Rabu, 13 Juni 2012

Peran Kolostrum pada anak babi



I. PENDAHULUAN

Anak babi, pedet dan hewan lainnya yang baru lahir telah pempersiapkan diri secara alami untuk bisa hidup. Serangan bakteri atau virus patogen, alergan, toksin dan lain sebagainya hampir setiap hari terjadi di saluran pencernaan . Untuk melindungi tubuh dari efek yang berbahaya tersebut maka saluran pencernaan mempunyai mekanisme perlindungan yang spesifik ( imunologis ) dan yang tidak spesifik. Secara umum mekanisme pertahanan tersebut diperankan oleh sel imuno kompeten termasuk “ Gut Associated Lympoid Tissue “ ( GALT ).GALT merupakan bagian seluler dari sistem imun mukosa yang berfungsi sebagai bagian utama dari barier sistem imun mukosa,( Siti Boedina Kresno, 2001 ). Logikanya anak babi tidak mati selama masa sebelum sapih.

Kenyataan dilapangan tidak selalu demikian adanya, kematian anak babi pra sapih masih sangat tinggi Tingginya mortalitas anak babi pra sapih telah dilaporkan hampir di seluruh peternakan babi pembibitan di Indonesia, baik di peternakan tradisional maupun intensif . Data dari berbagai negara juga menunjukkan angka mortalitas yang tinggi yaitu sekitar 20-25 % pada anak babi pra sapih ( Sihombing,1997 ). Data dari tahun 1950 maupun tahun 1970 juga menunjukkan hal yang serupa. Hal ini menunjukkan bahwa sampai tahun tujuh puluhan hampir tidak ada kemajuan yang dicapai dalam usaha untuk mengurangi kematian anak babi pra sapih. Selanjutnya Cutler et.al. (1996) melaporkan bahwa terdapat penurunan angka mortalitas pra sapih di negara – negara maju dari tahun 1985-1990 yaitu menunjukkan angka 17,1-18,6 %. Akan tetapi dari hasil penelitian pendahuluan terhadap angka mortalitas anak babi pra sapih di Bali tahun 2002 masih tinggi yaitu 21 % ( Ardana, 2002 ). Tingginya mortalitas anak babi pra sapih di Indonesia akan mengganggu pencanangan pemerintah Indonesia dalam mewujudkan penerapan Manajemen Peternakan Babi yang bermutu ( Good farming practice ). Untuk itu perlu dilakukan penelitian – penelitian yang hasilnya dapat digunakan model untuk mengantisipasi permasalahan tingginya mortalitas anak babi pra sapih

Secara umum penyebab kematian anak babi pra sapih adalah mungkin karena belum berfungsinya sistem GALT secara maksimal, sehingga pemaparan kuman patogen tidak dapat dinetralisir, akibatnya akan terjadi gangguan pencernaan yang ditandai oleh diare Salah satu kuman enteropatogen yang banyak dilaporkan oleh para peneliti menyerang anak babi pra sapih adalah bakteri Eschericia coli patogen.(EvelynA et.al., 2000 ).Kuman ini telah tersebar luas dilingkungan kandang dan setiap saat anak babi akan terpapar oleh kuman tersebut. Pada anak babi dibawah umur 21 hari sistem imunitas belum berkembang secara optimal sehingga umur tersebut merupakan masa yang sangat kritis terjadi kematian ( Sihombing,1997 ). Penyebab ini masih menduduki level teratas dibandingkan penyebab lain, dan sulit untuk ditanggulangi sehingga peternak sering mengeluh akibat kematian anak babinya.

Berbagai metode telah dicoba oleh peternak babi di Bali untuk menanggulangi kematian anak babi pra sapih namun tingkat keberhasilannya tidak konsisten sehingga diperlukan metode yang baku untuk menanggulangi kematian tersebut. Telah dilaporkan bahwa, satu – satunya cara yang dapat mencegah penyebab infeksi pada hewan sebelum sistem imun berkembang adalah meningkatkan konsentrasi imunoglobulin spesifik ( zat kebal yang khas ) yang berasal dari induknya baik melalui placenta selama dalam kandungan maupun melalui kolostrum 1-4 hari setelah lahir ( Tacket et.al, 1997; Sihombing,1997 ). Sayangnya induk babi tidak dapat mentransfer imunoglobulin ( zat kebal ) kepada anak melalui placenta, karena placentanya sangat tebal sehingga sangat sulit ditembus oleh zat kebal tersebut. Oleh karena itu praktis anak babi yang baru lahir tidak mengandung zat kebal terhadap penyakit yang ada dilingkungan kandang. Satu – satunya sumber imunoglobulin ( zat kebal ) bagi anak babi berasal dari kolostrum induk. Oleh karena seekor induk babi dapat melahirkan lebih dari 10 ekor dan mutu pakan induk sering tidak standar maka jumlah kolostrum yang diperoleh per ekor anak tidak cukup sehingga defisiensi imunoglobulin pasif ( zat kebal ) sangat mungkin terjadi.

Untuk mengatasi kekurangan kolastrum dari induk merupakan pembahasan yang sangat menarik pada paper ini



II. BEBERAPA PENYEBAB KEMATIAN ANAK BABI PRA SAPIH

Sebagai peternak babi khususnya peternak pembibitan sering mengalami kerugian akibat kematian anak babi pra sapih. Telah dilaporkan bahwa sebagai penyebab kematian anak babi prasapih meliputi ;

(1 ). Keterlambatan melahirkan,

Secara normal proses kelahiran anak babi berlangsung lebih kurang 2,5 jam. Bila melebihi waktu tersebut maka anak babi akan mengalami kelemasan karena kekurangan oksigen, karena placenta terlalu cepat terlepas dan tali pusar putus sebelum anak lahir. Kalau bisa hidup maka anak babi tersebut akan mengalami keterlambatan memproleh kolostrum yang merupakan sumber kehidupan awal.

( 2 ). Kelemahan dan kelaparan;

Masa kritis pertama merupakan saat yang paling berbahaya bagi anak babi yang baru lahir adalah selama 3 hari pertama setelah lahir, dengan tingkat kematian yang paling tinggi yaitu sekitar 47 % ( Sihombing, 1997 ).dibandingkan dengan kematian penyebab lain seperti tertindih, lahir lemah, genetik, penyakit dan lainnya. Kelaparan anak babi umur 1- 3 hari terjadi karena kurang memperoleh kolostrum induk yang merupakan sumber kehidupan awal, tanpa kolostrum anak babi pasti mati. Kekurangan ini bisa terjadi karena produksi kolostrum memang rendak atau karena anak babi tidak sanggup mencapai ambing induk sehingga tidak dapat kalostrum yang mengandung zat- zat makanan dan antibodi ( zat kebal ) yang diperlukan anak babi baru lahir.

(3). Faktor fisiologik;

Aspek fisiologik tubuh anak babi berpengaruh terhadap ketahanan hidup, cadangan energi dapat mempengaruhi ketahanan hidup. Anak babi yang baru lahir sangat sedikit cadangan energinya, yang hanya cukup selama 7- 8 jam dalam keadaan normal. Bila anak babi kedinginan, cadangan energi tersebut habis dalam 3- 4 jam. Kegiatan pemanasan mutlah diperlukan.

( 4 ). Kemacetan air susu induk.

Setelah anak babi melewati masa kritis pertama yaitu umur 1- 3 hari, maka akan berhadapan dengan masa kritis ke dua yaitu masa menyusu. Pada masa ini sangat tergantung dari kondisi induk dan kelembaban kandang. Hasil penelitian pendahuluan terhadap induk yang sedang menyusui dengan pola makan 6- 9 Kg per hari , dimandikan dengan teknik asal mandi atau sekedar mandi menunjukkan bahwa pada siang hari prekuensi napas sangat prekuen, yang diikuti napsu makan menurun sampai berhenti makan. Kedaan ini sering diakhiri oleh kematian. Kalau hal ini terjadi pada induk maka air susu akan berkurang. Disamping itu selama induk tidak dimandikan atau sekedar mandi maka volume air susu menurun drastis serta kalau diminum oleh anaknya sering terjadi mencret, yang akhirnya mati atau tumbuh lambat. Hal ini terjadi karena faktor anatomis babi yaitu ada perbedaan dengan ternak atau hewan lainnya, yang menyolok adalah perbandingan besar tubuh dengan besar jantung sangat tidak seimbang, yaitu jantung babi sangat kecil jika dibandingkan dengan tubuhnya, serta tidak memiliki pori –pori untuk mengeluarkan keringat ( Leman et.al, 1992 ).Selanjutnya dilaporkan bahwa pada kondisi panas tidak bisa mengeluarkan H2O melalui kulit, namun hanya melalui mulut dan hidung,. sehingga pada kondisi panas babi sering mengami kematian yang ditandai oleh pecahnya organ jantung. Dengan keadaan anatomis seperti itu, maka induk babi menyusui yang mengkonsumsi pakan 6-8 kg per hari mutlak dihindarkan dari pengaruh stres, dan selalu dijaga kebugaran tubuhnya. Kegiatan untuk menjaga kebugaran tubuh babi yang paling murah dan gampang adalah dengan memandikan induk babi minimal 2 kali sehari. Namun dari hasil pengamatan dilapangan tentang teknik yang diterapkan oleh peternak babi di Bali belum memperoleh hasil yang optimal, oleh karenanya perlu dilakukan penelitian tentang teknik memandikan induk menyusui yang ideal, artinya mampu menekan kadar kostisol dan kadar lemak susu tetap normal.

