Sabtu, 23 Juni 2012

Kesehatan dan Pencegahan Penyakit pada Babi

Berbagai penyakit yang biasa diderita ternak babi antara lain :

1. Penyakit kekurangan vitamin A



Babi-babi yang dipiara secara bebas di luar kandang (outdoor) pada umumnya tidak pernah menderita defisiensi vitamin A. Sebab mereka dengan mudah bisa memperoleh hijauan seperti rumput-rumputan, yang mengandung carotene cukup banyak. Carotene ini di dalam alat pencernaan dokonversikan menjadi vitamin A, yang kemudian disimpan di dalam hati, sehingga sewaktu-waktu diperlukan vitamin tersebut sudah siap.



Tetapi bagi babi-babi yang selama hidupnya dipiara di dalam kandang terus-menerus, jika terjadi kekurangan vitamin, mereka tidak bisa memperoleh tambahan dari luar. Apalagi babi-babi yang baru lahir, cadangan vitamin A-nya sangat rendah, dan hal ini sangat tergantung pada Colostrum yang bisa diterima dari induk.



Gejala-gejala defisiensi vitamin

a. Pada anak babi

- Anak babi yang lahir masih di dalam kandungan mati, atau mati sesudah lahir.

- Pertumbuhan sangant lambat, atau terjadi pot-belly (perut besar).

- Anak-anak babi yang hidup, nafsu menyusunya sangat kurang, dan jalannya tidak normal.

- Anak babi yang lahir, bola matanya rudimeter atau buta.

- Sering anak babi lahir sebelum waktunya (abortus).



b. Pada anak babi grower

- Terjadi hambatan pertumbuhan, dan di dalam waktu singkat ukuran kepala menjadi tidak normal (besar).

- Nafsu makan mundur, anak babi menjadi keras (kaku) dan Nampak seperti bersisik.



c. Pada babi besar

Pada babi-babi yang besar gejalanya tidak begitu Nampak, namun demikian sering mengakibatkan gangguan seperti :

- Birahi tertunda atau sama sekali tidak terjadi birahi.

- Mudah terjadi peradangan pada perut (alat pencernaan).

Pencegahan

- Babi diberikan makanan hijauan.

- Diberikan vitamin A, dengan jalan injeksi intramuscular.

Catatan

Jika ternak babi terkena infeksi yang serius akibat dari parasit (cacing) atau pneumonia, maka cadangan vitamin A yang ada lekas habis terpakai atau boros.



2. Anemia

Anemi banyak diderita babi-babi kecil, sekitar umur 3 minggu.

Penyebab

- Kekurangan mineral, terutama zat besi dan tembaga.

- Anak babi menggigil kedinginan terus-menerus dan pada kondisi yang lembab.

- Air susu babi kandungan zat besinya sangat rendah.

Gejala

- Pucat, terutama pada daun telinga dan perut.

- Kandang-kandang leher menjadi lebih besar.

- Pernapasan cepat.

- Pertumbuhan terganggu, kehilangan berat badan dan tidak lincah.

- Babi banyak berbaring dan buang kotoran di sekitar tempat mereka berbaring.

- Diare, kotoran abu-abu atau berwarna kuning keputih-putihan.

Pencegahan



Beberapa pencegahan yang bisa dilakukan :

a. Pada setiap hari, babi-babi yang dipiara di dalam kandang, perlu diberikan tanah atau batu bata yang bersih ke dalam kandang. Ini adalah cara yang paling mudah dilakukan dan murah juga.



b. Makanan untuk babi induk diberikan tambahan mineral yang mengandung zat besi dan tembaga.



c. Berikanlah pada anak babi yang berumur 24 jam, tablet mineral yang berisikan zat besi dan cobalt. Pemberian tablet ini diulangi pada hari ke-7 atau ke-20.



d. Pada anak babi bisa diberikan larutan zat besi dan tembaga (iron-coper) yang terdiri dari 500 gram ferrosulphate, 75 gram coppersulphate dan 3 liter air.



e. Putting induk dilumasi dengan ferrosulphate 1,8% sebanyak 4 cc. Ferrosulphate tersebut dilarutkan pada cairan yang ditambahkan gula sebanyak 500 gram dan diberikan pada setiap hari.



f. Di antara berbagai cara tersebut di atas, masih ada cara yang lebih praktis dan mudah dilakukan, yaitu dengan memberikan zat besi dalam bentuk “iron dextran” yang diinjeksikan sebanyak 100 mg pada hari ketiga sehabis babi itu lahir. Jika perlu pada tiga minggu kemudian, injeksi zat besi ini diulangi dengan dosis yang lebih kecil.



Catatan

- Anemi yang akut dapat menimbulkan kematian dengan tiba-tiba.

- Sedangkan yang kronis bisa mengakibatkan babi menderita scours (mencret).

- Anak babi memerlukan suplai zat besi secara teratur guna membentuk haemoglobine. Pigmen yang Nampak sel darah merahnya merupakan bagian yang terpenting dalam mengangkut O2 (oxygen) ke seluruh jaringan tubuh. Keperluan zat besi tersebut bagi setiap ekor anak babi per hari adalah 7 mg, di mana air susu induk hanya bisa mensuplai 2 mg. Persediaan zat besi pada air susu induk yang jumlahnya kecil, berkisar 30 – 50 mg ini akan habis dalam waktu dua minggu. Dengan peristiwa ini maka anak babi akan menderita anemi, apabila mereka tidak diberikan tambahan zat besi. Dalam hal ini copper (zat tembaga) dan vitamin B12 juga penting.



Karena pada setiap harinya, air susu induk hanya mengandung seperlima belas zat besi yang diperlukan anak babi, maka tidaklah mengherankan apabila anak babi yang kurang baik pemeliharaannya akan selalu menderita anemi. Itulah sebabnya setiap anak babi selalu diberikan tambahan “iron dextran” seperti telah diutarakan di atas.



3. Scours (mencret)

Scours adalah suatu gejala penyakit enteritis akibat adanya peradangan pada alat pencernaan atau usus. Scours banyak menyerang anak babi dan babi-babi muda.



Penyebab

Untuk mengetahui penyebab dan gejala penyakit ini, secara khusus dirasa sangat sulit. Sebab penyakit ini ada berbagai tipe. Namun demikian secara umum bisa dikemukakan di sini, bahwa yang mempercepat terjadinya scours ini antara lain :

- Sanitasi kurang sempurna.

- Babi selalu kedinginan, keadaan udara lembab, tanpa alas kandang.

- Makanan yang kurang memenuhi syarat, kurang zat besi (anemi).

- Babi banyak mengalami stress.



Dan secara khusus di bawah ini dikemukakan scours pada babi yang berumur lebih dari 3 hari, umur 3 bulan, babi sapihan dan babi umur 14 minggu atau lebih.



a. Babi yang berumur lebih dari tiga hari

- Babi umur tiga hari yang menderita scours tentu saja bukanlah akibat anemi, melainkan disebabkan karena mereka terlampau banyak air susu atau tanpa pembatasan dalam pemeberian air.

- Kemungkinan kedua akibat infeksi E. coli.

- Banyak masalah semacam ini menimpa anak babi secara akut, tanpa terjadi scours tetapi tiba-tiba anak babi mati mendadak.

- Mungkin karena pada waktu itu induk sedang birahi, sehingga sementara anak babi menderita scours.



b. Babi yang umurnya 3 bulan

Scours yang menimpa pada anak babbi periode tersebut disebabkan karena :

- Anemi, atau anak babi diberikan makanan yang kandungan serta kasarnya terlampau tinggi.

- Anak babi kedinginan, kondisi lembab dan lantai tiada alas sedikit pun.

- Pada saat itu induk sedang birahi.



Birahi tenang

Pada ternak babi sering terjadi apa yang disebut birahi tenang (quiet heat) di mana babi yang bersangkutan tidak menunjukkan tanda-tanda birahi yang bisa diamati. Perubahan hormone sering dialami pada induk kurang lebih 3 minggu setelah beranak. Perubahan hormonal pada susunan air susu ini sangat khas seperti yang terjadi pada induk yang mengalami birahi yang normar.

Perubahan inilah yang bisa mengakibatkan anak babi menderita diarhee.



c. Pada saat babi disapih

Scours yang terjadi pada babi sapihan ini akibat pergantian makanan yang mendadak. Untuk mengatasi hal ini perlu diadakan persiapan terlebih dahulu, yaitu anak babi sapihan tadi demi sedikit dilatih untuk diberikan makanan grower.



d. Pada babi yang lebih besar, umur 14 minggu atau lebih

Scours yang menimpa babi fase ini bisa disebabkan oleh berbagai infeksi, misalnya cacing, salmonella, disentri.

Berbagai tipe scours atau enteritis

1) Non-infections enteritis

Jenis penyakit scours semacam ini ada berbagai macam sebab, antara lain produksi air susu induk yang terlampau tinggi, kekurangan vitamin-vitamin, anemi, perubahan temperatur yang sangan besar, perubahan ransum makanan secara tiba-tiba.



· Produksi susu yang terlampau banyak

Ransum yang kandungan energinya terlampau tinggi dan diberikan kepada induk dalam jumlah yang berlebihan akan menimbulkan efek negative bagi anak-anaknya yang sedang disusui. Sebab pemberian ransum samacam itu selama seminggu menjelang dan sesudah melahirkan akan menimbulkan produksi susu induk menjadi terlampau banyak. Peristiwa ini akan berakibat kepada anak-anak yang sedang menyusui menjadi scours.



Untuk mengatasi hal ini, maka sebaiknya pemberian ransum tersebut perlu diatur baik-baik. Yaitu dua tiga hari sebelum beranak sampai dengan satu minggu sesudah melahirkan , jumlah makanan yang diberikan harus dibatasi.



· Kekurangan vitamin-vitamin

Penderita scours bisa disebabkan pula akibat ransum makanan kekurangan vitamin-vitamin, terutama vitamin B, A, dan E.



Hal ini bisa diatasi dengan menambahkan vitamin-vitamin tersebut dalam ransum makanan anak babi ataupun kepada ransum induk.



· Anemi

Anak babi yang menderita anemi akan menjadi scours juga. Untuk mengatasi hal ini anda dapat melakukan hal yang telah diterangkan pada penyakit anemi diatas.



· Perubahan temperatur

Akibat adanya perubahan temperatur secara mendadak dan ekstrim yaitu terlampau tinggi atau rendah adalah merupakan salah satu faktor pula terjadinya scours, lebih-lebih bila kandang itu ventilasinya tidak sempurna.



· Perubahan makanan yang tiba-tiba

Perubahan ransum makanan anak babi yang terjadi secara mendadak akan mengakibatkan anak babi menderita diarhee (scours). Untuk mengatasi hal ini, pemberian ransum anak babi pada setiap fase bisa diatur seperti dijelaskan di atas.



2) Infectious enteritis

a) Non-specifix enteritis

Yaitu jenis penyakit enteritis yang disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, yang berjangkitan terutama akibat stress.



b) Necrotic enteritis

Jenis penyakit ini sering disebut “necro” yang penyebabnya bakteri salmonella.

Penyakit ini banyak menyerang babi umur 2 – 6 bulan.

Gejalanya

· Kotoran berbau busuk, dan berwarna hitam keabu-abuan.

· Kotoran sering bercampur dengan jaringan-jaringan usus yang telah lepas.



c) Disentri

Yaitu jenis penyakit enteritis yang infeksinya sudah serius. Kadang-kandang penyakit ini disebut “bloody” atau “black scours”. Penyebab penyakit ini ialah bakteri vibrio atau salmonella. Bakteri ini bisa ,mengakibatkan mencret berdarah yang sangat membahayakan atau bisa menimbulkan kematian.



d) Transmissible Gastro Enteritis (TGE)

Yaitu jenis penyakit enteritis yang disebabkan oleh virus. Yang bisa diserang oleh penyakit ini ialah babi segala umur. Babi-babi muda yang menderita penyakit TGE ini bisa mengalami kematian sampai 100%.



