Kamis, 29 September 2011

CARA PEMBERIAN PAKAN IKAN LELE



DAPATKAN BUKU - BUKU PETERNAKAN 

PESAN ONLINE : KLIK GAMBAR ATAU VIA SMS 0852.57090.372  

(Judul Buku/Kategori, Kabupaten & Propinsi)



Mengetahui tata cara pemberian pakan lele merupakan hal yang sangat penting dan berpengaruh sangat besar dalam kesuksesan produksi budidaya ternak lele. Sebaliknya, kesalahan dalam tata cara pemberian pakan lele dapat berakibat buruk, dari benih atau bibit lele yang mudah terserang penyakit sampai kondisi yang paling fatal yaitu kematian pada ikan lele yang dibudidayakan. Banyaknya keluhan dari para pengusaha ternak atau budidaya lele tentang penyakit yang menjangkit lele peliharaan mereka sebagian besar diakibatkan dari kurang atau mungkin sama sekali belum mengetahui tentang tata cara pemberian pakan lele yang baik dan benar, adapun tata cara pemberian pakan lele dapat dibagi menjadi :
1.    Waktu Pemberian Pakan
2.    Persiapan Pemberian Pakan
3.    Cara Memberikan Pakan


Tata cara pemberian pakan lele pada segmen pembenihan dan pembesaran tidak terlalu banyak perbedaan, perbedaan paling mendasar hanya pada pakan alami dan pakan tambahan. Pada segmen pembenihan ada pemberian pakan alami berupa cacing sutera pada saat larva berumur lima hari, sementara pada segmen pembesaran jarang sekali ada pembudidaya yang meberikan cacing sutera, sementara pada segmen pembesaran, pemberian pakan tambahan berupa ayam tiren, ikan runcah dan lainnya. Kita akan coba menjelaskan satu persatu dari ketiga bagian tata cara pemberian pakan lele.


1.     Waktu Pemberian Pakan

Dalam tata cara pemberian pakan lele, mengetahui waktu pemberian pakan merupakan hal yang sangat penting, selain harus mengatur waktu pemberian pakan lele sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, baik yang menggunakan tiga kali sehari atau lima sampai dengan enam kali sehari (Setiap 3 jam). Yang sangat penting dan harus diperhatikan adalah pemberian pakan lele tidak boleh dimulai terlalu pagi, atau lebih jelasnya, jangan memberikan pakan pada lele sebelum jam sembilan pagi. Kenapa demikian? Berdasarkan penelitian pada waktu pagi sebelum jam sembilan, permukaan air kolam masih tercemar oleh zat-zat yang merugikan yang dibawa oleh udara, jadi jika kita memberikan pakan pada saat yang terlalu pagi, maka pakan akan bercampur dengan zat-zat tersebut sehingga menjadi racun dan berbahaya bagi kesehatan ikan. Dengan menunggu hingga jam sembilan, diharapkan sudah cukup waktu  untuk zat-zat tersebut menguap karena disinari oleh matahari. Adapun penyakit yang bisa ditimbulkan dari kebiasaan memberikan pakan yang terlalu pagi adalah radang insang, diakibatkan oleh parasit karena ikan memakan pakan yang telah tercemar oleh zat-zat yang merugikan.


2.    Persiapan Pemberian Pakan
Walaupun terlihat sepele, persiapan pemberian pakan juga merupakan faktor yang tidak bisa dilupakan dalam tata cara pemberian pakan lele. Persiapan pemberian pakan untuk pakan yang berbentuk pelet, sebaiknya para pengusaha ternak lele harus membiasakan membibis pakan pelet yang akan diberikan (kecuali pelet tenggelam), Bibis adalah proses membasahi pelet dengan air dianjurkan dengan air hangat), gunanya agar pelet mengembang, sehingga ikan lele yang mempunyai sifat rakus tidak akan memakan pelet terlalu banyak atau berlebihan, jika kita memberikan pelet dalam kondisi kering, lele akan terus saja menyantap pelet dengan rakus, terlalu banyaknya lele menyantap pelet kering yang belum mengembang akan berakibat fatal, karena pelet-pelet tersebut akan mengembang dalam perut lele, kondisi ini akan berakibat buruk pada kesehatan lele bahkan bisa mengakibatkan kematian.


Adapun tata cara pemberian pakan lele untuk pakan tambahan persiapannya adalah dengan cara mengolah atau membersihkan pakan tersebut dengan baik, misalnya jika kita membeli cacing sutera dari toko ikan atau pengepul, sebaiknya cacing-cacing tersebut dicuci atau dibilas sebelum disebar ke kolam. Atau jika kita menggunakan ayam tiren pada segmen pembesaran, sebaiknya ayam tersebut direbus, jangan dibakar, karena jika dengan proses membakar, biasanya yang matang/hangus hanya bagian kulitnya saja, sementara bagian dalamnya belum matang, sehingga masih terdapat zat-zat yang berbahaya untuk kesehatan ikan, sementara jika prosesnya dilakukan dengan cara merebus, biasanya ayam tiren akan matang secara keseluruhan dan aman dikonsumsi oleh lele.


3. Cara Memberikan Pakan
Cara memberikan pakan yang baik juga wajib diketahui oleh para pelaku usaha ternak lele agar tata cara pemberian pakan lele menjadi lengkap dan tepat guna.


a. Cara memberikan pakan yang berbentuk pelet apung harus dilakukan dengan cara menyebar pelet menjadi tiga bagian, untuk mudahnya kita umpamakan tiga bagian kolam adalah ujung kanan, tengah dan ujung kiri, langkah pertama adalah sebar pelet secukupnya pada sisi ujung kanan kolam, setelah pelet habis, sebar lagi secukupnya pada sisi tengah kolam, setelah habis sebar lagi pada sisi ujung kiri kolam, lakukan proses tersebut sampai ikan lele kenyang, cirinya adalah terlihatnya beberapa butir pelet yang tersisa pada saat ditebar dipermukaan kolam. Metode pemberian pakan seperti ini dilakukan agar ikan lebih aktif bergerak, sehingga membantu pertumbuhan ikan, selain itu, dengan cara ini para pelaku usaha ternak lele juga dapat mengontrol tingkat responsif ikan lele.