(6.) Serangan Penyakit.

Kejadian yang tidak kalah penting pada anak babi berupa gejala mencret merupakan penyebab yang paling sering terjadi, tidak membedakan bobot badan lahir rendah ataupun tinggi. Hasil pengamatan dilapangan bahwa mencret air atau warna coklat pada anak babi baru lahir dapat mematikan semua anak seperindukan

Mengantisipasi permasalahan diatas maka para peternak perlu melakukan tindakan yang tepat dan bijaksana untuk mencegah kematian anak babi pra sapih.



III. KOLOSTRUM

Kolostrum kolostrum adalah cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar susu induk selama 2 – 3 hari pertama setelah kelahiran. Kolostrum mengandung faktor – faktor yang penting bagi kesehatan dan pertumbuhan anak babi. Kandungan utamanya adalah faktor kekebalan tubuh ( immune Factor ) yang akan melindungi anak babi dari infeksi kuman – kuman patogen ( berbahaya ) dan faktor pertumbuhan ( Growth Factor ) yang akan mempersiapkan awal pertumbuhan yang pesat bagi anak babi, kandungan lainnya adalah laktoferin, hormon, vitamin, enzim, asam – asam amino dan nutrisi lain yang berguna bagi anak babi. Aktivitas biologis kolostrum telah banyak dilaporkan .Tom Gardiner ( 2001), telah melaporkan aktivitas biologis kolostrum sapi secara lengkap, baik aktivitas pertumbuhan maupun renpon imun.

Para ahli telah mengemukakan bahwa immune factor yang terkandung dalam kolostrum terdiri dari IgA, IgM, IgG dan IgE yang akan melindungi anak babi dari serangan infeksi bakteri, virus, fungi dan parasit. Bila tidak mendapatkan kolostrum maka anak babi tidak membiliki zat kebal tersebut sehingga sangat mudah terserang infeksi kuman.

Sedangkan Growth factor yang dimaksud terdiri dari Insulinlike Growth Factor yang bertanggung jawab dalam pengadaan energi, utamanya dalam penyimpanan energi yang terbentuk menjadi daging sehingga anak babi tumbuh lebih cepat ( Francis et al., 1988 ), Epithelial Growth Factor yang berperanan dalam menghambat sekresi asam lambung yang berlebihan dan memacu pertumbuhan epithil dan fibroblas jaringan tubuh sehingga pertumbuhan anak babi bisa lebih optimal ( Thomburg and Koldovasky, 1987 ). Telah dilaporkan bahwa kolostrum dapat mempercepat pertumbuhan villi-villi mukasa usus, memperbesar ukuran dan berat usus sehingga penyerapan nutrisi ( zat – zat makanan ) menigngkat sampai 50 % dari penyerapan normal pada hari pertama kelahiran dan meningkat sampai 100 % dari penyerapan normal bila diberikan sampai 10 hari setelah kelahiran, berat usus meningkat sampai 90 % lebih cepat dari pertumbuhan umumnya ( Xu et al.,1992 .sehingga anak babi bisa tumbuh secara alami dengan lebih cepat.

Kandungan vitamin dan hormon dalam kolstrum berperanan dalam memacu pertumbuhan tubuh anak babi secara alami.

Dari kajian teoritis tentang aktivitas kolostrum yang sangat komplek dan mutlak diperlukan oleh anak babi baru lahir untuk bisa hidup dan tumbuh secara optimal, maka permasalahan kurangnya kolostrum induk yang sering tidak diperhatikan oleh peternak, harus diatasi secara serius. Paling tidak ada 2 cara untuk mencegah / mengatasi kekurangan kolostrum induk yaitu :

(1 ). Memberikan pakan dengan gizi yang optimal kepada induk mulai umur kebuntingan 84 hari yang bertujuan untuk membentuk kantung – kantung susu yang maksimal, sehingga saat menyusui dapat menampung susu lebih banyak.

( 2 ) Memberikan kolostrum sapi yang mengandung imunoglobulin spesifik ( zat kebal yang khas ) terhadap serangan infeksi tertentu. Hal ini telah dicoba secara luas baik pada manusia maupun pada ternak. Shibata et.al., ( 2001 ) melaporkan bahwa pemberian kolostrum yang mengandung Ig-anti virus procine epidemic diarrhea ( PED ) konsentrasi tinggi efektif mencegah infeksi virus PED dan menurunkan kematian anak babi. Telah dilaporkan juga bahwa kolostrum sapi yang mengandung Ig-anti H.pylori dapat menghambat infeksi bakteri H. pylori pada mencit ( Casswall et,al., 2002) Telah dilaporkan bahwa kolostrum sapi juga mampu menurunkan kematian anak babi yang terinfekasi E.coli patogen ( Funatogawa et. al., 2002).

Pemberian kolostrum sapi ( Pig strum ) yang telah di lakukan pada beberapa peternak babi di Bali menunjukkan hasil bahwa terjadi peningkatan berat badan 0,5 Kg lebih berat dari kontrol pada umur 12 hari. Adapun teknik pemberiannya adalah sebagai berikut : pada hari 1, 2 dan 3 setelah lahir semua anak babi dalam 1 induk diberi kolostrum sapi dosis 1 cc / ekor/ hari ( Ardana, 2003 ).

Dari kedua tindakan tersebut jelas kematian anak babi pra sapih dapat ditekan, sehingga peternak babi tidak lagi mengeluh dan keuntungan dapat dicapai. semoga.



RINGKASAN

Pertanyaan presenter 1 :

Kenapa anak babi yang baru lahir harus segera memperoleh air susu serta banyak anak babi mati karena keterlambatan air susu.

Jawab :

Sebelum sampai pada pertanyaan di atas, ada baiknya disampaikan konsep kehidupan anak babi. Bahwa anak babi yang lahir itu “ telanjang “ artinya tanpa faktor kekebalan dan faktor pertumbuhan dari induknya. Karena selama anak babi dalam kandungan, zat kebal dan zat tumbuh tidak diberikan oleh induknya ( beda dengan manusia ). Kalau manusia zat kebal yang dimiliki seorang ibu sudah diberikan ke anaknya saat masih dalam kandungan, yang ditransper lewat placenta, sehingga setelah lahir bisa bertahan hidup akibat serangan kuman yang ada didunia luar. Pada babi lapisan placenta sangat tebal sehingga zat kebal induk tidak dapat ditransper keanaknya. Tuhan menyuruh induk babi untuk memberikan zat kebal dan zat tumbuhnya lewat susu yang keluar hari 1 – 3 setelah melahirkan., Susu tersebut diberi nama “ kolostrum “. Jadi tanpa kolostrum anak babi pasti mati. Oleh karena itu anak babi baru lahir harus mendapat kolostrum.



Pertanyaan presenter 2 :

Mungkin bisa dijelaskan lebih rinci apa kandungan kolostrum sehingga begitu penting babi seekor anak babi, sampai – sampai tanpa kolostrum anak babi akan mati.

Jawab :

Kolostrum adalah cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar susu induk selama 2 – 3 hari pertama setelah kelahiran. Kolostrum mengandung sumber kesehatan dan pertumbuhan anak babi.

Kandungan utamanya adalah :

(1 ).faktor kekebalan tubuh ( immune Factor yang terdiri dari IgA, IgM, IgG dan IgE yang akan melindungi anak babi dari serangan infeksi bakteri, virus, fungi dan parasit. Bila tidak mendapatkan kolostrum maka anak babi tidak memiliki zat kebal tersebut sehingga sangat mudah terserang infeksi kuman.