Pencegahan dan pengobatan

- Menjaga kebersihan kandang dengan menggunakan desinfektan (Lysol, creolin) lantainya dan kandang selalu kering.

- Terhadap anak babi, selalu diberi alas dari rumput, brambut, serbuk gergaji, yang selalu diganti agar mereka tetap hangat dan bersih.

- Makanan diberi TM 10, atau Aureomycin.



4. White scours (Mencret putih)

Penyebab

Escherichia coli, yaitu bakteri yang bisa masuk lewat tali pusat yang sakit. Dan biasanya babi kecil mudah menderita mencret puti akibat mereka kedinginan, lantai lembab, makanan induk jelek, atau anak babi terlampau banyak menyusu.

Gejala

- Kotoran merupakan cairan yang berwarna putih seperti kapur.

- Tidak mau menyusu induk Nampak sangat lemah.

- Kepala ditundukkan.



Penyebab dan pengobatan

- Kandang diusahakan selalalu kering dan hangat, latai diberi alas dan sering diganti, tidak sampai mejadi kotor ataupun basah aibat air kencing.

- Makanan diberi tambahan aureomycin

Catatan : white scours biasanya diikuti penyakit anemi, TGE, Necro, disentri dan penyakit lainnya.



5. Cholera

Penyebab : virus

Gejala

- Temperatur tubuh naik 104 – 108º F.

- Nafsu makan hilang dan lemah, sehingga tidak mau makan, tetapi minumnya banyak.

- Terhuyung-huyung.

- Tubuh bagian bawah (sekitar perut) berwarna merah keunguan seperti Erysipelas.

- Kandang-kadang seperti kedinginan, yang menyebabkan babi berjejal-jejal atau saling berhimpitan.



Pencegahan dan pengobatan

- Vaksinasi dengan serum anti cholera babi atau rovac hog cholera. Sesudah babi umur 6 minggu, diulangi setahun sekali. Babi-babi dara atau induk sebaiknya 3 minggu sebelum dikawinkan, sedang pejantan bisa sewaktu-waktu.



6. Agalactia

Agalactia ialah kegagalan dalam memproduksi air susu. Jenis penyakit ini khusus diderita oleh babi-babi induk yang habis beranak. Penyakit ini Nampak jelas 24 jam sehabis induk itu melahirkan. Babi-babi yang menderita agalactia ini akhirnya tidak mampu mensuplai air susu kepada anak-anaknya, karena produksi air susu tak bisa keluar lagi, sebab sekresi oxytocin tidak mencukupi. Kekurangan oxytocin ini bisa diatasi dengan memberikan injeksi oxytocin dengan dosis 5 – 10 I.U. secara intramuskular.



Penyebab

Penyebab penyakit ini adalah tidak selalu sama, atau dengan kata lain ada berbagai macam sebab :

a. Karena toxic (racun) yang terdapat di dalam usus akibat konstipasi yang diderita induk yang bersangkutan, yang kemudia diikuti hilangnya nafsu makan dan kandang-kadang panas yang terlampau tinggi. Untuk mengatasi konstipasi ini, babi bisa diberikan obat peluncuran atau urus-urus dengan garam inggris.



b. Akibat peradangan pada usus.

Peristiwa ini mengakibatkan babi induk merasa sakit, sehingga nafsu makan berkurang, temperatur tubuh tinggi 106º F, dan dari vulva keluar cairan berwarna kuning atau kemerahan. Ambing menjadi bengkak, keras, berwarna merah, panas dan sakit. Penderita ini bisa diobati dengan penstrep. Karena adanya peradangan uterus (metritis) dan ambing (mastitis), dan mengakibatkan kegagalan kegagalan keluarnya air susu (agalactia). Maka penyakit ini juga disebut MMA kompleks.



Gejala umum :

- Gejala pertama biasanya Nampak 3 hari sesudah melakukan, walaupun sering dapat terlihat sebelum anak-anaknya disapih.

- Temperatur 103 - 106º F.

- Babi tidak mau makan, air susu sedikit atau gagal sama sekali.

- Dari vagina keluar nanah berwarna keputihan atau kekuning-kuningan.

- Anak babi mencret.

- Kadang-kadang tidak diketahui sampai anak babi mati kelaparan.



7. Brucellosis (Keguguran menular)

Pada babi, penyakit ini bisa kronis atau subkronis. Yang diserang alat reproduksi (uterus, ambing, testes).



Penyebab

Gejala

Gejala penyakit ini sulit dilihat, di mana tidak semua penderita itu selalu mengalami abortus dan sebaliknya yang bukan brucellosis pun bisa abortus. Akan tetapi secara umum bisa dilihat tanda-tanda.

- Keguguran, anak mati di dalam kandungan atau sangat lemah.

- Pada jantan atau induk bisa steril yang sifatnya bisa sementara atau permanen, kadang-kadang lumpuh pada kaki belakang, pada babi jantan ada gejala radang testes.

Pencegahan dan pengobatan

- Sanitasi (pejagaan kesehatan), dan belilah bibit yang bebas dari penyakit brucellosis.

- Vaksinasi.

- Obat belum ditemukan.



8. Pneumonia (Penyakit radang paru-paru)

Pneumonia suatu penyakit yang bisa menyerang segala binatang termasuk ternak babi. Bila tanpa pengobatan, 50 – 75% akan mati.



Penyebab

- Microorganism

- Virus

- Cacing paru-paru (lungworms)



Yang mempercepat berjangkitnya penyakit ini ialah akibat ternak stress, sehingga mudah infeksi yang menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut :

- Batuk-batuk, pernapasan berbunyi dan terengah-engah, pernapasah cepat dan dangkal.

- Pada penderita kaki Nampak terbuka lebar.

- Konstipasi

- Nafsu makan hilang

- Temperatur tubuh tinggi, moncong dan hidung panas serta kering.

- Kulit dan bulu kasar, kering.



Pencegahan dan pengobatan

- Pemeliharaan yang baik terutama kebersihan di dalam kandang dan sekelilingnya.

- Yang sakit ditempatkan di tempat yang bersih, dan tidak berangin.

- Makanan yang mudah dicerna, dan diberi aureomycin atau TM 10, guna mencegah infeksi pada saat stress.

- Pengobatan dengan terramycin atau sulmet injeksi. Agribon (mengandung sulfadimenthoxine, vitamin A dan K)



Catatan :

Dosis agribon 1 gr agrinon untuk 10 kg berat badan, setelah 24 jam 0,5 gr/50 kg berat badan setiap hari selama 3 hari berturut-turut atau sampai sembuh.



9. Cacar (Swine Pox)

Penyakit cacar banyak menyerang babi-babi muda dengan perantara kutu, serangan atau kontak langsung.

Penyebab : virus

Gejala

- Nampak bintil-bintil kecil berwarna merah, terutama di telinga, leher pada tubuh bagian bawah dan paha bagian sebelah dalam.

- Akhirnya bintil-bintil tumbuh dengan cepat, masing-masing merupakan gumpalan yang keras, pada bagian atas.

- Beberapa hari kemudian bintil-bintil itu merupakan lepuh sebesar kedelai yang berisikan cairan jernih tetapi kemudian menjadi seperti darah putih atau nanah.

- Lepuh-lepuh segera mongering dengan meninggalkan bekas, seperti kudis yang berwarna coklat tua.

- Sebelum kulit berganti, panas tubuh meningkat dan tidak mau makan.



Pencegahan dan pengobatan

- Pemeliharaan yang baik, serta kebersihan akan menolong keselamatan babi, terhindar dari penyakit tersebut. Makanan diberi TM 10.

- Berikan penstrep, terramycin injeksi, ditambah vitamin A.



10. Erysipelas

Penyebab

Erysipelothrix insidiosa. Bakteri ini sering terdapat pada usus, kelenjar leher, radang empedu.



Gejala

Penyakit ini ada 3 bentuk

a. Akut

- Meyerupai babi yang menderita cholera.

- Temperatur tubuh tinggi

- Penderita menyendiri dan selalu berbaring tetapi ada yang masih gesit dan bila didekati merasa terganggu, lalu pindah tempat sambil teriak kesakitan.

- Bila berjalan, kaki menunjukkan kekakuan, terhuyung-huyung atau jatuh dan kadang-kadang lumpuh.

- Nafsu makan turun atau tidak makan sama sekali.

- Kotoran keras, dan bagi babi muda kotoran tersebut encer.

- Kulit (diamod skim) nampak pada hari ke-2 – 3 sesudah inkubasi, yaitu kulit luka kecil, berwarna merah muda, kemudian menjadi ungu tua, bila diraba keras. Biasanya diamod skin ini terdapat pada bahu, tubuh samping dan perut.

- Babi sering mendengkur, karena hidung bengkak.

- Umumnya penyakit ini diikuti kematian yang tiba-tiba.



b. Subakut

Tanda-tandanya seperti pada yang akut, tetapi tidak begitu ganas bila disbandingkan dengan yang akut. Temperature tidak begitu tinggi, dan sering-sering nafsu makan masih normal.

Beberapa luka Nampak seperti segiempat, apabila mongering, pada telinga, ekor, bisa megelupas.

Bila penyakit ini tidak berkompilasi, biasanya sembuh.



c. Kronis

Yang kronis biasanya mendapat serangan local seperti pada jantung atau persendian lutut, tumit kaki belakang dan kuku, sehingga mengakibatkan kelumpuhan.



Pencegahan dan pengobatan

- Karena organism itu dapat menyebar di dalam tanah ataupun pada ternak, maka jenis penyakit ini agak sulit dilakukan pencegahan.

- Bila ada yang menderita serangan peyakit tersebut, harus segera diisolasi.

- Obat dengan serum Erysipelas (susserin), injeksi subcutaneous atau intravenous. Dosis tergantung berat badan, 10 – 40 cc atau lebih. Bila diberi sulfa, penicillin, streptomycin.



11. Penyakit mulut dan kuku (Apthae Epizotticae = AE)

Penyakit ini mudah menyerang pada babi, lembu dan kambing.



Penyebab : virus, oleh karena itu cepat menular.

Gejala  Nampak perubahan pada mulut dan kaki.

- Selaput lender dalam mulut, bibir, langit-langit, lidah, dan pada gusi timbul lepuh merah yang berisi cairan kuning (sesudah 2 – 3 hari)

- Sering, dari mulut keluar ludah seperti benang bercampur lender atau berbuih.

- Timbul luka-luka di antara kuku dan kulit-kulit kaki, akibatnya pincang dan berbaring saja.

- Kadang-kadang pada ambing timbul luka atau lempuh juga.

- Temperatur tubuh naik, dan nafsu makan hilang



Pencegahan dan pengobatan

- Semua kandang beserta peralatannya harus selalu bersih, diesinfektir (cairan caustic soda 2%).

- Ternak yang mati akibat AE harus dikubur.

- Vaksinasi setahun sekali.

- Obat antibiotic (Penicillin Powder), obat khusus belum diketahui.



12. Penyakit ngorok (Septichaemia Epizootica = S.E Shipping Fever)

Penyebab : bakteri pasteurella multocida.

Gejala

- Penyakit ini berjangkit amat cepat, berlangsung 1 minggu atau kurang.

- Temperatur naik.

- Sesak napas karena terdapat lender dalam pernapasan, terdengar suara ngorok, dan terlihat kebengkakan pada bagianleher.

- Kadang-kadang mencret.

- Yang akut terus mati dengan tiba-tiba tanpa didahului oleh suatu gejala apa pun.



Pencegahan dan pengobatan

- Menjaga terhadap ketahanan tubuh babi, antara lain dengan jalan memberikan makanan yang babik, ternak banyak istirahat, jangan sampai terjadi stress.

- Memisahkan babi-babi yang sakit.