b.    Untuk pelet tenggelam cara memberikannya berbeda, pelet tenggelam tidak disebar, melainkan hanya ditebarkan pada satu titik, sesuai namanya sifat pelet tenggelam akan tenggelam pada saat ditebar, jadi tebarkanlah sedikit-sedikit, karena lele termasuk ikan yang suka mengejar pakan yang bergerak, jadi dikhawatirkan pelet yang terlanjur tenggelam tidak akan dimakan, jika pada titik pemberian pakan pelet tenggelam respon ikan sudah nampak menurun, sebaiknya pemberian pakan dihentikan, ulangi dan lakukan lagi prosesnya pada setiap pemberian pakan pelet tenggelam.


c.    Pada segmen pembenihan, pakan alami seperti cacing sutera diberikan dengan cara disebar di sudut, di sisi dan di bagian tengah kolam, cacing sutera yang telah dibersihkan/dibilas lalu diambil seujung tangan kemudian diletakkan pada titik yang berbeda, tehnik ini sangat efektif karena larva lele yang berjumlah ribuan yang tersebar di seluruh bagian kolam akan rata mendapatkan makanan. Sementara pada segmen pembesaran, pemberian pakan tambahan seperti ayam tiren sebaiknya digantung, hal ini dilakukan agar meminimalisasikan sisa tulang yang berserakan pada dasar kolam, dengan cara seperti ini, tulang yang tersisa di tali gantungan dapat segera dibuang, sisa tulang yang berserakan bisa sangat berbahaya bagi pelaku ternak lele pada saat panen atau menguras kolam, karena bisa saja terinjak dan melukai kaki atau dapat merobek terpal bagi pengguna kolam terpal.


Semoga saja ulasan ini bermanfaat, diharapkan dengan diterapkannya cara pemberian pakan lele yang baik dan benar, para pelaku usaha ternak lele dapat mencegah resiko lele terserang penyakit atau kerugian lainnya, sehingga angka kematian lebih dapat diminimalisir dan dapat mencapai target produksi yang diinginkan, karena pada prinsipnya, mencegah itu sangat jauh lebih berguna dari pada mengobati, sukses untuk seluruh pengusaha ternak lele Indonesia, salam.


sumber : ternaklele.com



GUNAKAN SEARCH ENGINE INI UNTUK MENEMUKAN ARTIKEL ANDA :

Loading
Logitech Keyboards

Rabu, 28 September 2011

TIPS PANDUAN DAN CARA BETERNAK AYAM KALKUN



Published Saturday, January 2, 2010 By . Under Kalkun  Tags: , , , , , , ,





Kalkun 1 300x195 Kalkun



Kalkun atau ayam kalkun adalah sebutan untuk dua spesies burung berukuran besar dari ordo Galliformes genus Meleagris.
Kalkun betina lebih kecil dan warna bulu kurang berwarna-warni dibandingkan kalkun jantan. Sewaktu berada di alam bebas, kalkun mudah dikenali dari rentang sayapnya yang mencapai 1,5-1,8 meter.
Spesies kalkun asal Amerika Utara disebut M. gallopavo sedangkan kalkun asal Amerika Tengah disebut M. ocellata.


Kalkun hasil domestikasi yang diternakkan untuk diambil dagingnya berasal dari spesies M. gallopavo yang juga dikenal sebagai kalkun liar (Wild Turkey). Sedangkan spesies M. ocellata kemungkinan adalah hasil domestikasi suku Maya. Ada orang yang berpendapat kalkun yang diternakkan untuk diambil dagingnya berasal dari kalkun suku Maya. Alasannya kalkun suku Maya lebih penurut dari kalkun liar asal Amerika Utara, tapi teori ini tidak didukung bukti morfologis. Kalkun hasil domestikasi mempunyai pial (bagian bergelambir di bawah paruh) sebagai bukti bahwa kalkun negeri berasal dari kalkun liar M. gallopavo. Kalkun M. ocellata yang dipelihara orang Maya tidak memiliki pial.
Kalkun liar merupakan hewan buruan di Amerika Utara, tapi tidak seperti kalkun negeri, kalkun liar gesit


Kalkun 2 300x276 Kalkun

Kalkun dalam berbagai bahasa

Ketika kalkun pertama kali ditemukan di Amerika, orang Eropa salah mengenalinya sebagai burung asal Afrika Numida meleagris yang juga dikenal sebagai “ayam turki” karena diimpor dari Eropa Tengah melalui Turki. Dalam bahasa Inggris, kalkun tetap disebut sebagai “Turkey” hingga sekarang. Kalkun termasuk genus Meleagris yang dalam bahasa Yunani berarti “unggas asal Guinea”.
Nama-nama dalam berbagai bahasa dunia untuk kalkun hasil domestikasi juga mencerminkan nama negeri asal kalkun yang “eksotik” menurut orang zaman dulu. Sekaligus terlihat kebingungan orang zaman dulu tentang negara asal kalkun. Pada waktu, orang percaya lokasi benua Amerika yang baru saja ditemukan terletak di Asia Timur. Selain itu, orang zaman dulu suka menamakan binatang dengan nama-nama tempat yang jauh dan eksotis supaya bisa dijual mahal.
Kalkun merupakan ejaan bahasa Indonesia untuk bahasa Belanda “kalkoen” yang diambil dari nama kota Kalikut di India. Sedangkan Ayam Belanda merupakan sebutan bahasa Melayu untuk kalkun. Dalam bahasa Denmark dan Norwegia, kalkun juga disebut sebagai kalkun, atau kalkon (bahasa Swedia), Kalkuun (bahasa Jerman hilir), kalkkuna (bahasa Finlandia), dan kalakuna dalam bahasa Papiamento.
Kalkun 3 betina 237x300 Kalkun

Reproduksi aseksual

Kalkun diketahui mempunyai kemampuan unik dalam melakukan reproduksi aseksual. Walaupun tidak ada kalkun pejantan, kalkun betina bisa menghasilkan telur yang fertil. Anak kalkun yang dihasilkan sering sakit-sakitan dan hampir selalu jantan. Perilaku ini bisa mengganggu proses inkubasi telur di peternakan kalkun.[1].