( 2 ).faktor pertumbuhan ( Growth Factor ) yang akan mempersiapkan awal pertumbuhan yang pesat bagi anak babiyang terdiri dari :

a. Insulinlike Growth Factor yang bertanggung jawab dalam pengadaan energi, utamanya dalam penyimpanan energi yang terbentuk menjadi daging sehingga anak babi tumbuh lebih cepat ( Francis et al., 1988 ),

b. Epithelial Growth Factor yang berperanan dalam menghambat sekresi asam lambung yang berlebihan dan memacu pertumbuhan epithil dan fibroblas jaringan tubuh sehingga pertumbuhan anak babi bisa lebih optimal ( Thomburg and Koldovasky, 1987 ). Telah dilaporkan bahwa kolostrum dapat mempercepat pertumbuhan villi-villi mukasa usus, memperbesar ukuran dan berat usus sehingga penyerapan nutrisi ( zat – zat makanan ) menigngkat sampai 50 % dari penyerapan normal pada hari pertama kelahiran dan meningkat sampai 100 % dari penyerapan normal bila diberikan sampai 10 hari setelah kelahiran, berat usus meningkat sampai 90 % lebih cepat dari pertumbuhan umumnya ( Xu et al.,1992 .sehingga anak babi bisa tumbuh secara alami dengan lebih cepat.

(3 ). laktoferin, hormon, vitamin, enzim, asam – asam amino dan nutrisi lain yang berguna bagi anak babi.

Aktivitas biologis kolostrum telah banyak dilaporkan .Tom Gardiner ( 2001), telah melaporkan aktivitas biologis kolostrum sapi secara lengkap, baik aktivitas pertumbuhan maupun renpon imun.

Pertanyaan presenter 3:

Oleh karena kolostrum begitu penting, bagaimana caranya agar anak yang baru lahir selalu dapat kolostrum yang cukup.

Jawab :

Kolostrum kurang atau tidak cukup pada anak babi sangat sering terjadi , untuk mengatasi paling tidak ada 2 cara untuk mencegah / mengatasi kekurangan kolostrum induk yaitu :

(1 ). Memberikan pakan dengan gizi yang optimal kepada induk mulai umur kebuntingan 84 hari yang bertujuan untuk membentuk kantung – kantung susu yang maksimal, sehingga saat menyusui dapat menampung susu lebih banyak.

( 2 ) Memberikan kolostrum sapi yang mengandung imunoglobulin spesifik ( zat kebal yang khas ) terhadap serangan infeksi tertentu. Hal ini telah dicoba secara luas baik pada manusia maupun pada ternak. Shibata et.al., ( 2001 ) melaporkan bahwa pemberian kolostrum yang mengandung Ig-anti virus procine epidemic diarrhea ( PED ) konsentrasi tinggi efektif mencegah infeksi virus PED dan menurunkan kematian anak babi. Telah dilaporkan juga bahwa kolostrum sapi yang mengandung Ig-anti H.pylori dapat menghambat infeksi bakteri H. pylori pada mencit ( Casswall et,al., 2002) Telah dilaporkan bahwa kolostrum sapi juga mampu menurunkan kematian anak babi yang terinfekasi E.coli patogen ( Funatogawa et. al., 2002).

Hasil penelitian saya tentang pemberian kolostrum sapi ( Pig strum ) yang telah di lakukan pada beberapa peternak babi di Bali menunjukkan hasil bahwa terjadi peningkatan berat badan 0,5 Kg lebih berat dari kontrol pada umur 12 hari. Adapun teknik pemberiannya adalah sebagai berikut : pada hari 1, 2 dan 3 setelah lahir semua anak babi dalam 1 induk diberi kolostrum sapi dosis 1 cc / ekor/ hari ( Ardana, 2003 ).

Dari kedua tindakan tersebut jelas kematian anak babi pra sapih dapat ditekan, sehingga

peternak babi tidak lagi mengeluh dan keuntungan dapat dicapai. semoga.



Pertanyaan presenter 4:

Setelah hari ke 4 pasca melahirkan akan terus dikeluarkan susu. Bagaimana manajemen induk saat menyusui, khususnya pada pemberian pakan berkuwalitas ( 6- 9 Kg ) per hari agar produksi selalu cukup untuk anaknya ( lebih kurang 15 liter / hari ).



Jawab :

Principnya buat induk babi selalu bugar. Caranya dengan memandikan Hasil penelitian pendahuluan terhadap induk yang sedang menyusui dengan pola makan 6- 9 Kg per hari , dimandikan dengan teknik asal mandi atau sekedar mandi menunjukkan bahwa pada siang hari prekuensi napas sangat prekuen, yang diikuti napsu makan menurun sampai berhenti makan. Kedaan ini sering diakhiri oleh kematian. Kalau hal ini terjadi pada induk maka air susu akan berkurang. Disamping itu selama induk tidak dimandikan atau sekedar mandi maka volume air susu menurun drastis serta kalau diminum oleh anaknya sering terjadi mencret, yang akhirnya mati atau tumbuh lambat. Hal ini terjadi karena faktor anatomis babi yaitu ada perbedaan dengan ternak atau hewan lainnya, yang menyolok adalah perbandingan besar tubuh dengan besar jantung sangat tidak seimbang, yaitu jantung babi sangat kecil jika dibandingkan dengan tubuhnya, serta tidak memiliki pori – pori untuk mengeluarkan keringat ( Leman et.al, 1992 ).Selanjutnya dilaporkan bahwa pada kondisi panas tidak bisa mengeluarkan H2O melalui kulit, namun hanya melalui mulut dan hidung,. sehingga pada kondisi panas babi sering mengami kematian yang ditandai oleh pecahnya organ jantung. Dengan keadaan anatomis seperti itu, maka induk babi menyusui yang mengkonsumsi paka 6-9 kg per hari mutlak dihindarkan dari pengaruh stres, dan selalu dijaga kebugaran tubuhnya. Kegiatan untuk menjaga kebugaran tubuh babi yang paling murah dan gampang adalah dengan memandikan induk babi minimal 2 kali sehari. Namun dari hasil pengamatan dilapangan tentang teknik yang diterapkan oleh peternak babi di Bali belum memperoleh hasil yang optimal, oleh karenanya perlu dilakukan penelitian tentang teknik memandikan induk menyusui yang ideal, artinya mampu menekan kadar kostisol dan kadar lemak susu tetap normal.


sumber : http://galuhfarma.blogspot.com/

MANAJEMEN KELAHIRAN ANAK BABI YANG BARU LAHIR



Dalam peternakan babi perlu adanya manajemen yang baik meliputi
keadaan kandang, pakan serta sistem pemeliharaannya, karena babi mudah
terserang penyakit dan mikroorganisme. Selain itu juga, untuk
meningkatkan produktivitasnya, perlu diketahui mengenai tatacara
pemeliharaan sesuai dengan tahapan umurnya. Terlebih untuk babi yang
baru lahir, karena sejak lahir hingga berumur 10 hari, anak babi sangat
sensitif dalam menghadapi lingkungan yang berat sehingga angka
kematiannya cukup tinggi, terutama jika pemeliharaannya kurang baik.





Tatalaksana Induk Beranak

Tatalaksana yang paling kritis adalah pada waktu induk akan beranak.
Pada waktu beranak, induk dapat berbaring, membentangkan tubuh, dan
menendang kebelakang dengan kaki ke atas atau dapat berguling-guling ke
sisi lain. Setiap bergerak, cairan dipaksa keluar dari alat kelamin,
hingga fetus keluar dengan usaha induk mengeluarkannya perlu
diperhatikan. Induk gemetar dan menekan dadanya pada selang waktu
tertentu. Seekor induk atau babi dara biasanya beranak dengan merebahkan
diri pada suatu sisi dan meletakkan bagian punggungnya pada dinding
atau bagian lain yang mendukung atau menopanng. Tetapi dalam keadaan
terisolasi, induk dapat melahirkan sebagian anaknya paa keadaan
terbaring dengan perut dibagian bawah, bahkan dapat juga elahirkan
dengan posisi kaki ke atas satu.



Biasanya anak babi dilahirkan dengan jarak waktu kurang dari satu
menit hingga 20 menit. Bantuan harus diberikan apabila terjadi suatu
penundaan atau ketika terjadi ketegangan tanpa seekorpun anak babi
dilahirkan. Induk yang sedikit terlambat beranak harus disuntik dengan 2
ml ekstrak pituitary pada bagian paha. Apabila penundaan kelahiran
disebabkan kekurangan hormonal, maka perlu diinjeksi untuk mempengaruhi
ternak dengan oxytocin atau jenis obat lain dengan aktivitas oksitoksik.
Bahan ini hanya merangsang kontraksi otot licin dari dinding uterus dan
kemudian mempercepat pengeluaran fetus.



Beberapa induk terutama babi yang baru beranak pertama kali cenderung
memakan anaknya (kanibalisme) selama atau segera setelah beranak.
Apabila diganggu dengan anak babi yang sedang menjerit atau diganggu
dengan suara lain, induk babi segera menyentak anak babi yang baru
lahir; pada kondisi demikian anak babi harus dijauhkan dari induk dan
dikembalikan ke induk hanya setelah induk mengembangkan naluri
keibuannya. Apabila induk tidak tenang dan tetap jahat, dapat disuntik
dengan obat penenang. Setiap induk yang tetap bersifat ganas terhadap
anak-anaknya pada setiap kali melahirkan, induk tersebut harus diafkir.

