

3. Berak putih (Pullorum)
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.
Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.
4. Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian:
menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayoco
5. Cacar Unggas (Fowl Pox)
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.
Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.
Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.
6. Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.
Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.
7. Aspergillosis
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.
Gejala: Puyuh mengalami
gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.
8. Cacingan
Penyebab: sanitasi yang buruk.
Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.
Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.

PEMANENAN
Tahapan yang paling ditunggu oleh seorang pengusaha adalah saat pemanenan. Seperti telah didisinggung diatas, ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari budidaya burung puyuh ini, yaitu :
  • Hasil Utama

Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.
  • Hasil Tambahan

Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja untuk pupuk kandang serta bulu puyuh sebagai bahan baku kerajinan tangan.
Nah,,, Tunggu apalagi, satu jenis usaha, budidaya burung puyuh, beragam hasil yang didapat. Selamat menjadi pengusaha dan semoga sukses… :)




GUNAKAN SEARCH ENGINE INI UNTUK MENEMUKAN ARTIKEL ANDA :

Loading