Tampilkan postingan dengan label Peternakan Kelinci. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peternakan Kelinci. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2012

Koperasi Kelinci Pertama di Indonesia

Bergabung dalam koperasi supaya tidak dimainkan tengkulak. 


Komoditas ternak kelinci sebagai alternatif penghasil protein hewani kini kian digandrungi masyarakat. Alhasil sentra-sentra peternakan di berbagai daerah kelinci mulai banyak berkembang. Sayangnya peternakan yang ada umumnya masih skala kecil yang membuat posisi tawar peternak kelinci lemah sehingga acap kali harga jual kelinci dimainkan para tengkulak.

Kondisi ini sempat dialami Jefry Pakpahan seorang peternak kelinci hias asal CiapusBogorJawa Barat. Iamengatakan,selama ini pola pemasarankelinci hasil ternaknya masih melaluitengkulak atau pembeli yang datang langsung.Jefry beralasan memilih menjual ke tengkulak karena ada kepastian pembelian meski dengan harga rendah.

Peternak yang memelihara sekitar250 ekor kelinci hias inipun coba mengubah keadaan tersebut dengan bergabung Kopnakci (Koperasi Peternak Kelinci) di daerah Bogor. Jefry berharap dengan menjadi anggota Kopnakci dapat terbantu pemasaranhasil ternaknya. “Dengan mensuplai langsung  kepada koperasisaya harap hargajual bisalebih baik,” ujarnya kepada TROBOS.

Jefry menyebutkan keuntungan menjadi anggota koperasi adalah bisa bertukar pikiran antar peternak terhadap kendala beternak kelinci. “Harapan saya , koperasi dapat menimbulkan minat buat anggotanya maju. Lalu, akhirnya mempunyai efek domino terhadap masyarakat sekitar bahwa beternak kelinci sangat menguntungkan,” ungkap pria asal Sumatera Utara ini.



Pembentukan Koperasi

Menurut Ketua Kopnakci, Wahyu Darsono, untuk mencapai skala usaha ekonomis dan kapasitas produksi usaha peternakan kelinci yang besar diperlukan wadah dalam menjalankan kegiatan usaha sebagai pusat informasi, akses pemasaran dan pembinaan kelembagaan usaha ternak kelinci. “Koperasi merupakan wadah yang tepat,” tuturnya.

Wahyu menjelaskan,cikal bakal pembentukan Kopnakci dimulai dari keinginan para SMD (Sarjana Membangun Desa) 2010 untuk mengembangkan komoditas kelinci di wilayah Kabupaten Bogor yang berjumlah sebanyak 8 kelompok dan peternak kelinci sekitar daerah Bogor.Tujuannya supaya ada wadah integrasi usaha ternak kelinci secara komprehensif sehingga mampu mendukung daya saing dalam skala ekonomis yang sesuai dengan kondisi pasar.

Lalu alasan lainnya, lanjut lulusan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, kelinci merupakan komoditi potensial sebagai penyedia sumber daging selain sebagai hewan hias. Dkemudian ada juga ada pertimbangan bahwaskala pemeliharaan ternak kelinci relatif masih skala rakyat, belum ada skala industri yang besar.

Sehingga, ketika peternak membudidayakan 1 kandang 100 ekor maka jika berkumpul dengan 20 peternak menjadi 2.000 ekor.“Dan itu bisa memenuhi kebutuhan yang cukup besar, karena sekarang pasar cukup terbuka. Terkadang kalau tidak berkumpul maka kendalanya harga tidak seragam dan akan dimainkan oleh tengkulak,” kata Wahyu.

Ia menyebutkan sampai saat ini jumlah anggota koperasi yang berdiri pada Juni 2011 ini  tercatat 80 orang. Para anggota terdiri atas 20 kelompok yang berasal dari program SMD 8 kelompok dan sisanya adalah non SMD. Rata-rata 1kelompok anggota koperasi berjumlah 3 orang, tetapi ada beberapa kelompok lebih dari 3 orang.“Karena dalam satu kelompok yang ikut koperasi biasanya Ketua, Sekretaris dan bendahara kelompok. Anggota kelompok lainnya tidak diwajibkan menjadi anggota koperasi, hanya ketika melakukan pembinaan seluruh anggotanya dapat hadir,” jelas Wahyu.



Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Desember 2011

http://www.trobos.com/show_article.php?rid=8&aid=3192 

Senin, 18 Juli 2011

KISAH SUKSES SEORANG LULUSAN SD SUKSES BETERNAK KELINCI

Kesuksesan seseorang sebenarnya ditunjukkan dari niat dan kemauan yang keras agar dapat maju. Banyak orang yang memiliki pendidikan tinggi akhirnya tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik. Hal ini diakibatkan kurang fokusnya dia dalam bekerja. Terlalu banyak tahu namun sedikit berbuat. Itulah kira-kira sifat manusia yang memiliki pendidikan tinggi. Berikut ini adalah artikel dari salah satu media cetak yang saya kutip mengenai kesuksesan seseorang dalam beternak kelinci. Selamat membaca.


Sekalipun hanya lulus sekolah dasar, Sukarno Munawar piawai dalam beternak kelinci. Kepandaiannya mengurus hewan ini mengundang minat dari berbagai kalangan, mulai dari sesama peternak kelinci, pelajar sekolah menengah kejuruan, sampai peneliti bergelar S-2 dan S-3 dari Balai Penelitian Ternak. Mereka ”berguru” budidaya kelinci kepadanya.



DAPATKAN BUKU-BUKU PETERNAKAN 
PANDUAN MEMELIHARA DAN BETERNAK KELINCI
atau via SMS 0852.57090.372




Mereka datang dari Bogor, Bandung, Bali, sampai Nusa Tenggara Barat. Mereka menemui Sukarno yang tinggal di lereng Gunung Merbabu, Dusun Klabaran, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, atau sekitar 20 kilometer dari Kota Magelang.



Sekali datang, rombongan yang ingin belajar budidaya ternak kelinci itu bisa lebih dari 20 orang. Saat menerima mereka, sebenarnya dia malu. Sebab, ruang tamunya yang berukuran 6 x 5 meter itu membuat para ”murid” harus berdiri berjejalan sambil mendengarkan penjelasannya. Bahkan, saat hujan deras, suasana belajar terganggu dengan bocor di sana-sini.



”Saya bersyukur karena mereka tetap antusias mendengarkan penjelasan sampai selesai,” ceritanya. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang mengikuti pembelajaran dan pelatihan dari Sukarno selama dua-tiga hari.



Pengalamannya selama 18 tahun bergelut dalam usaha ternak kelinci berawal dari program pemberian bantuan 25 kelinci Australia dari pemerintah ke Kecamatan Ngablak pada 1992. Karena warga Kecamatan Ngablak yang mayoritas petani sayur tak tahu cara merawat kelinci, banyak kelinci yang mati.



Penasaran dengan kondisi itu, Sukarno yang tak mendapat jatah bantuan kelinci kemudian membeli lima kelinci yang masih hidup seharga Rp 125.000. Dari kelima kelinci itu, empat di antaranya betina.



Waktu itu, tindakan Sukarno menjadi bahan tertawaan warga sekitarnya. ”Kata mereka, kalau ingin kaya dan sukses, seharusnya saya menabung untuk beli kambing atau sapi, bukan beli kelinci,” ujarnya.



Mengikuti pelatihan



Namun, Sukarno justru yakin, tekadnya beternak kelinci bakal menuai sukses. Menyadari pengetahuannya tentang beternak kelinci tak ada, ia rajin mencari informasi tentang pelatihan beternak kelinci. Ia merogoh kocek untuk mengikuti pelatihan sampai ke Surabaya dan Malang, Jawa Timur.



Lima bulan pertama, dari empat kelinci betina itu, seekor di antaranya beranak 5-7 ekor. Ia lalu bisa menjual 20-30 kelinci anakan. Kelinci itu dijual sebagai bibit. Harga satu paket bibit, terdiri dari tiga kelinci usia 2-3 bulan, Rp 100.000.



Jika pembeli menghendaki sepasang kelinci, harganya Rp 60.000. Jika pembeli ingin membeli kelinci betina saja, harganya Rp 40.000 dan har- ga kelinci jantan Rp 20.000 seekor.