- Pengobatan oleh Dokter Hewan, pada tingkat-tingkat permulaan bisa diobati dengan obat antibiotic, misalnya penicillin injeksi intramuscular, sulmet injeksi, antiserum.



Catatan

Dosis sulmet : hari pertama 2,5 cc per 5 kg berat badan.

Hari-hari selanjutnya 1,25 cc per 5 kg berat badan.

Suntikan diberikan secara intravenous, subcutaneous, intramuscular



13. Anthrax (Radang limpa)

 Penyebab : Bacillus Anthracis. Baksil ini dapat berubah menjadi spora dan dapat hidup lama di dalam tanah.

Gejala

- Angka kematian tinggi dan berlangsung dalam waktu yang singkat 8 – 16 jam.

- Tenggorokan bengkak.

- Temperatur tinggi dan nafsu makan hilang.

- Urat-urat kaku atau lemah.

- Kotoran bercampur darah.



Pencegahan dan pengobatan

- Penderita harus segera diisolasikan.

- Kandang dan alat-alat lainnya harus selalu dibersihkan.

- Vaksinasi.

- Obat tetracycline.



Catatan

Pada lembu dan kambing penyakit ini sangat kuat, hewan yang bersangkutan ada kemungkinana Nampak sehat, hanya beberapa jam kemudian terus mati.

Oleh karena itu bila ada kematian yang tiba-tiba harus segera melapor kepada dinas yang berdekatan.



14. Tetanus

Penyebab : Clostridium tetani. Biasanya terjadi akibat suatu luka (bekas kastrasi, gigitan teman)

Gejalanya bisa dibedakan menjadi dua fase :

- Fase pertama

· Timbul kekejangan pada rahang dan tenggorokan, kemudian kekejangan ini cepat menyebar ke seluruh tubuh. Akibat (yang diderita) lebih lanjut babi tidak bisa mengunyah dan menelan makanan.

· Bergerak pun mereka sulit, karena semua persediaan menjadi kaku dan tidak berfungsi lagi.



- Fase kedua

· Mulut dan mata terkunci, dan tidak bisa terbuka lagi.

· Perut mengeras dan kejang, akibatnya sulit bernafas.

· Kepala menengadah, ekor terangkat ke atas.

· Kotoran dan air kencing tertahan.



Pencegahan dan pengobatan

- Alat-alat yang dipakai untuk kastrasi harus steril.

- Luka-luka bekas kastrasi, harus diberi obat antibiotic.

- Suntikan dengan serum tetanus.



Catatan

Basil tetanus biasanya terdapat di dalam tanah dan kotoran kuda.



Bila hasil itu masuk ke dalam luka, maka mereka membuat toxin (racun). Akibatnya, bila syaraf yang terkena, akan timbul kekejangan setempat atau seluruh tubuh. Akhirnya binatang yang menderita mati tercekik, karena sekat rongga badan kejang, tidak bisa bekerja lagi.



15. Footrot (Penyakit kuku busuk = Radang kuku)

Penyebab : karena babi selamanya berada di dalam kandang yang lantainya selalu basah sehingga mempermudah organism hidup dan masuk pada celah kuku.



Gejala

- Nampak ditempatkan pada kandang yang bersih dan lantai yang kering.

- Luka ditaburi dengan antibiotic, Penicillin powder, SA, Sulmet injeksi, Terramycin injeksi. Sebelum luka tersebut diobati, harus dibersihkan terlebih dahulu.





16. TBC (Tuberculosis)

Penyakit ini merupakan penyakit yang kronis, penyebaran sangat lambat.

Penyebab : Mycobacterium tuberculosis.



Tanda-tanda

- Nafsu makan berkurang dan kehilangan berat badan.

- Pada babi dewasa, persediaan bengkak.

- Batuk-batuk dan pernapasan terganggung.

- Infeksi kelenjar limpa, ambing, alat kelamin, pusat syaraf, alat pencernaan.



Pencegahan dan pengobatan

- Ternak yang menderita diisolasi.

- Kebersihan kandang harus selalu dijaga, misalnya dengan menggunakan desinfektan.

- Diobati dengan antibiotic (streptomycin injeksi, Penicillin).



17. Penyakit cacing bulat (Ascarids = Roundworm)

Cacing ini bentuknya seperti cacing pada manusia. Bentuknya bulat sebesar pensil. Cacing ini banyak menyerang babi-babi muda dan banyak menimbulkan kematian.



Gelaja

- Timbul gejala pneumonia, bila mendapat serangan larva hebat.

- Pertumbuhan sangat lambat.

- Anak babi menjadi kurus dan perut buncit.

- Mencret, dan nafsu makan berkurang.

- Selaput mata pucat.



Pencegahan dan pengobatan :

- Kandang harus bersih, dengan disemprot desinfektan (Lysol,kreolin).

- Kalau anak babi hendak dilepas, jangan dilepas di tempat yang biasa untuk mengumbar babi-babi dewasa.

- Pengbatan dengan piperazine yang dilarutkan air. Dosis tergantung berat badan, biasanya hal ini ada petunjuk dari perusahaan.



18. Kudis (Scabies)

Penyebab :

Semacam kutu kecil, yang tidak terlihat oleh mata.



Ada dua macam kutu, yaitu:

· Menyebabkan kulit yang digigit itu berlubang, merusakkan kulit dan kutu itu mengeluarkan racun.

· Kutu menggigit, terus menghisap darah tanpa membuat lubang pada kulit.

Sering keduanya berkombinasi, sehingga mengakibatkan penderitaan menjadi lebih parah.

Penyakit ini mudah berjangkit atau menular pada babi muda ataupun babi yang kekurangan zat-zat makanan yang diperlukan.



Gejala :

- Penderita makannya tidak sebagaimana mestinya, agak berkurang, sehingga pertumbuhan kurang normal.

- Nampak suatu goresan yang gatal, karena kutu menembus kulit.

- Pada permukaan kulit yang sakit timbul keruping yang tebal, keras, kencang, dan kulit berkerut (melipat).



Pencegahan dan pengobatan :

- Ternak yang sakit harus diisolasi, supaya tidak menular kepada yang lain.

- Kandang harus dibersihkan, disemprot atau didesinfektir dengan Lysol, kreolin. Sebab walaupun babi yang sakit diobati, apabila kandang masih kotor atau pada dinding masih banyak kutu-kutunya, maka pengobatan tersebut kurang menguntungkan.

- Pengobatan dengan Scabisix atau obat lainnya seperti zalf yang dilumaskan pada kulit dan diulangi sampai sembuh.



Dosis : 10 cc Scabisix dicampur 1 liter air (30 hari sebelum dipotong tidak boleh digunakan).

Rabu, 13 Juni 2012

Peran Kolostrum pada anak babi



I. PENDAHULUAN

Anak babi, pedet dan hewan lainnya yang baru lahir telah pempersiapkan diri secara alami untuk bisa hidup. Serangan bakteri atau virus patogen, alergan, toksin dan lain sebagainya hampir setiap hari terjadi di saluran pencernaan . Untuk melindungi tubuh dari efek yang berbahaya tersebut maka saluran pencernaan mempunyai mekanisme perlindungan yang spesifik ( imunologis ) dan yang tidak spesifik. Secara umum mekanisme pertahanan tersebut diperankan oleh sel imuno kompeten termasuk “ Gut Associated Lympoid Tissue “ ( GALT ).GALT merupakan bagian seluler dari sistem imun mukosa yang berfungsi sebagai bagian utama dari barier sistem imun mukosa,( Siti Boedina Kresno, 2001 ). Logikanya anak babi tidak mati selama masa sebelum sapih.

Kenyataan dilapangan tidak selalu demikian adanya, kematian anak babi pra sapih masih sangat tinggi Tingginya mortalitas anak babi pra sapih telah dilaporkan hampir di seluruh peternakan babi pembibitan di Indonesia, baik di peternakan tradisional maupun intensif . Data dari berbagai negara juga menunjukkan angka mortalitas yang tinggi yaitu sekitar 20-25 % pada anak babi pra sapih ( Sihombing,1997 ). Data dari tahun 1950 maupun tahun 1970 juga menunjukkan hal yang serupa. Hal ini menunjukkan bahwa sampai tahun tujuh puluhan hampir tidak ada kemajuan yang dicapai dalam usaha untuk mengurangi kematian anak babi pra sapih. Selanjutnya Cutler et.al. (1996) melaporkan bahwa terdapat penurunan angka mortalitas pra sapih di negara – negara maju dari tahun 1985-1990 yaitu menunjukkan angka 17,1-18,6 %. Akan tetapi dari hasil penelitian pendahuluan terhadap angka mortalitas anak babi pra sapih di Bali tahun 2002 masih tinggi yaitu 21 % ( Ardana, 2002 ). Tingginya mortalitas anak babi pra sapih di Indonesia akan mengganggu pencanangan pemerintah Indonesia dalam mewujudkan penerapan Manajemen Peternakan Babi yang bermutu ( Good farming practice ). Untuk itu perlu dilakukan penelitian – penelitian yang hasilnya dapat digunakan model untuk mengantisipasi permasalahan tingginya mortalitas anak babi pra sapih

Secara umum penyebab kematian anak babi pra sapih adalah mungkin karena belum berfungsinya sistem GALT secara maksimal, sehingga pemaparan kuman patogen tidak dapat dinetralisir, akibatnya akan terjadi gangguan pencernaan yang ditandai oleh diare Salah satu kuman enteropatogen yang banyak dilaporkan oleh para peneliti menyerang anak babi pra sapih adalah bakteri Eschericia coli patogen.(EvelynA et.al., 2000 ).Kuman ini telah tersebar luas dilingkungan kandang dan setiap saat anak babi akan terpapar oleh kuman tersebut. Pada anak babi dibawah umur 21 hari sistem imunitas belum berkembang secara optimal sehingga umur tersebut merupakan masa yang sangat kritis terjadi kematian ( Sihombing,1997 ). Penyebab ini masih menduduki level teratas dibandingkan penyebab lain, dan sulit untuk ditanggulangi sehingga peternak sering mengeluh akibat kematian anak babinya.

Berbagai metode telah dicoba oleh peternak babi di Bali untuk menanggulangi kematian anak babi pra sapih namun tingkat keberhasilannya tidak konsisten sehingga diperlukan metode yang baku untuk menanggulangi kematian tersebut. Telah dilaporkan bahwa, satu – satunya cara yang dapat mencegah penyebab infeksi pada hewan sebelum sistem imun berkembang adalah meningkatkan konsentrasi imunoglobulin spesifik ( zat kebal yang khas ) yang berasal dari induknya baik melalui placenta selama dalam kandungan maupun melalui kolostrum 1-4 hari setelah lahir ( Tacket et.al, 1997; Sihombing,1997 ). Sayangnya induk babi tidak dapat mentransfer imunoglobulin ( zat kebal ) kepada anak melalui placenta, karena placentanya sangat tebal sehingga sangat sulit ditembus oleh zat kebal tersebut. Oleh karena itu praktis anak babi yang baru lahir tidak mengandung zat kebal terhadap penyakit yang ada dilingkungan kandang. Satu – satunya sumber imunoglobulin ( zat kebal ) bagi anak babi berasal dari kolostrum induk. Oleh karena seekor induk babi dapat melahirkan lebih dari 10 ekor dan mutu pakan induk sering tidak standar maka jumlah kolostrum yang diperoleh per ekor anak tidak cukup sehingga defisiensi imunoglobulin pasif ( zat kebal ) sangat mungkin terjadi.

Untuk mengatasi kekurangan kolastrum dari induk merupakan pembahasan yang sangat menarik pada paper ini



II. BEBERAPA PENYEBAB KEMATIAN ANAK BABI PRA SAPIH

Sebagai peternak babi khususnya peternak pembibitan sering mengalami kerugian akibat kematian anak babi pra sapih. Telah dilaporkan bahwa sebagai penyebab kematian anak babi prasapih meliputi ;

(1 ). Keterlambatan melahirkan,

Secara normal proses kelahiran anak babi berlangsung lebih kurang 2,5 jam. Bila melebihi waktu tersebut maka anak babi akan mengalami kelemasan karena kekurangan oksigen, karena placenta terlalu cepat terlepas dan tali pusar putus sebelum anak lahir. Kalau bisa hidup maka anak babi tersebut akan mengalami keterlambatan memproleh kolostrum yang merupakan sumber kehidupan awal.

