Minggu, 22 Januari 2012

PAKAN TERNAK : SISA-SISA JAGUNG TEPUNG DI LERENG GUNUNG





Semenjak tumbuhnya agroindustri peternakan unggas dan sapi perah modern di Indonesia, tumbuh pulalah agribisnis jagung hibrida/open polyneted (Zea mays indurata). Biji jagung hibrida ini berwarna oranye. Pemanfaatannya 100% untuk bahan baku pakan ternak. Semenjak tumbuhnya agribisnis jagung hibrida, maka terdesak pulalah penanaman jagung tepung yang berwarna putih. Terdesaknya jagung tepung oleh jagung hibrida, selain disebabkan oleh pertumbuhan agroindustri peternakan; juga diakibatkan oleh pertumbuhan ekonomi nasional sejak awal tahun 1970an. Membaiknya perekonomian rakyat, dan meningkatnya produksi beras nasional, telah mengakibatkan konsumsi jagung tepung menurun drastis. Jagung tepung (Zea mays amylacea) semula memang dibudidayakan untuk bahan pangan substitusi beras. Ada yang dipecah dalam butiran kasar dan dicampurkan dalam beras, maupun ditumbuk halus menjadi tepung untuk dimasak menjadi nasi jagung.


Saat ini pun, masyarakat di pegunungan Jawa Tengah dan Jawa Timur masih mengkonsumsi nasi jagung. Hanya proses penepungannya sudah dilakukan di penggilingan (huller) yang banyak bertebaran sampai ke pelosok desa. Sebelum ada huller, penepungan jagung dilakukan secara manual. Jagung pipilan kering, dimasukkan ke dalam lumpang (wadah penumbuk dari kayu maupun batu), disiram air panas dan ditumbuk menggunakan alu (batang penumbuk dari kayu). Hasilnya, berupa biji jagung pecah dan terpisah dari kulit biji serta lembaganya (kentosnya). Kulit ari dan lembaga ini disebut sebagai dedak jagung, dan dipisahkan dari biji pecah dengan ditampi menggunakan tampah (nampan dari anyaman bambu). Selanjutnya biji pecah direndam air antara 6 sd. 12 jam sampai lunak. Setelah itu, biji dicuci dan "dirimbang" untuk memisahkan sisa lembaga yang masih berada dalam pecahan biji. Setelah bersih, pecahan biji jagung ditumbuk dalam lumpang sampai menjadi tepung.


Tepung yang dihasilkan dicampur air dan dibuat menjadi adonan halus. Perlakuan ini sama dengan perlakuan terhadap tepung gaplek (singkong kering) dalam proses pembuatan tiwul. Adonan tepung jagung ini kemudian dikukus menggunakan kukusan (anyaman bambu berbentuk kerucut), dalam dandang (kuali pengukus dari tembaga) dan ditutup kekeb. Pengukusan dilakukan dalam tungku dengan bahan bakar kayu selama 15 menit. Untuk melihat apakah seluruh bagian tepung sudah masak, digunakan lidi atau soled khusus untuk menusuk adonan tepung. Setelah seluruh bagian tepung masak, adonan diangkat, ditaruh dalam tampah, dihancurkan sambil disiram air dingin dan diaduk-aduk menggunakan centong. Adonan ini dibiarkan mengembang sekitar 10 menit dan dikukus lagi. Pengukusan kedua berlangsung sekitar 10 menit, adonan kembali diangkat, ditaruh dalam tampah, disiram air panas dan diaduk rata serta dibiarkan mengembang selama 15 menit. Setelah mengembang, adonan kembali dikukus tahap III selama 30 menit sampai siap disantap sebagai nasi jagung. 


Meskipun pengukus aluminium dan stainless steel sudah memasyarakat semenjak tahun 1960an, namun sampai saat ini pengukusan dengan dandang tembaga dan kukusan dari anyaman bambu masih tetap dilakukan masyarakat di pegunungan. Demikian pula dengan tungkunya, meskipun kompor minyak dan gas sudah memasyarakat, namun tungku dengan bahan bakar kayu tetap masih mereka pergunakan. Sebab fungsi tungku pada masyarakat di pegunungan, bukan sekadar untuk memasak, melainkan juga untuk mengasap tongkol jagung, gaplek, tembakau dan biji-bijian hasil panen yang disimpan dalam lumbung di atas tungku tadi. Selain itu, tungku juga berfungsi sebagai penghangat ruangan. Sebab suhu udara di pegunungan sering turun di bawah 15° C (suhu terendah ruang ber AC hanya 18° C). Bahkan malam hari pada bulan-bulan Juli, Agustus dan September, suhu udara bisa turun sampai 0° C hingga terjadi frost.


Mengkonsumsi nasi jagung bagi masyarakat pegunungan, bukan sekadar masalah ekonomi melainkan juga kultur. Bahkan sampai saat ini pun, proses penepungan jagung secara manual menggunakan alu dan lumpang masih banyak dilakukan oleh keluarga pedesaan di pegunungan. Meskipun dilihat dari kacamata ekonomi sangat tidak rasional, tetapi karena merupakan bagian dari kultur, maka proses pembuatan nasi jagung masih tetap dijalankan oleh masyarakat. Hanya kalau sebelum tahun 1970an mengkonsumsi nasi jagung terpaksa dilakukan karena faktor ekonomi, maka saat ini pertimbangannya sekadar masalah kultural. Sama halnya dengan masyarakat Gunung Kidul dan Wonogiri yang sampai sekarang masih tetap mengkonsumsi tiwul. Faktor kultural inilah yang menyebabkan budidaya jagung tepung sampai sekarang masih terus berlangsung. Hingga plasma nutfah jagung tepung juga masih tetap terpelihara dengan baik dan tidak mengalami kepunahan.