Meskipun ternak babi secara alami merupakan ternak yang ramai dan
gaduh terutama pada waktu mau makan, seekor induk memerlukan lingkungan
yang tenang pada waktu beranak. Pengaruh kebisingan cenderung
menyebabkan perpanjangan waktu atau lam melahirkan atau reaksi akan
beranak. Dengan demikian, disarankan supaya tidak mengganggu induk pada
saat beranak kecuali terjadi kesulitan dalam melahirkan anak.



Kandang harus dijaga tetap bersih dan kering setelah beranak. Kandang
beranak yang selalu kering dapat menolong untuk mencegah anak babi
mencret dan menjaga agar bagian ambing tidak tertutup oleh makanan yang
berair (seperti adonan) yang menyebabkan air susu induk babi yang baru
beranak menjadi hilang. Jika kondisi lingkungan tidak menyenangkan, air
susu hanya kadang-kadang keluar atau tidak sama sekali sehingga
anak-anak babi menjadi lemah dan dapat mati secara tiba-tiba. Kematian
anak babi sangat menonjol apabila tatalaksana dan pemeliharaan induk dan
anak kurang baik. Penyebab kematian anak babi adalah: mati lahir,
akibat kelemahan dan kelaparan, tertindih atau terjepit induk, penyakit
yang timbul, dll.





Tatalaksana Anak Babi yang Baru Lahir

Segera setelah anak babi dilahirkan, lepaskan lapisan tipis yang
membungkus tubuhnya dengan sehelai kain kering. Dengan demikian anak
babi menjadi kering dan mencegahnya dari kedinginan. Lepaskan sesegera
mungkin setiap cairan yang mengganggu lobang hidung dan mulut. Apabila
anak babi tidak dapat bernafas secara bebas, pegang kedua kaki belakang
dengan kepala ke bawah dan ayunkan perlahan untuk mempercepat pelepasan
cairan dari lobang hidung. Juga, dengan mengurut pelan-pelan pada bagian
dadanya dan mengisap keluar cairan dari lobang hidung dapat merangsang
pernafasan.



Kadang-kadang, satu atau lebih anak babi yang lahir dari seperindukan
ada yang lemah dan kelihatannya tidak hidup. Periksa bagian tali pusar
dan apabila ada gerakan atau denyutan pada bagian pangkal pusar, masih
ada kemungkinan untuk menghidupkan anak babi kembali dengan pernafasan
buatan. Prosedur berikutnya yang umum dilakukan dalam 24 jam setelah
lahir, dan sering segera setelah beranak telah ditentukan. Seluruh
prosedur umunya dilakukan pada waktu yang sama.


  • Memotong Tali Pusar


Tali pusar adalah organ yang sangat penting untuk pertumbuhan dan
perkembangan fetus selama kebuntingan tetapi menjadi suatu bagian yang
tidak diperlukan dan merupakan daerah yang berbahaya untuk masuknya
infeksi setelah anak babi lahir. Dengan demikian, tali pusar harus
dipotong dengan cara sederhana seperti berikut:

a. Ikat tali pusar kira-kira 2 cm dari pangkal dengan seutas benang
steril untuk meyakinkan tidak ada bahaya karena pendarahan melalui
arteri tali pusar

b. Potong tali pusar dengan gunting atau pisau di bawah ikatan

c. Oleskan ditempat pemotongan tali pusar dengan yodium tincture keras untuk mencegah infeksi atau sakit pada tali pusar.


  • Memotong Gigi


Anak babi lahir dengan empat pasang gigi atau delapan gigi tajam, dua
pasang pada tiap rahang disebut gigi “hitam”, gigi “jarum” atau gigi
“serigala”. Meskipun gigi tersebut cukup penting pada anak babi, namun
gigi tersebut harus dipotong karena lebih banyak menimbulkan kerugian
daripada keuntungannya bagi peternak. Alasan mengapa dilakukan
pemotongan gigi adalah sebagai berikut:

a. Gigi sangat efektif menyebabkan luka pada ambing induk dan mengakibatkan induk menolak untuk menyusui anak-anaknya

b. Apabila anak babi berkelahi untuk merebut satu puting susu atau
bermain sesamanya, gigi dapat menyebabkan luka pada muka dimana luka
tersebut dapat merupakan jalan masuknya penyakit yang disebabkan oleh
mikroorganisme

Salah satu tujuan dari peternakan babi adalah memaksimumkan anak babi
dapat hidup. Pemotongan gigi harus tidak menghasilkan gigi yang hancur
dibawah garis gusi dan harus dilakukan secara higienis. Pemotongan gigi
biasanya dilakukan oleh satu orang seperti berikut:


  1. Pegang kuat anak babi dengan satu tangan dimana tiga jari menahan
    rahang dan ibu jari menekan dari belakang leher dengan arah berlawanan

  2. Masukkan jari telunjuk pada satu sisi dari mulut persis dibelakang gigi “jarum” mendekati ujung lidah

  3. Dengan alat pemotong gigi atau alat pemotong kuku biasa, potong gigi
    diatas gusi. Penting unuk menghindari pemotongan gigi sampai dasarnya,
    jangan membuat sudut yang tajam atau berberigi yang dapat menyababkan
    luka pada gusi dan lidah.



  • Memotong Ekor


Menggigit ekor adalah suatu masalah yang sering terjadi dihampir
semua peternakan babi, maka secara rutin dilakukan pemotongan ekor anak
babi baru lahir. Panjang ekor yang dipotong dapat dari ujung hingga
pangkal ekor. Tetapi biasanya cukup untuk memotong dua pertiga hingga
tiga perempat dari ekor. Pendarahan yang semakin sedikit terjadi apabila
beberapa alat yang digunakan tumpul. Pada umumnya, perhatian khusus
harus diberikan terhadap kesehatan dan kebersihan selama melakukan
pemotongan ekor di usaha peternakan.


  • Mendapatkan Kolostrum


Segera setelah pemotongan gigi, letakkan kembali anak babi bersama
induknya agar anak babi dapat menusu atau memperoleh air susu pertama
(kolostrum) yang mengandung daya tahan tubuh yang tinggi. Penyerapan
kolostrum adalah kritis untuk kehidupan anak babi yang baru lahir
sebagimana fungsinya yang merupakan sumber utama kekebalan melawan
penyakit pada masa awal kehidupan. Hal yang perlu dicatat bahwa secara
bertahap terjadi perubahan kolostrum menjadi air susu pada dua ke tiga
hari periode transisi. Apabila ada anak babi yang lemah, harus diberikan
kesempatan yang baik untuk menyusu dengan mengarahkan anak-anak babi ke
ambing induk.


  • Penyuntikan Zat Besi


Anemia pada anak babi menyusu merupakan masalah yang telah lama
diketahui secara baik oleh para peternak maju. Hal ini terjadi
disebabkan oleh kekurangan zat besi dimana plasenta dan ambing tidak
efisien memindahkan mineral tersebut. Penambahan zat besi untuk
mengatasi kekurangan zat besi pada anak babi yang tidak bersentuhan
dengan tanah dapat diberikan baik melalui mulut maupun disuntikkan.

Dalam air susu induk kandungan zat besinya sangat rendah dan anak
babi yang lahir menyimpan zat besi dalam jumlah yang terbatas dimana
biasanya hanya mencukupi kebutuhan dari satu minggu setelah lahir. Pada
waktu lahir, dalam tubuh anak babi mengandung kira-kira 40 – 50 mg zat
besi, disimpan terutama dalam hati, dimana anak babi mulai
mengguankannya segera setelah lahir. Secara rata-rata anak babi
membutuhkan 7 mg zat besi setiap hari pada minggu pertama setelah lahir,
sedangkan air susu induknya hanya dapat memberikan 1-2 mg per hari
kepada tiap ekor anaknya. Dengan demikian, anak babi akan kehabisan
simpanan zat besi dan anemia akan timbul setelah satu minggu. Apabila
tidak teramati, perkembangan anemia dan resiko kematian akibat mencret,
radang paru-paru dan penyakit menular lainnya akan meningkat.

Anemia bukanlah masalah yang serius apabila ternak babi dipelihara di
luar kandang atau dilepas. Anak-anak babi selalu kontak dengan tanah,
yang secara alami kaya akan sumber zat besi yang diperlukan. Akan
tetapi, anak babi yang dipelihara selamanya dalam kandang dapat
mengalami kekurangan zat besi kecuali diberi tambahan sebelum cadangan
atau simpanan zat besi habis dipergunakan. Penyuntikan zat besi (dan
ikatan lain) biasanya dianjurkan diberikan ketika babi berumur tiga
hari, tetapi hasil yang memuaskan dapat diperoleh jika anak babi
disuntik sewaktu-waktu pada minggu pertama setelah lahir. Penyuntikan
cairan zat besi secara menyakinkan dapat mempertahankan hemoglobin pada
taraf yang sangat tinggi, tetapi dapat menyebabkan luka pada tempat
penyuntikan.