( 2 ). Kelemahan dan kelaparan;

Masa kritis pertama merupakan saat yang paling berbahaya bagi anak babi yang baru lahir adalah selama 3 hari pertama setelah lahir, dengan tingkat kematian yang paling tinggi yaitu sekitar 47 % ( Sihombing, 1997 ).dibandingkan dengan kematian penyebab lain seperti tertindih, lahir lemah, genetik, penyakit dan lainnya. Kelaparan anak babi umur 1- 3 hari terjadi karena kurang memperoleh kolostrum induk yang merupakan sumber kehidupan awal, tanpa kolostrum anak babi pasti mati. Kekurangan ini bisa terjadi karena produksi kolostrum memang rendak atau karena anak babi tidak sanggup mencapai ambing induk sehingga tidak dapat kalostrum yang mengandung zat- zat makanan dan antibodi ( zat kebal ) yang diperlukan anak babi baru lahir.

(3). Faktor fisiologik;

Aspek fisiologik tubuh anak babi berpengaruh terhadap ketahanan hidup, cadangan energi dapat mempengaruhi ketahanan hidup. Anak babi yang baru lahir sangat sedikit cadangan energinya, yang hanya cukup selama 7- 8 jam dalam keadaan normal. Bila anak babi kedinginan, cadangan energi tersebut habis dalam 3- 4 jam. Kegiatan pemanasan mutlah diperlukan.

( 4 ). Kemacetan air susu induk.

Setelah anak babi melewati masa kritis pertama yaitu umur 1- 3 hari, maka akan berhadapan dengan masa kritis ke dua yaitu masa menyusu. Pada masa ini sangat tergantung dari kondisi induk dan kelembaban kandang. Hasil penelitian pendahuluan terhadap induk yang sedang menyusui dengan pola makan 6- 9 Kg per hari , dimandikan dengan teknik asal mandi atau sekedar mandi menunjukkan bahwa pada siang hari prekuensi napas sangat prekuen, yang diikuti napsu makan menurun sampai berhenti makan. Kedaan ini sering diakhiri oleh kematian. Kalau hal ini terjadi pada induk maka air susu akan berkurang. Disamping itu selama induk tidak dimandikan atau sekedar mandi maka volume air susu menurun drastis serta kalau diminum oleh anaknya sering terjadi mencret, yang akhirnya mati atau tumbuh lambat. Hal ini terjadi karena faktor anatomis babi yaitu ada perbedaan dengan ternak atau hewan lainnya, yang menyolok adalah perbandingan besar tubuh dengan besar jantung sangat tidak seimbang, yaitu jantung babi sangat kecil jika dibandingkan dengan tubuhnya, serta tidak memiliki pori –pori untuk mengeluarkan keringat ( Leman et.al, 1992 ).Selanjutnya dilaporkan bahwa pada kondisi panas tidak bisa mengeluarkan H2O melalui kulit, namun hanya melalui mulut dan hidung,. sehingga pada kondisi panas babi sering mengami kematian yang ditandai oleh pecahnya organ jantung. Dengan keadaan anatomis seperti itu, maka induk babi menyusui yang mengkonsumsi pakan 6-8 kg per hari mutlak dihindarkan dari pengaruh stres, dan selalu dijaga kebugaran tubuhnya. Kegiatan untuk menjaga kebugaran tubuh babi yang paling murah dan gampang adalah dengan memandikan induk babi minimal 2 kali sehari. Namun dari hasil pengamatan dilapangan tentang teknik yang diterapkan oleh peternak babi di Bali belum memperoleh hasil yang optimal, oleh karenanya perlu dilakukan penelitian tentang teknik memandikan induk menyusui yang ideal, artinya mampu menekan kadar kostisol dan kadar lemak susu tetap normal.

(6.) Serangan Penyakit.

Kejadian yang tidak kalah penting pada anak babi berupa gejala mencret merupakan penyebab yang paling sering terjadi, tidak membedakan bobot badan lahir rendah ataupun tinggi. Hasil pengamatan dilapangan bahwa mencret air atau warna coklat pada anak babi baru lahir dapat mematikan semua anak seperindukan

Mengantisipasi permasalahan diatas maka para peternak perlu melakukan tindakan yang tepat dan bijaksana untuk mencegah kematian anak babi pra sapih.



III. KOLOSTRUM

Kolostrum kolostrum adalah cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar susu induk selama 2 – 3 hari pertama setelah kelahiran. Kolostrum mengandung faktor – faktor yang penting bagi kesehatan dan pertumbuhan anak babi. Kandungan utamanya adalah faktor kekebalan tubuh ( immune Factor ) yang akan melindungi anak babi dari infeksi kuman – kuman patogen ( berbahaya ) dan faktor pertumbuhan ( Growth Factor ) yang akan mempersiapkan awal pertumbuhan yang pesat bagi anak babi, kandungan lainnya adalah laktoferin, hormon, vitamin, enzim, asam – asam amino dan nutrisi lain yang berguna bagi anak babi. Aktivitas biologis kolostrum telah banyak dilaporkan .Tom Gardiner ( 2001), telah melaporkan aktivitas biologis kolostrum sapi secara lengkap, baik aktivitas pertumbuhan maupun renpon imun.

Para ahli telah mengemukakan bahwa immune factor yang terkandung dalam kolostrum terdiri dari IgA, IgM, IgG dan IgE yang akan melindungi anak babi dari serangan infeksi bakteri, virus, fungi dan parasit. Bila tidak mendapatkan kolostrum maka anak babi tidak membiliki zat kebal tersebut sehingga sangat mudah terserang infeksi kuman.

Sedangkan Growth factor yang dimaksud terdiri dari Insulinlike Growth Factor yang bertanggung jawab dalam pengadaan energi, utamanya dalam penyimpanan energi yang terbentuk menjadi daging sehingga anak babi tumbuh lebih cepat ( Francis et al., 1988 ), Epithelial Growth Factor yang berperanan dalam menghambat sekresi asam lambung yang berlebihan dan memacu pertumbuhan epithil dan fibroblas jaringan tubuh sehingga pertumbuhan anak babi bisa lebih optimal ( Thomburg and Koldovasky, 1987 ). Telah dilaporkan bahwa kolostrum dapat mempercepat pertumbuhan villi-villi mukasa usus, memperbesar ukuran dan berat usus sehingga penyerapan nutrisi ( zat – zat makanan ) menigngkat sampai 50 % dari penyerapan normal pada hari pertama kelahiran dan meningkat sampai 100 % dari penyerapan normal bila diberikan sampai 10 hari setelah kelahiran, berat usus meningkat sampai 90 % lebih cepat dari pertumbuhan umumnya ( Xu et al.,1992 .sehingga anak babi bisa tumbuh secara alami dengan lebih cepat.

Kandungan vitamin dan hormon dalam kolstrum berperanan dalam memacu pertumbuhan tubuh anak babi secara alami.

Dari kajian teoritis tentang aktivitas kolostrum yang sangat komplek dan mutlak diperlukan oleh anak babi baru lahir untuk bisa hidup dan tumbuh secara optimal, maka permasalahan kurangnya kolostrum induk yang sering tidak diperhatikan oleh peternak, harus diatasi secara serius. Paling tidak ada 2 cara untuk mencegah / mengatasi kekurangan kolostrum induk yaitu :

(1 ). Memberikan pakan dengan gizi yang optimal kepada induk mulai umur kebuntingan 84 hari yang bertujuan untuk membentuk kantung – kantung susu yang maksimal, sehingga saat menyusui dapat menampung susu lebih banyak.

( 2 ) Memberikan kolostrum sapi yang mengandung imunoglobulin spesifik ( zat kebal yang khas ) terhadap serangan infeksi tertentu. Hal ini telah dicoba secara luas baik pada manusia maupun pada ternak. Shibata et.al., ( 2001 ) melaporkan bahwa pemberian kolostrum yang mengandung Ig-anti virus procine epidemic diarrhea ( PED ) konsentrasi tinggi efektif mencegah infeksi virus PED dan menurunkan kematian anak babi. Telah dilaporkan juga bahwa kolostrum sapi yang mengandung Ig-anti H.pylori dapat menghambat infeksi bakteri H. pylori pada mencit ( Casswall et,al., 2002) Telah dilaporkan bahwa kolostrum sapi juga mampu menurunkan kematian anak babi yang terinfekasi E.coli patogen ( Funatogawa et. al., 2002).

Pemberian kolostrum sapi ( Pig strum ) yang telah di lakukan pada beberapa peternak babi di Bali menunjukkan hasil bahwa terjadi peningkatan berat badan 0,5 Kg lebih berat dari kontrol pada umur 12 hari. Adapun teknik pemberiannya adalah sebagai berikut : pada hari 1, 2 dan 3 setelah lahir semua anak babi dalam 1 induk diberi kolostrum sapi dosis 1 cc / ekor/ hari ( Ardana, 2003 ).

Dari kedua tindakan tersebut jelas kematian anak babi pra sapih dapat ditekan, sehingga peternak babi tidak lagi mengeluh dan keuntungan dapat dicapai. semoga.



RINGKASAN

Pertanyaan presenter 1 :

Kenapa anak babi yang baru lahir harus segera memperoleh air susu serta banyak anak babi mati karena keterlambatan air susu.

Jawab :

Sebelum sampai pada pertanyaan di atas, ada baiknya disampaikan konsep kehidupan anak babi. Bahwa anak babi yang lahir itu “ telanjang “ artinya tanpa faktor kekebalan dan faktor pertumbuhan dari induknya. Karena selama anak babi dalam kandungan, zat kebal dan zat tumbuh tidak diberikan oleh induknya ( beda dengan manusia ). Kalau manusia zat kebal yang dimiliki seorang ibu sudah diberikan ke anaknya saat masih dalam kandungan, yang ditransper lewat placenta, sehingga setelah lahir bisa bertahan hidup akibat serangan kuman yang ada didunia luar. Pada babi lapisan placenta sangat tebal sehingga zat kebal induk tidak dapat ditransper keanaknya. Tuhan menyuruh induk babi untuk memberikan zat kebal dan zat tumbuhnya lewat susu yang keluar hari 1 – 3 setelah melahirkan., Susu tersebut diberi nama “ kolostrum “. Jadi tanpa kolostrum anak babi pasti mati. Oleh karena itu anak babi baru lahir harus mendapat kolostrum.



Pertanyaan presenter 2 :

Mungkin bisa dijelaskan lebih rinci apa kandungan kolostrum sehingga begitu penting babi seekor anak babi, sampai – sampai tanpa kolostrum anak babi akan mati.

Jawab :

Kolostrum adalah cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar susu induk selama 2 – 3 hari pertama setelah kelahiran. Kolostrum mengandung sumber kesehatan dan pertumbuhan anak babi.

Kandungan utamanya adalah :

(1 ).faktor kekebalan tubuh ( immune Factor yang terdiri dari IgA, IgM, IgG dan IgE yang akan melindungi anak babi dari serangan infeksi bakteri, virus, fungi dan parasit. Bila tidak mendapatkan kolostrum maka anak babi tidak memiliki zat kebal tersebut sehingga sangat mudah terserang infeksi kuman.

