Rabu, 04 Juli 2012

NATURAL NUSANTARA (NASA) : BUDIDAYA IKAN KERAPU

Salah satu jenis ikan yang mempunyai potensi untuk dibudidayakan adalah jenis ikan kerapu tikus (Cromileptes altivalis) karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi dengan harga Rp.100.000,- - Rp.150.000,- per kilogram bagi ikan kerapu tikus hidup berukuran di atas 300 gram di tingkat pedagang pengumpul.



LOKASI

Pemilihan lokasi untuk budidaya ikan kerapu memegang peranan yang sangat penting. Permilihan lokasi yang tepat akan mendukung kesinambungan usaha dan target produksi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi untuk budidaya ikan kerapu ini adalah faktor resiko seperti keadaan angin dan gelombang, kedalaman perairan, bebas dari bahan pencemar, tidak mengganggu alur pelayaran; faktor kenyamanan seperti dekat dengan prasarana perhubungan darat, pelelangan ikan (sumber pakan), dan pemasok sarana Dan prasarana yang diperlukan (listrik, telpon), dan faktor hidrografi seperti selain harus jernih, bebas dari bahan pencemaran dan bebas dari arus balik, Dan perairannya harus memiliki sifat fisik dan kimia tertentu (kadar garam, oksigen terlarut).



ANALISIS PRODUKSI

Kerapu merupakan jenis ikan demersal yang suka hidup di perairan karang, di antara celah-celah karang atau di dalam gua di dasar perairan. Ikan karnivora yang tergolong kurang aktif ini relatif mudah dibudidayakan, karena mempunyai daya adaptasi yang tinggi. Untuk memenuhi permintaan akan ikan kerapu yang terus meningkat, tidak dapat dipenuhi dari hasil penangkapan sehingga usaha budidaya merupakan salah satu peluang usaha yang masih sangat terbuka luas.



Dikenal 3 jenis ikan kerapu, yaitu kerapu tikus, kerapu macan, dan kerapu lumpur yang telah tersedia dan dikuasai teknologinya. Dari ketiga jenis ikan kerapu di atas, untuk pengembangan di Kabupaten Kupang ini disarankan jenis ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Hal ini karena harga per kilogramnya jauh lebih mahal dibandingkan dengan kedua jenis kerapu lainnya. Di Indonesia, kerapu tikus ini dikenal juga sebagai kerapu bebek atau di dunia perdagangan internsional mendapat julukan sebagai panther fish karena di sekujur tubuhnya dihiasi bintik-bintik kecil bulat berwarna hitam.



Penyebaran dan Habitat

Daerah penyebaran kerapu tikus di mulai dari Afrika Timur sampai Pasifik Barat Daya. Di Indonesia, ikan kerapu banyak ditemukan di perairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru, dan Ambon. Salah satu indikator adanya kerapu adalah perairan karang. Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas sehingga potensi sumberdaya ikan kerapunya sangat besar.



Dalam siklus hidupnya, pada umumnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 m, selanjutnya menginjak dewasa beruaya ke perairan yang lebih dalam antara 7 – 40 m. Telur dan larvanya bersifat pelagis, sedangkan kerapu muda dan dewasa bersifat demersal. Habitat favorit larva dan kerapu tikus muda adalah perairan pantai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun.



Parameter-parameter ekonlogis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24 – 310C, salinitas antara 30-33 ppt, kandungan oksigen terlarut > 3,5 ppm dan pH antara 7,8 – 8. Perairan dengan kondisi seperti ini, pada umumnya terdapat di perairan terumbu karang.



Proses Budidaya

Budidaya ikan kerapu tikus ini, dapat dilakukan dengan menggunakan bak semen atau pun dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA). Untuk keperluan studi ini, dipilih budidaya dengan menggunakan KJA. Budidaya ikan kerapu dalam KJA akan berhasil dengan baik (tumbuh cepat Dan kelangsungan hidup tinggi) apabila pemilihan jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran benih yang ditebar dan kepadatan tebaran sesuai.



Pemilihan Benih

Kriteria benih kerapu yang baik, adalah : ukurannya seragam, bebas penyakit, gerakan berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidakberaturan atau gelisah tetapi akan bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh.



Penebaran Benih

Proses penebaran benih sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih. Sebelum ditebarkan, perlu diadaptasikan terlebih dahulu panda kondisi lingkungan budidaya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam adaptasi ini, adalah :

(a) waktu penebaran (sebaikanya pagi atau sore hari, atau saat cuaca teduh)

(b) sifat kanibalisme yang cenderung meningkat panda kepadatan yang tinggi

(c) aklimatisasi, terutama suhu dan salinitas.
Pendederan

Benih ikan kerapu ukuran panjang 4 – 5 cm dari hasil tangkapan maupun dari hasil pembenihan, didederkan terlebih dahulu dalam jaring nylon berukuran 1,5x3x3 m dengan kepadatan ± 500 ekor. Sebulan kemudian, dilakuan grading (pemilahan ukuran) dan pergantian jaring. Ukuran jaringnya tetap, hanya kepadatannya 250 ekor per jaring sampai mencapai ukuran glondongan (20 – 25 cm atau 100 gram). Setelah itu dipindahkan ke jaring besar ukuran 3x3x3 m dengan kepadatan optimum 500 ekor untuk kemudian dipindahkan ke dalam keramba pembesaran sampai mencapai ukuran konsumsi (500 gram).



Pakan dan Pemberiannya

Biaya pakan merupakan biaya operasional terbesar dalam budidaya ikan kerapu dalam KJA. Oleh karena itu, pemilihan jenis pakan harus benar-benar tepat dengan mempertimbangkan kualitas nutrisi, selera ikan dan harganya. Pemberian pakan diusahakan untuk ditebar seluas mungkin, sehingga setiap ikan memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pakan. Pada tahap pendederan, pakan diberikan secara ad libitum (sampai kenyang). Sedangkan untuk pembesaran adalah 8-10% dari total berat badan per hari. Pemberian pakan sebaiknya pada pagi dan sore hari. Pakan alami dari ikan kerapu adalah ikan rucah (potongan ikan) dari jenis ikan tanjan, tembang, dan lemuru. Benih kerapu yang baru ditebar dapat diberi pakan pelet komersial. Untuk jumlah 1000 ekor ikan dapat diberikan 100 gram pelet per hari. Setelah ± 3-4 hari, pelet dapat dicampur dengan ikan rucah. Produk NASA yang dapat digunakan adalah Viterna dan POC NASA, kedua produk ini dicampur terlebih dahulu menjadi satu.

Dosis : 1 tutup botol campuran dari 2 produk NASA tersebut dicampurkan pada 1 liter air, kemudian disemprotkan atau direndam pada 5 kg pelet atau pakan ikan kerapu lainnya. Selanjutnya dikeringanginkan secukupnya sekitar 15 menit, kemudian baru pakan atau pelet ditebar di kolam. Pemberian 1 - 2 kali per hari pemberian pada pagi atau sore hari.



Hama dan Penyakit

Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA adalah ikan buntal, burung, dan penyu. Sedang, jenis penyakit infeksi yang sering menyerang ikan kerapu adalah :

(a) penyakit akibat serangan parasit, seperti : parasit crustacea dan flatworm

(b) penyakit akibat protozoa, seperti : cryptocariniasis dan broollynelliasis

(c) penyakit akibat jamur (fungi), seperti : saprolegniasis dan ichthyosporidosis

(d) penyakit akibat serangan bakteri

(e) penyakit akibat serangan virus, yaitu VNN (Viral Neorotic Nerveus).



Panen dan Penanganan Pasca Panen

Beberapa hal yang perlu diperhatikan udanntuk menjaga kualitas ikan kerapu yang dibudidayakan dengan KJA, antara lain : penentuan waktu panen, peralatan panen, teknik panen, serta penanganan pasca panen. Watu panen, biasanya ditentukan oleh ukuran permintaan pasar. Ukuran super biasanya berukuran 500 – 1000 gram dan merupakan ukuran yang mempunyai nilai jual tinggi. Panen sebaiknya dilakukan pada padi atau sore hari sehingga dapat mengurangi stress ikan pada saat panen. Peralatan yang digunakan pada saat panen, berupa : scoop, kerancang, timbangan, alat tulis, perahu, bak pengangkut dan peralatan aerasi. Teknik pemanenan yang dilakukan pada usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA dengan metoda panen selektif dan panen total. Panen selektif adalah pemanenan terhadap ikan yang sudah mencapai ukuran tertentu sesuai keinginan pasar terutama pada saat harga tinggi. Sedang panen total adalah pemanenan secara keseluruhan yang biasanya dilakukan bila permintaan pasar sangat besar atau ukuran ikan seluruhnya sudah memenuhi kriteria jual. Penanganan pasca panen yang utama adalah masalah pengangkutan sampai di tempat tujuan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar kesegaran ikan tetap dalam kondisi baik. Ini dilakukan dengan dua cara yaitu pengangkutan terbuka dan pengangkutan tertutup. Pengangkutan terbuka digunakan untuk jarak angkut dekat atau dengan jalan darat yang waktu angkutnya maksimal hanya 7 jam. Wadah angkutnya berupa drum plastik atau fiberglass yang sudah diisi air laut sebanyak ½ sampai 2/3 bagian wadah sesuai jumlah ikan. Suhu laut diusahakan tetap konstan selama perjalanan yaitu 19-210C. Selama pengangkutan air perlu diberi aerasi. Kepadatan ikan sekitar 50kg/wadah.



Cara pengangkutan yang umum digunakan adalah dengan pengangkutan tertutup Dan umumnya untuk pengangkutan dengan pesawat udara. Untuk itu, 1 kemasan untuk 1 ekor ikan dengan berat rata-rata 500 gam.



Konstruksi Keramba Jaring Apung

a. Pembuatan Rakit Keramba

1. Rakit

Rakit dapat dibuat dari bahan kayu, bambu atau besi yang dilapisi anti karat. Ukuran bingkai rakit biasanya 6 x 6 m atau 8 x 8 m.