Budidaya jagung tepung yang dilakukan oleh masyarakat, menjadi sangat tidak ekonomis karena hasil per hektar per musim tanam paling tinggi hanya 1 ton pipilan kering. Namun secara ekonomis, yang riil mereka keluarkan hanyalah pembelian pupuk urea sekitar Rp 100.000,- untuk 1 hektar lahan. Selebihnya benih, pupuk kandang, pengolahan lahan, penanaman, penyiangan dan ongkos panen sama sekali tidak mengeluarkan biaya riil. Seandainya seluruh biaya itu diuangkan, maka nilainya sekitar Rp 1.500.000,- per hektar per musim tanam. Kalau harga jagung tepung ini Rp 1.000,- per kg. maka hasil yang diperoleh hanya bernilai Rp 1.000.000,- per hektar per musim tanam. Hingga sebenarnya petani merugi. Tetapi karena beban riil yang mereka keluarkan hanya Rp 100.000,- maka petani masih menganggap bahwa kegiatan ini menguntungkan. Lebih-lebih karena hasil jagung tersebut untuk mereka konsumsi sendiri. Kalau biaya itu ditingkatkan menjadi Rp 3.000.000,- per hektar per musim tanam, maka hasilnya akan meningkat menjadi 3 ton biji jagung pipilan kering (kadar air 14 %). Hingga peningkatan biaya sebesar 100%, akan mengakibatkan peningkatan hasil 200%. Dengan nilai pipilan kering Rp 1.000,- per kg. (jagung pakan ternak Rp 900,- per kg.) kegiatan ini baru BEP. Kalau mau untung, maka hasil pipilan kering minimal harus 4 ton per hektar per musim tanam.  


Dari 1 ton jagung pipilan kering, kalau ditepungkan akan menjadi 700 kg tepung dan 300 kg dedak. Nilai dedak Rp 500,- per kg. atau Rp 150.000,- menjadi hak pemilik huller. Biaya penepungan Rp 100,- per kg. atau total Rp 100.000,- Hingga nilai 700 kg. tepung akan menjadi Rp 1.100.000,- atau Rp 1.571,- per kg.  atau dibulatkan menjadi Rp 1.600,- per kg. Harga pokok tepung ini masih sangat rasional mengingat harga tepung terigu tanpa merek di tingkat konsumen sudah di atas Rp 3.000,- per kg, tepung beras Rp 4.500,- per kg, tepung ketan Rp 5.700,- per kg, tapioka Rp 2.800,- per kg, dan tepung maizena impor Rp 9.500,- per kg. Dengan harga jual tepung jagung di tingkat konsumen Rp 2.500,- per kg. pun, sebenarnya masih sangat bersaing, sebab lebih murah Rp 300,- dibanding tepung tapioka dan lebih murah Rp 2.000,- dari tepung beras. Namun sampai sekarang agroindustri tepung jagung tidak pernah bisa berkembang karena pemanfaatannya masih sebatas untuk nasi jagung. Sementara tepung tapioka diserap oleh industri kerupuk dan bakso, serta tepung beras untuk aneka kue basah dan pembalut gorengan.


Di Amerika Latin, agroindustri tepung jagung bisa tumbuh sangat sehat, sebab pemanfaatannya lebih ditujukan untuk substitusi gandum. Roti dan aneka kue jagung merupakan menu yang telah memasyarakat dan diproduksi secara massal. Hingga agroindustri tepung jagung pun juga berkembang sejalan dengan konsumsi roti dan kue secara modern. Hal inilah yang belum terjadi di Indonesia. Akibatnya terjadi ketimpangan antara budidaya jagung pakan ternak, jagung manis dan jagung tepung. Kalau jagung pakan ternak dan jagung manis telah dibudidayakan secara modern dalam skala komersial, maka budidaya jagung tepung masih dilakukan secara subsisten oleh para petani tradisional. Hingga tidak terlalu penting apakah hasilnya akan merugi atau menguntungkan. Padahal, konsumen pangan di Indonesia, terutama masyarakat lapis bawah, tidak terlalu mempermasalahkan, apakah kue serta roti yang dikonsumsinya berasal dari bahan baku gandum, beras, jagung atau singkong. Bagi konsumen, yang penting rasanya enak, tidak membahayakan kesehatan dan harganya terjangkau.