Fosil kalkun

Sebagian besar jenis-jenis kalkun sekarang sudah tinggal fosil saja. Subfamilia Meleagridinae diketahui berasal dari zaman Miosen awal dan mempunyai genus Rhegminornis (zaman Miosen awal) dan Proagriocharis (zaman Miosen akhir/Pliosen awal). Fosil kalkun yang genusnya tidak diketahui tapi mirip dengan Meleagris diketahui berasal dari zaman Miosen akhir.
Daftar kalkun yang hanya diketahui dari fosil saja:
  • Meleagris sp. (zaman Pliosen awal)

  • Meleagris leopoldi (zaman Pliosen akhir)

  • Meleagris progenes (zaman Pliosen akhir)

  • Meleagris sp. (zaman Pliosen akhir)

  • Meleagris anza (zaman Pleistosen awal)

  • Meleagris californica (zaman Pleistosen akhir)

  • Meleagris crassipes (zaman Pleistosen akhir)

Hewan ternak yang termasuk unggas seperti ayam, angsa dan bebek ini saat ini sudah mulai banyak diternakkan dalam peternakan besar yang terintegrasi




GUNAKAN SEARCH ENGINE INI UNTUK MENEMUKAN ARTIKEL ANDA :

Loading
Logitech Keyboards

Selasa, 27 September 2011

PANDUAN DAN CARA BUDIDAYA PAKAN ALAMAI IKAN LELE "Magot"



Maggot adalah bahasa kerennya Belatung/Larva Lalat. Pembuatannya sangat sederhana. Hanya memanfaatkan Limbah sayur-mayur yang dibusukkan.


Cara pembuatannya adalah sebagai berikut:
Siapkan karung bawang yang ada pori-porinya

Masukkan ke karung bawang tersebut Limbah sayur-mayur yang mudah didapat dari pasar-pasar tradisional dengan gratis (hanya perlu biaya transport berupa bensin motor atau biaya angkut mobil pick up.

Susun rata di sebidang tanah kosong karung-karung yang telah terisi limbah sayur masyur tersebut.



Siapkan rebusan air yang telah dicampur 1 ekor ikan atau 1 ekor cumi, dan siramkan ke atas media karung tersebut secara merata. Tujuannya adalah mengundang Lalat Hijau untuk dating berkunjung dan menikamti hidangan lezat yang kita sajikan J

Biasanya sambil menikmati hidangan tersebut, Lalat hijau akan meletakkan telurnya diatas media karung tersebut

Siram setiap hari Karung tersebut dengan air yang telah dicampur Prebiotik agar Limbah sayur tersebut cepat membusuk.
Dalam 3 hari sudah terlihat Larva Lalat yang menetas dan memakan limbah sayr yang busuk tersebut.

Jadikan Pakan alami yang berprotein tinggi kepada ikan.

Catatan: Harap diperhatikan aroma yang timbul dari proses pembusukan ini karena kalau lokasi budidaya ikan ini dekat dengan lokasi pemukiman dikhawatirkan akan nada protes dari warga sekitar. Namun jika lokasi jauh dari penduduk maka proses ini sangat baik untuk dilanjtkan karena biaya pakan akan sangat murah dan ikan cepat besar.

sumber :
LAM-Community Deplovement


Maggot, Simbol Perlawanan Pembudidaya Ikan
Rabu, 13 Oktober 2010 | 03:36 WIB
Sumber : www.kompas.com
Sejak puluhan tahun lalu, Desa Pengadang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, dikenal sebagai penghasil berbagai jenis ikan air tawar untuk Kabupaten Sanggau hingga ke wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia.
Namun, pada pertengahan tahun 2009, usaha budidaya berbagai jenis ikan air tawar itu gulung tikar karena kenaikan harga pakan. Kini, usaha budidaya kembali menggeliat berkat keberhasilan percobaan penggunaan maggot (larva lalat hutan) sebagai pakan alami.
Ketua Kelompok Tani Semangat Baru, Desa Pengadang, Aleng mengatakan, harga pakan ikan buatan pabrik mencapai Rp 9.000 per kilogram dari semula hanya Rp 4.500 per kilogram pada akhir tahun 2008. ”Para pembudidaya tidak memiliki pilihan selain menutup usaha budidaya karena keuntungannya sangat kecil,” kata Aleng, pertengahan September lalu.
Maka, begitu ada tawaran dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Barat untuk membuat percontohan penggunaan maggot sebagai pakan alami pada Mei 2010, para pembudidaya langsung menyambut baik. Di Kampung Munyau, Desa Pengadang, uji coba pembiakan maggot dilakukan. Setelah dihitung, ternyata ongkos produksi maggot memang jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga pakan ikan dari pabrik.
Dedi Sulardi, pendamping kelompok tani di Munyau, menuturkan, ongkos produksi maggot hanya Rp 3.500 per kilogram. Maggot bisa dibiakkan dengan menggunakan limbah pengolahan minyak kelapa sawit. Kebetulan, di Sanggau terdapat banyak pabrik kelapa sawit yang menghasilkan limbah pengolahan sehingga ongkos produksi bisa ditekan.
”Pembudidaya dan pabrik saling membutuhkan karena limbah itu sebetulnya merepotkan pabrik. Setiap hari limbah terus bertambah tanpa bisa diolah,” kata Dedi.
Dedi menambahkan, maggot yang bisa diproduksi sendiri oleh para pembudidaya itu sudah diuji di laboratorium. Hasilnya, kandungan protein maggot bagus, bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan pakan pabrik. Kandungan protein itu diturunkan dengan mencampurkan sejumlah bahan alami.
Pembudidaya ikan air tawar di Munyau, Benyamin (46), mengatakan, maggot dapat memberi harapan baru untuk kelanjutan usaha budidaya ikan tawar.
”Kami sempat putus asa karena harga pakan naik terus hingga akhirnya kami bangkrut. Sekarang, maggot bisa mengembalikan usaha budidaya ikan yang menjadi pekerjaan turun-temurun di sini,” kataBenyamin.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Barat Gatot Rudiyono beberapa waktu lalu mengatakan, untuk wilayah pedalaman, budidaya ikan air tawar merupakan usaha menjanjikan. ”Konsumennya ada, tetapi pasokannya terbatas. Kami sempat khawatir setelah budidaya ikan air tawar di Sanggau gulung tikar akibat kenaikan harga pakan,” kata Gatot.
Semenjak budidaya ikan air tawar gulung tikar akibat kenaikan harga pakan, ikan patin selundupan dari Serawak, Malaysia, membanjiri pasar di Kabupaten Sanggau.
Dengan pakan maggot, para pembudidaya kini mampu memproduksi lagi ikan tawar yang mencapai puluhan ton setiap bulan sehingga bisa mengambil alih pasar yang semula dikuasai oleh ikan selundupan dari Serawak.
Selain maggot yang menjadi pakan alami ikan air tawar, para pembudidaya juga mendapatkan keuntungan lain berupa ampas limbah pembiakan maggot. Ampas yang sudah tidak digunakan untuk membiakkan maggot, setelah diteliti, ternyata memiliki unsur hara tinggi.
Aleng mengatakan, limbah pembiakan itu sama bagusnya dengan pupuk organik yang dijual di pasaran. ”Sejak Agustus lalu kami mulai membuka lahan tidak produktif di sebelah Kampung Munyau untuk ditanami sayuran organik,” kata Aleng.
Lahan sekitar 5 hektar di Kampung Munyau sudah memproduksi sayuran organik secara rutin sejak September lalu. Dengan maggot, para pembudidaya tidak hanya berhasil melawan ”penjajahan” pakan pabrik, tetapi bisa memproduksi sayuran organik yang bernilai ekonomi tinggi.