2. Pelampung

Untuk mengapungkan satu unit rakit, diperlukan pelampung yang berasal dari bahan drum bekas atau drum plastik bervolume 200 liter, styreofoam da drum fiber glass. Kebutuhan pelampung untuk satu unit rakit ukuran 6x6 m yang dibagi 4 bagian diperlukan 8-9 buah pelampung dan 12 buah pelampung untuk rakit berukuran 8x8 m.



3. Pengikat

Bahan pengikat rakit bambu dapat digunakan kawat berdiameter 4-5 mm atau tali plastik polyetheline. Rakit yang terbuat dari kayu dan besi, pengikatannya menggunakan baut. Untuk mengikat pelampung ke bingkai rakit digunakan tali PE berdiameter 4-6 mm.



4. Jangkar

Untuk menahan rakit agar tidak terbawa arus air, digunakan jangkar yang terbuat dari besi atau semen blok. Berat dan bentuk jangkar disesuaikan dengan kondisi perairan setempat. Kebutuhan jangkar per unit keramba minimal 4 buah dengan berat 25 - 50 kg yang peletakannya dibuat sedemikian rupa sehingga rakit tetap pada posisinya. Tali jangkar yang digunakan adalah tali plastik/PE berdiameter 0,5 – 1,0 inchi dengan panjang minimal 2 kali kedalaman perairan.



b. Pembuatan Jaring

1. Jaring

Kantong jaring yang dipergunakan dalam usaha budidaya ikan kerapu, sebaiknya terdiri dari dua bagian, yaitu : 
(a) Kantong jaring luar yang berfungsi sebagai pelindung ikan dari seranganikan-ikan buas dan hewan air lainnya. Ukuran kantong dan lebar mata jaring untuk kantong jaring luar lenih besar dari kantong jaring dalam

(b) Kantong jaring dalam, yang dipergunakan sebagai tempat memelihara ikan. Ukurannya bervariasi dengan pertimbangan banyaknya ikan yang dipelihara dan kemudahan dalam penanganan dan perawatannya.



2. Pemberat

Pemberat berfungsi untuk menahan arus dan menjaga jaring agar tetap simetris. Pemberat yang terbuat dari batu, timah atau beton dengan berat 2 – 5 kg per buah, dipasang pada tiap-tiap sudut keramba/ jaring.



ANALISIS PASAR

Potensi dan peluang pasar hasil laut dan ikan cukup baik. Pada tahun 1994, impor dunia hasil perikanan sekitar 52,492 juta ton. Indonesia termasuk peringkat ke-9 untuk ekspor ikan dunia. Permintaan ikan panda tahun 2010diperkirakan akan mencapai 105 juta ton.



Di samping itu, peluang dan potensi pasar dalam negeri juga masih baik. Total konsumsi ikan dalam negeri tahun 2001 sekitar 46 juta ton dengan konsumsi rata-rata 21.71 kg/kepala/tahun. Dengan elastisitas harga 1.06 berarti permintaan akan ikan tidak akan banyak berubah dengan adanya perubahan harga ikan.



Negara yang menjadi tujuan ekspor ikan kerapu adalah Hongkong, Taiwan, Cina, dan Jepang. Harga ikan kerapu di tingkat pembudidaya untuk tujuan ekspor telah mencapai US$33 per kilogramnya. Ikan kerapu yang berukuran kecil (4-5 cm) sebagai ikan hias laku dijual dengan harga Rp.7.000/ekor sedang untuk ikan konsumsi dengan ukuran 400-600 gram/ekor laku dijual dengan harga Rp.70.000/kg untuk kerapu macan dan Rp.300.000/kg untuk kerapu bebek atau kerapu tikus (harga tahun 2001). Dalam analisis ini, tingkat harga jual digunakan harga pasaran saat ini yaitu sebesar Rp.317,000,- per kilogram untuk jenis ikan kerapu tikus. Dengan tingginya permintaan dan harga jual ikan kerapu, maka usaha budidaya ikan kerapu ini diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkandevisa negara melalui hasil ekspor.



Perkiraan Modal/Biaya Investasi dan Biaya Produksi

Untuk mendirikan usaha/proyek pengembangan usaha budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba jaring ikat, dibutuhkan sejumlah dana untuk membiayai investasi dan modal kerja.
Komponen biaya investasi ini, meliputi :

a. Pembuatan rakit berukuran 8 x 8 m

b. Pembuatan waring berukuran 1 x 1 x 1,5 m

c. Pembuatan jaring ukuran 3 x 3 x 3 m

d. Pembuatan rumah jaga

e. Pengadaan sarana kerja



Sedang untuk modal kerja meliputi : biaya pengadaan benih, pakan, bahan bakar, upah/gaji, dan lain-lain.



Referensi : LEMBAGA PENELITIAN UNDANA KERJASAMA DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN KUPANG DENGAN LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG

CARA PENGGUNAAN Ovaprim Syndel 10 ml

Ovaprim Syndel 
# Cara mudah dan cepat untuk membantu pematangan dan pengeluaran telur pada pembenihan ikan 
# Kemasan : 10 ml (tidak termasuk alat suntik dan aquades), Aquades dan alat suntik dapat Anda beli di Apotik. 
 
Ovaprim Syndel berfungsi merangsang pelepasan telur dan anti stress pada ikan. Disuntikan pada ikan betina dan jantan. Efektif untuk menstimulasi pelepasan telur pada induk ikan betina dan menambah jumlah sperma pada induk ikan jantan. Biasa digunakan dalam pembibitan ikan Lele, Bawal, Patin, Mas, Gurame, Koi dan ikan-ikan lainnya. 
 
Berikut adalah sekedar gambaran aplikasi Ovaprim pada budidaya pembenihan lele sangkuriang :

1. Siapkan kolam perkawinan, air sudah di endapkan/diaerasi minimal 24 jam. Ketinggian air 30-40cm. Ijuk sudah di siapkan

2. Persiapkan induk betina yang sudah sangat gendut perutnya. Persiapkan juga 2-3 ekor jantan yang sehat

3. Proses penyuntikan dilakukan jam 4 sore Dosis yang digunakan adalah sebagai berikut : Betina : 0.5ml per 1 kg berat ikan, Jantan : 0.25ml per 1 kg berat ikan Ikan dilepas ke kolam 0.5-1jam setelah proses penyuntikan

4. Pagi hari sekitar jam 06:00 telur terlihat sudah dikeluarkan dan menempel pada ijuk. Induk lele sudah bisa diangkat dan ijuk sudah bisa dipindahkan ketempat yang lebih bersih airnya dan lebih luas dengan tujuan agar telur yang tidak terbuahi dan busuk tidak meracuni benih2 yang berhasil menetas

5. Dua hari kemudian burayak lele sudah terlihat berenang


Dengan menggunakan Ovaprim jumlah telur yang dikeluarkan menjadi lebih banyak sehingga jumlah burayak menjadi lebih banyak juga. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan perkawinan secara alami. Selain itu proses perkawinan dapat dikontrol waktunya sehingga petani menjadi lebih leluasa dalam membuat perhitungan produksi. Untuk aplikasi penyuntikan pada jenis2 ikan lainnya gunakan dosis 0.5ml untuk tiap 1kg berat induk ikan Info : Penyuntikan pada jantan tidak diharuskan tapi akan lebih baik jika dilakukan dimana tujuannya adalah untuk membantu agar induk jantan menjadi lebih terangsang dan juga menambah jumlah spermanya. Untuk pemakaian dosis pada praktek dilapangan ternyata tidak harus seusai dengan aturan dosis. Contoh untuk ikan betina yang perutnya sudah sangat gendut dan matang telur, penggunaan dosis ovaprim dapat dikurangi sedikit dari jumlah aturan pakainya. 
sumber : 




Senin, 02 Juli 2012

Bagaimana Ayam Dapat Tumbuh Cepat

Pada masa kini, ayam khususnya ayam negeri atau biasa disebut ayam ras seperti ayam broiler dapat tumbuh dengan cepat, sehingga dapat dipanen hanya dalam waktu 30 hari. Wajar bila timbul pertanyaan, bagaiman caranya ayam dapat tumbuh secepat itu sehingga beredarlah rumor seperti : Ayam cepat besar karena disuntik zat kimia hormon. Kenyataan sebenarnya, ayam dapat tumbuh secepat itu karena 3 faktor, yaitu :



1. Bibit unggul

Ayam dapat tumbuh cepat karena secara genetis memang ayam jenis ini cepat besar. Ayam ini dari safat keturunannya memang dipelihara sebagai ayam pedaging, atau ayam broiler. Ditambah lagi dengan seleksi ketat guna memperoleh bibit unggul, dimulai dari seleksi ayam nenek, ayam induk dan ayam umur sehari.



2. Lingkungan

Ayam dipelihara pada lingkungan yang baik dan sehat, dalam kandang yang diatur sirkulasi udara serta dijaga kebersihannya. Lingkungan ini memberikan suasana nyaman sehingga ayam tidak mudah stres dan terserang penyakit.



3. Pakan Ayam

Diberi pakan yang diatur gizinya dan disesuaikan dengan umurnya. Kebutuhan zat makanan seperti protein, kalsium, karbohidrat dan sebagainya diperhitungkan secara cermat dan dilakukan tes kandungan gizi pakan ternak di laboratorium. PT. Natural Nusantara yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang agrokompleks telah memiliki produk pemacu pertumbuhan ayam yang bersifat organik yang bernama Viterna, POC Nasa dan Hormonik. Ketiga produk tersebut berasal dari bahan-bahan alami sehingga tidak menimbulkan efek samping atau gangguan kesehatan bagi manusia yang mengkonsumsi daging ayam tersebut. Selain memacu pertumbuhan ayam sehingga ayam dapat cepat dipanen dengan berat yang signifikan, seperti umur 38 hari sudah dapat mencapai berat hidup rata-rata sebesar 2 kg per ekor, Viterna, POC Nasa dan hormonik berperan dalam mengurangi angka kematian rata-rata dibawah 2%, menghemat pakan secara total rata-rata FCR yang dihasilkan sebesar 1,3 - 1,5.