Kedatangan tanaman jagung dan singkong di Indonesia dari Amerika Latin relatif bersamaan waktunya. Namun variasi menu tradisional dari singkong mencapai puluhan, sementara masyarakat hanya mengenal nasi jagung, jagung rebus/bakar, gerontol (biji jagung direbus setelah dihilangkan kulit arinya dengan kapur), marning (gerontol dikeringkan dan digoreng). Makanan kering dari singkong dikenal cukup banyak. Mulai dari aneka kerupuk, aneka opak dan keripik singkong. Variasi makanan kering dari jagung, sebenarnya bisa lebih banyak. Tetapi karena menu makanan menyangkut dengan kultur, maka pengembangan jagung tepung di Indonesia tidak bisa dipaksakan. Menjadi tugas para enterpreneur dan inovator untuk merintis berbagai menu dari bahan jagung. Sebab ketergantungan impor gandum untuk mie, roti dan berbagai kue, pada akhirnya akan makin memperkaya negara maju dan memiskinkan para petani kita. (R) * * *       


sumber : http://foragri.blogsome.com

Jumat, 20 Januari 2012

BUDIDAYA AYAM PEDAGING (BROILER)

 I. PendahuluanAyam Pedaging (Broiler) adalah ayam ras yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat (5-7 minggu). Broiler mempunyai peranan yang penting sebagai sumber protein hewani asal ternak. PT. NATURAL NUSANTARA berupaya membantu peningkatan produktivitas, kuantitas, kualitas dan efisiensi usaha peternakan ayam broiler secara alami (non-Kimia).



II. Pemilihan Bibit

Bibit yang baik mempunyai ciri : sehat dan aktif bergerak, tubuh gemuk (bentuk tubuh bulat), bulu bersih dan kelihatan mengkilat, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta lubang kotoran (anus) bersih

III. Kondisi Teknis yang Ideal

a. Lokasi kandang

Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk, mudah dicapai sarana transportasi, terdapat sumber air, arahnya membujur dari timur ke barat.

b.Pergantian udara dalam kandang.

Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.

c.Suhu udara dalam kandang.

Suhu ideal kandang sesuai umur adalah :












Umur (hari) Suhu ( 0C )
01 - 07 34 - 32
08 - 14 29 - 27
15 - 21 26 - 25
21 - 28 24 - 23
29 - 35 23 - 21


d.Kemudahan mendapatkan sarana produksi

Lokasi kandang sebaiknya dekat dengan poultry shop atau toko sarana peternakan.



IV. Tata Laksana Pemeliharaan

4.1 Perkembangan

Tipe kandang ayam Broiler ada dua, yaitu bentuk panggung dan tanpa panggung (litter). Tipe panggung lantai kandang lebih bersih karena kotoran langsung jatuh ke tanah, tidak memerlukan alas kandang sehingga pengelolaan lebih efisien, tetapi biaya pembuatan kandang lebih besar. Tipe litter lebih banyak dipakai peternak, karena lebih mudah dibuat dan lebih murah.

Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk menjaga kehangatan, sehingga energi yang diperoleh dari pakan seluruhnya untuk pertumbuhan, bukan untuk produksi panas tubuh. Kepadatan kandang yang ideal untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah 8-10 ekor/m2, lebih dari angka tersebut, suhu kandang cepat meningkat terutama siang hari pada umur dewasa yang menyebabkan konsumsi pakan menurun, ayam cenderung banyak minum, stress, pertumbuhan terhambat dan mudah terserang penyakit.



4.2. Pakan

- Pakan merupakan 70% biaya pemeliharaan. Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari (Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu tersedia/tidak dibatasi).

- Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%. Tahap kedua disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya. -Penambahan POC NASA lewat air minum dengan dosis 1 - 2 cc/liter air minum memberikan berbagai nutrisi pakan dalam jumlah cukup untuk membantu pertumbuhan dan penggemukan ayam broiler.

- Dapat juga digunakan VITERNA Plus sebagai suplemen khusus ternak dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari, yang mempunyai kandungan nutrisi lebih banyak dan lengkap.

- Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio). Cara menghitungnya adalah, jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.



Contoh perhitungan :

Diketahui ayam yang dipanen 1000 ekor, berat rata-rata 2 kg, berat pakan selama pemeliharaan 3125 kg, maka FCR-nya adalah :

Berat total ayam hasil panen =

1000 x 2 = 2000 kg

FCR = 3125 : 2000 = 1,6

Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena lebih efisien (dengan pakan sedikit menghasilkan bobot badan yang tinggi). Penggunaan POC NASA atau VITERNA Plus dapat menurunkan angka FCR tersebut.



4.3. Vaksinasi

Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami. Vaksinasi penting yaitu vaksinasi ND/tetelo. Dilaksanakan pada umur 4 hari dengan metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan pada umur 21 hari dengan vaksin ND Lasotta melalui suntikan atau air minum.



4.4. Teknis Pemeliharaan

- Minggu Pertama (hari ke-1-7). Kutuk/DOC dipindahkan ke indukan atau pemanas, segera diberi air minum hangat yang ditambah POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari dan gula untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi. Pakan dapat diberikan dengan kebutuhan per ekor 13 gr atau 1,3 kg untuk 100 ekor ayam. Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal, pada prakteknya pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan berbentuk butiran-butiran kecil (crumbles).

- Mulai hari ke-2 hingga ayam dipanen air minum sudah berupa air dingin dengan penambahan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari (diberikan saat pemberian air minum yang pertama). Vaksinasi yang pertama dilaksanakan pada hari ke-4.

- Minggu Kedua (hari ke 8 -14).

Pemeliharaan minggu kedua masih memerlukan pengawasan seperti minggu pertama, meskipun lebih ringan. Pemanas sudah bisa dikurangi suhunya. Kebutuhan pakan untuk minggu kedua adalah 33 gr per ekor atau 3,3 kg untuk 100 ekor ayam.