GUNAKAN SEARCH ENGINE INI UNTUK MENEMUKAN ARTIKEL ANDA :

Loading
Logitech Keyboards

Minggu, 25 September 2011

Sumber Sangkar Burung Serdang Bedagai Sumatera Utara

Anda Hobby Pelihara Burung? Temukan dan dapatkan sangkar burung dengan harga murah dan berkualitas hanya di:





Toko Maju Bersama 

Jl. Sudirman 242 (Simpang Bedagai - Depan Indomaret) Sei Rampah Serdang Bedagai Sumatera Utara.





Pesan Online Hubungi URL berikut:

http://www.facebook.com/pages/Sumber-Sangkar-Burung-Serdang-Bedagai-Sumatera-Utara/196921617047220




GUNAKAN SEARCH ENGINE INI UNTUK MENEMUKAN ARTIKEL ANDA :

Loading
Logitech Keyboards

SUMBER KANDANG AYAM DI SEI RAMPAH SERDANG BEDAGAI SUMATERA UTARA



Bagi rekan-rekan peternak, dan juga rumah tangga yang memiliki ayam, bebek, dan bibit unggas lainnya dapat membeli berbagai macam jenis kandang di sini. Tersedia dalam beberapa tipe, ukuran, dan fungsi.












Toko Maju Bersama Pakan dan Alat Peternakan
Jl. Sudirman 242 (Simpang Bedagai - Depan Indomaret) 

Sei Rampah Serdang Bedagai Sumatera Utara.
HP.: 0852.57090.372


Pesan Online via Facebook Hubungi URL berikut:






GUNAKAN SEARCH ENGINE INI UNTUK MENEMUKAN ARTIKEL ANDA :

Loading
Logitech Keyboards

BELAJAR BETERNAK IKAN GURAMI (A-Z)



Pengantar:
Ini tulisan menarik tentang serba-serbi beternak gurami oleh kawan Mimbar Seputro. Semoga bermanfaat.


Saya Mimbar Bambang Seputro, 47, ingin membagi pengalaman dalam beternak ikan Gurami. Karena saya mulai dari nol besar, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan bahwa ada suatu bidang usaha yang berbeda dengan bidang usaha sebelumnya. Betapa tidak, hampir 20 tahun saya bekerja di sebuah perusahaan jasa tiba-tiba saya harus bergelut dan melayani mahluk bernama ikan Gurami. Padahal yang lulusan sekolah spesial ikan-pun banyak yang menyimpang kearah jalan yang “tidak sesat”.
Lokasi saya beternak ada di daerah Citayam, Bogor, tempat dimana para petani beternak ikan mulai dari Gurami, Lele, Mas, Tawes, Patin, Nila dan segala macam ikan. Petani-petani sederhana sampai kaya raya ini patut diberi acungan jempol sebagai Universitas Perjuangan Hidup.
Cuma waktu itu krisis moneter melanda para penduduk. Banyak peternak yang bangkrut lalu pindah haluan. Celah ini saya manfaatkan sehingga saya bisa memilih peternak yang masih bertahan, dan biasanya yang teruji kualitas kepakarannya. Segi positif lainnya, gurame adalah vegetarian, sehingga makanan utamanya sejenis daul keladi, di jabar- namanya “sente” banyak tersedia, kami tinggal meminta ijin pemiliknya untuk ikut membersihkan halaman kebunnya.
Namun sayang, ketika saya mencari informasi di Website, ternyata minim sekali informasi yang saya dapatkan. Saya mencoba mencari dengan search engine dengan mengombinasikan kata “gourami” menjadi “gurami”. Salah-salah saya malahan dapat software Gourami yang tidak ada hubungannya dengan ikan Gurami.
Lalu saya mulai baca buku-buka dalam bahasa Indonesia, waw buku pertama menarik, tetapi ketika mulai baca buku yang lain, mulai bingung sebab satu sama lain kadang-kadang berbeda. Tapi perbedaan itulah kekuatan. Ikutan bahasa para politisi kita.
Secara kebetulan ada kolam seluas 400 meter persegi yang sudah “ditinggalkan” oleh pengelolanya terdahulu. Alasannya harga ikan yang jatuh, banyak penyakit menyerang, di jarah orang jahat, tertipu dan banyak lain alasan yang membuat saya berfikir dua tiga kali untuk terjun ke area per guramian. Saya harus cari alasan yang tidak ada hubungannya dengan perikanan. Di rumah sangat sederhana tempat kami menginap, Saya dapatkan, seorang bapak muda dengan dengan isteri berumur 16 tahun dan anak bayinya, seorang ibu dengan cucunya yang semuanya semula bergantung hidup dari kolam ini. Tekad saya semakin kuat, saya akan terjun ke dunia perikanan. Lagian, kalau kontrak dengan maha kuasa sudah dijalani 47 tahun tetapi kontrak dengan perusahaan tingal bisa dihitung dengan kedua jari.
Mulailah tabungan di ATM di dodol, dengan rasa was-was, kalau ini gagal juga habislah awak, tapi mudah-mudahan tidak dedel duwel. Kolam sudah tersedia ada, air lumayan banyak, tinggal cari benih ikan dari petani setempat.