( 2 ).faktor pertumbuhan ( Growth Factor ) yang akan mempersiapkan awal pertumbuhan yang pesat bagi anak babiyang terdiri dari :

a. Insulinlike Growth Factor yang bertanggung jawab dalam pengadaan energi, utamanya dalam penyimpanan energi yang terbentuk menjadi daging sehingga anak babi tumbuh lebih cepat ( Francis et al., 1988 ),

b. Epithelial Growth Factor yang berperanan dalam menghambat sekresi asam lambung yang berlebihan dan memacu pertumbuhan epithil dan fibroblas jaringan tubuh sehingga pertumbuhan anak babi bisa lebih optimal ( Thomburg and Koldovasky, 1987 ). Telah dilaporkan bahwa kolostrum dapat mempercepat pertumbuhan villi-villi mukasa usus, memperbesar ukuran dan berat usus sehingga penyerapan nutrisi ( zat – zat makanan ) menigngkat sampai 50 % dari penyerapan normal pada hari pertama kelahiran dan meningkat sampai 100 % dari penyerapan normal bila diberikan sampai 10 hari setelah kelahiran, berat usus meningkat sampai 90 % lebih cepat dari pertumbuhan umumnya ( Xu et al.,1992 .sehingga anak babi bisa tumbuh secara alami dengan lebih cepat.

(3 ). laktoferin, hormon, vitamin, enzim, asam – asam amino dan nutrisi lain yang berguna bagi anak babi.

Aktivitas biologis kolostrum telah banyak dilaporkan .Tom Gardiner ( 2001), telah melaporkan aktivitas biologis kolostrum sapi secara lengkap, baik aktivitas pertumbuhan maupun renpon imun.

Pertanyaan presenter 3:

Oleh karena kolostrum begitu penting, bagaimana caranya agar anak yang baru lahir selalu dapat kolostrum yang cukup.

Jawab :

Kolostrum kurang atau tidak cukup pada anak babi sangat sering terjadi , untuk mengatasi paling tidak ada 2 cara untuk mencegah / mengatasi kekurangan kolostrum induk yaitu :

(1 ). Memberikan pakan dengan gizi yang optimal kepada induk mulai umur kebuntingan 84 hari yang bertujuan untuk membentuk kantung – kantung susu yang maksimal, sehingga saat menyusui dapat menampung susu lebih banyak.

( 2 ) Memberikan kolostrum sapi yang mengandung imunoglobulin spesifik ( zat kebal yang khas ) terhadap serangan infeksi tertentu. Hal ini telah dicoba secara luas baik pada manusia maupun pada ternak. Shibata et.al., ( 2001 ) melaporkan bahwa pemberian kolostrum yang mengandung Ig-anti virus procine epidemic diarrhea ( PED ) konsentrasi tinggi efektif mencegah infeksi virus PED dan menurunkan kematian anak babi. Telah dilaporkan juga bahwa kolostrum sapi yang mengandung Ig-anti H.pylori dapat menghambat infeksi bakteri H. pylori pada mencit ( Casswall et,al., 2002) Telah dilaporkan bahwa kolostrum sapi juga mampu menurunkan kematian anak babi yang terinfekasi E.coli patogen ( Funatogawa et. al., 2002).

Hasil penelitian saya tentang pemberian kolostrum sapi ( Pig strum ) yang telah di lakukan pada beberapa peternak babi di Bali menunjukkan hasil bahwa terjadi peningkatan berat badan 0,5 Kg lebih berat dari kontrol pada umur 12 hari. Adapun teknik pemberiannya adalah sebagai berikut : pada hari 1, 2 dan 3 setelah lahir semua anak babi dalam 1 induk diberi kolostrum sapi dosis 1 cc / ekor/ hari ( Ardana, 2003 ).

Dari kedua tindakan tersebut jelas kematian anak babi pra sapih dapat ditekan, sehingga

peternak babi tidak lagi mengeluh dan keuntungan dapat dicapai. semoga.



Pertanyaan presenter 4:

Setelah hari ke 4 pasca melahirkan akan terus dikeluarkan susu. Bagaimana manajemen induk saat menyusui, khususnya pada pemberian pakan berkuwalitas ( 6- 9 Kg ) per hari agar produksi selalu cukup untuk anaknya ( lebih kurang 15 liter / hari ).



Jawab :

Principnya buat induk babi selalu bugar. Caranya dengan memandikan Hasil penelitian pendahuluan terhadap induk yang sedang menyusui dengan pola makan 6- 9 Kg per hari , dimandikan dengan teknik asal mandi atau sekedar mandi menunjukkan bahwa pada siang hari prekuensi napas sangat prekuen, yang diikuti napsu makan menurun sampai berhenti makan. Kedaan ini sering diakhiri oleh kematian. Kalau hal ini terjadi pada induk maka air susu akan berkurang. Disamping itu selama induk tidak dimandikan atau sekedar mandi maka volume air susu menurun drastis serta kalau diminum oleh anaknya sering terjadi mencret, yang akhirnya mati atau tumbuh lambat. Hal ini terjadi karena faktor anatomis babi yaitu ada perbedaan dengan ternak atau hewan lainnya, yang menyolok adalah perbandingan besar tubuh dengan besar jantung sangat tidak seimbang, yaitu jantung babi sangat kecil jika dibandingkan dengan tubuhnya, serta tidak memiliki pori – pori untuk mengeluarkan keringat ( Leman et.al, 1992 ).Selanjutnya dilaporkan bahwa pada kondisi panas tidak bisa mengeluarkan H2O melalui kulit, namun hanya melalui mulut dan hidung,. sehingga pada kondisi panas babi sering mengami kematian yang ditandai oleh pecahnya organ jantung. Dengan keadaan anatomis seperti itu, maka induk babi menyusui yang mengkonsumsi paka 6-9 kg per hari mutlak dihindarkan dari pengaruh stres, dan selalu dijaga kebugaran tubuhnya. Kegiatan untuk menjaga kebugaran tubuh babi yang paling murah dan gampang adalah dengan memandikan induk babi minimal 2 kali sehari. Namun dari hasil pengamatan dilapangan tentang teknik yang diterapkan oleh peternak babi di Bali belum memperoleh hasil yang optimal, oleh karenanya perlu dilakukan penelitian tentang teknik memandikan induk menyusui yang ideal, artinya mampu menekan kadar kostisol dan kadar lemak susu tetap normal.


sumber : http://galuhfarma.blogspot.com/

MANAJEMEN KELAHIRAN ANAK BABI YANG BARU LAHIR



Dalam peternakan babi perlu adanya manajemen yang baik meliputi
keadaan kandang, pakan serta sistem pemeliharaannya, karena babi mudah
terserang penyakit dan mikroorganisme. Selain itu juga, untuk
meningkatkan produktivitasnya, perlu diketahui mengenai tatacara
pemeliharaan sesuai dengan tahapan umurnya. Terlebih untuk babi yang
baru lahir, karena sejak lahir hingga berumur 10 hari, anak babi sangat
sensitif dalam menghadapi lingkungan yang berat sehingga angka
kematiannya cukup tinggi, terutama jika pemeliharaannya kurang baik.





Tatalaksana Induk Beranak

Tatalaksana yang paling kritis adalah pada waktu induk akan beranak.
Pada waktu beranak, induk dapat berbaring, membentangkan tubuh, dan
menendang kebelakang dengan kaki ke atas atau dapat berguling-guling ke
sisi lain. Setiap bergerak, cairan dipaksa keluar dari alat kelamin,
hingga fetus keluar dengan usaha induk mengeluarkannya perlu
diperhatikan. Induk gemetar dan menekan dadanya pada selang waktu
tertentu. Seekor induk atau babi dara biasanya beranak dengan merebahkan
diri pada suatu sisi dan meletakkan bagian punggungnya pada dinding
atau bagian lain yang mendukung atau menopanng. Tetapi dalam keadaan
terisolasi, induk dapat melahirkan sebagian anaknya paa keadaan
terbaring dengan perut dibagian bawah, bahkan dapat juga elahirkan
dengan posisi kaki ke atas satu.



Biasanya anak babi dilahirkan dengan jarak waktu kurang dari satu
menit hingga 20 menit. Bantuan harus diberikan apabila terjadi suatu
penundaan atau ketika terjadi ketegangan tanpa seekorpun anak babi
dilahirkan. Induk yang sedikit terlambat beranak harus disuntik dengan 2
ml ekstrak pituitary pada bagian paha. Apabila penundaan kelahiran
disebabkan kekurangan hormonal, maka perlu diinjeksi untuk mempengaruhi
ternak dengan oxytocin atau jenis obat lain dengan aktivitas oksitoksik.
Bahan ini hanya merangsang kontraksi otot licin dari dinding uterus dan
kemudian mempercepat pengeluaran fetus.



Beberapa induk terutama babi yang baru beranak pertama kali cenderung
memakan anaknya (kanibalisme) selama atau segera setelah beranak.
Apabila diganggu dengan anak babi yang sedang menjerit atau diganggu
dengan suara lain, induk babi segera menyentak anak babi yang baru
lahir; pada kondisi demikian anak babi harus dijauhkan dari induk dan
dikembalikan ke induk hanya setelah induk mengembangkan naluri
keibuannya. Apabila induk tidak tenang dan tetap jahat, dapat disuntik
dengan obat penenang. Setiap induk yang tetap bersifat ganas terhadap
anak-anaknya pada setiap kali melahirkan, induk tersebut harus diafkir.

Meskipun ternak babi secara alami merupakan ternak yang ramai dan
gaduh terutama pada waktu mau makan, seekor induk memerlukan lingkungan
yang tenang pada waktu beranak. Pengaruh kebisingan cenderung
menyebabkan perpanjangan waktu atau lam melahirkan atau reaksi akan
beranak. Dengan demikian, disarankan supaya tidak mengganggu induk pada
saat beranak kecuali terjadi kesulitan dalam melahirkan anak.



Kandang harus dijaga tetap bersih dan kering setelah beranak. Kandang
beranak yang selalu kering dapat menolong untuk mencegah anak babi
mencret dan menjaga agar bagian ambing tidak tertutup oleh makanan yang
berair (seperti adonan) yang menyebabkan air susu induk babi yang baru
beranak menjadi hilang. Jika kondisi lingkungan tidak menyenangkan, air
susu hanya kadang-kadang keluar atau tidak sama sekali sehingga
anak-anak babi menjadi lemah dan dapat mati secara tiba-tiba. Kematian
anak babi sangat menonjol apabila tatalaksana dan pemeliharaan induk dan
anak kurang baik. Penyebab kematian anak babi adalah: mati lahir,
akibat kelemahan dan kelaparan, tertindih atau terjepit induk, penyakit
yang timbul, dll.





Tatalaksana Anak Babi yang Baru Lahir

Segera setelah anak babi dilahirkan, lepaskan lapisan tipis yang
membungkus tubuhnya dengan sehelai kain kering. Dengan demikian anak
babi menjadi kering dan mencegahnya dari kedinginan. Lepaskan sesegera
mungkin setiap cairan yang mengganggu lobang hidung dan mulut. Apabila
anak babi tidak dapat bernafas secara bebas, pegang kedua kaki belakang
dengan kepala ke bawah dan ayunkan perlahan untuk mempercepat pelepasan
cairan dari lobang hidung. Juga, dengan mengurut pelan-pelan pada bagian
dadanya dan mengisap keluar cairan dari lobang hidung dapat merangsang
pernafasan.



Kadang-kadang, satu atau lebih anak babi yang lahir dari seperindukan
ada yang lemah dan kelihatannya tidak hidup. Periksa bagian tali pusar
dan apabila ada gerakan atau denyutan pada bagian pangkal pusar, masih
ada kemungkinan untuk menghidupkan anak babi kembali dengan pernafasan
buatan. Prosedur berikutnya yang umum dilakukan dalam 24 jam setelah
lahir, dan sering segera setelah beranak telah ditentukan. Seluruh
prosedur umunya dilakukan pada waktu yang sama.