- Minggu Ketiga (hari ke 15-21).

Pemanas sudah dapat dimatikan terutama pada siang hari yang terik. Kebutuhan pakan adalah 48 gr per ekor atau 4,8 kg untuk 100 ekor. Pada akhir minggu (umur 21 hari) dilakukan vaksinasi yang kedua menggunakan vaksin ND strain Lasotta melalui suntikan atau air minum. Jika menggunakan air minum, sebaiknya ayam tidak diberi air minum untuk beberapa saat lebih dahulu, agar ayam benar-benar merasa haus sehingga akan meminum air mengandung vaksin sebanyak-banyaknya. Perlakuan vaksin tersebut juga tetap ditambah POC NASA atau VITERNA Plus dengan dosis tetap.

- Minggu Keempat (hari ke 22-28).

Pemanas sudah tidak diperlukan lagi pada siang hari karena bulu ayam sudah lebat. Pada umur 28 hari, dilakukan sampling berat badan untuk mengontrol tingkat pertumbuhan ayam. Pertumbuhan yang normal

mempunyai berat badan minimal 1,25 kg. Kebutuhan pakan adalah 65 gr per ekor atau 6,5 kg untuk 100 ekor ayam. Kontrol terhadap ayam juga harus ditingkatkan karena pada umur ini ayam mulai rentan terhadap penyakit.

- Minggu Kelima (hari ke 29-35).

Pada minggu ini, yang perlu diperhatikan adalah tatalaksana lantai kandang. Karena jumlah kotoran yang dikeluarkan sudah tinggi, perlu dilakukan pengadukan dan penambahan alas lantai untuk menjaga lantai tetap kering. Kebutuhan pakan adalah 88 gr per ekor atau 8,8 kg untuk 100 ekor ayam. Pada umur 35 hari juga dilakukan sampling penimbangan ayam. Bobot badan dengan pertumbuhan baik mencapai 1,8 - 2 kg. Dengan bobot tersebut, ayam sudah dapat dipanen.

- Minggu Keenam (hari ke-36-42).

Jika ingin diperpanjang untuk mendapatkan bobot yang lebih tinggi, maka kontrol terhadap ayam dan lantai kandang tetap harus dilakukan. Pada umur ini dengan pertumbuhan yang baik, ayam sudah mencapai bobot 2,25 kg.



4.5. Penyakit

Penyakit yang sering menyerang ayam broiler yaitu :

- Tetelo (Newcastle Disease/ND)

Disebabkan virus Paramyxo yang bersifat menggumpalkan sel darah. Gejalanya ayam sering megap-megap, nafsu makan turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat. Setelah 1 - 2 hari muncul gejala syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan ayam berputar-putar yang akhirnya mati. Ayam yang terserang secepatnya dipisah, karena mudah menularkan kepada ayam lain melalui kotoran dan pernafasan. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk mengurangi kematian, ayam yang masih sehat divaksin ulang dan dijaga agar lantai kandang tetap kering.

- Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD)

Merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan Reovirus. Gejala diawali dengan hilangnya nafsu makan, ayam suka bergerak tidak teratur, peradangan disekitar dubur, diare dan tubuh bergetar-getar. Sering menyerang pada umur 36 minggu. Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air minum dan peralatan yang tercemar. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, yang dapat dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin Gumboro.

- Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease)

Merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum Gejala yang nampak adalah ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare dengan kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan melalui pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai.

- Berak Kapur (Pullorum).

Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum.

Kematian dapat terjadi pada hari ke-4 setelah infeksi. Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan sanitasi kandang.

Infeksi bibit penyakit mudah menimbulkan penyakit, jika ayam dalam keadaan lemah atau stres. Kedua hal tersebut banyak disebabkan oleh kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca yang jelek. Cuaca yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang terlalu panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara drastis. Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus sukar untuk disembuhkan. Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan ventilasi kandang yang baik. Pemberian POC NASA yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan ayam, ketahanan tubuh ayam, mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran. Untuk hasil lebih optimal, pemberian POC NASA dapat dicampur dengan Hormonik dosis 1 botol POC NASA dicampur dengan 1-2 tutup botol Hormonik, atau 1 botol POC NASA dicampur dengan 2-4 kapsul Asam Amino. Dapat juga menggunakan VITERNA Plus yang merupakan suplemen khusus ternak dengan kandungan :

1. Mineral-mineral yang penting untuk pertumbuhan tulang, organ luar dan dalam, pembentukan darah dan lain-lain.

2. Asam-asam amino utama seperti Arginin, Histidin, Isoleucine, Lycine, Methionine , Phenylalanine, Threonine, Thryptophan, dan Valine sebagai penyusun protein untuk pembentukan sel, jaringan, dan organ tubuh

3. Vitamin-vitamin lengkap, yaitu A, D, E, K, C dan B Komplek untuk kesehatan dan ketahanan tubuh.



4.6. Sanitasi/Cuci Hama Kandang

Sanitasi kandang harus dilakukan setelah panen. Dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu pencucian kandang dengan air hingga bersih dari kotoran limbah budidaya sebelumnya. Tahap kedua yaitu pengapuran di dinding dan lantai kandang. Untuk sanitasi yang sempurna selanjutnya dilakukan penyemprotan dengan formalin, untuk membunuh bibit penyakit. Setelah itu dibiarkan minimal selama 10 hari sebelum budidaya lagi untuk memutus siklus hidup virus dan bakteri, yang tidak mati oleh perlakuan sebelumnya.