Ah kebetulan kami berkenalan dengan seorang pemuda bernama Abel, yang belakangan ini mepet terus kepada kami. Abel tinggal dengan neneknya yang juga rumah kami berdekatan. Abel inilah yang mengatakan bahwa janganlah karena panen sekali gagal lalu stop jadi petani. Orang naik sepeda juga bisa jatoh, katanya.
MENYIAPKAN KOLAM GURAMI





Menyiapkan KOLAM IKAN, saya bingung setengah mampus (maafkan bahasa saya ikutan para ABG), kolam is kolam, end of story. Isi air yang banyak, masukkan ikan, sama halnya seperti memasukkan ikan di akuarium atau bak mandi kita sehari-hari.
Buku saya baca lagi, learning by doing kata orang Inggris. Kolam harus dekat rumah, maksudnya mudah pengawasannya. Terutama sekali itu lho, ngintipin ikan gurame berahi, dengan harapan kita mendapatkan banyak telur yang kemudian menetas menjadi “gonada”- baby gourami. Oooo itu….
Oh masih banyak lagi, selain manusia jahil, banyak musuh ikan yang lain, binatang sejenis lingsang, burung blekok, burung elang, ular, bahkan kodok budug-pun menjadi musuh sang Gurami. Kalau anda menonton filem discover, anda bilang “oh itu hukum alam, mereka musti memangsa binatang lainnya, agar mereka hidup”. tapi dalam perikanan its totally different things!. Anda tidak akan membiarkan terjadi, biarlah hukum alam terjadi, tapi jangan disini, di balongku, di tebatku.
Mula-mula kolam dipaculi dan dibentuk pematang-pematang yang berbentuk trapesium. Bentuk trapesium sudah diterima masyarakat luas, maksudnya massa air biasanya lebih menekan dibagian bawah daripada bagian atas. Apalagi dibagian bawah sering longsor, dilubangi oleh belut, lele, kepiting nakal dan bandelnya minta ampuun.
Kemiringan kaki trapesium biasanya 45 derajat, kata Zulkifli Jangkaru, tapi pak Slamet Soeseno bilang lain lagi. Bagian luar boleh tegak lurus, bagian dalam agak landai 1: 1,5 atau 1:1,75
Kolam-kolam kita nantinya akan diisi air sampai 60 cm. Jadi dengan pematang, bibir tegalan maka paling tidak 80-90 cm dianggap cukup ideal. Setelah tanah di cangkuli, biasanya dibiarkan kering sampai retak-retak, biar kalau ada hama pengganggu ikut mati kepanasan. Tapi Kalau ternyata masih ada yang staminanya kuat, dibantu dengan pemberian “cengkaling” sejenis kapur beracun, yang disebarkan disudut dan penjuru kolam. Biasanya belut, udang, kepiting pada kepanasan dan keluar untuk ditangkap para petani dan dibantai seperti layaknya dukun santet.
Kolam kemudian didiisi air, dibiarkan semalaman agar racu-racun “cengkaling” nya luntur kehebatannya lantaran mengendap. Kemudian air dibuang dan kolam dikeringkan sekali lagi. Maka kolam siap dipergunakan.
Air umumnya berlimpah, tetapi mengingat sistem pengairan kita dasarnya dalah gotong royong, maka kerja sama dengan penduduk setempat yang sesama petani harus terjaga. Kapan pembagian air, kapan kita harus menahan diri. Semua tidak tertulis dibuku, tetapi dijalankan secara turun temurun. Peternak harus mau “siskamlong”, sistem keamanan pengairan balong, modalnya lampu senter dan sebungkus rokok serta komunikasi.
Kalau air sudah masuk, harus di saring agar supaya ikan gabus, lele, kepiting, kodok budug, udang bisa masuk kedalam kolam kita. Biasanya dipipa pralon para petani memasang saringan (sosok) yang terbuat dari anyaman bambu. Air ditunggu sampai tingginya 60 cm, baru sisanya dialirkan ketempat lain atau ke parit pembuangan.
Secara teori, ikan gurami menyukai air dengan kadar keasaman 6,5 sampai 7.0 dan suhu air 24-28 derajat Celcius.
Di habitatnya, gurami hidup di rawa-rawa, ini bisa dilihat bahwa gerakan Gurami umumnya vertikal. Anggun dan hanya menimbulkan suara haluuuus sekali, kecuali kalau dia terkejut.
Makanan GURAMI



Seperti dikatakan bahwa Gurami adalah mahluk Vegetarian, atau kata anak saya Herbivor. Keuntungannya segala macam daun-daunan yang lembut strukturnya bisa di “empan” kan kepada gurami dewasa.
Petani-petani jabar, selalu menjemur daun-daun yang akan diberikan kepada peliharannya terlebih dahulu sehingga layu, dengan demikian getah yang beracun bisa dinetralisir.
· Daun talas/keladi atau sente (jabar) yang tua, biasanya seberapapun makanan ini diberikan, akan ditarik-tarik oleh gurami sampai tinggal tulang-tulangnya.

Dianjurkan menanam sendiri talas ini di tegalan kolam, dihalaman rumah, karena gurame tidak bisa hidup tanpa keladi, sampai menjadi tua-tua keladi.
· Daun ketela Singkong
· Daun Pepaya

Kurang dianjurkan diberikan untuk biang Gurame karena merusak kantung telur.
· Daun Kangkung
· Daun ubi jalar

juga tidak dianjurkan untuk diberikan kepada biang gurame.
· Ketimun
· Tauge, bisa tauge kacang hijau, tauge kacang merah dan tauge dari bibit padi muda.
· Labu
· Talas
· Pellets

Beberapa peternak membuat sendiri pellet yang terdiri Katul, tepung ikan, bungkil kedelai, protein Tepung Daging dan tambahan 10 tablet anti biotik untuk per 100 kg pelet.
· Jagung rebus. Sangat baik untuk mempercepat kematangan “gonade” sehingga memperpendek waktu pemijahan. Jumlah jagung rebus yang diberikan 3-5% berat badan induk. Menurut Heru Susanto, telur yang matang pada usia 45-60 hari bisa diperpendek menjadi 25-30 hari.

Cara pemberiannya dengan menempatkan jagung pada anyaman bambu 0,5 x 0,5 meter, lalu ditenggelamkan sekitar 15 cm dengan jarak 0,5 m dari pinggir kolam. Pilih tempat yang terlindung dan tempat ikan berkumpul.
Sekalipun kita beranggapan bahwa gurame adalah mahluk vegetarian, tetapi mereka tidak menolak anak semut (kroto), dedak, ampas tahu, bungkil kacang. Bahkan beberapa petani memasang lampu teplok dipinggiran kolam jika dilihatnya banyak serangka beterbangan.

Serangga-serangga ini tertarik kepada cahaya lampu, dan ketika mereka mendekat lalu jatuh, maka gurame dengan suka cita melahapnya.
Telor Gurami





Sebelum ikan gurami mampu bertelur, tentunya ikan harus dimasukkan secara berpasangan dan kawin secara masal. Kawin campur dalam kolam tidak dibicarakan disini.

Sebagai “rule of thumb”, seekor biang gurami memerlukan kavling 15-20 meter persegi. Pemacek (pejantan) boleh mengawini empat ekor biang. Mengintip gurami pacaran kata yang sering melihat adalah pengalaman mengasyikkan. Bila pejantan sudah mulai mengejar yang biang, maka kolam pemijahan harus disiapkan. Setahun, ikan bisa bertelur sampai dua kali.