Demikian pula, kualitas daging yang dihasilkan sangat mendukung program Departemen kesehatan, yaitu hasil uji kandungan daging di Laboratorium Fakultas Teknologi Pertanian UGM Yogyakarta, diperoleh hasil bahwa daging ayam yang menggunakan produk Nasa memiliki kandungan protein yang tinggi dan rendah kandungan kolesterolnya Ditambah lagi dengan kemanfaatan dapat mengurangi bau kotoran ayam sehingga tidak menimbulkan masalah sosial pada lokasi kandang yang berjarak tidak jauh dari wilayah pemukiman penduduk. Cara pemberiannya adalah ketiga produk nasa tersebut, yaitu : 1 botol Viterna, 1 botol POC Nasa dan 1 botol Hormonik dicampur terlebih dahulu menjadi satu, kemudian ambillah 1 tutup botol campuran ketiga produk Nasa tadi, dimasukkan ke dalam 10 liter air minum diberikan 1 kali setiap hari.



Ibarat hendak 'mencetak' olahragawan tangguh, proses harus dimulai dari pemilihan bibit, pemberian pakan, dan memberikan lingkungan terbaik agar ayam tumbuh dengan cepat dan sehat. Tidaklah seperti anggapan selama ini, begitu disuntik zat kimia hormon, ayam akan segera tumbuh. Ayam bukanlah balon yang begitu dipompa segera menjadi besar. (NASA)

Sabtu, 30 Juni 2012

Nutrend International : Herbafarm Ternak Produksi PT. SidoMuncul

  • Herbafarm Ternak adalah suatu formula yang mengandung nutrisi/suplemen untuk pertumbuhan serta meningkatkan sistem imun pada hewan ternak dengan komposisi mengandung probiotik, nutrisi organik, serta essential material yang diperlukan bagi perkembangan ternak.

  • Herbafarm Ternak diformulasi khusus dari bahan-bahan herbal yang dapat diaplikasikan untuk sebagian besar jenis ternak, antara lain, ayam, bebek, kelinci, kambing, domba, kerbau, sapi, kuda dll.



Kandungan Nutrisi Herbafarm Ternak


  • Mineral Seimbang : Mineral makro terdiri dari Ca, P, K, Na, Cl, S, dan Mg. Mineral mikro terdiri dari I, Co, Mn, Cu, Zn, F dan Fe. Untuk meningkatkan metabolisme tubuh, daya tahan, dan untuk meningkatkan penyerapan protein.

  • Asam-asam Amino (Protein) : Glysin, Arginin, Threonin, Alanin, Prolin, Tyrosin, Methionin, Isoleusin, Leusine, Serin, Fenilalanin, Lisin. Sebagai makanan bergizi (protein) bagi ternak serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan ternak.

Kandungan Mikroba Probiaotik Herbafarm Ternak

  • Lactobacillus sp. merupakan jenis bakteri probiotik. Berhubungan dengan kemampuannya untuk menghambat bakteri patogen melalui sekresi senyawa antibakteri seperti asam laktat, peroksida dan bakteriosin.

  • Aspergillus sp. merupakan jenis fungi yang menghasilkan enzim selulase mencerna pakan berserat sehingga menjadi komponen yang lebih sederhana.

  • Saccharomyces cereviceae merupakan khamir yang tergolong eurokariot yang berbentuk seperti bulatan lonjong bersifat probiotik. Jenis mikroba ini mempunyai beberapa enzim yang mempunyai fungsi penting yaitu intervase, peptidase dan zimase. Pada sapi mikroba ini meningkatkan produksi susu dan bobot badan.

  •  Azotobacter sp, species rizobakteri yang dikenal sebagai agen biologis pemiksasi dinitrogen diazotrof, yang menkonversi dinitrogen ke amonium melalui reduksi elektron dan protonasi gas dinitrogen.

  • Azospirillum sp, merupakan bakteri yang menghambat nitorogen nonsimbiotik dan menghasilkan hormon pertumbuhan serta mampu merombak bahan organik seperti karbohidrat, lemak dan protein.

Keunggulan Hebafarm Ternak

  1. Mempercepat pertumbuhan fisik hewan ternak

  2. Menambah nafsu makan

  3. Memacu enzim pencernaan

  4. Mengefisienkan pemberian pakan

  5. Mengandung mineral-mineral esensial

  6. Mempercepat usia potong hewan ternak

  7. Meningkatkan jumlah produksi telur khusus untuk hewan ternak petelur

  8. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh hewan ternak



Aplikasi Herbafarm Ternak

  • Ternak besar : Kerbau, sapi, kuda : 5 – 10 ml Nutrend Herbafarm Ternak dilarutkan dalam 1 – 2 liter air minum ternak, diberikan untuk diminum setiap hari. Khusus hewan ternak yang menyusui, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas air susunya pemberian Nutrend Herbafarm Ternak sebanyak 10 – 15 ml dilarutkan dalam 1 – 2 liter air minum ternak.

  • Ternak kecil : Kambing, kelinci : 2 – 4 ml Nutrend Herbafarm Ternak dilarutkan dalam 1 - 2 liter air minum ternak, diberikan untuk diminum setiap hari. Khusus hewan ternak yang menyusui, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas air susunya pemberian Nutrend Herbafarm Ternak sebanyak 5 - 10 ml dilarutkan dalam 1 - 2 liter air minum ternak.

  • Ternak unggas : ayam, itik : 1- 2 ml Nutrend Herbafarm Ternak dilarutkan dalam 1 liter air minum ternak, untuk diminum  setiap hari.

Kesimpulan

  • Herbafarm Ternak dapat meningkatkan pertumbuhan bobot dan mempercepat masa panen ternak.

  • Herbafarm Ternak dapat meningkatkan konversi ransum pakan,   sehingga dapat menghemat biaya produksi.

  • Herbafarm Ternak mampu meningkatkan daya imunitas ayam broiler terhadap penyakit, sehingga tidak memerlukan tambahan vaksin atau hormon.

  • Herbafarm Ternak mampu mengurangi biaya produksi dan meningkatkan produktivitas daging hewan ternak sehingga dapat meningkatkan keuntungan finansial peternak.

copy from info nutrend intl

Kamis, 28 Juni 2012

Menghadapi Dilema Defisiensi Nutrisi pada Ayam Potong (Broiler)



DAPATKAN PRODUK OBAT-OBATAN AYAM BROILER DISINI





Unggas, terutama ayam memerlukan asupan nutrisi yang tepat dan seimbang, baik dalam kuantitas maupun kualitas. Ransum dengan kandungan nutrisi sesuai kebutuhan menjadi faktor penting yang menentukan produktivitas ayam (pertumbuhan maupun produksi telur). Stamina dan kondisi kesehatan ayam pun akan optimal jika ayam memperoleh asupan nutrisi yang sesuai.
Secara umum, nutrisi yang diperlukan oleh ayam dibagi menjadi 2, yaitu nutrisi makro (karbohidrat, protein, lemak, serat) dan nutrisi mikro (mineral, vitamin maupun asam amino). Kebutuhan kedua nutrisi ini hendaknya dapat terpenuhi dari ransum yang kita berikan. Namun pada kenyataannya, seringkali kebutuhan nutrisi mikro terabaikan. Hal ini bisa saja disebabkan ketidaktahuan kita, karena kadarnya yang relatif kecil dan sulit untuk dideteksi. Atau karena proses penanganan dan penyimpanan ransum yang tidak sesuai sehingga dapat menyebabkan penurunanan kadar nutrisi mikro ini, terlebih lagi vitamin relatif tidak stabil (mudah terpengaruh oleh suhu, cahaya maupun oksigen).
Kondisi tersebut tentu saja akan memunculkan gab (celah) antara kebutuhan dengan nutrisi yang diberikan. Akibatnya ayam akan megalami gangguan produktivitas. Kondisi ini seringkali disebut dengan istilah defisiensi nutrisi. Secara umum kejadian defisiensi nutrisi ini bisa disebabkan jumlah nutrisi di dalam ransum kurang sehingga meskipun jumlah feed intake (konsumsi) ayam sudah sesuai, namun kebutuhan nutrisinya tetap belum terpenuhi atau sebaliknya, jumlah ransum yang dikonsumsi tidak sesuai (kurang), sehingga asupan nutrisi yang masuk juga tetap kekurangan.


Gejala Defisiensi Nutrisi
Secara garis besar, kasus defisiensi nutrisi terlihat dari beberapa gejala seperti pertumbuhan yang tidak optimal, ayam mudah terserang bibit penyakit, penurunan produksi telur atau penurunan daya tetas telur. Hanya melihat gejala, tidak akan spesifik (sulit dibedakan) seperti halnya infeksi penyakit. Meskipun demikian, jika pengamatan kita jeli dan komprehensif, tidak menutup kemungkinan akan ditemukan gejala khas adanya defisiensi nutrisi ini. Misalnya saja jika ditemukan broiler atau layer yang suka mematuk temannya sendiri (kanibalisme) dan lumpuh, maka bisa diindikasikan bahwa ayam kekurangan mineral.


•   Kanibalisme
Saat mengalami defisiensi mineral (Na, Cl), vitamin maupun asam amino, ayam biasanya akan menunjukkan perilaku mematuk bulu dan kepala. Sifat tersebut disebut dengan kanibalisme. Kanibalisme yang sudah parah ditandai dengan ditemukannya salah satu ayam yang berdarah karena dipatuk oleh ayam lain. Jika dibiarkan secara terus-menerus bisa menyebabkan kematian. Selain akibat defisiensi nutrisi, kanibalisme inipun bisa disebabkan karena stres akibat perubahan ransum, stres panas (heat stress), kekurangan pencahayaan dll. Kasus kanibalisme lebih sering muncul pada layer dibandingkan broiler.