Sabtu, 07 Januari 2012

Rokhmin: Tujuh Penyebab Impor Ikan di Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Prof Rokhmin Dahuri mengatakan, ada tujuh penyebab impor ikan terus terjadi dan menjadi kontroversi yang terus dibahas oleh berbagai pihak terkait sektor perikanan di Indonesia.



"Salah satu penyebabnya adalah karena produksi ikan umumnya bersifat musiman (`seasonal`) sedangkan kebutuhan konsumsi ikan tidak kenal musiman," katanya dalam acara roundtable kelautan dan perikanan di Jakarta, Kamis.

Dalam acara yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) itu Rokhmin memaparkan, penyebab lainnya adalah mengenai kesenjangan antara daerah produksi perikanan (umumnya di Kawasan Timur Indonesia dan di luar Jawa) dengan daerah konsumsi dan pemasaran (pulau Jawa).



Selain itu, terdapat juga permasalahan infrastruktur dan sarana transportasi antarwilayah di Indonesia, banyaknya daerah produksi ikan yang tidak dilengkapi dengan "cold storage", masih maraknya "illegal fishing".

Rokhmin yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) juga mengemukakan bahwa, penyebab lainnya dari terjadinya impor ikan adalah masih banyaknya pengusaha yang hanya bermental pedagang sehingga hanya mencari keuntungan tanpa peduli terhadap kepentingan bangsa.

"Banyak pengusaha yang mentalnya instan atau bermental pedagang, bukan industriawan," katanya.

Sedangkan penyebab terakhir, masih menurut dia, adalah terkait dengan penegakan hukum yang dinilai masih lemah.



Sementara itu, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Victor Nikijuluw mengatakan, saat ini masih terdapat sejumlah barang impor yang harus segera dicarikan substitusi impor dari produksi yang dihasilkan dari dalam negeri.

Victor mengemukakan, sejumlah komoditas terkait substitusi impor tersebut antara lain adalah tepung ikan dan tepung udang, lemak minyak ikan, ikan kaleng, makanan udang (pelet), dan beragam produk olahan.

Pihaknya juga sedang mempersiapkan strategi terkait dengan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) yang diyakini juga akan mengoptimalkan produksi dan distribusi dalam negeri.

"Sebentar lagi akan terbit peraturan pemerintah yang didalamnya akan terdapat tentang SLIN yang akan memberikan suplai kepada konsumen secara berkelanjtuan," katanya.



Jumat, 06 Januari 2012

Analisis Usaha Penetasan Telur Itik

DAPATKAN BUKU "USAHA PENETASAN TELUR ITIK" 
KLIK GAMBAR UNTUK PEMESANAN VIA FACEBOOK
PESAN VIA SMS 0852.57090.372
JUDUL BUKU - ALAMAT PENGIRIMAN


Usaha penetasan telur itik atau bebek merupakan kegiatan yang sudah dilakukan peternak sejak bertahun-tahun. Akan tetapi pola penetasan petani masih menggunakan cara alami dengan memanfaatkan ayam atau entok sebagai sarana penetasan. Metode penetasan telur itik yang lebih modern menggunakan Mesin Tetas telur itik atau bebek dengan berbagai macam model. Peluang usaha di bidang penetasan telur itik cukup terbuka. Itik atau bebek merupakan hewan unggas yang sudah cukup populer di masyarakat kita. Tidak hanya telur asin saja yang dapat dibuat dari telur itik, ada banyak aneka makanan yang dibuat dengan bahan dasar telur itik. Selain telur itik yang dimanfaatkan sebagai aneka makanan, daging itik juga cukup banyak digemari oleh masyarakat. Diantara makanan dari daging itik adalah bebek goreng, bebek bakar, rica-rica bebek kremes dan lain sebagainya. Dengandemikian peluang usaha dari unggas  ini cukup  terbuka lebar bagi pengusaha yang berminat menggelutinya. Tidak hanya dari sektor pengolahan hasil ternakan itik saja tetapi juga dari bisnis-bisnis lainnya, diantaranya penyediaan bibit itik yang berkualitas. Penyediaan bibit itik dapat dilakukan dengan cara konvensional melalui pengeraman  indukan ayam dan penetasan telur itik dengan mesin tetas telur. Untuk skala besar dan tujuan bisnis tentu tidak mungkin kita menggunakan ayam sebagai alat penetas telur. Maka peluang Usaha Penetasan Telur Itik dengan menggunakan Mesin Penetas merupakan alternatif yang akan dibahas.