”Hanya dalam dua bulan, modal saya sudah kembali,” kata Sukarno yang waktu itu juga menjual kelinci berumur 35-45 hari.



Namun, kematian juga terjadi pada sebagian kelincinya. Hal itu tidak sampai membuat tekadnya beternak kelinci surut. Pada bulan keenam, dia mulai mengembangkan usaha. Sukarno menambah jumlah indukan hingga mampu mendapat 70 kelinci anakan per bulan.



Waktu itu, sebagai satu-satunya peternak kelinci di Dusun Klabaran, Sukarno harus berjuang sendiri. Baru sekitar



tahun 1998 lima warga lainnya berminat setelah melihat sukses yang diraihnya. Mereka lalu membeli kelinci dari Sukarno dan mulai beternak kelinci.



Melihat semakin banyak tetangga yang berminat beternak kelinci, pada 2001 Sukarno membentuk Kelompok Ternak Kelinci Sumber Makmur di Dusun Klabaran. Dari total 140 keluarga di Dusun Klabaran, 85 orang di antaranya anggota Kelompok Ternak Kelinci Sumber Makmur. Total populasi kelincinya sekitar 1.600 ekor.



Setelah membentuk kelompok, Sukarno mendekati Dinas Peternakan dan Paguyuban Peternak Kelinci Magelang untuk memperkenalkan Kelompok Ternak Kelinci Sumber Makmur. Tujuannya, agar kelompoknya semakin dikenal orang dan diikutsertakan dalam pameran dan berbagai program pembinaan.



Adanya kelompok peternak itu rupanya berhasil memicu gairah beternak kelinci di desa-desa lain. Sejak tahun 2008 Sukarno menjadi Ketua Asosiasi Ternak Kelinci Merbabu yang beranggotakan 1.400 peternak kelinci di 16 desa di Kecamatan Ngablak. Total populasi kelincinya 16.000 ekor.



Memasarkan



Tak beda dengan awal memulai beternak kelinci, usaha memasarkan kelinci pun dimulai Sukarno dengan susah payah. Awalnya, dia menawarkan kelinci kepada warga di desa tetangga. Setiap kali ada pertemuan kelompok petani sayur tingkat desa ataupun kecamatan, dia manfaatkan untuk berpromosi.



”Kalau kebetulan menengok kerabat di desa atau kecamatan lain, saya sekalian berusaha menceritakan soal ternak kelinci. Harapannya, mereka berminat membeli kelinci,” ujar Sukarno.

LinkScanner Pro - Keep your surfing safe

Dia juga rajin mendatangi pasar-pasar hewan di sejumlah kecamatan di Kabupaten Magelang. ”Dalam hati, saya memotivasi diri sendiri supaya tidak kapok ke pasar sekalipun di pasar belum tentu ada yang mau beli kelinci.”



Namun, semua itu merupakan cerita masa lalu. Sekarang Sukarno dan Kelompok Ternak Kelinci Sumber Makmur kewalahan memenuhi permintaan konsumen. Mereka bahkan tak mampu memenuhi permintaan yang datang dari sejumlah kota di Pulau Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan. Setiap bulan rata-rata permintaan kelinci anakan mencapai 500 ekor. Sementara produksi mereka masih sebanyak 200-300 ekor.



”Jadi, terkadang kami pun terpaksa meminta tambahan dari kelompok ternak kelinci di desa lain atau bahkan dari kecamatan lain,” ujar Sukarno.



Setelah sukses berbudidaya kelinci, Sukarno ingin membagikan ilmunya kepada orang lain. Ada undangan atau tidak, dia rutin bepergian ke luar kota meski sekadar menghadiri pertemuan kelompok tani untuk memaparkan usaha ternak kelinci.



Perjalanan itu dia lakukan sampai ke daerah Sleman, DI Yogyakarta, Temanggung, Purworejo, serta beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Magelang. Untuk semua perjalanan dan informasi itu, Sukarno tidak meminta imbalan.



”Bisa membagi ilmu kepada orang lain itu sudah mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi saya,” ujar Sukarno kalem. (Kompas)