•   Kelumpuhan, pincang dan kelainan bentuk kaki

Defisiensi nutrisi menjadi salah satu penyebab terhambatnya perkembangan kaki atau kaki menjadi abnormal. Defisiensi vitamin dan mineral, seperti vitamin E, vitamin B kompleks, mangan, zinc dan selenium bisa menyebabkan kaki seperti terpuntir/terbelit. Defisiensi protein atau asam amino juga dapat memicu timbulnya kelainan ini. Meskipun demikian, selain akibat defisiensi nutrisi, penyakit infeksius seperti CRD juga bisa menimbulkan kejadian seperti ini.


Defisiensi Makro dan Mikro Nutrisi
Kasus defisiensi nutrisi umumnya lebih beresiko terjadi pada layer dibandingkan pada broiler karena masa pemeliharaan layer yang lebih panjang dan sifat dari layer itu sendiri yang sangat peka terhadap kualitas serta kuantitas ransumnya. Nutrisi makro dan mikro yang umumnya terjadi defisiensi antara lain protein (asam amino), vitamin (A, B6, B12, D dan E) dan mineral (terutama trace mineral atau mikro mineral) (National Research Council, 1994).


•   Defisiensi Protein dan Asam Amino
Dalam usaha peternakan komersial, pemenuhan kebutuhan akan protein mengambil biaya terbesar dari total biaya ransum. Karena alasan inilah, pembatasan protein dalam ransum secara sembarangan akan berakibat sangat fatal. Kebutuhan protein harus mewakili kebutuhan semua asam amino esensial yang juga dibutuhkan oleh ayam. Beberapa bahan baku ransum memiliki satu atau dua kandungan asam amino yang rendah. Contohnya jagung dan dedak yang masih rendah kandungan lysine-nya atau bungkil kedelai yang rendah asam amino methionine. Jika kandungan protein dalam ransum tidak memenuhi kebutuhan protein ayam, maka pertumbuhan ayam akan lambat. Gejala defisiensi asam amino juga tidak terlihat spesifik, gejalanya hanya terlihat dari pertumbuhan lambat, konsumsi menurun atau penurunan produksi telur dan ukuran telur.
Untuk mengefisienkan biaya, defisiensi asam amino ini dapat diatasi dengan penggunaan suplemen yang mengandung asam amino (Top Mix). Namun kandungan protein ransum yang melebihi kebutuhan akan dirombak menghasilkan nitrogen sebagai cikal bakal diproduksinya asam urat untuk pembentukan amoniak.


•    Defisiensi Mineral
Mineral yang seringkali defisiensi pada ayam antara lain mineral kalsium (Ca), fosfor (P), mangan (Mn) dan zat besi (Fe) (www.merckvetmanual.com). Defisiensi mineral pada ayam dapat menimbulkan efek seperti pertumbuhan lambat, konsumsi ransum menurun, osteoporosis, sikap dan cara berjalan yang abnormal, kerabang telur tipis dan lembek, produksi telur menurun, pertumbuhan bulu kasar dll.
  • Kalsium (Ca) dan Fosfor (P)

Ayam menampakkan gejala kekurangan kalsium

(Sumber : www.poultrymed.com)
Defisiensi baik kalsium maupun fosfor pada ayam periode starter dan grower menyebabkan pertumbuhan tulang abnormal meskipun ransum mengandung vitamin D yang cukup. Fosfor selain berfungsi dalam pembentukan kerangka tubuh (tulang), juga berfungsi menjaga keseimbangan asam basa, pertumbuhan dan katalis untuk reaksi biologis dalam proses metabolisme (Leeson dan Summer, 2001). Untuk ayam petelur, penggunaan grit (grit batu, tulang dan kerang) bagus untuk mensuplai kalsium dan fosfor.


  • Mangan (Mn)

Ayam mengalami perosis akibat defisiensi mineral mangan (Mn)

(Sumber : www.poultrymed.com)
Defisiensi mangan bisa terjadi pada anak ayam dan merupakan faktor penyebab penyakit seperti perosis (bone deformities), kerabang telur tipis dan daya tetas telur rendah.


  • Zat Besi (Fe)

Ayam mengalami anemia tampak pucat pada paruh dan jengger

(Sumber : www.thepoultrysite.com)
Zat besi dibutuhkan unggas untuk pembentukan hemoglobin (sel darah merah). Defisiensi Fe pada ayam akan menimbulkan anemia, otot agak pucat dan gangguan pigmentasi bulu. Fe merupakan komponen yang esensial dari darah, yang merupakan inti dari hemoglobin. Disamping itu, Fe juga merupakan salah satu komponen beberapa enzim, seperti enzim katalase, peroksidase, fenilalanin hidroksilase, tirosinase, dan prolin hidroksilase


•    Defisiensi Vitamin
Sebanyak 13 macam vitamin yang dibutuhkan oleh ayam dikelompokkan dalam vitamin larut lemak dan vitamin larut air. Vitamin larut lemak terdiri dari vitamin A, D, E dan K, sedangkan vitamin larut air meliputi thiamin (B1), riboflavin (B2), nicotiniamide (B3), asam pantotenat (B5), piridoksin (B6), biotin (B7), asam folat (B9), sianokobalamin (B12) dan choline. Semua vitamin tersebut sangat penting bagi ayam dan harus tercukupi kebutuhannya agar ayam bisa tumbuh dan berproduksi. Sebutir telur yang normal mengandung ketersediaan vitamin yang cukup dan hal inilah yang menjadi alasan bahwa telur sangat baik sebagai sumber vitamin bagi pangan manusia.


  • Vitamin A

Vitamin A berperan dalam memelihara fungsi lapisan saluran pencernaan, pernapasan dan saluran reproduksi serta menjaga perkembangan tulang secara normal. Defisiensi vitamin A dapat menurunkan respon kekebalan antibodi terhadap tantangan bibit penyakit. Vitamin A tergolong sebagai vitamin yang tidak stabil. Ransum yang disimpan dalam waktu yang lama atau dalam kondisi yang tidak baik, kemungkinan akan kehilangan vitamin A. Pada anak ayam, defisiensi vitamin A menyebabkan pertumbuhan lambat, diikuti dengan ataxia (kehilangan keseimbangan), ruffled feathers (bulu berdiri) dan peradangan di daerah sekitar mata.


  • Vitamin B Kompleks

Vitamin B kompleks terlibat dalam banyak proses metabolisme energi dan metabolisme nutrisi penting lainnya. Semua vitamin B larut dalam air dan tidak disimpan dalam jaringan tubuh. Gejala defisiensi vitamin ini tergantung dari jenis vitamin B apa yang mengalami defisiensi. Namun secara umum, gejala defisiensi vitamin B ditandai dengan penurunan nafsu makan, ayam terlihat lesu dan lemah, dermatitis (radang kulit) dan pertumbuhan serta kondisi bulu tidak normal. Bahan pakan sumber vitamin B diantaranya kacang-kacangan dan biji-bijian.


  • Vitamin B1 (thiamin)

Thiamin dibutuhkan oleh unggas untuk metabolisme karbohidrat. Defisiensi vitamin B1 ini mengakibatkan polyneuritis yang menimbulkan kelumpuhan dan berakhir dengan kematian ayam. Defisiensi vitamin tersebut dapat saja terjadi pada bahan baku ransum yang berjamur dan berbau apek (karena terjadi oksidasi kandungan lemak/minyak). Vitamin B1 mudah terurai pada suhu tinggi dan pada keadaan alkalis. Sehingga makanan ayam yang mengandung garam-garam alkalis akan cepat kehilangan vitamin B1 nya. Sumber dari vitamin B1 dapat diperoleh dari kacang-kacangan, dedak dan bungkil kacang tanah.
Gejala yang terlihat akibat kekurangan vitamin ini antara lain anoreksia (kehilangan nafsu makan), diikuti oleh penurunan berat badan, bulu berdiri, kaki lemah dan langkah kaki tidak teratur. Ayam dewasa kerapkali menunjukkan jengger yang berwarna biru. Jika defisiensi berlangsung lebih lanjut, maka akan terlihat adanya paralisis pada otot yang diawali dengan menekuknya jari, kemudian diikuti oleh paralisis otot ekstensor pada kaki, sayap. dan leher. Ayam akan segera kehilangan kemampuan untuk berdiri atau hanya duduk tegak dan jatuh ke lantai dan terbaring dengan kepala yang meregang. Ayam yang menderita defisiensi vitamin B1 dapat mengalami penurunan temperatur tubuh sampai 35,6° C.


  • Vitamin B2

Ayam mengalami curly-toe paralysis akibat defisiensi vitamin B2

(Sumber : www.thepoultrysite.com)
Gejala defisiensi vitamin B2 diantaranya terjadi curly-toe paralysis, pertumbuhan lambat dan penurunan jumlah produksi telur.


  • Vitamin B3 (nicotinamide)

Banyak bahan pakan ayam rendah akan kandungan vitamin ini. Defisiensi vitamin B3 ini bisa menyebabkan pertumbuhan terhambat, tulang bengkok, pertumbuhan bulu tidak teratur, peradangan pada lidah (mulut) dan lubang hidung.


  • Vitamin B5 (asam pantotenat)

Asam pantotenat adalah komponen koenzim yang ada hubungannya dengan reaksi metabolik karbohidrat, protein, lemak. Gejala defisiensi asam pantotenat ditandai oleh lambatnya pertumbuhan bulu, ayam sangat kurus dan pada sudut paruh terbentuk keropeng dan kerak. Pada ayam petelur, defisiensi asam pantotenat menghasilkan telur dengan daya tetas rendah karena kadar vitamin ini dalam telur sangat rendah dan kematian embrio banyak terjadi pada akhir masa inkubasi.


  • Vitamin B6 (piridoksin)

Vitamin B6 berperan sebagai koenzim metabolisme asam amino dan dibutuhkan dalam kerja sistem syaraf. Defisiensi vitamin B6 bisa menimbulkan kelainan sistem syaraf bahkan sampai kematian.