Usaha bisnis penetasan telur itik sebenarnya cukup memiliki potensi mendatangkan keuntungan. Selain manajemen produksi yang baik diperlukan pula manajemen penetasan berdasarkan kualitas hasil tetasan yang baik.Peluang bisnis penetasan telur itik ini dapat dilakukan pada skala rumah tangga dan kelompok usaha kecil dan menengah (UKM). Karena proses dan perlengkapan yang cukup sederhana. Selain itu harga mesin penetas telur itik juga cukup terjangkau ada yang berharga murah dan ada yang berharga cukup mahal, tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan saja. Mengenai ragam mesin  penetas telur dapat dilihat pada tulisan ini. Gambaran potensi peluang usaha ini dapat dilihat dari harga DOD ( Day Old Duck) betina biasanya dihargai sampai lima kali harga telur. Sedangkan untuk DOD jantan dihargai sama atau maksimal dua kali harga telur yang belum menetas. Tingkat daya tetas menggunakan mesin tetas memang lebih rendah jika dibandingkan dengan cara alami dengan indukan ayam. Pengeraman dengan ayam daya tetas bisa mencapai 90 s/d 100%, sedangkan dengan mesin tetas daya tetas berkisar 75% sampai dengan 90%, tergantung berbagai macam faktor. Jumlah telur itik yang menetas juga masih perlu diseleksi jenis kelamin jantan dan betinanya. Sulit memprediksikan jenis kelamin telur yang menetas kadang lebih banyak betina , kadang lebih banyak jantan dan kadang sama. Untuk lebih mudahnya karena peluang jantan dan betina sama maka diasumsikan DOD yang dihasilkan pada model penetasan telur itik dengan mesin penetas ini adalah Jantan : Betina 50:50. Peluang 50:50 ini tidak ada perbedaan antara penetasan telur dengan cara alami dengan penetasan telur dengan mesin penetas, peluangnya sama saja.

Persiapan Usaha Penetasan Telur Itik



1. Persiapan Tempat

Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan usaha penetasan telur itik mengunakan mesin penetas adalah faktor tempat. Tempat untuk penempatan mesin tetas diusahakan tidak terkena matahari secara langsung dan tidak terkena angin secara langsung. Hal ini untuk menghindari perubahan suhu yang cukup ekstrim, yang berkakibat kurang baiknya daya tetas telur. Pastikan tempat dan mesin tetas dalam kondisi yang higienis dan steril dari kuman dan bakteri. Kuman dan bakteri akan mengganggu daya tetas telur. Biasanya sebelum telur-telur itik dimasukkan ke dalam mesin penetas, lingkungan dan mesin tetas disemprot terlebih dahulu menggunakan disinfectan. Penyemprotan mengunakan disinfectan  pada tempat dan mesin penetas membuat bakteri dan kuman-kuman mati, sehingga aman bagi kelangsungan hidup embrio itik dalam telur.



2. Persiapan mesin Tetas

Selain faktor tempat , Kualitas mesin penetas memiliki peranan yang cukup penting dalam kesuksesan usaha penetasan telur itik ini. Mesin penetas diupayakan memiliki lingkungan dan kondisi yang mirip dengan induk ayam/entok, suhu, kelembaban dan lain-lain. Pastikan mesin tetas yang dipilih berkualitas bagus, rapat tetapi cukup memiliki ventilasi udara yang baik. Pastikan juga mesin tetas beroperasi dengan baik, misalnya suhu ruangan bisa mencapai sudu ideal 37-38 derajat C, dan memiliki termostat sebagai pengatur suhu. Meski pada rentang suhu 36 s/d 42 derajat C telur bisa menetas tetapi suhu optimal diupayakan pada 38-39 derajat C. Biasanya pada mesin penetas telur yang dibeli sudah dilengkapi dengan termometer ruang, untuk memonitor suhu dalam ruangan mesin penetas.

Kelembaban udara yang diukur dengan Hygrometer didalam ruang mesin penetas (incubator)  haruslah dijaga pada kisaran 55-60% untuk 18 hari pertama di incubator dan lebih tinggi setelah itu. Mesin Penetas yang baik dan berharga mahal  biasanya dilengkapi dengan Hygrometer ini, namun jika tidak tersedia bisa dibeli sendiri.



3. Pemilihan Telur sebagai Bibit

Dalam manajemen Usaha Penetasan telur itik pemilihan telur sangat menentukan daya tetas telur itik. Telur itik dipilih dari indukan yang tidak terkalu muda dan tidak terlalu tua, dengan rasio Jantan:Betina 1:5 sampai dengan 1:8. Cangkang telur dipilih yang tidak terlalu tebal karena akan sulit untuk pecah saat akan menetas. Cangkang yang terlalu tipis juga tidak layak untuk dipilih. Pilih telur yang oval tetapi jangan terlalu lonjong atau bulat.

Proses Penetasan Telur Itik



1. Pemasukan Telur

Pemasukan Telur ke dalam mesin tetas hendaknya dilakukan pada saat mesin tetas benar-benar siap untuk dipergunakan, antara lain suhu sudah sesuai dengan standard, kelembapan udara juga demikian. Sebelum dimasukkan kedalam mesin penetas telur dicuci dengan air hangat suam-suam kuku, agar kotoran dan bakteri yang menempel pada telur hilang. Selain itu telur yang bersih memudahkan kita mengamati perkembangan anakan itik dalam telur. Selama 3 hari pertama telur kita diamkan dalam mesin penetas dan tidak usah dibuka. Letakkan bagian yang runcing di bagian bawah, bagian yang mengandung rongga udara di posisi atas, jika di dalam  mesin penetas tidak terdapat tatakan telur, bisa dibuat sekat-sekat dengan kayu atau bilah bambu agar telur tidak menggelinding dan mudah diatur dalam mesin penetas. Jika telur mudah bergerak dan menggelinding bebas di dalam mesin penetas, akan sulit dikontrol telur yang sudah dibalik atau belum.