  • Memotong Tali Pusar


Tali pusar adalah organ yang sangat penting untuk pertumbuhan dan
perkembangan fetus selama kebuntingan tetapi menjadi suatu bagian yang
tidak diperlukan dan merupakan daerah yang berbahaya untuk masuknya
infeksi setelah anak babi lahir. Dengan demikian, tali pusar harus
dipotong dengan cara sederhana seperti berikut:

a. Ikat tali pusar kira-kira 2 cm dari pangkal dengan seutas benang
steril untuk meyakinkan tidak ada bahaya karena pendarahan melalui
arteri tali pusar

b. Potong tali pusar dengan gunting atau pisau di bawah ikatan

c. Oleskan ditempat pemotongan tali pusar dengan yodium tincture keras untuk mencegah infeksi atau sakit pada tali pusar.


  • Memotong Gigi


Anak babi lahir dengan empat pasang gigi atau delapan gigi tajam, dua
pasang pada tiap rahang disebut gigi “hitam”, gigi “jarum” atau gigi
“serigala”. Meskipun gigi tersebut cukup penting pada anak babi, namun
gigi tersebut harus dipotong karena lebih banyak menimbulkan kerugian
daripada keuntungannya bagi peternak. Alasan mengapa dilakukan
pemotongan gigi adalah sebagai berikut:

a. Gigi sangat efektif menyebabkan luka pada ambing induk dan mengakibatkan induk menolak untuk menyusui anak-anaknya

b. Apabila anak babi berkelahi untuk merebut satu puting susu atau
bermain sesamanya, gigi dapat menyebabkan luka pada muka dimana luka
tersebut dapat merupakan jalan masuknya penyakit yang disebabkan oleh
mikroorganisme

Salah satu tujuan dari peternakan babi adalah memaksimumkan anak babi
dapat hidup. Pemotongan gigi harus tidak menghasilkan gigi yang hancur
dibawah garis gusi dan harus dilakukan secara higienis. Pemotongan gigi
biasanya dilakukan oleh satu orang seperti berikut:


  1. Pegang kuat anak babi dengan satu tangan dimana tiga jari menahan
    rahang dan ibu jari menekan dari belakang leher dengan arah berlawanan

  2. Masukkan jari telunjuk pada satu sisi dari mulut persis dibelakang gigi “jarum” mendekati ujung lidah

  3. Dengan alat pemotong gigi atau alat pemotong kuku biasa, potong gigi
    diatas gusi. Penting unuk menghindari pemotongan gigi sampai dasarnya,
    jangan membuat sudut yang tajam atau berberigi yang dapat menyababkan
    luka pada gusi dan lidah.



  • Memotong Ekor


Menggigit ekor adalah suatu masalah yang sering terjadi dihampir
semua peternakan babi, maka secara rutin dilakukan pemotongan ekor anak
babi baru lahir. Panjang ekor yang dipotong dapat dari ujung hingga
pangkal ekor. Tetapi biasanya cukup untuk memotong dua pertiga hingga
tiga perempat dari ekor. Pendarahan yang semakin sedikit terjadi apabila
beberapa alat yang digunakan tumpul. Pada umumnya, perhatian khusus
harus diberikan terhadap kesehatan dan kebersihan selama melakukan
pemotongan ekor di usaha peternakan.


  • Mendapatkan Kolostrum


Segera setelah pemotongan gigi, letakkan kembali anak babi bersama
induknya agar anak babi dapat menusu atau memperoleh air susu pertama
(kolostrum) yang mengandung daya tahan tubuh yang tinggi. Penyerapan
kolostrum adalah kritis untuk kehidupan anak babi yang baru lahir
sebagimana fungsinya yang merupakan sumber utama kekebalan melawan
penyakit pada masa awal kehidupan. Hal yang perlu dicatat bahwa secara
bertahap terjadi perubahan kolostrum menjadi air susu pada dua ke tiga
hari periode transisi. Apabila ada anak babi yang lemah, harus diberikan
kesempatan yang baik untuk menyusu dengan mengarahkan anak-anak babi ke
ambing induk.


  • Penyuntikan Zat Besi


Anemia pada anak babi menyusu merupakan masalah yang telah lama
diketahui secara baik oleh para peternak maju. Hal ini terjadi
disebabkan oleh kekurangan zat besi dimana plasenta dan ambing tidak
efisien memindahkan mineral tersebut. Penambahan zat besi untuk
mengatasi kekurangan zat besi pada anak babi yang tidak bersentuhan
dengan tanah dapat diberikan baik melalui mulut maupun disuntikkan.

Dalam air susu induk kandungan zat besinya sangat rendah dan anak
babi yang lahir menyimpan zat besi dalam jumlah yang terbatas dimana
biasanya hanya mencukupi kebutuhan dari satu minggu setelah lahir. Pada
waktu lahir, dalam tubuh anak babi mengandung kira-kira 40 – 50 mg zat
besi, disimpan terutama dalam hati, dimana anak babi mulai
mengguankannya segera setelah lahir. Secara rata-rata anak babi
membutuhkan 7 mg zat besi setiap hari pada minggu pertama setelah lahir,
sedangkan air susu induknya hanya dapat memberikan 1-2 mg per hari
kepada tiap ekor anaknya. Dengan demikian, anak babi akan kehabisan
simpanan zat besi dan anemia akan timbul setelah satu minggu. Apabila
tidak teramati, perkembangan anemia dan resiko kematian akibat mencret,
radang paru-paru dan penyakit menular lainnya akan meningkat.

Anemia bukanlah masalah yang serius apabila ternak babi dipelihara di
luar kandang atau dilepas. Anak-anak babi selalu kontak dengan tanah,
yang secara alami kaya akan sumber zat besi yang diperlukan. Akan
tetapi, anak babi yang dipelihara selamanya dalam kandang dapat
mengalami kekurangan zat besi kecuali diberi tambahan sebelum cadangan
atau simpanan zat besi habis dipergunakan. Penyuntikan zat besi (dan
ikatan lain) biasanya dianjurkan diberikan ketika babi berumur tiga
hari, tetapi hasil yang memuaskan dapat diperoleh jika anak babi
disuntik sewaktu-waktu pada minggu pertama setelah lahir. Penyuntikan
cairan zat besi secara menyakinkan dapat mempertahankan hemoglobin pada
taraf yang sangat tinggi, tetapi dapat menyebabkan luka pada tempat
penyuntikan.


  • Penitipan Anak  Babi dan Makanan Buatan


Anak babi yang kehilangan induknya dapat terjadi oleh karena beberapa
faktor seperti induk mati setelah beranak, ambing yang luka, tidak
dapat menyusui atau jumlah anak yang terlalu banyak. Anak babi dari
induk demikian hanya dapat dipelihara dengan berhasil apabila anak-anak
babi tersebut memperoleh sejumlah kolostrum yang cukup. Untuk
memelihara  anak babi yang kehilangan induk, dapat dilakukan dengan
menitipkannya pada induk yang tidak ada air susu dan induk yang
mempunyai beberapa anak saja. Penitipan adalah memindahkan anak babi
dari satu induk ke induk lain dalam suatu kelompok bibit.



Penitipan dapat berhasil apabila induk ditangani dalam kandang yang
mempunyai tempat beranak dan mulai dititipkan dalam waktu 48 jam setelah
lahir. Pemindahan baik dilakukan lebih dini dalam kehidupannya sebelum
pemilikan puting sudah tetap, dan anak babi yang kuat dan lebih mengerti
akan lebih berhasil dalam penitipan. Umur atau waktu penitipan
merupakan hal yang penting karena puting susu yang tidak digunakan akan
menjadi kering. Meskipun dipindahkan pada umur dini, peternak masih akan
menjumpai masalah karena induk dapat dengan mudah mengenal anak-anaknya
melaui isyarat penciuman dan kemampuannya itu akan semakin meningkat
dengan mengingkatnya umur babi. Banyak cara efektif yang telah dilakukan
oleh para peternak untuk menghalangi induk dalam mengenal anak-anak
babi yang bukan anaknya.



Salah satu cara untuk dapat menerima anak babi yang baru dengan pasti
adalah menyatukan anak-anak babi dari induk dengan anak babi titipan
dalam satu kotak selama satu sampai dua jam setiap anak babi tersebut
tidak menyusu hingga mereka mempunyai bau yang sama. Mengolesi anak babi
dengan air kencing induk adalah suatu cara yang lain. Menyiram
anak-anak babi termasuk induk dengan bau-bauan, obat pembasmi hama
penyakit atau bau-bauan yang lain untuk menyamakan baunya sangat
disenangi oleh peternak dibanding cara lain.



Pemeliharaan anak babi yang kehilangan induk dapat juga menggunakan
beberapa pengganti susu. Para ahli dari Universitas Dakota Selatan
menyarankan menggunakan air susu campuran dengan komposisi (1) satu
liter air susu sapi yang sudah dipasteurisasi; (2) 0,3 liter air susu
dengan ½ kepala susu dan ½ air susu; dan (3) telur mentah. Bahan-bahan
tersebut dicampur dan disimpan pada temperature 3oC. Campuran dikocok dan sebagian dipanaskan sampai 29oC
sebelum diberikan kepada ternak. Pemberian makan dilakukan dengan
menggunakan selang karet yang sesuai dengan menyambungkan ke alat
penyemprot. Ujung selang dimasukkan kedalam mulut babi dan langsung
dipompakan ke kerongkongan kira-kira 7,5 cm mengarah ke daerah jantung.
Setiap ekor babi menerima dosis 15 cc campuran pada lima jam hari
pertama setelah lahir dan 20 cc pada hari kedua


  • Pembuatan Tanda dan Nomor


Tiap ekor anak babi dalam seperindukan harus diberi tanda atau nomor
dalam waktu 24 jam setelah lahir guna mengukur penampilan dari kelompok,
kebijaksanaan dalam mengafkir, dan ketegasan dalam menyeleksi bibit
pengganti. Para peternak kecil biasanya memberi tanda pada babi dengan
membuat titik-titik pada kulit atau tanda-tanda tertentu pada bulu.
Dipihak lain, para peternak komersial dimana terdapat ratusan bahkan
ribuan anak babi dari berbagai umur dalam kelompok, pembuatan tanda atau
nomor dapat dilakukan dengan cara pemotongan daun telinga dan tattoo.
Selain itu bisa juga dengan menggunakan eartag, cap bakar, phylox, dan
sebagainya tetapi cara ini kurang umum digunakan oleh para peternak
babi.


  • Kastrasi atau Kebiri


Kastrasi adalah suatu pengambilan bagian kelamin utama dari pejantan,
dan yang terbaik dilakukan pada waktu anak babi berumur dua minggu.
Pada umur ini, anak babi dengan mudah ditangani; shok dan gangguan
pertumbuhan sangat minim; dan kesempatan luka terkena infeksi sangat
kurang karena tempat atau kandang menyusu lebih bersih daripada kandang
ternak babi sapihan. Kastrasi anak babi dilakukan terutama untuk
mencegah individu yang tidak diinginkan dari gambaran dirinya sendiri,
fasilitas pemberian makan secara bersama, dan juga untuk tatalaksana
praktis lainnya. Tujuan dari pengebirian adalah untuk memperbaiki
karkas, akan tetapi kenyataan secara keseluruhan memperlihatkan bahwa
pertumbuhan babi jantan hampir sama bila tidak lebih cepat daripada babi
kebiri pada umur pasar yang sama, dan dengan efisiensi penggunaan
makanan dan kualitas karkas yang lebih baik.



Apabila seekor babi akan dikastrasi, kita tidak hanya harus
mempertimbangkan umurnya, tetapi juga kesehatan dan kemampuan dari
ternak terhadap kondisi cekaman (stress). Melakukan kastrasi adalah
suatu operasi yang sederhana tetapi hal ini dapat menimbulkan bahaya
apabila seseorang tidak mempertimbangkan kondisi ternak dan
ligkungannya. Kastrasi dapat berhasil pada setiap musim, akan tetapi
paling baik melakukannya apabila keadaan cuaca menyenangkan, dipilih
hari yang cerah, sejuk, hindarkan cuaca dingin, basah atau beruap.