  • Vitamin B12 (sianokobalamin)

Defisiensi vitamin B12 dapat menyebabkan ayam mengalami anemia, pertumbuhan lambat dan kematian embrio telur.


  • Folic Acid (asam folat)

Asam folat merupakan senyawa anti anemia. Defisiensi asam folat bisa menyebabkan pertumbuhan lambat, anemia, bulu terlihat kusam dan penurunan produksi telur.


  • Vitamin D

Vitamin D berperan dalam pembentukan tulang serta terlibat dalam metabolisme kalsium dan fosfor serta proses penyerapan kalsium dan fosfor oleh usus halus. Vitamin D juga berfungsi mengatur mobilisasi penyimpanan kalsium dan fosfor di ginjal dan tulang, sehingga kalsium dari tulang dapat langsung digunakan ketika diperlukan oleh tubuh. Efek defisiensi pada ayam meliputi tulang dan paruh ayam yang rapuh (soft), kerabang telur lembek, pertumbuhan lambat dan penurunan produksi telur.


  • Vitamin E

Vitamin E merupakan salah satu vitamin larut lemak dan jika bahan pakan yang banyak mengandung vitamin E tidak disimpan dalam kondisi yang baik, maka akan terjadi ketengikan dan mudah sekali rusak karena vitamin peka terhadap panas. Vitamin E berperan dalam reproduksi dan kerja sitem syaraf serta muscular (otot). Defisiensi vitamin E seringkali berkomplikasi dengan jenis penyakit lain seperti penyakit avian encephalomyelitis, exudative diathesis dan muscular dystrophy.


Ayam mengalami defisiensi vitamin E

(Sumber : www.thepoultrysite.com)
Vitamin E juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh ayam. Kerja vitamin E sangat berhubungan dengan kerja mineral selenium (Se). Kerusakan vitamin E dalam ransum bisa dihindari melalui manajemen penyimpanan ransum yang baik.


  • Vitamin K

Vitamin K berperan dalam proses pembekuan darah. Contoh kasus defisiensi vitamin K pada ayam ialah terjadinya perdarahan di otot daging dan lamanya waktu penutupan luka ketika ayam mengalami luka/perdarahan


Pemecahan Kasus Defisiensi Nutrisi
Mengingat bahwa kasus defisiensi nutrisi bukanlah suatu penyakit menular sehingga kehadirannya kurang direspon oleh peternak. Untuk tingkat peternak sendiri, kasus-kasus defisiensi nutrisi sangat jarang terdeteksi. Pada ternak unggas, kasus yang pernah dijumpai misalnya pada layer dengan penampakkan kaki pengkor/ bengkok, paruh tumbuh tidak sempurna, kanibalisme, dan berbagai jenis kelainan organ tubuh lainnya. Namun selama ini beberapa peternak terkesan membiarkan kasus tersebut dengan sebuah alasan bahwa populasi yang terserang hanya sedikit. Padahal kasus defisiensi nutrisi yang tampak hanyalah sebagian kecil dan dampaknya akan terlihat langsung dari rendahnya produktivitas. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh peternak?
Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh peternak antara lain :
  • Pastikan konsumsi ransum masuk sesuai dengan standar dari perusahaan pembibit (breeder). Pada beberapa kejadian di lapangan ada kasus bahwa sekam ikut tercampur di dalam ransum sehingga tanpa sengaja ayam memakan sekam yang bukan merupakan bahan baku pakan. Kejadian tersebut sering ditemukan pada kondisi ayam masih memakai sekam yang dipelihara dalam kandang postal. Hal ini bisa menyebabkan konsumsi (feed intake) kurang

  • Pastikan tidak ada gangguan teknis yang terjadi (seperti ayam kekurangan tempat ransum, ransum terlambat diberikan, atau karena manajemen ransum yang salah) terutama pada umur ayam 2 minggu pertama pada broiler atau 5 minggu pertama pada layer

  • Diusahakan untuk 'memilah ayam' berdasarkan tingkat uniformitasnya agar bisa diberi perlakuan khusus. Ayam yang terlihat menunjukkan gejala penyakit segera dipindah pada flok terpisah

  • Bila kualitas ransum kurang baik, lakukan suplementasi ransum untuk rneningkatkan kualitas ransum



Feed Supplement sebagai Solusi
Ransum yang berkualitas harus memiliki kadar nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ayam disetiap periode perkembangannya. Untuk memastikan bahwa ransum yang kita (peternak,red) beli dari pabrik maupun yang kita formulasikan sendiri (self mixing) memenuhi standar kebutuhan ayam atau tidak mengalami defisiensi nutrisi, maka perlu dilakukan uji/ kontrol kualitas ransum.
Ransum pabrikan biasanya telah melalui serangkaian proses kontrol kualitas yang ketat, mulai dari seleksi bahan baku, selama proses produksi sampai produk akhir. Alur kontrol kualitas ini telah menjadi hal yang wajib dilakukan bagi sebuah feedmill (perusahaan ransum). Meskipun demikian, ransum pabrikan yang berkualitas bukan tidak mungkin untuk kehilangan nutrisi yang dikandungnya apabila disimpan dengan manajemen penyimpanan yang kurang baik. Oleh karena itu, hendaknya lakukan pula kontrol kualitas ransum selama masa penyimpanan dan jika ditemukan ransum yang menurun kualitasnya, kita bisa dengan cepat mengantisipasi.
Ransum hasil self mixing pun harus dikontrol kualitasnya. Kontrol yang ketat terhadap kualitas bahan baku ransum adalah salah satu contohnya. Saat kita menerima kiriman bahan baku dengan kualitas yang meragukan atau tidak sesuai, hendaknya kita dengan tegas menolak bahan baku tersebut dan mencari supplier bahan baku lainnya. Disinilah pentingnya kita memiliki beberapa supplier bahan baku, tidak hanya menggantungkan pada satu supplier saja. Evaluasi terhadap formulasi ransum juga sangat penting dalam self mixing. Formulasi yang salah bisa menyebabkan tidak terpenuhinya nutrisi ransum sesuai standar.
Setelah kita memastikan bahwa ransum yang kita berikan pada ayam berkualitas, kita juga perlu memberikan feed supplement untuk memenuhi kebutuhan nutrisi mikro agar produktivitas optimal. Kita ketahui bahwa nutrisi mikro lah yang lebih sering terjadi defisiensi. Contoh feed suppement yang bisa kita tambahkan ialah premiks.
Premiks adalah bahan tambahan yang dicampurkan ke dalam ransum dengan tujuan untuk meningkatkan nilai nutrisi ransum tersebut. Premiks mengandung nutrisi mikro yang lengkap yang terdiri dari asam amino, vitamin dan mineral. Salah satu produk premiks Medion adalah Top Mix. Top Mix mengandung multivitamin, asam amino, mineral, antioksidan dan growth promoter antibiotic yang berfungsi sebagai pelengkap nutrisi bagi anak ayak, ayam petelur, pedaging dan pembibit. Selain Top Mix, ada pula Mineral Feed Supplement A. Mineral Feed Supplement A mengandung vitamin dan mineral yang berfungsi memperbaiki produksi telur dan kualitas telur, membantu pertumbuhan, meningkatkan daya tetas telur dan mencegah serta mengobati penyakit akibat defisiensi mineral.
Titik kritis yang perlu diperhatikan dalam pemakaian premiks ialah teknik pencampurannya ke dalam ransum. Pencampuran premiks dimulai dengan mencampurnya ke dalam ransum dalam jumlah yang masih sedikit, kemudian beranjak ke jumlah yang lebih besar dan seterusnya hingga akhirnya seluruh ransum tercampur premiks. Akan lebih baik jika peternak menggunakan agar mempermudah pengadukan. Poin tersebut penting agar ayam mendapatkan premiks dalam jumlah merata sehingga merata pula produktivitasnya. Selain hal di atas, sebaiknya premiks tersebut juga disimpan dalam tempat yang kering dan tertutup rapat, serta terhindar dari sinar matahari langsung untuk mencegah kerusakan.
Feed supplement lainnya terdiri dari suplemen asam amino (Aminovit, Broiler Vita dan Neobro), vitamin (Fortevit, Vita Chick, dan Vita Stress) dan mineral (Neobro). Ransum ayam sebagian besar tersusun atas bahan baku ransum berupa biji-bijian, seperti jagung dan bungkil kedelai yang notabene kadar asam aminonya kurang mencukupi, terutama metionin, lisin, treonin dan tripthopan. Hal inilah yang mendasari diperlukannya suplementasi asam amino. Nutrisi dan ransum ayam masa produksi juga memerlukan vitamin tambahan. Vitamin tambahan diperlukan karena vitamin juga terbawa bersama dengan keluarnya telur dari tubuh ayam. Selain itu akibat perubahan cuaca atau susunan ransum, ayam memerlukan vitamin tambahan untuk mencegah stres dan untuk mencapai tingkat produksi telur yang maksimal. Kebutuhan akan mineral seperti kalsium dan fosfor untuk pembentukan tulang dan telur juga dibutuhkan, sehingga suplementasi mineral sebaiknya dilakukan.


Feed supplement produk Medion
Defisiensi nutrisi adakalanya menjadi sesuatu kasus yang sangat berdampak merugikan ketika kasus tersebut menimbulkan kerugian yang sangat besar terhadap produktivitas ayam. Feed supplement sangat berperan membantu menangani masalah defisiensi nutrisi. Oleh karena itu jangan sepelekan masalah defisiensi nutrisi. Cukupi kebutuhan nutrisi ayam saat ini juga agar produktivitas ayam bisa optimal.


Info Medion Edisi April 2011


Sabtu, 23 Juni 2012

Kesehatan dan Pencegahan Penyakit pada Babi

Berbagai penyakit yang biasa diderita ternak babi antara lain :

1. Penyakit kekurangan vitamin A



Babi-babi yang dipiara secara bebas di luar kandang (outdoor) pada umumnya tidak pernah menderita defisiensi vitamin A. Sebab mereka dengan mudah bisa memperoleh hijauan seperti rumput-rumputan, yang mengandung carotene cukup banyak. Carotene ini di dalam alat pencernaan dokonversikan menjadi vitamin A, yang kemudian disimpan di dalam hati, sehingga sewaktu-waktu diperlukan vitamin tersebut sudah siap.