  • Penitipan Anak  Babi dan Makanan Buatan


Anak babi yang kehilangan induknya dapat terjadi oleh karena beberapa
faktor seperti induk mati setelah beranak, ambing yang luka, tidak
dapat menyusui atau jumlah anak yang terlalu banyak. Anak babi dari
induk demikian hanya dapat dipelihara dengan berhasil apabila anak-anak
babi tersebut memperoleh sejumlah kolostrum yang cukup. Untuk
memelihara  anak babi yang kehilangan induk, dapat dilakukan dengan
menitipkannya pada induk yang tidak ada air susu dan induk yang
mempunyai beberapa anak saja. Penitipan adalah memindahkan anak babi
dari satu induk ke induk lain dalam suatu kelompok bibit.



Penitipan dapat berhasil apabila induk ditangani dalam kandang yang
mempunyai tempat beranak dan mulai dititipkan dalam waktu 48 jam setelah
lahir. Pemindahan baik dilakukan lebih dini dalam kehidupannya sebelum
pemilikan puting sudah tetap, dan anak babi yang kuat dan lebih mengerti
akan lebih berhasil dalam penitipan. Umur atau waktu penitipan
merupakan hal yang penting karena puting susu yang tidak digunakan akan
menjadi kering. Meskipun dipindahkan pada umur dini, peternak masih akan
menjumpai masalah karena induk dapat dengan mudah mengenal anak-anaknya
melaui isyarat penciuman dan kemampuannya itu akan semakin meningkat
dengan mengingkatnya umur babi. Banyak cara efektif yang telah dilakukan
oleh para peternak untuk menghalangi induk dalam mengenal anak-anak
babi yang bukan anaknya.



Salah satu cara untuk dapat menerima anak babi yang baru dengan pasti
adalah menyatukan anak-anak babi dari induk dengan anak babi titipan
dalam satu kotak selama satu sampai dua jam setiap anak babi tersebut
tidak menyusu hingga mereka mempunyai bau yang sama. Mengolesi anak babi
dengan air kencing induk adalah suatu cara yang lain. Menyiram
anak-anak babi termasuk induk dengan bau-bauan, obat pembasmi hama
penyakit atau bau-bauan yang lain untuk menyamakan baunya sangat
disenangi oleh peternak dibanding cara lain.



Pemeliharaan anak babi yang kehilangan induk dapat juga menggunakan
beberapa pengganti susu. Para ahli dari Universitas Dakota Selatan
menyarankan menggunakan air susu campuran dengan komposisi (1) satu
liter air susu sapi yang sudah dipasteurisasi; (2) 0,3 liter air susu
dengan ½ kepala susu dan ½ air susu; dan (3) telur mentah. Bahan-bahan
tersebut dicampur dan disimpan pada temperature 3oC. Campuran dikocok dan sebagian dipanaskan sampai 29oC
sebelum diberikan kepada ternak. Pemberian makan dilakukan dengan
menggunakan selang karet yang sesuai dengan menyambungkan ke alat
penyemprot. Ujung selang dimasukkan kedalam mulut babi dan langsung
dipompakan ke kerongkongan kira-kira 7,5 cm mengarah ke daerah jantung.
Setiap ekor babi menerima dosis 15 cc campuran pada lima jam hari
pertama setelah lahir dan 20 cc pada hari kedua


  • Pembuatan Tanda dan Nomor


Tiap ekor anak babi dalam seperindukan harus diberi tanda atau nomor
dalam waktu 24 jam setelah lahir guna mengukur penampilan dari kelompok,
kebijaksanaan dalam mengafkir, dan ketegasan dalam menyeleksi bibit
pengganti. Para peternak kecil biasanya memberi tanda pada babi dengan
membuat titik-titik pada kulit atau tanda-tanda tertentu pada bulu.
Dipihak lain, para peternak komersial dimana terdapat ratusan bahkan
ribuan anak babi dari berbagai umur dalam kelompok, pembuatan tanda atau
nomor dapat dilakukan dengan cara pemotongan daun telinga dan tattoo.
Selain itu bisa juga dengan menggunakan eartag, cap bakar, phylox, dan
sebagainya tetapi cara ini kurang umum digunakan oleh para peternak
babi.


  • Kastrasi atau Kebiri


Kastrasi adalah suatu pengambilan bagian kelamin utama dari pejantan,
dan yang terbaik dilakukan pada waktu anak babi berumur dua minggu.
Pada umur ini, anak babi dengan mudah ditangani; shok dan gangguan
pertumbuhan sangat minim; dan kesempatan luka terkena infeksi sangat
kurang karena tempat atau kandang menyusu lebih bersih daripada kandang
ternak babi sapihan. Kastrasi anak babi dilakukan terutama untuk
mencegah individu yang tidak diinginkan dari gambaran dirinya sendiri,
fasilitas pemberian makan secara bersama, dan juga untuk tatalaksana
praktis lainnya. Tujuan dari pengebirian adalah untuk memperbaiki
karkas, akan tetapi kenyataan secara keseluruhan memperlihatkan bahwa
pertumbuhan babi jantan hampir sama bila tidak lebih cepat daripada babi
kebiri pada umur pasar yang sama, dan dengan efisiensi penggunaan
makanan dan kualitas karkas yang lebih baik.



Apabila seekor babi akan dikastrasi, kita tidak hanya harus
mempertimbangkan umurnya, tetapi juga kesehatan dan kemampuan dari
ternak terhadap kondisi cekaman (stress). Melakukan kastrasi adalah
suatu operasi yang sederhana tetapi hal ini dapat menimbulkan bahaya
apabila seseorang tidak mempertimbangkan kondisi ternak dan
ligkungannya. Kastrasi dapat berhasil pada setiap musim, akan tetapi
paling baik melakukannya apabila keadaan cuaca menyenangkan, dipilih
hari yang cerah, sejuk, hindarkan cuaca dingin, basah atau beruap.



Anak babi yang baru lahir tidak mampu mengatur suhu tubuhnya sebelum
umur 2-3 hari, tambahan panas diberikan selama keaadaan dingin atau
cuaca buruk. Salah satu cara umum yang dilakukan untuk menanggulanginya
adalah menggunakan lampu (250watt) yang digantung. Hal ini berguna untuk
memberi kehangatan dan menarik perhatian anak babi agar  menjauhi induk
apabila tidak sedang menyusu. Bola lampu digantung kira-kira 70-76 cm
dari lantai, disesuaikan dengan pertumbuhan anak babi.



Anak babi tumbuh dengan cepat dari sejak lahir. Kebutuhan makanannya
akan meningkat dengan bertambahnya umur. Air susu dari induk akan
menurun setelah puncak produksi yang dicapai kurang lebih tiga minggu
setelah beranak, sehingga pemberian zat makanan dan ransom anak babi
yang lezat dan disukai anak babi sangat diperlukan. Memberi makanan ke
anak babi pada waktu menyusu baik dimulai pada umur kira-kira satu
minggu. Hal ini memberi jaminan bahwa anak babi mengkonsumsi makanan
penguat yang cukup sebelum produksi air susu dari induk mulai menurun.
Anak babi yang dibiasakan untuk memakan ransom kering sebelum disapih
adalah menguntungkan baik untuk proses pencernaan dan tingkah laku
makannya. Pembentukkan lebih awal kemampuan bakteri dari pencernaan
makanan yang bukan susu akan memperkecil cekaman penyapihan dan dari
segi tingkah laku hal tersebut sangat baik karena telah mengetahui bahwa
makanan kering adalah untuk dikonsumsi.



Kebanyakan peternakan intensif diluar negeri menyapih anak
seperindukan pada rataan umur empat sampai enam minggu. Biasanya anak
babi yang disapih pada umur dua bulan, induk akan mengalami kondisi yang
menurun dimana pada banyak kejadian tidak mau untuk segera dikawinkan
kembali setelah penyapihan anak-anaknya. Apabila penyapihan dilakukan
lebih awal dari 56 hari, seekor induk dapat beranak kira-kira empat
sampai lima kali dalam dua tahun, diman induk biasanya birahi pada hari
ketiga sampai hari ketujuh setelah penyapihan. Suatu keuntungan dari
penyapihan dini adalah menghasilkan jumlah kali beranak atau frekuensi
beranak yang lebih banyak per induk per tahun, sehingga sangat
menguntungkan bagi peternakan babi.



sumber : http://diandinar.wordpress.com/2009/12/28/manajemen-kelahiran-anak-babi-yang-baru-lahir/












PENYAKIT FLU PADA BABI




FLU PADA BABI


Oleh: Drh. Gde Eka Parta Ariana


Puskeswan Baturiti





 BAB I PENDAHULUAN


Dewasa
ini banyak muncul berbagai penyakit yang menyerang hewan ternak , salah
satunya adalah influensa pada babi yang menimbulkan kerugian tidak saja
pada ternak tapi juga dapat menginfeksi manusia .