2. Pengeraman Telur

Setelah 3 hari biasanya sudah bisa kita lihat telur-telur yang memiliki benih atau tidak. Telur yang tidak memiliki benih itik biasanya karena tidak dibuahi oleh itik jantan. Telur yang tidak dibuahi tidak akan menetas sehingga perlu kita afkir untuk dikonsumsi dan masih bisa dijual atau dijadikan makanan. Telur yang Memasuki hari keempat sampai hari ke 25 , telur itik sudah harus kita bolak-balik sehari 2 sampai 6 kali, frekuansi pemutaran telur akan berpengaruh pada daya tetas telur. Semakin sering akan semakin baik. Pada hari keempat tersebut telur perlu diangin-anginkan dengan cara membuka tutup mesin penetas selama kurang lebih 10 sampai dengan 15 menit. Proses mengangin-anginkan telur ini perlu dilakukan seriap 3 sampai 4 hari sekali sampai hari ke 25. Dalam masa pengeraman ini yang perlu diperhatikan selain suhu dijaga supaya tetap konstan adalah kelembapan udara. Jika kelembapan dirasa kurang bisa ditambahkan dengan menyemprotkan air hangat ke telur-telur. Untuk memudahkan mengontrol telur sudah dibalik atau belum, beri tanda dengan spidol pada tiap-tiap sisi telur, misalnya sisi bawah diberi tanda A sisi atas diberi tanda B.



3. Masa Menetas

Telur itik akan mulai pecah sedikit demi sedikit, pada hari ke 26 sudah mulai terdengar suara dan cangkang yang terbuka pada bagian paruhnya. Pada hari ke 28 telur dalam mesin penetas yang normal sudah akan menetas semuanya.  Perlu dicermati, jika ada telur yang susa pecah, perlu dibantu mengelupas dengan tangan tetapi harus hati-hati. Biasanya karena cangkang terlalu tebal. Anakan itik yang sudah menetas perlu segera dipindahkan ke tempat lain yang suhunya hampir sama dengan suhu ruang penetasan. Bersihkan ruang mesin  penetas dari cangkang dan kotoran-kotoran lainnya agar tidak menggangu telur yang belum menetas.



4. Seleksi DOD

Anakan itik yang berusia 1 sampai 4 hari lebih mudah dibedakan jenis kelaminnya dibandingkan dengan anakan itik berusia satu minggu. Warna itik betina lebih terang dan bersih, sedangkan itik jantan lebih gelap. Jika diperhatikan suara anak itik betina lebih melengking. Cara lain adalah dengan melihat melalui anus dengan cara menekannya, meski cara ini cukup membuat itik tersiksa tapi cukup efektif. Itik jantan terlihat memiliki alat kelamin yang menonjol. Untuk membedakan anakan itik jantan dan betina bisa dilihat dari warna paruhnya. Itik Jantan cenderung lebih berwarna gelap sedang itik betina berwarna terang.

Analisa Bisnis



Meskipun ini adalah hitung-hitungan kasar tetapi bisa dipergunakan untuk menganalisa gambaran usaha penetasan telur itik ini. Diasumsikan kita akan menetaskan telur itik sejumlah 100 butir. Telur itik akan menetas dalam waktu 28 hari.



Biaya Yang dikeluarkan:

    100 butir telur                  @Rp 1000     = Rp 100.000

    Listrik 28 Hari                                       = Rp 15.000

    Operasional                                           = Rp 15.000

    Total Pengeluaran                                   = Rp 130.000



Hasil Yang diperoleh:

DOD Menetas diasumsikan 75% atau 75 ekor anakan itik (DOD) dari 75 ekor tersebut 38 Betina dan 37 Jantan.

    38 ekor DOD Betina                     @Rp 5000 = Rp 190.000

    37 ekor DOD Jantan                     @Rp 1500 = Rp 55.500

    Total hasil                                                        = Rp 245.500

sumber : http://galeriukm.web.id/peluang-usaha/analisis-usaha-penetasan-telur-itik

VIDEO: Buaya Mangsa Bocah 14 Tahun di Riau




Buaya menggigit putus tangan manusia di Taiwan(static.rp-online.de)
VIVAnews - Warga Desa Sibela, Kecamatan Kuala, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, menangkap seekor buaya yang diduga telah memangsa seorang bocah berusia 14 tahun, Rio Chandra.



Usai ditangkap, buaya ini kemudian dibedah perutnya untuk memastikan ada tidaknya jasad Rio Chandra. Dari perut buaya itu, astagfirullah, sedikitnya ditemukan lima potongan tubuh manusia, terdiri dari kaki, tangan, badan, dan kepala.



Peristiwa nahas ini dialami Rio saat dia mencuci kaki di atas kapal milik ayahnya. Saat itu, tiba-tiba muncul buaya dari dasar sungai, langsung menyambar kaki Rio, dan menariknya ke dasar sungai.



Sang ayah yang terkesiap menyaksikan peristiwa tragis tersebut berusaha menolong. Namun, upayanya sia-sia. Setelah dilakukan pencarian dibantu pawang buaya, buaya ganas tersebut berhasil ditemukan. 