Anak babi yang baru lahir tidak mampu mengatur suhu tubuhnya sebelum
umur 2-3 hari, tambahan panas diberikan selama keaadaan dingin atau
cuaca buruk. Salah satu cara umum yang dilakukan untuk menanggulanginya
adalah menggunakan lampu (250watt) yang digantung. Hal ini berguna untuk
memberi kehangatan dan menarik perhatian anak babi agar  menjauhi induk
apabila tidak sedang menyusu. Bola lampu digantung kira-kira 70-76 cm
dari lantai, disesuaikan dengan pertumbuhan anak babi.



Anak babi tumbuh dengan cepat dari sejak lahir. Kebutuhan makanannya
akan meningkat dengan bertambahnya umur. Air susu dari induk akan
menurun setelah puncak produksi yang dicapai kurang lebih tiga minggu
setelah beranak, sehingga pemberian zat makanan dan ransom anak babi
yang lezat dan disukai anak babi sangat diperlukan. Memberi makanan ke
anak babi pada waktu menyusu baik dimulai pada umur kira-kira satu
minggu. Hal ini memberi jaminan bahwa anak babi mengkonsumsi makanan
penguat yang cukup sebelum produksi air susu dari induk mulai menurun.
Anak babi yang dibiasakan untuk memakan ransom kering sebelum disapih
adalah menguntungkan baik untuk proses pencernaan dan tingkah laku
makannya. Pembentukkan lebih awal kemampuan bakteri dari pencernaan
makanan yang bukan susu akan memperkecil cekaman penyapihan dan dari
segi tingkah laku hal tersebut sangat baik karena telah mengetahui bahwa
makanan kering adalah untuk dikonsumsi.



Kebanyakan peternakan intensif diluar negeri menyapih anak
seperindukan pada rataan umur empat sampai enam minggu. Biasanya anak
babi yang disapih pada umur dua bulan, induk akan mengalami kondisi yang
menurun dimana pada banyak kejadian tidak mau untuk segera dikawinkan
kembali setelah penyapihan anak-anaknya. Apabila penyapihan dilakukan
lebih awal dari 56 hari, seekor induk dapat beranak kira-kira empat
sampai lima kali dalam dua tahun, diman induk biasanya birahi pada hari
ketiga sampai hari ketujuh setelah penyapihan. Suatu keuntungan dari
penyapihan dini adalah menghasilkan jumlah kali beranak atau frekuensi
beranak yang lebih banyak per induk per tahun, sehingga sangat
menguntungkan bagi peternakan babi.



sumber : http://diandinar.wordpress.com/2009/12/28/manajemen-kelahiran-anak-babi-yang-baru-lahir/












PENYAKIT FLU PADA BABI




FLU PADA BABI


Oleh: Drh. Gde Eka Parta Ariana


Puskeswan Baturiti





 BAB I PENDAHULUAN


Dewasa
ini banyak muncul berbagai penyakit yang menyerang hewan ternak , salah
satunya adalah influensa pada babi yang menimbulkan kerugian tidak saja
pada ternak tapi juga dapat menginfeksi manusia .


Influensa babi merupakan penyakit saluran pernafasan akut pada yang disebabkan oleh virus influensa tipe A. Gejala klinis yang nampak pada penyakit ini yaitu : batuk, dispnu, demam dan kondisi tubuh babi yang sangat lemah. Infeksi penyakit ini ke dalam kelompok ternak dalam waktu 1 minggu, penyakit ini dapat sembuh kecuali bila terjadi infeksi sekunder seperti ; komplikasi dengan bronchopneumonia ( Fenner et al., 1987 ).


Penyakit virus influensa babi pertama kali ditemukan tahun 1918 ( Hampson, 1996 ). Kejadian penyakit ini muncul bersamaan dengan kejadian penyakit epidemik pada manusia, maka penyakit ini disebut flu pada babi. Selain di negara Amerika Serikat, wabah influensa babi dilaporkan terjadi di berbagai negara Canada, Amerika Selatan, Asia dan Afrika pada permulaan tahun 1968 (Fenner et al., 1987).


Virus influensa babi diketahui pada tahun 1950-an, melanda negara Cekoslovakia, Inggris dan Jerman Barat. Tahun tahun 1976 di Amerika Serikat ditemukan
virus influensa babi yang dapat diisolasi dari manusia, selanjutnya
dapat terungkap bahwa apabila manusia berhubungan dengan babi sakit,
maka akan dapat menjadi terinfeksi dan menderita penyakit pernafasan
akut (O’Brian et al., 1977; Rota et al., 1989).


Flu babi merupakan penyakit yang memicu timbulnya gejala penyakit pernafasan komplex. Kerugian ekonomis yang terjadi dikarenakan infeksi virus influensa yang kembali
berulang dan karena gejala klinis yang tidak terlihat akibat adanya
respon kekebalan beberapa babi . Penyakit ini dapat menimbulkan kematian
anak babi, fertilitas menurun, terjadi abortus pada kebuntingan tua . 





BAB II ISI


2.1 EPIDEMIOLOGI


Penularan
virus influensa pada babi dapat melalui kontak , udara atau droplet.
Faktor cuaca dan stres akan mempercepat penularan. Virus tidak akan
tahan lama di udara terbuka. Penyakit bisa saja bertahan lama pada anak babi.
Kekebalan maternal dapat terlihat sampai 4 bulan tetapi mungkin tidak
dapat mencegah infeksi, kekebalan tersebut dapat menghalangi timbulnya
kekebalan aktif
.


Subtipe H1N1 mempunyai kemampuan menulari antara
spesies terutama babi, bebek, kalkun dan manusia, demikian juga sub
tipe H3N2 yang merupakan sub tipe lain dari influensa A. H1N1, H1N2 dan
H3N2 merupakan ke 3 subtipe virus influenza yang umum ditemukan pada
babi yang mewabah di Amerika Utara (Webby et al., 2000; Rota et al., 2000; Landolt et al., 2003), tetapi pernah juga sub tipe H4N6 diisolasi dari babi yang terkena pneumonia di Canada (Karasin et al., 2000).


Manusia dapat terkena penyakit influensa dan
dapat menularkannya pada babi. Beberapa kasus infeksi juga terbukti
disebabkan oleh sero tipe virus asal manusia. Penyakit pada manusia
umumnya terjadi pada kondisi musim dingin. Penularan kepada babi yang
dikandangkan atau hampir diruangan terbuka dapat melalui udara seperti
pada kejadian di Perancis dan beberapa wabah penyakit di Inggris (Rota et al., 1989, Wells et al.,1991). 





2.2 ETIOLOGI











Penyakit
saluran pernafasan pada babi disebabkan oleh virus influensa tipe A
yang termasuk Famili Orthomyxoviridae.Ukuran virus tersebut berdiameter
80- 120 nm. Selain influensa A, terdapat influensa B dan C yang juga
sudah dapat diisolasi dari babi. Sedangkan 2 tipe virus influensa pada
manusia adalah tipe A dan B. Kedua tipe ini diketahui sangat progresif
dalam perubahan antigenik yang sangat dramatik sekali (antigenik shift). Pergeseran antigenik tersebut sangat berhubungan dengan sifat penularan secara pandemik dan keganasan penyakit.


Ketiga tipe virus yaitu influensa A, B, C adalah virus yang mempunyai bentuk yang sama dan
hanya berbeda dalam hal kekebalannya saja. Ketiga tipe virus tersebut
mempunyai RNA dengan sumbu protein dan permukaan virionnya diselubungi
oleh semacam paku yang mengandung antigen haemagglutinin (H) dan enzim neuraminidase (N). Peranan haemagglutinin adalah sebagai alat melekat virion pada sel dan menyebabkan terjadinya aglutinasi sel darah merah, sedangkan enzim
neurominidase bertanggung jawab terhadap elusi,
terlepasnya virus dari sel darah merah dan juga mempunyai peranan dalam
melepaskan virus dari sel yang terinfeksi. Antibodi terhadap haemaglutinin berperan dalam mencegah infeksi ulang oleh virus yang mengandung haemaglutinin yang sama. Antibodi juga terbentuk terhadap antigen neurominidase, tetapi tidak berperan dalam pencegahan infeksi.


Peristiwa rekombinan dapat terjadi, seperti H1N2 yang dilaporkan di Jepang (HAYASHI et al., 1993)
kemungkinan berasal dari rekombinasi H1N1 dan H3N2. Peristiwa semacam
ini juga dilaporkan di Italy, Jepang, Hongaria, Cekoslowakia dan
Perancis.


Virus influensa bertahan kurang
dari 2 minggu di luar sel hidup kecuali pada kondisi dingin. Virus
sangat sensitif terhadap panas, detergen, kekeringan dan desinfektan.
Sangat sensitif terhadap pengenceran tinggi desinfektan mutakhir yang
mengandung oxidising agents dan surfactants seperti Virkon (Antec).





2.3 PATOGENESIS


Virus
masuk melalui saluran pernafasan atas kemungkinan lewat udara. Virus
menempel pada trachea dan bronchi dan berkembang secara cepat yaitu dari
2 jam dalam sel epithel bronchial hingga 24 jam pos infeksi. Hampir
seluruh sel terinfeksi virus dan menimbulkan eksudat pada bronchiol.
Infeksi dengan cepat menghilang pada hari ke 9 (Anon., 1991).


Lesi
akibat infeksi sekunder dapat terjadi pada paru – paru karena aliran
eksudat yang berlebihan dari bronkhi. Lesi ini akan hilang secara cepat
tanpa meninggalkan adanya kerusakan. Kontradiksi ini berbeda dengan lesi
pneumonia enzootica babi yang dapat bertahan lama. Pneumonia sekunder biasanya karena serbuan Pasteurella multocida, terjadi pada beberapa kasus dan merupakan penyebab kematian.(Blood and Radostits, 1989)


2.4 GEJALA KLINIS


Masa inkubasi virus ini antara
1-2 hari (Taylor, 1989), tetapi bisa 2-7 hari dengan rata-rata 4 hari .
Penyakit ini menyebar sangat cepat hampir 100% babi yang rentan
terkena, dan ditandai dengan apatis, sangat lemah, enggan bergerak atau
bangun karena gangguan kekakuan otot dan nyeri otot, eritema pada kulit,
anoreksia, demam sampai 41,8 ­­
ͦ
C. Batuk sangat sering terjadi apabila penyakit cukup hebat, dibarengi
dengan muntah eksudat lendir, bersin, dispnu diikuti kemerahan pada mata
dan terlihat adanya cairan mata. Biasanya sembuh secara tiba-tiba pada
hari ke 5-7 setelah gejala klinis. (Blood dan Radostits, 1989)


Terjadi
tingkat kematian tinggi pada anak - anak babi yang dilahirkan dari
induk babi yang tidak kebal dan terinfeksi pada waktu beberapa hari
setelah dilahirkan. Tingkat kematian pada babi tua umumnya rendah,
apabila tidak diikuti dengan komplikasi. Total kematian babi sangat
rendah, biasanya kurang dari 1%. Bergantung pada infeksi yang
mengikutinya, kematian dapat mencapai 1-4% (Anon, 1991). Anak-anak babi
yang lahir dari induk yang terinfeksi pada saat bunting, akan terkena
penyakit pada umur 2-5 hari setelah dilahirkan, sedangkan induk tetap
memperlihatkan gejala klinis yang parah.