Beberapa petani berpengalaman bahkan bisa mencium bau amis yang ditimbulkan dari kolam sebagai tanda kesiapan berpijah peliharaannya.
Perbaikan Kolam

Kolam harus sudah dikeringkan, dan ditaburi kapur 100-200 gr/meter persegi guna membunuh
hama dan parasit.

Kedalaman kolam harus 60-100 meter persegi
Mempersiapkan sarang, di Jawa Barat, petani biasanya menyiapkan pengki atau sosok yang terbuat dari anyaman bambu, atau membuat lubang bergaris tengah 30 cm sedalam 35 cm untuk merangsang gurami menaruh telur ditempat yang sudah disediakan. Untuk bahan pembuatan sarang dapat menggunakan ijuk halus atau sabut kelapa. Petani Jawa Barat bahkan membuat bahan sarang dari karung plastik yang sudah di cabik-cabik memanjang seperti kertas pelindung barang pecah belah.

Supaya tidak bertebaran di dalam kolam, maka ijuk yang sudah direndam semalaman dan disisir halus, dijepit dengan sebilah bambu secara longgar agar supaya mudah ditarik-tarik oleh ikan. Banyaknya ijuk sekitar 1-1,5 kg untuk sebuah sarang.

Untuk mengetahui bahwa gurami sudah bertelur, masukkan lidi kedalam sarang, perhatikan apakah ada lapisan minyak keluar dari sarang untuk memastikan bahwa telur sudah ditempatkan didalamnya
Penetasan Telur Gurami



Membiarkan telur menetas secara alami biasanya tidak membawa hasil yang menggembirakan. Campur tangan petani sangat diperlukan.

Memetik Sarang.

Mengambil telur dari sarangnya harus dilakukan secara perlahan-lahan. Bawa ember berisi air , lalu dekatilah sarang seperti orang mau menangkap burung, sebab sarang selalu dijaga oleh orang tuanya, sehingga diperlukan keahlian khusus.

Cara membawa sarang harus dengan tutup sarang berada diatas. Membersihkan telur.

Telur harus dipisahkan dari kotorannya. telur yang baik berwarna kuning mengkilat, sedangkan yang busuk berwarna putih susu dan keruh. Ambil hanya telur yang baik.
Penetasan di petakan kolam
Kolam yang dipakai biasanya yang berukuran kecil atau lebih sering dinamakan “anak kolam” atau petakan kolam.
Kolam petakan terlebih dahulu harus disterilkan dengan cara mengeringkan dasr kolam, pemberian kapur sebanyak 100-200 gram per meter persegi, pemberian pupuk kandang 150-200 gr per meter persegi, pemberian pupuk urea 15-20 gr per meter persegi sehingga terciptta suasana kolam yang bersih, namun subur akan mikroorganisme yang dibutuhkan ikan kelak.
Alirkan air kedalam kolam setinggi 35 cm dan biarkan sekitar 7-10 hari untuk memberikan kesempatan makanan alamiah pythoplankton berkembang biak dan menetralkan racun akibat pemupukan dan pengapuran.
Setelah telur dimasukkan kedalam kolam diberi tenda untuk melindungi telur dari sengatan terik matahari, dalam jangka waktu 20-30 hari akan muncul larva gurami. Cara ini memiliki kelemahan seperti sulit mengontrol adanya jamur parasit, kondisi air yang berubah-ubah, ancaman hama pengganggu terhadap larva yang masih lemah.
Penetasan dalam wadah
Cara ini sekalipun memerlukan perhatian terus menerus namun hasilnya lebih memuaskan karena selain lebih aman dari hama penyakit pengawasannya lebih mudah, sehat dan kaya oksigen serta lebih banyak kemungkinan telur menetas.
Siapkan gentong, jamban dari tanah liat sebanyak dua buah, satu sarang memerlukan dua gentong. Lalu isi dengan air jernih sekitar separuh lebih sedikit.
Letakkan gentong terapung diatas kolam penetasan, beri atap agar supaya tidak terkena air hujan yang bisa menggagalkan telur.
Usahakan agar mendapat matahari pagi
Pindahkan sarang yang berisi telur kedalam gentong. lalu uraikan ijuk dan telur akan jatuh kedalam gentong.
Letakkan daun tebu diatas permukaan air dalam gentong.
Air dalam pasu diganti setiap dua kali sehari. Caranya, masukkan saringan halus kedalam air. Air yang terkumpul di dalam saringan dikeluarkan melalui selang. Usahakan pergantian secara bertahap sehingga tidak terjadi goncangan pada telur dan tidak terjadi perubahan suhu mendadak.
Minyak yang mengapung dalam gentong sebaiknya dibuang
Lama penetasan adalah 2 minggu, telur yang tidak menetas (busuk) dibuang karena akan mencemarkan air.
Selesai menetas biarkan anak gurami selama 10 hari dan jangan diberi makan.
Setelah 10 hari diberi dedak campuran kuning telur.
Anatomi Kolam GURAMI

<!–[if supportFields]>PRIVATE<![endif]–><!–[if supportFields]><![endif]–>Pengetahuan mengenai anatomi kolam dibutuhkan agar terhindar kesalahan konstruksi setelah kolam diisi ikan.
PEMATANG
Membuat sebuah kolam sebetulnya membuat pematang atau tegalan. Bentuk pematang yang disukai dewasa ini adalah trapesium yang melebar di bagian bawahnya. Pematang retak atau bocor harus segera ditambal dengan tanah liat. Belut atau kepiting suka membuat lubang di pematang sehingga harus ditutup secepatnya. Pada saat bertelur nanti, gurami cenderung mengorek lunag berukuran 30 cm sedalam 30 cm sehingga hal-hal seperti ini harus diantisipasi oleh peternak.

Idealnya bagian atas pematang dibuat selebar 1 meter, bagian bawahnya 1,5 meter dengan ketinggian 1 meter.

Tegalan ini nantinya ditanami rumput untuk mencegah kelongsoran dan tanaman keladi, tanaman singkong yang bisa dimanfaatkan sebagai catu makanan gurami.
SALURAN MASUK AIR
Parit-parit air dibuat harus lebih tinggi daripada kolam. Bila air dibendung dengan bendungan sementara yang terdiri dari tumpukan bata, batu, papan dan bambu, maka permukaan air akan naik sehingga bisa mengairi kolam. Untuk menahan parit agar tidak longsor, sisi parit di tahan dengan anyaman bambu.
SALURAN PEMBUANGAN AIR atau drainase
Saluran pembuangan atau drainase sangat vital, biasanya saluran ini harus lebih besar sehingga kalau terpaksanya harus mengeringkan lebih dari satu kolam secara bersamaan, lubang saluran tidak kewalahan sampai sampai meluap.
Tentu saja saluran ini dibuat lebih rendah daripada kolam.