Tetapi bagi babi-babi yang selama hidupnya dipiara di dalam kandang terus-menerus, jika terjadi kekurangan vitamin, mereka tidak bisa memperoleh tambahan dari luar. Apalagi babi-babi yang baru lahir, cadangan vitamin A-nya sangat rendah, dan hal ini sangat tergantung pada Colostrum yang bisa diterima dari induk.



Gejala-gejala defisiensi vitamin

a. Pada anak babi

- Anak babi yang lahir masih di dalam kandungan mati, atau mati sesudah lahir.

- Pertumbuhan sangant lambat, atau terjadi pot-belly (perut besar).

- Anak-anak babi yang hidup, nafsu menyusunya sangat kurang, dan jalannya tidak normal.

- Anak babi yang lahir, bola matanya rudimeter atau buta.

- Sering anak babi lahir sebelum waktunya (abortus).



b. Pada anak babi grower

- Terjadi hambatan pertumbuhan, dan di dalam waktu singkat ukuran kepala menjadi tidak normal (besar).

- Nafsu makan mundur, anak babi menjadi keras (kaku) dan Nampak seperti bersisik.



c. Pada babi besar

Pada babi-babi yang besar gejalanya tidak begitu Nampak, namun demikian sering mengakibatkan gangguan seperti :

- Birahi tertunda atau sama sekali tidak terjadi birahi.

- Mudah terjadi peradangan pada perut (alat pencernaan).

Pencegahan

- Babi diberikan makanan hijauan.

- Diberikan vitamin A, dengan jalan injeksi intramuscular.

Catatan

Jika ternak babi terkena infeksi yang serius akibat dari parasit (cacing) atau pneumonia, maka cadangan vitamin A yang ada lekas habis terpakai atau boros.



2. Anemia

Anemi banyak diderita babi-babi kecil, sekitar umur 3 minggu.

Penyebab

- Kekurangan mineral, terutama zat besi dan tembaga.

- Anak babi menggigil kedinginan terus-menerus dan pada kondisi yang lembab.

- Air susu babi kandungan zat besinya sangat rendah.

Gejala

- Pucat, terutama pada daun telinga dan perut.

- Kandang-kandang leher menjadi lebih besar.

- Pernapasan cepat.

- Pertumbuhan terganggu, kehilangan berat badan dan tidak lincah.

- Babi banyak berbaring dan buang kotoran di sekitar tempat mereka berbaring.

- Diare, kotoran abu-abu atau berwarna kuning keputih-putihan.

Pencegahan



Beberapa pencegahan yang bisa dilakukan :

a. Pada setiap hari, babi-babi yang dipiara di dalam kandang, perlu diberikan tanah atau batu bata yang bersih ke dalam kandang. Ini adalah cara yang paling mudah dilakukan dan murah juga.



b. Makanan untuk babi induk diberikan tambahan mineral yang mengandung zat besi dan tembaga.



c. Berikanlah pada anak babi yang berumur 24 jam, tablet mineral yang berisikan zat besi dan cobalt. Pemberian tablet ini diulangi pada hari ke-7 atau ke-20.



d. Pada anak babi bisa diberikan larutan zat besi dan tembaga (iron-coper) yang terdiri dari 500 gram ferrosulphate, 75 gram coppersulphate dan 3 liter air.



e. Putting induk dilumasi dengan ferrosulphate 1,8% sebanyak 4 cc. Ferrosulphate tersebut dilarutkan pada cairan yang ditambahkan gula sebanyak 500 gram dan diberikan pada setiap hari.



f. Di antara berbagai cara tersebut di atas, masih ada cara yang lebih praktis dan mudah dilakukan, yaitu dengan memberikan zat besi dalam bentuk “iron dextran” yang diinjeksikan sebanyak 100 mg pada hari ketiga sehabis babi itu lahir. Jika perlu pada tiga minggu kemudian, injeksi zat besi ini diulangi dengan dosis yang lebih kecil.



Catatan

- Anemi yang akut dapat menimbulkan kematian dengan tiba-tiba.

- Sedangkan yang kronis bisa mengakibatkan babi menderita scours (mencret).

- Anak babi memerlukan suplai zat besi secara teratur guna membentuk haemoglobine. Pigmen yang Nampak sel darah merahnya merupakan bagian yang terpenting dalam mengangkut O2 (oxygen) ke seluruh jaringan tubuh. Keperluan zat besi tersebut bagi setiap ekor anak babi per hari adalah 7 mg, di mana air susu induk hanya bisa mensuplai 2 mg. Persediaan zat besi pada air susu induk yang jumlahnya kecil, berkisar 30 – 50 mg ini akan habis dalam waktu dua minggu. Dengan peristiwa ini maka anak babi akan menderita anemi, apabila mereka tidak diberikan tambahan zat besi. Dalam hal ini copper (zat tembaga) dan vitamin B12 juga penting.



Karena pada setiap harinya, air susu induk hanya mengandung seperlima belas zat besi yang diperlukan anak babi, maka tidaklah mengherankan apabila anak babi yang kurang baik pemeliharaannya akan selalu menderita anemi. Itulah sebabnya setiap anak babi selalu diberikan tambahan “iron dextran” seperti telah diutarakan di atas.



3. Scours (mencret)

Scours adalah suatu gejala penyakit enteritis akibat adanya peradangan pada alat pencernaan atau usus. Scours banyak menyerang anak babi dan babi-babi muda.



Penyebab

Untuk mengetahui penyebab dan gejala penyakit ini, secara khusus dirasa sangat sulit. Sebab penyakit ini ada berbagai tipe. Namun demikian secara umum bisa dikemukakan di sini, bahwa yang mempercepat terjadinya scours ini antara lain :

- Sanitasi kurang sempurna.

- Babi selalu kedinginan, keadaan udara lembab, tanpa alas kandang.

- Makanan yang kurang memenuhi syarat, kurang zat besi (anemi).

- Babi banyak mengalami stress.



Dan secara khusus di bawah ini dikemukakan scours pada babi yang berumur lebih dari 3 hari, umur 3 bulan, babi sapihan dan babi umur 14 minggu atau lebih.



a. Babi yang berumur lebih dari tiga hari

- Babi umur tiga hari yang menderita scours tentu saja bukanlah akibat anemi, melainkan disebabkan karena mereka terlampau banyak air susu atau tanpa pembatasan dalam pemeberian air.

- Kemungkinan kedua akibat infeksi E. coli.

- Banyak masalah semacam ini menimpa anak babi secara akut, tanpa terjadi scours tetapi tiba-tiba anak babi mati mendadak.

- Mungkin karena pada waktu itu induk sedang birahi, sehingga sementara anak babi menderita scours.



b. Babi yang umurnya 3 bulan

Scours yang menimpa pada anak babbi periode tersebut disebabkan karena :

- Anemi, atau anak babi diberikan makanan yang kandungan serta kasarnya terlampau tinggi.

- Anak babi kedinginan, kondisi lembab dan lantai tiada alas sedikit pun.

- Pada saat itu induk sedang birahi.



Birahi tenang

Pada ternak babi sering terjadi apa yang disebut birahi tenang (quiet heat) di mana babi yang bersangkutan tidak menunjukkan tanda-tanda birahi yang bisa diamati. Perubahan hormone sering dialami pada induk kurang lebih 3 minggu setelah beranak. Perubahan hormonal pada susunan air susu ini sangat khas seperti yang terjadi pada induk yang mengalami birahi yang normar.

Perubahan inilah yang bisa mengakibatkan anak babi menderita diarhee.



c. Pada saat babi disapih

Scours yang terjadi pada babi sapihan ini akibat pergantian makanan yang mendadak. Untuk mengatasi hal ini perlu diadakan persiapan terlebih dahulu, yaitu anak babi sapihan tadi demi sedikit dilatih untuk diberikan makanan grower.



d. Pada babi yang lebih besar, umur 14 minggu atau lebih

Scours yang menimpa babi fase ini bisa disebabkan oleh berbagai infeksi, misalnya cacing, salmonella, disentri.

Berbagai tipe scours atau enteritis

1) Non-infections enteritis

Jenis penyakit scours semacam ini ada berbagai macam sebab, antara lain produksi air susu induk yang terlampau tinggi, kekurangan vitamin-vitamin, anemi, perubahan temperatur yang sangan besar, perubahan ransum makanan secara tiba-tiba.



· Produksi susu yang terlampau banyak

Ransum yang kandungan energinya terlampau tinggi dan diberikan kepada induk dalam jumlah yang berlebihan akan menimbulkan efek negative bagi anak-anaknya yang sedang disusui. Sebab pemberian ransum samacam itu selama seminggu menjelang dan sesudah melahirkan akan menimbulkan produksi susu induk menjadi terlampau banyak. Peristiwa ini akan berakibat kepada anak-anak yang sedang menyusui menjadi scours.



Untuk mengatasi hal ini, maka sebaiknya pemberian ransum tersebut perlu diatur baik-baik. Yaitu dua tiga hari sebelum beranak sampai dengan satu minggu sesudah melahirkan , jumlah makanan yang diberikan harus dibatasi.



· Kekurangan vitamin-vitamin

Penderita scours bisa disebabkan pula akibat ransum makanan kekurangan vitamin-vitamin, terutama vitamin B, A, dan E.



Hal ini bisa diatasi dengan menambahkan vitamin-vitamin tersebut dalam ransum makanan anak babi ataupun kepada ransum induk.



· Anemi

Anak babi yang menderita anemi akan menjadi scours juga. Untuk mengatasi hal ini anda dapat melakukan hal yang telah diterangkan pada penyakit anemi diatas.



· Perubahan temperatur

Akibat adanya perubahan temperatur secara mendadak dan ekstrim yaitu terlampau tinggi atau rendah adalah merupakan salah satu faktor pula terjadinya scours, lebih-lebih bila kandang itu ventilasinya tidak sempurna.