Influensa babi merupakan penyakit saluran pernafasan akut pada yang disebabkan oleh virus influensa tipe A. Gejala klinis yang nampak pada penyakit ini yaitu : batuk, dispnu, demam dan kondisi tubuh babi yang sangat lemah. Infeksi penyakit ini ke dalam kelompok ternak dalam waktu 1 minggu, penyakit ini dapat sembuh kecuali bila terjadi infeksi sekunder seperti ; komplikasi dengan bronchopneumonia ( Fenner et al., 1987 ).


Penyakit virus influensa babi pertama kali ditemukan tahun 1918 ( Hampson, 1996 ). Kejadian penyakit ini muncul bersamaan dengan kejadian penyakit epidemik pada manusia, maka penyakit ini disebut flu pada babi. Selain di negara Amerika Serikat, wabah influensa babi dilaporkan terjadi di berbagai negara Canada, Amerika Selatan, Asia dan Afrika pada permulaan tahun 1968 (Fenner et al., 1987).


Virus influensa babi diketahui pada tahun 1950-an, melanda negara Cekoslovakia, Inggris dan Jerman Barat. Tahun tahun 1976 di Amerika Serikat ditemukan
virus influensa babi yang dapat diisolasi dari manusia, selanjutnya
dapat terungkap bahwa apabila manusia berhubungan dengan babi sakit,
maka akan dapat menjadi terinfeksi dan menderita penyakit pernafasan
akut (O’Brian et al., 1977; Rota et al., 1989).


Flu babi merupakan penyakit yang memicu timbulnya gejala penyakit pernafasan komplex. Kerugian ekonomis yang terjadi dikarenakan infeksi virus influensa yang kembali
berulang dan karena gejala klinis yang tidak terlihat akibat adanya
respon kekebalan beberapa babi . Penyakit ini dapat menimbulkan kematian
anak babi, fertilitas menurun, terjadi abortus pada kebuntingan tua . 





BAB II ISI


2.1 EPIDEMIOLOGI


Penularan
virus influensa pada babi dapat melalui kontak , udara atau droplet.
Faktor cuaca dan stres akan mempercepat penularan. Virus tidak akan
tahan lama di udara terbuka. Penyakit bisa saja bertahan lama pada anak babi.
Kekebalan maternal dapat terlihat sampai 4 bulan tetapi mungkin tidak
dapat mencegah infeksi, kekebalan tersebut dapat menghalangi timbulnya
kekebalan aktif
.


Subtipe H1N1 mempunyai kemampuan menulari antara
spesies terutama babi, bebek, kalkun dan manusia, demikian juga sub
tipe H3N2 yang merupakan sub tipe lain dari influensa A. H1N1, H1N2 dan
H3N2 merupakan ke 3 subtipe virus influenza yang umum ditemukan pada
babi yang mewabah di Amerika Utara (Webby et al., 2000; Rota et al., 2000; Landolt et al., 2003), tetapi pernah juga sub tipe H4N6 diisolasi dari babi yang terkena pneumonia di Canada (Karasin et al., 2000).


Manusia dapat terkena penyakit influensa dan
dapat menularkannya pada babi. Beberapa kasus infeksi juga terbukti
disebabkan oleh sero tipe virus asal manusia. Penyakit pada manusia
umumnya terjadi pada kondisi musim dingin. Penularan kepada babi yang
dikandangkan atau hampir diruangan terbuka dapat melalui udara seperti
pada kejadian di Perancis dan beberapa wabah penyakit di Inggris (Rota et al., 1989, Wells et al.,1991). 





2.2 ETIOLOGI











Penyakit
saluran pernafasan pada babi disebabkan oleh virus influensa tipe A
yang termasuk Famili Orthomyxoviridae.Ukuran virus tersebut berdiameter
80- 120 nm. Selain influensa A, terdapat influensa B dan C yang juga
sudah dapat diisolasi dari babi. Sedangkan 2 tipe virus influensa pada
manusia adalah tipe A dan B. Kedua tipe ini diketahui sangat progresif
dalam perubahan antigenik yang sangat dramatik sekali (antigenik shift). Pergeseran antigenik tersebut sangat berhubungan dengan sifat penularan secara pandemik dan keganasan penyakit.


Ketiga tipe virus yaitu influensa A, B, C adalah virus yang mempunyai bentuk yang sama dan
hanya berbeda dalam hal kekebalannya saja. Ketiga tipe virus tersebut
mempunyai RNA dengan sumbu protein dan permukaan virionnya diselubungi
oleh semacam paku yang mengandung antigen haemagglutinin (H) dan enzim neuraminidase (N). Peranan haemagglutinin adalah sebagai alat melekat virion pada sel dan menyebabkan terjadinya aglutinasi sel darah merah, sedangkan enzim
neurominidase bertanggung jawab terhadap elusi,
terlepasnya virus dari sel darah merah dan juga mempunyai peranan dalam
melepaskan virus dari sel yang terinfeksi. Antibodi terhadap haemaglutinin berperan dalam mencegah infeksi ulang oleh virus yang mengandung haemaglutinin yang sama. Antibodi juga terbentuk terhadap antigen neurominidase, tetapi tidak berperan dalam pencegahan infeksi.


Peristiwa rekombinan dapat terjadi, seperti H1N2 yang dilaporkan di Jepang (HAYASHI et al., 1993)
kemungkinan berasal dari rekombinasi H1N1 dan H3N2. Peristiwa semacam
ini juga dilaporkan di Italy, Jepang, Hongaria, Cekoslowakia dan
Perancis.


Virus influensa bertahan kurang
dari 2 minggu di luar sel hidup kecuali pada kondisi dingin. Virus
sangat sensitif terhadap panas, detergen, kekeringan dan desinfektan.
Sangat sensitif terhadap pengenceran tinggi desinfektan mutakhir yang
mengandung oxidising agents dan surfactants seperti Virkon (Antec).





2.3 PATOGENESIS


Virus
masuk melalui saluran pernafasan atas kemungkinan lewat udara. Virus
menempel pada trachea dan bronchi dan berkembang secara cepat yaitu dari
2 jam dalam sel epithel bronchial hingga 24 jam pos infeksi. Hampir
seluruh sel terinfeksi virus dan menimbulkan eksudat pada bronchiol.
Infeksi dengan cepat menghilang pada hari ke 9 (Anon., 1991).


Lesi
akibat infeksi sekunder dapat terjadi pada paru – paru karena aliran
eksudat yang berlebihan dari bronkhi. Lesi ini akan hilang secara cepat
tanpa meninggalkan adanya kerusakan. Kontradiksi ini berbeda dengan lesi
pneumonia enzootica babi yang dapat bertahan lama. Pneumonia sekunder biasanya karena serbuan Pasteurella multocida, terjadi pada beberapa kasus dan merupakan penyebab kematian.(Blood and Radostits, 1989)


2.4 GEJALA KLINIS


Masa inkubasi virus ini antara
1-2 hari (Taylor, 1989), tetapi bisa 2-7 hari dengan rata-rata 4 hari .
Penyakit ini menyebar sangat cepat hampir 100% babi yang rentan
terkena, dan ditandai dengan apatis, sangat lemah, enggan bergerak atau
bangun karena gangguan kekakuan otot dan nyeri otot, eritema pada kulit,
anoreksia, demam sampai 41,8 ­­
ͦ
C. Batuk sangat sering terjadi apabila penyakit cukup hebat, dibarengi
dengan muntah eksudat lendir, bersin, dispnu diikuti kemerahan pada mata
dan terlihat adanya cairan mata. Biasanya sembuh secara tiba-tiba pada
hari ke 5-7 setelah gejala klinis. (Blood dan Radostits, 1989)


Terjadi
tingkat kematian tinggi pada anak - anak babi yang dilahirkan dari
induk babi yang tidak kebal dan terinfeksi pada waktu beberapa hari
setelah dilahirkan. Tingkat kematian pada babi tua umumnya rendah,
apabila tidak diikuti dengan komplikasi. Total kematian babi sangat
rendah, biasanya kurang dari 1%. Bergantung pada infeksi yang
mengikutinya, kematian dapat mencapai 1-4% (Anon, 1991). Anak-anak babi
yang lahir dari induk yang terinfeksi pada saat bunting, akan terkena
penyakit pada umur 2-5 hari setelah dilahirkan, sedangkan induk tetap
memperlihatkan gejala klinis yang parah.