Rabu, 04 Januari 2012

SMKN 1 SUKORAMBI BERHASIL TEMUKAN BIBIT LELE UNGGUL

Menjelang akhir tahun 2011 ini, SMKN 1 Sukorambi Jember kembali mendapatkan pujian. Ini karena, sekolah tersebut berhasil meraih prestasi yang cukup spektakuler atas pengembangan inovasi genetika perikanan hasil persilangan antara jenis lele Afrika dan lele Python.
Pengembangan inovasi baru ini cukup menakjubkan karena hasil yang diperoleh berbeda dengan jenis ikan lele pada umumnya, khususnya pada warna kulitnya yang cenderung berbintik-bintik dan ini merupakan satu-satunya di Indonesia. Sehingga dari temuan baru yang diusung pada acara pameran inovasi teknologi SMK se Indonesia di Mataram Nusa Tenggara Barat ini, SMKN 1 Sukorambi banyak mendapat dukungan dan ucapan selamat dari Direktorat PSMK Departemen Pendidikan Nasioanal dan berharap pada sekolah lain untuk melakukan langkah yang sama.
Kepala SMKN 1 Sukorambi Jember, Drs Rinoto MM mengatakan, jenis ikan lele hasil persilangan dua indukan lele Afrika dengan lele Python itu merupakan karya besar yang dilakoni langsung oleh guru dan siswa. Karya besar ini tidak lepas dari keuletan dari para guru dan siswa untuk selalu berinovasi dan berimprovisasi di sector perikanan yang hasilnya dapat dipersembahkan untuk peningkatan budidaya perikanan sekaligus untuk kesejahteraan masyarakat.
“Karena hal ini merupakan temuan baru dengan standar teknisi tingkat pertumbuhan lebih cepat dari pada lele yang lain. Dalam waktu dekat ini akan dihakpatenkan kepada pemerintah, agar temuan itu tidak disalahgunakan oleh elemen lain,” tandasnya.
Mengenai nama untuk lele varietas baru hasil temuannya yang belum diberi nama itu, Rinoto menyatakan, pihak sekolah saat ini tengah berusaha mencari nama yang tepat sebagai bentuk aplikasi hebat dari para guru dan siswa yang telah bekerja secara serius. Dia juga berharap, kegiatan pengkajian dan penelitian untuk temuan-temuan seperti itu bisa lebih diintensifkan, tidak hanya pada jenis ikan lele, tapi pada ikan jenis yang lain.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Kemasyarakatan, Ir Rudy Nur Buana, M.Si, menambahkan, ikan lele hasil persilangan yang berhasil dikembangkan memiliki keunggulan yang berbeda dengan lele pada umumnya. Diantaranya daya tetas mencapai 95%, tingkat pertumbuhan lebih cepat yang bisa panen dalam waktu kurang lebih 3 bulan mulai dari telur menetas.
Ketua Jurusan Agribisnis Perikanan SMKN 1 Sukorambi Jember, Moh Sholeh, mempredikasi bibit baru lele hasil inovasi SMKN 1 Sukorambi, akan memenuhi pasokan pasar ikan segar. Mengingat 1 pasang indukan ikan lele mampu menghasilkan sekitar 50 ribu anakan atau benih.
Sementara Plt Kabag Humas Pemkab Jember, Drs Joko Soponjono, M.Si, mengungkapkan rasa kagumnya atas upaya yang dilakukan SMKN I Sukorambi. Hasil inovasi seperti ini kata Joko, sebisa mungkin terus dikembangkan ke jenis ikan yang lain.
Sehingga dengan langkah seperti ini, Kabupaten Jember pada masa yang akan datang, bisa menjadi sentra pengembangan ikan untuk konsumsi. “Ini sangat membanggakan dan menguntungkan masyarakat, terutama petani ikan, karena dengan varietas baru ini, peluang petani untuk mendapatkan keuntungan akan semakin terbuka,” (mc_humas/pemkab).




Hidupkan Dinosaurus Tak Lagi Jadi Hal Mustahil

INILAH.COM, London – Para ahli menemukan cara menghidupkan kembali hewan yang telah lama punah dari muka Bumi ini. Kini, taman jurasic bukan lagi isapan jempol semata. Bagaimana?



Penasihat teknis Jack Horner mengaku akan menggunakan burung hidup untuk menetaskan dinosaurus. Profesor palaentology dari Montana State University yakin, DNA burung modern mengandung ingatan genetik yang bisa ‘diaktifkan’ kembali untuk menghidupkan kembali sifat-sifat dinosaurus yang telah lama tidur.

Untuk membuat seekor dinosaurus, ia akan mulai dengan genom Emu. “Emu memiliki semua fitur yang dibutuhkan untuk membuat dinosaurus seukuran Velociraptor dan disinilah saya akan memulainya,” katanya seperti dikutip DM.



Penelitian ahli ini juga mendapat dukungan dari banyak akademisi terkemuka. Ahli genetik Sean Carroll dari University of Wisconsin mengatakan seperti dikutip DM, “Inventaris gen burung serupa dinosaurus”.

Tak hanya itu, ahli biologi pengembangan John Fallon di University of Wisconsin menyetujui, sembari mempelajari, kita akan bisa melakukannya. “Pengetahuan genetiknya ada dalam burung. Kini tak ada yang menghalangi kami membawa kembali dinosaurus,” tutupnya. [mor]


sumber : http://id.berita.yahoo.com/hidupkan-dinosaurus-tak-lagi-jadi-hal-mustahil-181300621.html