· Perubahan makanan yang tiba-tiba

Perubahan ransum makanan anak babi yang terjadi secara mendadak akan mengakibatkan anak babi menderita diarhee (scours). Untuk mengatasi hal ini, pemberian ransum anak babi pada setiap fase bisa diatur seperti dijelaskan di atas.



2) Infectious enteritis

a) Non-specifix enteritis

Yaitu jenis penyakit enteritis yang disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, yang berjangkitan terutama akibat stress.



b) Necrotic enteritis

Jenis penyakit ini sering disebut “necro” yang penyebabnya bakteri salmonella.

Penyakit ini banyak menyerang babi umur 2 – 6 bulan.

Gejalanya

· Kotoran berbau busuk, dan berwarna hitam keabu-abuan.

· Kotoran sering bercampur dengan jaringan-jaringan usus yang telah lepas.



c) Disentri

Yaitu jenis penyakit enteritis yang infeksinya sudah serius. Kadang-kandang penyakit ini disebut “bloody” atau “black scours”. Penyebab penyakit ini ialah bakteri vibrio atau salmonella. Bakteri ini bisa ,mengakibatkan mencret berdarah yang sangat membahayakan atau bisa menimbulkan kematian.



d) Transmissible Gastro Enteritis (TGE)

Yaitu jenis penyakit enteritis yang disebabkan oleh virus. Yang bisa diserang oleh penyakit ini ialah babi segala umur. Babi-babi muda yang menderita penyakit TGE ini bisa mengalami kematian sampai 100%.



Pencegahan dan pengobatan

- Menjaga kebersihan kandang dengan menggunakan desinfektan (Lysol, creolin) lantainya dan kandang selalu kering.

- Terhadap anak babi, selalu diberi alas dari rumput, brambut, serbuk gergaji, yang selalu diganti agar mereka tetap hangat dan bersih.

- Makanan diberi TM 10, atau Aureomycin.



4. White scours (Mencret putih)

Penyebab

Escherichia coli, yaitu bakteri yang bisa masuk lewat tali pusat yang sakit. Dan biasanya babi kecil mudah menderita mencret puti akibat mereka kedinginan, lantai lembab, makanan induk jelek, atau anak babi terlampau banyak menyusu.

Gejala

- Kotoran merupakan cairan yang berwarna putih seperti kapur.

- Tidak mau menyusu induk Nampak sangat lemah.

- Kepala ditundukkan.



Penyebab dan pengobatan

- Kandang diusahakan selalalu kering dan hangat, latai diberi alas dan sering diganti, tidak sampai mejadi kotor ataupun basah aibat air kencing.

- Makanan diberi tambahan aureomycin

Catatan : white scours biasanya diikuti penyakit anemi, TGE, Necro, disentri dan penyakit lainnya.



5. Cholera

Penyebab : virus

Gejala

- Temperatur tubuh naik 104 – 108º F.

- Nafsu makan hilang dan lemah, sehingga tidak mau makan, tetapi minumnya banyak.

- Terhuyung-huyung.

- Tubuh bagian bawah (sekitar perut) berwarna merah keunguan seperti Erysipelas.

- Kandang-kadang seperti kedinginan, yang menyebabkan babi berjejal-jejal atau saling berhimpitan.



Pencegahan dan pengobatan

- Vaksinasi dengan serum anti cholera babi atau rovac hog cholera. Sesudah babi umur 6 minggu, diulangi setahun sekali. Babi-babi dara atau induk sebaiknya 3 minggu sebelum dikawinkan, sedang pejantan bisa sewaktu-waktu.



6. Agalactia

Agalactia ialah kegagalan dalam memproduksi air susu. Jenis penyakit ini khusus diderita oleh babi-babi induk yang habis beranak. Penyakit ini Nampak jelas 24 jam sehabis induk itu melahirkan. Babi-babi yang menderita agalactia ini akhirnya tidak mampu mensuplai air susu kepada anak-anaknya, karena produksi air susu tak bisa keluar lagi, sebab sekresi oxytocin tidak mencukupi. Kekurangan oxytocin ini bisa diatasi dengan memberikan injeksi oxytocin dengan dosis 5 – 10 I.U. secara intramuskular.



Penyebab

Penyebab penyakit ini adalah tidak selalu sama, atau dengan kata lain ada berbagai macam sebab :

a. Karena toxic (racun) yang terdapat di dalam usus akibat konstipasi yang diderita induk yang bersangkutan, yang kemudia diikuti hilangnya nafsu makan dan kandang-kadang panas yang terlampau tinggi. Untuk mengatasi konstipasi ini, babi bisa diberikan obat peluncuran atau urus-urus dengan garam inggris.



b. Akibat peradangan pada usus.

Peristiwa ini mengakibatkan babi induk merasa sakit, sehingga nafsu makan berkurang, temperatur tubuh tinggi 106º F, dan dari vulva keluar cairan berwarna kuning atau kemerahan. Ambing menjadi bengkak, keras, berwarna merah, panas dan sakit. Penderita ini bisa diobati dengan penstrep. Karena adanya peradangan uterus (metritis) dan ambing (mastitis), dan mengakibatkan kegagalan kegagalan keluarnya air susu (agalactia). Maka penyakit ini juga disebut MMA kompleks.



Gejala umum :

- Gejala pertama biasanya Nampak 3 hari sesudah melakukan, walaupun sering dapat terlihat sebelum anak-anaknya disapih.

- Temperatur 103 - 106º F.

- Babi tidak mau makan, air susu sedikit atau gagal sama sekali.

- Dari vagina keluar nanah berwarna keputihan atau kekuning-kuningan.

- Anak babi mencret.

- Kadang-kadang tidak diketahui sampai anak babi mati kelaparan.



7. Brucellosis (Keguguran menular)

Pada babi, penyakit ini bisa kronis atau subkronis. Yang diserang alat reproduksi (uterus, ambing, testes).



Penyebab

Gejala

Gejala penyakit ini sulit dilihat, di mana tidak semua penderita itu selalu mengalami abortus dan sebaliknya yang bukan brucellosis pun bisa abortus. Akan tetapi secara umum bisa dilihat tanda-tanda.

- Keguguran, anak mati di dalam kandungan atau sangat lemah.

- Pada jantan atau induk bisa steril yang sifatnya bisa sementara atau permanen, kadang-kadang lumpuh pada kaki belakang, pada babi jantan ada gejala radang testes.

Pencegahan dan pengobatan

- Sanitasi (pejagaan kesehatan), dan belilah bibit yang bebas dari penyakit brucellosis.

- Vaksinasi.

- Obat belum ditemukan.



8. Pneumonia (Penyakit radang paru-paru)

Pneumonia suatu penyakit yang bisa menyerang segala binatang termasuk ternak babi. Bila tanpa pengobatan, 50 – 75% akan mati.



Penyebab

- Microorganism

- Virus

- Cacing paru-paru (lungworms)



Yang mempercepat berjangkitnya penyakit ini ialah akibat ternak stress, sehingga mudah infeksi yang menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut :

- Batuk-batuk, pernapasan berbunyi dan terengah-engah, pernapasah cepat dan dangkal.

- Pada penderita kaki Nampak terbuka lebar.

- Konstipasi

- Nafsu makan hilang

- Temperatur tubuh tinggi, moncong dan hidung panas serta kering.

- Kulit dan bulu kasar, kering.



Pencegahan dan pengobatan

- Pemeliharaan yang baik terutama kebersihan di dalam kandang dan sekelilingnya.

- Yang sakit ditempatkan di tempat yang bersih, dan tidak berangin.

- Makanan yang mudah dicerna, dan diberi aureomycin atau TM 10, guna mencegah infeksi pada saat stress.

- Pengobatan dengan terramycin atau sulmet injeksi. Agribon (mengandung sulfadimenthoxine, vitamin A dan K)



Catatan :

Dosis agribon 1 gr agrinon untuk 10 kg berat badan, setelah 24 jam 0,5 gr/50 kg berat badan setiap hari selama 3 hari berturut-turut atau sampai sembuh.



9. Cacar (Swine Pox)

Penyakit cacar banyak menyerang babi-babi muda dengan perantara kutu, serangan atau kontak langsung.

Penyebab : virus

Gejala

- Nampak bintil-bintil kecil berwarna merah, terutama di telinga, leher pada tubuh bagian bawah dan paha bagian sebelah dalam.

- Akhirnya bintil-bintil tumbuh dengan cepat, masing-masing merupakan gumpalan yang keras, pada bagian atas.

- Beberapa hari kemudian bintil-bintil itu merupakan lepuh sebesar kedelai yang berisikan cairan jernih tetapi kemudian menjadi seperti darah putih atau nanah.

- Lepuh-lepuh segera mongering dengan meninggalkan bekas, seperti kudis yang berwarna coklat tua.

- Sebelum kulit berganti, panas tubuh meningkat dan tidak mau makan.



Pencegahan dan pengobatan

- Pemeliharaan yang baik, serta kebersihan akan menolong keselamatan babi, terhindar dari penyakit tersebut. Makanan diberi TM 10.

- Berikan penstrep, terramycin injeksi, ditambah vitamin A.



10. Erysipelas

Penyebab

Erysipelothrix insidiosa. Bakteri ini sering terdapat pada usus, kelenjar leher, radang empedu.



Gejala

Penyakit ini ada 3 bentuk

a. Akut

- Meyerupai babi yang menderita cholera.

- Temperatur tubuh tinggi

- Penderita menyendiri dan selalu berbaring tetapi ada yang masih gesit dan bila didekati merasa terganggu, lalu pindah tempat sambil teriak kesakitan.

- Bila berjalan, kaki menunjukkan kekakuan, terhuyung-huyung atau jatuh dan kadang-kadang lumpuh.

- Nafsu makan turun atau tidak makan sama sekali.

- Kotoran keras, dan bagi babi muda kotoran tersebut encer.