2.5 PATOLOGI


Pada
hewan yang terserang influensa tanpa komplikasi, jarang sekali terjadi
kematian. Jika dilakukan pemeriksaan bedah bangkai lesi yang paling
jelas terlihat pada bagian atas dari saluran pernafasan. Lesi yang
terjadi meliputi kongesti pada mukosa farings, larings, trakhea dan
bronkhus, pada saluran udara terdapat cairan tidak berwarna, berbusa,
eksudat kental yang banyak sekali pada bronkhi diikuti dengan kolapsnya
bagian paru-paru (Blood dan Radostits, 1989). Terjadi lesi
pada paru - paru dengan tanda merah keunguan pada bagian lobus apikal
dan lobus jantung. Lesi lama biasanya terdepresi, merah muda keabu-abuan
dan keras pada pemotongan. Pada sekitar atalektase paru-paru sering
terjadi emphysema dan hemorhagis ptekhi. Lesi paru tersebut sama dengan
lesi pada Enzootic pneumonia yang hanya bisa dibedakan dengan histopatologi (Blood dan Radostits , 1989).


Pada pemeriksaan mikroskopik influensa babi, akan terdeteksi adanya necrotizing bronkhitis dan
bronkhiolitis dengan eksudat yang dipenuhi netrofil seluler. Terjadi
penebalan septa alveolar dan perubahan epithel bronchial. Bronchi
dipenuhi dengan neutrophil yang kemudian dipenuhi sel mononukleal, pada
akhirnya terjadi pneumonia intersisial lalu terjadi hiperplasia pada
epithel bronchial. Pada beberapa kasus hanya terlihat kongesti. Adanya
pembesaran dan edema pada limfoglandula dibagian servik dan mediastinal.
Pada limpa sering terlihat pembesaran dan hiperemi yang hebat terlihat
pada mukosa perut. Usus besar mengalami kongesti, bercak dan adanya
eksudat kathar yang ringan.





2.6 DIAGNOSIS


Diagnosis penyakit
influensa babi didasarkan pada gejala klinis dan perubahan patologi.
Diagnosis laboratorium dapat dilakukan berdasarkan isolasi virus pada
alantois telur ayam berembrio dan dilihat hemaglutinasi pada cairan
alantois. Spesimen yang paling baik untuk isolasi virus pada influensa
babi adalah cairan hidung yang diambil sedini mungkin atau organ paru
yangdiperoleh dari bedah bangkai (Fenner et al., 1987) dan tonsils (Sanford et al., 1989). Mendiagnosis influensa babi dengan metoda imunohistokimia sudah dilaporkan (Haines et al., 1993) dengan menggunakan antibodi poliklonal kemudian Vincent et al., (1997) menggunakan antibodi monoklonal.


Kualitas
pengujian dengan antibodi monoklonal tersebut lebih konsisten, karena
latar belakang pewarnaan yang rendah dan tidak terbatasnya penyediaan
antibibodi. Pada kasus penyakit influensa babi yang khronis, diagnosis
dapat dilakukan secara serologi dengan memperlihatkan peningkatan
antibodi pada serum ganda (paired sera) yang diambil dengan selang waktu 3-4 minggu. Untuk memeriksa antibodi terhadap virus influensa dapat digunakan uji haemagglutination inhibition (HI)
(Blood dan Radostits, 1989), Immunodifusi single radialdan virus
netralisasi. Kenaikan titer 4x lipatnya sudah dianggap adanya infeksi.
Pada uji serologis digunakan kedua antigen H1N1 dan H3N2 (Olsen et al., 2002).


Selain isolasi virus, diagnosis juga dapat dilakukan dengan mendeteksi antigen dengan uji fluorescent antibody technique (FAT)
pada sampel paru paru, tetapi mempunyai kekurangan oleh karena lesi
akibat virus sangat menyebar sehingga lesi dapat mendapatkan hasil
sampel yang negatif dan sampel harus benar-benar segar dengan sedikit
perubahan otolisis serta FA slide tidak dapat disimpan lama, warna akan pudar ( Vincent et al., 1997), metode deteksi swine influenza virus (SIV) pada jaringan yang difiksasi dengan metode imunohistokimia yang menggunakan antibodi monoklonal.





2.7 DIAGNOSIS BANDING


 Penyakit influensa A pada babi yang ringan akan dapat menjadi parah karena penyakit lain seperti Pseudorabies (Aujeszky's disease), Haemophillus parasuis, Mycoplasma hyopneumonia, Actinobacillus (H) pleuropneumonia atau Pasteurella multocida.
Keganasan dari infeksi influensa A babi dapat meningkat pula bersamaan
dengan adanya infestasi cacing paru-paru, migrasi larva ascaris melalui
paru-paru dan serbuan bakteria sekunder.


Terdapat kemungkinan adanya hubungan virus influensa babi (SIV) dengan porcine respiratory coronavirus (PRCV). Adanya suhu tubuh yang lebih tinggi dari pada infeksi tunggal, juga akan terlihat bersin dan batuk pada infeksi ganda PRCV dan babi yang terinfeksi H3N2 (Lanza et al., 1992). Sedangkan gejala demam, dispnu, pernafasan perut, batuk yang terus menerus dilaporkan merupakan kombinasi penyakit porcine reproductive and respiratory syndrome (PRRS) dan SIV (Reeth et al., 1996).






2.8 PENGENDALIAN



Pengobatan
yang dilakukan terhadap infeksi virus influensa pada babi hanya
dilakukan untuk mengobati infeksi sekunder yang terjadi sedangkan untuk
pengobatan yang spesifik belum ada. Antibiotika seperti dengan
penisilin, sulfadimidin atau mungkin antibiotik yang berspektrum luas
dapat menghadang infeksi bakteri dalam mencegah infeksi sekunder.
Pengamanan yang sangat penting adalah tidak membuat stres hewan, seperti
dengan membuat bersih lingkungan yang bebas dari debu dan menjaga hewan
jangan sampai berdesakan, memperbaiki sistem kandang seperti alas yang
baik, memberikan air minum yang banyak dan bersih (Blood dan Radostits ,
1989).





Penyembuhan
dilakukan secara simptomatis dan pengobatan dengan antimikrobial untuk
mencegah terjadinya infeksi sekunder. Babi harus dipelihara dalam
keadaan sanitasi yang baik, kondisi kandang yang memadai dan eradikasi
cacing askaris dan cacing paru-paru. Desinfektan dapat digunakan untuk
melindungi hewan dari serangan kutu. Pada kasus-kasus penyakit yang
dilakukan eradikasi, juga harus dilaksanakan pengurangan populasi .


Pencegahan
penyakit influensa babi yang telah dicoba dengan perlakuan vaksinasi
dilaporkan oleh Dua dosis vaksin oil adjuvan (SuvaxynFlu-3, Duphor) yang
diaplikasikan dengan jarak pemberian 3 minggu. Cara ini banyak
digunakan di Eropa dengan tujuan untuk melindungi dari penyakit dengan
gejala dan penurunan produksi. Vaksin tersebut mengandung A/Swine
Ned/25/80 yang dapat melindungi terhadap serangan virus Eropa H1N1 dan
A/Port Chalmers/1/73 yang akan melawan hampir seluruh virus strain H3N2.
Sementara itu vaksin A/Philippines/ 2/82 berguna untuk melindungi babi
terhadap virus dari strain Bangkok H3N2. Sedangkan Maxi VacTM FLU
merupakan vaksin inaktif, oil adjuvant H1N1 yang diaplikasikan pada babi
umur 4-5 minggu, kemudian di vaksin ulang setelah 2-3 minggu kemudian.
Perlakuan dapat menekan gejala klinis batuk dan anoreksia (Taylor
,1986).





BAB III


KESIMPULAN


Penyakit
influensa babi adalah penyakit yang dapat menular ke manusia disebabkan
oleh virus influensa tipe A, sub tipe H1N1, H1N2 dan H3N2,


Perlunya
kewaspadaan terhadap penyakit influensa babi karena dapat menimbulkan
dampak yang buruk, bukan saja terhadap hewan tetapi juga terhadap
manusia.


Usaha
mencegah dan menghindari penyakit influensa babi peternak harus
memelihara babi dengan tata cara dan pelaksanaan pemeliharaan secara
baik.


Pelaksanaan
biosekuritas merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan untuk
secara ketat untuk menghindari penularan virus H1N1





BAB V


DAFTAR PUSTAKA


ANONIMUS. 1991. Swine Influenza (Hog flu, Pig flu). In the Merck Veterinary Manual 7th ed.


Merck & Co. Inc., Rahway, New Jersey, USA: 751-753.