PINTU AIR MASUK
Dipilih yang terbuat dari bahan pralon 4″ yang dilengkali dengan elbo (knee) di kedua ujungnya. Kalau elbo ini diarahkan keatas bisa berubah fungsi sebagai pintu penutup. Sebuah saringan yang terbuat dari anyaman bambu kelak dipasang pada elbo sehingga berfungsi menyaring sampah, menyaring ikan gabus, sepat, ikan sapu-sapu yang tidak diinginkan memasuki kawasan kolam. Saluran air selain dibuat lebih tinggi dari 0,75 m, juga menjorok kedalam kolam sehingga terjadi efek grojogan, yang akhirnya merupakan suply oksigen
PINTU AIR KELUAR
Pintu ini harus dibuat agar supaya ikan kita tidak terbawa keluar.
KEMALIR
Sebuah parit kecil didalam kolam, tujuannya ketika kolam dikeringkan, ikan bisa digiring mengumpul kesuatu tempat yang lebih miring sehingga mudah ditangkap. Menurut Heru Susanto, ukuran yang ideal adalah lebar 40 cm, kedalaman 20 cm.
KOBAKAN
Sama dengan kemalir, hanya dibuat lebih lebar misalnya panjang 1 meter lebah 2 meter. Tujuannya ya untuk menangkap ikan.
PELATARAN
Pelataran adalah kata lain dari dasar kolam secara keseluruhan. Pelataran dibuat miring ke arah saluran pembuangan. Lumpur dalam kolam harus kaya akan unsur hara yang sangat dibutuhkan ikan.
Untuk mendapatkan harga yang baik, umumnya gurami dijual dalam keadaan hidup-hidup dan dagingnya tidak berbau lumpur.

Bau lumpur dalam tubuh Gurami diduga akibat senyawa geosmin akibat pekerjaan bakteri dan plankton. Dalam kolam yang tidak mengalir, akan terjadi penumpukan bahan organik secara terus menerus. Usia plankton sangat singkat, dan ketika mati menimbulkan bau busuk pada kolam dan pada ikan.
MENCEGAH BAU LUMPUR
Mengurangi intensitas matahari

Jenis plankton akan tumbuh cepat bila terkena sinar matahari. Jika separuh kolam diberi naungan, maka populasi plankton dapat ditekan.
Pemupukan yang seimbang

Pemberian pupuk N dan P dengan perbandingan 4:1 akan menghambat pertumbuhan alga biru. Dosis pemberian adalah 7-14 mg setiap meter kubik air dapat dilakukan setiap minggu
Pemberian pakan dalam jumlah yang tepat

Usahakan pakan ikan jangan sampai tersisa sebab akan menjadi penyebab peningkatan mikro organisme
Penyaringan air kolam
Penebaran ikan pemakan plankton

Ikan mola, nilem dan sepat memiliki kemampuan memangsa plankton yang baik. Hanya penebaran ikan pemangsa plangkton harus diperhatikan agr supaya tidak terjadi perebutan pakan.
Pengendalian secara Kimiawi. Dengan pemberian planktonsida kuprisulfan dan kuprisandoz.
MENGHILANGKAN BAU LUMPUR
Pemberaan

Selama 3-5 hari ikan disuruh berpuasa dalam air tawar yang mengalir. Hasil penelitian, gurami yang berbobot setengah kiloan setelah diberakan dalam air tawar selama 7 hari ternyata telah terbebas dari bau lumpur dan dagingnya menjadi lebih kenyal.
Pengolahan hasil Cara memasak gurami dengan menambahkan bumbu masak tradisional seperti kunyit, bawang merah, daun salam, dan serai dapat mengurangi bau lumpur dalam gurami.
JENIS GURAMI






Ikan Gurami (giant Gourami), diberi nama di jawa sebagai Gurameh, Brami, di Sumatera sebagai Kalui, dan di Kalimantan sebagai ikan Kali.
Ikan gurami (Osphronemus gourami) mempunyai bentuk gepeng (compressed), yang muda bersikap agresif, tetapi sifat ini akan berkurang sejalan dengan umur gurami.
Ikan gurami muda berdahi yang normal dan rata, semakin dewasa dahi ini makin tebal dan kelihatan menonjol. Pada ikan muda ada 8 buah garis tegak, yang akan hilang setelah ikan mulai menginjak dewasa.

Petani mengenal dua jenis gurami, yaitu Gurami Soang (angsa) ikan ini yang bisa mencapai panjang 65 centimeter dengan berat 8 kilogram. Jenis yang lain Gurami Jepang hanya mampu tumbuh 3,5 kilogram dengan panjang maksimal 45 centimeter. Strain (bakat) yang berbeda inilah yang harus diperhatikan (sayangnya sukar menengarainya) jika ingin beternak Gurami.
Gurame bule dan belang juga tidak jarang dijumpai. Bagi yang suka rumit-rumit, dalam kepengurusan partai kerajaan dunia hewan, ikan ini diklasifikasikan sbb:
Klas: Pisces Sub klas: Teleostei Ordo: Labyrinthici Sub ordo: Anabantoidae Famili: Anabantidae Genus: Osphronemus Species: Osphronemus gouramy (Lacapede)
Buku mengenai ikan GURAMI

Buku-buku yang saya baca umumnya buku berbahasa Indonesia, kadang merasa haru melihat kenyataan bahwa buku yang bermutu, ditulis dengan penuh dedikasi, dan dijual dengan harga yang terjangkau. Salut saya kepada para penulis buku, sehingga walaupun saya tidak mengenalnya secara langsung saya pada kesempatan ini mengucapkan terimakasih. Saya cantumkan harga buku tersebut pada Maret 2000
· Budi Daya Ikan Gurame oleh Heru Susanto, Penerbit Kanisius harga sekitar Rp. 9300
· Petunjuk Praktis Budi Daya Ikan Gurami oleh Heri Respati dan Budi Santoso, Penerbit Kanisius harga sekitar Rp. 4000
· Membudidayakan Gurami Secara Intensif oleh Harsono Puspowardoyo dan Abbas Siregar, penerbit Kanisius harga sekitar 5600
· Memelihara Ikan Bersama Ayamoleh Kusno, penerbit Penebar Swadaya, seri perikanan XXIII/197/89 harga sekitar 3800
· Usaha Budidaya Ikan GURAMIoleh Taufiq Rusdi, CV Simplex – Jakarta, harga sekitar Rp. 5000
· Makanan Ikanoleh Ahmad Mujiman, penerbit Panebar Swadaya, seri perikanan – XV/83/87, harga sekitar Rp. 15.400
· Budidaya Ikan di Pekaranganoleh Heru Susanto, penerbit Panebar Swadaya harga sekitar Rp. 12350
· Memacu Pertumbuhan Guramioleh Zulkifli Jangkaru, penerbit Panebar Swadaya harga sekitar Rp. 9250
· Budidaya Ikan Guramioleh Maloedyn Sitanggang, penerbit Panebar Swadaya harga sekitar Rp. 6350