- Kulit (diamod skim) nampak pada hari ke-2 – 3 sesudah inkubasi, yaitu kulit luka kecil, berwarna merah muda, kemudian menjadi ungu tua, bila diraba keras. Biasanya diamod skin ini terdapat pada bahu, tubuh samping dan perut.

- Babi sering mendengkur, karena hidung bengkak.

- Umumnya penyakit ini diikuti kematian yang tiba-tiba.



b. Subakut

Tanda-tandanya seperti pada yang akut, tetapi tidak begitu ganas bila disbandingkan dengan yang akut. Temperature tidak begitu tinggi, dan sering-sering nafsu makan masih normal.

Beberapa luka Nampak seperti segiempat, apabila mongering, pada telinga, ekor, bisa megelupas.

Bila penyakit ini tidak berkompilasi, biasanya sembuh.



c. Kronis

Yang kronis biasanya mendapat serangan local seperti pada jantung atau persendian lutut, tumit kaki belakang dan kuku, sehingga mengakibatkan kelumpuhan.



Pencegahan dan pengobatan

- Karena organism itu dapat menyebar di dalam tanah ataupun pada ternak, maka jenis penyakit ini agak sulit dilakukan pencegahan.

- Bila ada yang menderita serangan peyakit tersebut, harus segera diisolasi.

- Obat dengan serum Erysipelas (susserin), injeksi subcutaneous atau intravenous. Dosis tergantung berat badan, 10 – 40 cc atau lebih. Bila diberi sulfa, penicillin, streptomycin.



11. Penyakit mulut dan kuku (Apthae Epizotticae = AE)

Penyakit ini mudah menyerang pada babi, lembu dan kambing.



Penyebab : virus, oleh karena itu cepat menular.

Gejala  Nampak perubahan pada mulut dan kaki.

- Selaput lender dalam mulut, bibir, langit-langit, lidah, dan pada gusi timbul lepuh merah yang berisi cairan kuning (sesudah 2 – 3 hari)

- Sering, dari mulut keluar ludah seperti benang bercampur lender atau berbuih.

- Timbul luka-luka di antara kuku dan kulit-kulit kaki, akibatnya pincang dan berbaring saja.

- Kadang-kadang pada ambing timbul luka atau lempuh juga.

- Temperatur tubuh naik, dan nafsu makan hilang



Pencegahan dan pengobatan

- Semua kandang beserta peralatannya harus selalu bersih, diesinfektir (cairan caustic soda 2%).

- Ternak yang mati akibat AE harus dikubur.

- Vaksinasi setahun sekali.

- Obat antibiotic (Penicillin Powder), obat khusus belum diketahui.



12. Penyakit ngorok (Septichaemia Epizootica = S.E Shipping Fever)

Penyebab : bakteri pasteurella multocida.

Gejala

- Penyakit ini berjangkit amat cepat, berlangsung 1 minggu atau kurang.

- Temperatur naik.

- Sesak napas karena terdapat lender dalam pernapasan, terdengar suara ngorok, dan terlihat kebengkakan pada bagianleher.

- Kadang-kadang mencret.

- Yang akut terus mati dengan tiba-tiba tanpa didahului oleh suatu gejala apa pun.



Pencegahan dan pengobatan

- Menjaga terhadap ketahanan tubuh babi, antara lain dengan jalan memberikan makanan yang babik, ternak banyak istirahat, jangan sampai terjadi stress.

- Memisahkan babi-babi yang sakit.

- Pengobatan oleh Dokter Hewan, pada tingkat-tingkat permulaan bisa diobati dengan obat antibiotic, misalnya penicillin injeksi intramuscular, sulmet injeksi, antiserum.



Catatan

Dosis sulmet : hari pertama 2,5 cc per 5 kg berat badan.

Hari-hari selanjutnya 1,25 cc per 5 kg berat badan.

Suntikan diberikan secara intravenous, subcutaneous, intramuscular



13. Anthrax (Radang limpa)

 Penyebab : Bacillus Anthracis. Baksil ini dapat berubah menjadi spora dan dapat hidup lama di dalam tanah.

Gejala

- Angka kematian tinggi dan berlangsung dalam waktu yang singkat 8 – 16 jam.

- Tenggorokan bengkak.

- Temperatur tinggi dan nafsu makan hilang.

- Urat-urat kaku atau lemah.

- Kotoran bercampur darah.



Pencegahan dan pengobatan

- Penderita harus segera diisolasikan.

- Kandang dan alat-alat lainnya harus selalu dibersihkan.

- Vaksinasi.

- Obat tetracycline.



Catatan

Pada lembu dan kambing penyakit ini sangat kuat, hewan yang bersangkutan ada kemungkinana Nampak sehat, hanya beberapa jam kemudian terus mati.

Oleh karena itu bila ada kematian yang tiba-tiba harus segera melapor kepada dinas yang berdekatan.



14. Tetanus

Penyebab : Clostridium tetani. Biasanya terjadi akibat suatu luka (bekas kastrasi, gigitan teman)

Gejalanya bisa dibedakan menjadi dua fase :

- Fase pertama

· Timbul kekejangan pada rahang dan tenggorokan, kemudian kekejangan ini cepat menyebar ke seluruh tubuh. Akibat (yang diderita) lebih lanjut babi tidak bisa mengunyah dan menelan makanan.

· Bergerak pun mereka sulit, karena semua persediaan menjadi kaku dan tidak berfungsi lagi.



- Fase kedua

· Mulut dan mata terkunci, dan tidak bisa terbuka lagi.

· Perut mengeras dan kejang, akibatnya sulit bernafas.

· Kepala menengadah, ekor terangkat ke atas.

· Kotoran dan air kencing tertahan.



Pencegahan dan pengobatan

- Alat-alat yang dipakai untuk kastrasi harus steril.

- Luka-luka bekas kastrasi, harus diberi obat antibiotic.

- Suntikan dengan serum tetanus.



Catatan

Basil tetanus biasanya terdapat di dalam tanah dan kotoran kuda.



Bila hasil itu masuk ke dalam luka, maka mereka membuat toxin (racun). Akibatnya, bila syaraf yang terkena, akan timbul kekejangan setempat atau seluruh tubuh. Akhirnya binatang yang menderita mati tercekik, karena sekat rongga badan kejang, tidak bisa bekerja lagi.



15. Footrot (Penyakit kuku busuk = Radang kuku)

Penyebab : karena babi selamanya berada di dalam kandang yang lantainya selalu basah sehingga mempermudah organism hidup dan masuk pada celah kuku.



Gejala

- Nampak ditempatkan pada kandang yang bersih dan lantai yang kering.

- Luka ditaburi dengan antibiotic, Penicillin powder, SA, Sulmet injeksi, Terramycin injeksi. Sebelum luka tersebut diobati, harus dibersihkan terlebih dahulu.





16. TBC (Tuberculosis)

Penyakit ini merupakan penyakit yang kronis, penyebaran sangat lambat.

Penyebab : Mycobacterium tuberculosis.



Tanda-tanda

- Nafsu makan berkurang dan kehilangan berat badan.

- Pada babi dewasa, persediaan bengkak.

- Batuk-batuk dan pernapasan terganggung.

- Infeksi kelenjar limpa, ambing, alat kelamin, pusat syaraf, alat pencernaan.



Pencegahan dan pengobatan

- Ternak yang menderita diisolasi.

- Kebersihan kandang harus selalu dijaga, misalnya dengan menggunakan desinfektan.

- Diobati dengan antibiotic (streptomycin injeksi, Penicillin).



17. Penyakit cacing bulat (Ascarids = Roundworm)

Cacing ini bentuknya seperti cacing pada manusia. Bentuknya bulat sebesar pensil. Cacing ini banyak menyerang babi-babi muda dan banyak menimbulkan kematian.



Gelaja

- Timbul gejala pneumonia, bila mendapat serangan larva hebat.

- Pertumbuhan sangat lambat.

- Anak babi menjadi kurus dan perut buncit.

- Mencret, dan nafsu makan berkurang.

- Selaput mata pucat.



Pencegahan dan pengobatan :

- Kandang harus bersih, dengan disemprot desinfektan (Lysol,kreolin).

- Kalau anak babi hendak dilepas, jangan dilepas di tempat yang biasa untuk mengumbar babi-babi dewasa.

- Pengbatan dengan piperazine yang dilarutkan air. Dosis tergantung berat badan, biasanya hal ini ada petunjuk dari perusahaan.



18. Kudis (Scabies)

Penyebab :

Semacam kutu kecil, yang tidak terlihat oleh mata.



Ada dua macam kutu, yaitu:

· Menyebabkan kulit yang digigit itu berlubang, merusakkan kulit dan kutu itu mengeluarkan racun.

· Kutu menggigit, terus menghisap darah tanpa membuat lubang pada kulit.

Sering keduanya berkombinasi, sehingga mengakibatkan penderitaan menjadi lebih parah.

Penyakit ini mudah berjangkit atau menular pada babi muda ataupun babi yang kekurangan zat-zat makanan yang diperlukan.



Gejala :

- Penderita makannya tidak sebagaimana mestinya, agak berkurang, sehingga pertumbuhan kurang normal.

- Nampak suatu goresan yang gatal, karena kutu menembus kulit.

- Pada permukaan kulit yang sakit timbul keruping yang tebal, keras, kencang, dan kulit berkerut (melipat).



Pencegahan dan pengobatan :

- Ternak yang sakit harus diisolasi, supaya tidak menular kepada yang lain.

- Kandang harus dibersihkan, disemprot atau didesinfektir dengan Lysol, kreolin. Sebab walaupun babi yang sakit diobati, apabila kandang masih kotor atau pada dinding masih banyak kutu-kutunya, maka pengobatan tersebut kurang menguntungkan.

- Pengobatan dengan Scabisix atau obat lainnya seperti zalf yang dilumaskan pada kulit dan diulangi sampai sembuh.



Dosis : 10 cc Scabisix dicampur 1 liter air (30 hari sebelum dipotong tidak boleh digunakan).