2.5 PATOLOGI


Pada
hewan yang terserang influensa tanpa komplikasi, jarang sekali terjadi
kematian. Jika dilakukan pemeriksaan bedah bangkai lesi yang paling
jelas terlihat pada bagian atas dari saluran pernafasan. Lesi yang
terjadi meliputi kongesti pada mukosa farings, larings, trakhea dan
bronkhus, pada saluran udara terdapat cairan tidak berwarna, berbusa,
eksudat kental yang banyak sekali pada bronkhi diikuti dengan kolapsnya
bagian paru-paru (Blood dan Radostits, 1989). Terjadi lesi
pada paru - paru dengan tanda merah keunguan pada bagian lobus apikal
dan lobus jantung. Lesi lama biasanya terdepresi, merah muda keabu-abuan
dan keras pada pemotongan. Pada sekitar atalektase paru-paru sering
terjadi emphysema dan hemorhagis ptekhi. Lesi paru tersebut sama dengan
lesi pada Enzootic pneumonia yang hanya bisa dibedakan dengan histopatologi (Blood dan Radostits , 1989).


Pada pemeriksaan mikroskopik influensa babi, akan terdeteksi adanya necrotizing bronkhitis dan
bronkhiolitis dengan eksudat yang dipenuhi netrofil seluler. Terjadi
penebalan septa alveolar dan perubahan epithel bronchial. Bronchi
dipenuhi dengan neutrophil yang kemudian dipenuhi sel mononukleal, pada
akhirnya terjadi pneumonia intersisial lalu terjadi hiperplasia pada
epithel bronchial. Pada beberapa kasus hanya terlihat kongesti. Adanya
pembesaran dan edema pada limfoglandula dibagian servik dan mediastinal.
Pada limpa sering terlihat pembesaran dan hiperemi yang hebat terlihat
pada mukosa perut. Usus besar mengalami kongesti, bercak dan adanya
eksudat kathar yang ringan.





2.6 DIAGNOSIS


Diagnosis penyakit
influensa babi didasarkan pada gejala klinis dan perubahan patologi.
Diagnosis laboratorium dapat dilakukan berdasarkan isolasi virus pada
alantois telur ayam berembrio dan dilihat hemaglutinasi pada cairan
alantois. Spesimen yang paling baik untuk isolasi virus pada influensa
babi adalah cairan hidung yang diambil sedini mungkin atau organ paru
yangdiperoleh dari bedah bangkai (Fenner et al., 1987) dan tonsils (Sanford et al., 1989). Mendiagnosis influensa babi dengan metoda imunohistokimia sudah dilaporkan (Haines et al., 1993) dengan menggunakan antibodi poliklonal kemudian Vincent et al., (1997) menggunakan antibodi monoklonal.


Kualitas
pengujian dengan antibodi monoklonal tersebut lebih konsisten, karena
latar belakang pewarnaan yang rendah dan tidak terbatasnya penyediaan
antibibodi. Pada kasus penyakit influensa babi yang khronis, diagnosis
dapat dilakukan secara serologi dengan memperlihatkan peningkatan
antibodi pada serum ganda (paired sera) yang diambil dengan selang waktu 3-4 minggu. Untuk memeriksa antibodi terhadap virus influensa dapat digunakan uji haemagglutination inhibition (HI)
(Blood dan Radostits, 1989), Immunodifusi single radialdan virus
netralisasi. Kenaikan titer 4x lipatnya sudah dianggap adanya infeksi.
Pada uji serologis digunakan kedua antigen H1N1 dan H3N2 (Olsen et al., 2002).


Selain isolasi virus, diagnosis juga dapat dilakukan dengan mendeteksi antigen dengan uji fluorescent antibody technique (FAT)
pada sampel paru paru, tetapi mempunyai kekurangan oleh karena lesi
akibat virus sangat menyebar sehingga lesi dapat mendapatkan hasil
sampel yang negatif dan sampel harus benar-benar segar dengan sedikit
perubahan otolisis serta FA slide tidak dapat disimpan lama, warna akan pudar ( Vincent et al., 1997), metode deteksi swine influenza virus (SIV) pada jaringan yang difiksasi dengan metode imunohistokimia yang menggunakan antibodi monoklonal.





2.7 DIAGNOSIS BANDING


 Penyakit influensa A pada babi yang ringan akan dapat menjadi parah karena penyakit lain seperti Pseudorabies (Aujeszky's disease), Haemophillus parasuis, Mycoplasma hyopneumonia, Actinobacillus (H) pleuropneumonia atau Pasteurella multocida.
Keganasan dari infeksi influensa A babi dapat meningkat pula bersamaan
dengan adanya infestasi cacing paru-paru, migrasi larva ascaris melalui
paru-paru dan serbuan bakteria sekunder.


Terdapat kemungkinan adanya hubungan virus influensa babi (SIV) dengan porcine respiratory coronavirus (PRCV). Adanya suhu tubuh yang lebih tinggi dari pada infeksi tunggal, juga akan terlihat bersin dan batuk pada infeksi ganda PRCV dan babi yang terinfeksi H3N2 (Lanza et al., 1992). Sedangkan gejala demam, dispnu, pernafasan perut, batuk yang terus menerus dilaporkan merupakan kombinasi penyakit porcine reproductive and respiratory syndrome (PRRS) dan SIV (Reeth et al., 1996).






2.8 PENGENDALIAN



Pengobatan
yang dilakukan terhadap infeksi virus influensa pada babi hanya
dilakukan untuk mengobati infeksi sekunder yang terjadi sedangkan untuk
pengobatan yang spesifik belum ada. Antibiotika seperti dengan
penisilin, sulfadimidin atau mungkin antibiotik yang berspektrum luas
dapat menghadang infeksi bakteri dalam mencegah infeksi sekunder.
Pengamanan yang sangat penting adalah tidak membuat stres hewan, seperti
dengan membuat bersih lingkungan yang bebas dari debu dan menjaga hewan
jangan sampai berdesakan, memperbaiki sistem kandang seperti alas yang
baik, memberikan air minum yang banyak dan bersih (Blood dan Radostits ,
1989).





Penyembuhan
dilakukan secara simptomatis dan pengobatan dengan antimikrobial untuk
mencegah terjadinya infeksi sekunder. Babi harus dipelihara dalam
keadaan sanitasi yang baik, kondisi kandang yang memadai dan eradikasi
cacing askaris dan cacing paru-paru. Desinfektan dapat digunakan untuk
melindungi hewan dari serangan kutu. Pada kasus-kasus penyakit yang
dilakukan eradikasi, juga harus dilaksanakan pengurangan populasi .


Pencegahan
penyakit influensa babi yang telah dicoba dengan perlakuan vaksinasi
dilaporkan oleh Dua dosis vaksin oil adjuvan (SuvaxynFlu-3, Duphor) yang
diaplikasikan dengan jarak pemberian 3 minggu. Cara ini banyak
digunakan di Eropa dengan tujuan untuk melindungi dari penyakit dengan
gejala dan penurunan produksi. Vaksin tersebut mengandung A/Swine
Ned/25/80 yang dapat melindungi terhadap serangan virus Eropa H1N1 dan
A/Port Chalmers/1/73 yang akan melawan hampir seluruh virus strain H3N2.
Sementara itu vaksin A/Philippines/ 2/82 berguna untuk melindungi babi
terhadap virus dari strain Bangkok H3N2. Sedangkan Maxi VacTM FLU
merupakan vaksin inaktif, oil adjuvant H1N1 yang diaplikasikan pada babi
umur 4-5 minggu, kemudian di vaksin ulang setelah 2-3 minggu kemudian.
Perlakuan dapat menekan gejala klinis batuk dan anoreksia (Taylor
,1986).





BAB III


KESIMPULAN


Penyakit
influensa babi adalah penyakit yang dapat menular ke manusia disebabkan
oleh virus influensa tipe A, sub tipe H1N1, H1N2 dan H3N2,


Perlunya
kewaspadaan terhadap penyakit influensa babi karena dapat menimbulkan
dampak yang buruk, bukan saja terhadap hewan tetapi juga terhadap
manusia.


Usaha
mencegah dan menghindari penyakit influensa babi peternak harus
memelihara babi dengan tata cara dan pelaksanaan pemeliharaan secara
baik.


Pelaksanaan
biosekuritas merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan untuk
secara ketat untuk menghindari penularan virus H1N1





BAB V


DAFTAR PUSTAKA


ANONIMUS. 1991. Swine Influenza (Hog flu, Pig flu). In the Merck Veterinary Manual 7th ed.


Merck & Co. Inc., Rahway, New Jersey, USA: 751-753.


BEVERIDGE W.I.B. 1977. Influenza: The Last Great Plaque. An unfinished story of discovery.


Heinemann Educational Books Ltd. 48 Charles St. London WIX 8AH: 1-124.


BLOOD D.C. and O.M. RADOSTITS, 1989. Swine Influenza. In "Veterinary Medicine". A


Textbook of the disease of cattle, sheep, pigs, goats & horses, 7th ed. Bailliere Tindall,


London, Philadelphia, Sydney, Tokyo, Toronto: 888-890.


BROWN I.H., S.H. DONE, Y.I. SPENCER, W.A.COOLEY, P.A. HARRIS, and D.J.


ALEXANDER, 1993. Pathogenicity of a swine influenza H1N1 virus antigenically


distinguisable from classical and European strains. Vet. Record 132, 24: 598-602.


CHOI
Y.K., J.H. LEE, G.ERICKSON, S.M. GOYAL, H.S JOO., R.G. WEBSTER and R.J.
WEBBY, 2004. H3N2 Influenza Virus Transmission from Swine to Turkeys,
United States


Emerging Infectious Diseases (10) 12 :2156- 2168


EASTERDAY B.C. 1986. Swine Influenza. In Diseases of Swine. 6th ed. Iowa State University Press, Ames, Iowa, USA:244-254.


EASTERDAY B.C., V.S. HINSHAW and D.A.HALVORSON, 1997. INFLUENZA. In


Diseases of Poultry 10 th Edition. Editor


CALNEK B.W., JOHN BARNES H., BEARD C.W., MCDOUGALD L.R., SAIF Y.M. Iowa State University Press, Ames, Iowa, USA.p: 583-605


EASTERDAY B.C and I K. VAN REETH 1999: Swine Influenza. In Diseases of Swine 8 th Edition. Editor B.E. STRAW, S. D’ALLAIRE,


W.L. MENGELING and D.J. TAYLOR Iowa State University Press, Ames, Iowa, USA.: 277-290


FENNER
F., P.A. BACHMANN, E.P.J. GIBBS, F.A. MURPHY, M.J. STUDDERT, and D.O.
WHITE, 1987. Veterinary Virology. Academic Press Inc. London Ltd.,
473-484


HAINES
D.M., E.H.WATERS, and E.G. CLARK, 1993. Immunohistochemical detection
of swine influenza A virus in formalin-fixed and paraffin-embedded
tissues. Canadian J. of Vet.


Research 57, 1: 33-36.


HAMPSON A. 1996. Influenza-Dealing with acontinually emerging disease. In


Communicable Diseases Intelligence. (20) 9: 212-216.


HAYASHI
K., T. HASHIMOTO, and Y. MUKOHARA, 1993. Outbreak of swine influenza
due to H1N2 influenza virus in Nagasaki Prefecture. Journal of the Japan
Vet. Med. Ass. 46, 6:


459-462.


KARASIN
A.I., I.H. BROWN, S. CARMAN and C.W. OLSEN 2000. Isolation and
Characterization of H4N6 Avian Influenza Viruses from Pigs with
Pneumonia in Canada. J. of Vir. (74) 19: 9322-9327.


LANDOLT G.A., A.I. KARASIN, L.PHILLIPS and C.W.OLSEN, 2003. Comparison of the


Pathogenesis of Two Genetically Different H3N2 Influenza Virus in Pigs. J. of


Clin.Microb. (41) 5: 1936-19041 LANZA I., I.H. BROWN, and D.J. PATON, 1992.


Pathogenicity of concurrent infection of pigs with porcine respiratory corona virus and


swine influenza virus. Res. in Vet. Science 53: 309-314.


OLSEN C.W., L. BRAMMER, B.C. EASTERDAY, N. ARDEN, E. BELAY, I. BAKER and N.J. COX, 2002. Serologic Evidence of H1 Swine





Sumber : http://disnak.tabanankab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=80&catid=40&Itemid=60