GUNAKAN SEARCH ENGINE INI UNTUK MENEMUKAN ARTIKEL ANDA :

Loading
Logitech Keyboards

Jumat, 16 September 2011

IWAN LIPPO CIKARANG SUKSES MENANGKARKAN CIBLEK



Anakan usia di bawah 10 hari diloloh sendiri


Setelah sukses menangkarkan murai batu, kemudian cucak hijau, kali ini Iwan Lippo Cikarang, kembali berinovasi dengan hobi ternaknya dengan mencoba menangkarkan jenis kicauan lainnya, yakni ciblek. Burung mungil ini termasuk kategori jenis kicauan yang tidak mudah dikembangkbiakkan. Karenanya, Iwan merasa tertantang untuk mencoba menangkarkannya.

Secara komersial, jenis ciblek pamornya memang tidak seperti jenis kicauan lainnya. Karenanya, harganya pun relatif  murah. Namun bukan itu yang menjadi prioritas Iwan untuk merealisasikan mengembangbiakkan ciblek di rumahnya.

Pada awal 2010 lalu, ia mengawali eksperimennya hanya dengan mengandalkan sepasang ciblek yang siap kawin. Sang jantan merupakan ciblek putih bekas burung lomba yang ia dapatkan dari Koh Hin Magelang. Sedangkan betinanya ciblek biasa, hijau berdada putih, yang ia dapatkan dari pasar burung.
Untuk mendapatkan anakan hasil penjodohan pasangan ciblek tersebut harus melalui beberapa proses.

Iwan mengalami sendiri berbagai kendala yang mempersulitnya untuk mendapatkan anakan pertama. Setelah menunggu beberapa lama, ternyata pasangan ini terlihat seperti tidak berjodoh. “Setelah berjodoh, kemudian betinanya bertelur. Nah, setelah menetas, anaknya malah langsung dibuang. Ini terjadi sampai tiga kali bertelur, anaknya selalu dibuang,” jelas Iwan, seperti diturukan kepada Agrobur, belum lama ini.




Memanfaatkan kandang murai batu


Kemudian, pada bulan Mei 2010, ia ganti betinanya. Hasilnya, pasangan baru ini berjodoh dan betinanya bertelur. Pada tanggal 6 Juni 2010, ketiga telur menetas. “Dari tiga yang menetas, satu ekor dibuang. Ternyata anak yang dibuang itu kondisinya memang kurang bagus. Selain fisiknya lebih kecil dibandingkan yang lainnya, kelihatannya memang tidak sehat,” jelasnya.
Dari anakan pertama, dua ekor anak ciblek yang selamat, saat ini sudah berusia sekitar hampir dua bulan dan terus berkembang hingga kini.

Anakan pertama dipastikan berkelamin jantan. Itu bisa dilihat dari ciri-cirinya, paruh berwarna hitam.
Setelah anakannya diangkat dan dipindahkan ke sangkar pembesaran, selanjutnya pasangan ini kembali berproduksi.
Pada tanggal 30 Juni 2010, betina kembali bertelur dan menetaskan dua ekor anakan. Keduanya berkembang baik hingga kini sudah berusia sebulan lebih.


“Saat ini pasangan ini sudah siap-siap berproduksi lagi,” katanya.
Iwan menambahkan, setelah anakan berusia seminggu, akan lebih baik jika diloloh oleh tangan. Walaupun risikonya kita harus meluangkan waktu banyak untuk selalu memantaunya. Karena anakan diberikan makanan hampir setiap jam. Makanan yang diberikan antara lain, voor, kroto dan jangkrik.

Karena jenis burung ini kecil, Iwan sempat kesulitan mendapatkan ring sebagai tanda hasil penangkarannya. la akhirnya bisa mendapatkan ring setelah secara khusus memesan kepada produsen ring ternama di Jakarta. “Karena ukurannya kecil, jarang ada ring untuk burung sekecil ciblek. Jadi akhirnya saya pesan khusus,” ujarnya.




Iwan bersama anak-anak


Idealnya anakan ciblek dipasangi ring saat berusia antara 10 sampai 15 hari atau sebelum burung lepas dari sarang. Karena, jika lebih dari 15 akan sulit memasangnya, sebab kakinya sudah membesar. Itu berdasarkan pengalamannya saat memasangkan ring pada anakan pertama.
“Anakan pertama saya pasang saat berusia di atas 15 hari, karena saya mendapatkan ringnya telat. Akibatnya, proses pemasangan agak susah,” ungkapnya.


Dari pengalamannya ini, Iwan kembali membuktikan bahwa ia sangat konsen terhadap pelestarian burung kicauan lokal. Sebelumnya, ia sukses menangkarkan cucak hijau dan mendapatkan ring 001 dari Pelestari Burung Indonesia (PBI). Kali ini pun, bisa jadi ia menjadi kicaumania pertama yang sukses menangkarkan ciblek.

“Namun kali ini saya kecewa terhadap PBI yang kurang merespon apa yang telah saya lakukan, di antaranya kesuksesan menangkarkan ciblek. Sampai akhinya saya memesan ring sendiri,” tuturnya.

Masalah ini pula yang akhirnya menyebabkan ia kemudian memutuskan keluar dari kepengurusan PBI Cabang Bekasi, belum lama ini.  Meski sudah keluar dari organisasi, namun komitmennya terhadap pelestarian akan tetap dilakoninya. Karena, semua ini ia lakukan atas dasar hobi. Tidak lebih dari itu.  (Sumber artikel dan foto: Agrobur)




GUNAKAN SEARCH ENGINE INI UNTUK MENEMUKAN ARTIKEL ANDA :

Loading
Logitech Keyboards