BEVERIDGE W.I.B. 1977. Influenza: The Last Great Plaque. An unfinished story of discovery.


Heinemann Educational Books Ltd. 48 Charles St. London WIX 8AH: 1-124.


BLOOD D.C. and O.M. RADOSTITS, 1989. Swine Influenza. In "Veterinary Medicine". A


Textbook of the disease of cattle, sheep, pigs, goats & horses, 7th ed. Bailliere Tindall,


London, Philadelphia, Sydney, Tokyo, Toronto: 888-890.


BROWN I.H., S.H. DONE, Y.I. SPENCER, W.A.COOLEY, P.A. HARRIS, and D.J.


ALEXANDER, 1993. Pathogenicity of a swine influenza H1N1 virus antigenically


distinguisable from classical and European strains. Vet. Record 132, 24: 598-602.


CHOI
Y.K., J.H. LEE, G.ERICKSON, S.M. GOYAL, H.S JOO., R.G. WEBSTER and R.J.
WEBBY, 2004. H3N2 Influenza Virus Transmission from Swine to Turkeys,
United States


Emerging Infectious Diseases (10) 12 :2156- 2168


EASTERDAY B.C. 1986. Swine Influenza. In Diseases of Swine. 6th ed. Iowa State University Press, Ames, Iowa, USA:244-254.


EASTERDAY B.C., V.S. HINSHAW and D.A.HALVORSON, 1997. INFLUENZA. In


Diseases of Poultry 10 th Edition. Editor


CALNEK B.W., JOHN BARNES H., BEARD C.W., MCDOUGALD L.R., SAIF Y.M. Iowa State University Press, Ames, Iowa, USA.p: 583-605


EASTERDAY B.C and I K. VAN REETH 1999: Swine Influenza. In Diseases of Swine 8 th Edition. Editor B.E. STRAW, S. D’ALLAIRE,


W.L. MENGELING and D.J. TAYLOR Iowa State University Press, Ames, Iowa, USA.: 277-290


FENNER
F., P.A. BACHMANN, E.P.J. GIBBS, F.A. MURPHY, M.J. STUDDERT, and D.O.
WHITE, 1987. Veterinary Virology. Academic Press Inc. London Ltd.,
473-484


HAINES
D.M., E.H.WATERS, and E.G. CLARK, 1993. Immunohistochemical detection
of swine influenza A virus in formalin-fixed and paraffin-embedded
tissues. Canadian J. of Vet.


Research 57, 1: 33-36.


HAMPSON A. 1996. Influenza-Dealing with acontinually emerging disease. In


Communicable Diseases Intelligence. (20) 9: 212-216.


HAYASHI
K., T. HASHIMOTO, and Y. MUKOHARA, 1993. Outbreak of swine influenza
due to H1N2 influenza virus in Nagasaki Prefecture. Journal of the Japan
Vet. Med. Ass. 46, 6:


459-462.


KARASIN
A.I., I.H. BROWN, S. CARMAN and C.W. OLSEN 2000. Isolation and
Characterization of H4N6 Avian Influenza Viruses from Pigs with
Pneumonia in Canada. J. of Vir. (74) 19: 9322-9327.


LANDOLT G.A., A.I. KARASIN, L.PHILLIPS and C.W.OLSEN, 2003. Comparison of the


Pathogenesis of Two Genetically Different H3N2 Influenza Virus in Pigs. J. of


Clin.Microb. (41) 5: 1936-19041 LANZA I., I.H. BROWN, and D.J. PATON, 1992.


Pathogenicity of concurrent infection of pigs with porcine respiratory corona virus and


swine influenza virus. Res. in Vet. Science 53: 309-314.


OLSEN C.W., L. BRAMMER, B.C. EASTERDAY, N. ARDEN, E. BELAY, I. BAKER and N.J. COX, 2002. Serologic Evidence of H1 Swine





Sumber : http://disnak.tabanankab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=80&catid=40&Itemid=60







Jumat, 18 Mei 2012

Usaha Sampingan Budidaya Ulat Hongkong



By -- Category: Peluang Usaha




Mendengar nama ulat sebagian kita terutama kaum wanita akan merasa
takut,jijik dan asosiasi yang negatif lainnya. Tetapi ternyata membudidayakan ulat hongkong bisa mendatangkan penghasilan tambahan yang lumayan besar. Ulat hongkong atau dalam bahasa lain dikenal dengan Meal Worm atau Yellow Meal Worm
dapat ditemukan pada toko-toko pakan burung, reptil dan ikan, karena
memang ulat hongkong biasa dipergunakan sebagai suplemen pakan
hewan-hewan tersebut. Selain itu ulat hongkong bisa dipergunakan sebagai
bahan makanan hewan dalam bentuk pelet.






Bentuk Ulat Hongkong


Bentuk Ulat Hongkong




Bisnis budidaya ulat hongkong sebenarnya cukup mudah dan tidak memerlukan tenaga dan modal yang besar, selain itu budidaya ulat hongkong bisa dilakukan sebagai usaha sampingan.
Usaha budidaya ulat Hongkong ini telah ditekuni oleh beberapa warga
Dusun, Gesikan, Ngluwar, Magelang. Dengan memanfaatkan sebagian ruangan
dalam rumah, mereka menekuni usaha sampingan budidaya ulat hongkong.
Hasil usaha sampingan budidaya ulat hongkong ini cukup lumayan,
saat ini hampir tiap hari pasaran pasar Muntilan Magelang yaitu Pon Dan
Kliwon mereka memanen dan memasok ulat hongkong ke pedagang burung di
Pasar Muntilan. Harga ulat hongkong cukup lumayan antara 20 ribu sampai 30 ribu per kilogram.
Harga ulat hongkong sempat anjlok beberapa tahun yang lalu seharga 12
ribu per kilogram, hal itu disebabkan over produksi karena banyaknya
peternak ulat hongkong. Namun beberapa tahun terakhir harga stabil di
kisaran 20-30 ribu per kilogram.






Serangga Tenebrio Molitor, Induk Ulat Hongkong


Serangga Tenebrio Molitor,Induk Ulat Hongkong




Ulat hongkong sebenarnya adalah fase larva dari serangga bernama latin Tenebrio Molitor.
Serangga berwarna hitam ini merupakan serangga pemakan biji-bijian.
Dalam Fase hidupnya serangga T.Molitor ini terdiri dari 4 siklus hidup
, yaitu telur –> larva(ulat Hongkong) –> kepompong –> ulat dewasa/Serangga.
Siklus seperti ini bisa berlangsung dalam waktu 3 sampai 4 bulan.
Larva atau ulat hongkong ini akanmengalami pergantian kulit sebanyak 15
kali sebelum akhirnya berubah menjadi kepompong. Pada saat berganti
kulit inilah saat yang tepat untuk diberikan kepada ikan hias, karena
zat kitin yang terkandung pada kulit ulat hongkong tidak bisa dicerna
oleh ikan.




Cara Budidaya Ulat Hongkong


Jika anda tertarik menekuni usaha sampingan budidaya ulat hongkong
langkahnya cukup mudah yang diperlukan hanyalah ketelatenan dan bisa
dilakukan di rumah. Langkah-langkah budidaya ulat Hongkong:

- Siapkan kandang pemeliharaan berupa papan triplek, atau bisa dengan nampan plastik. Ukuran sesuaikan dengan kebutuhan. Jika memakai triplek atau papan sudut-sudut diberi lakban agar ulat tidak kabur.

- Siapkan media pemeliharaan berupa campuran dedak halus(Polard) dan ampas tahu kering, bisa dibeli di toko pakan ternak.

- Telur ulat hongkong yang dibeli dari peternak, atau jika kesulitan
bisa membeli ulat hongkong kemudian dibudidayakan hingga menjadi
serangga dan kemudian bertelur.

- Makanan ulat hongkong bisa diberikan limbah sayuran, timun,
pepaya,jipang dan bahan makanan lainnya yang mengandung banyak air.






Kandang Ulat Hongkong Dari Papan Triplek ditumpuk


Kandang Ulat Hongkong Dari Papan Triplek ditumpuk




Kunci dari budidaya ulat hongkong ini adalah ketelatenan dalam melakukan pemeliharaan.
Jika tidak teliti terkadang ada hama sejenis ulat hongkong yang
berukuran lebih kecil numpang hidup pada media, namun ulat kecil ini
bersifat kanibal dan memakan ulat-ulat hongkong yang lain sehingga
produksi menurun. Biasanya ulat jenis ini datang dari media dedak halus
dan dari lingkungan sekitar. Anda ingin memiliki usaha sampingan?
Mungkin budidaya Ulat hongkong bisa menjadi pilihan. Selamat menekuni
bisnis budidaya ulat Hongkong.(Galeriukm).






Kamis, 10 Mei 2012

Budidaya Ikan dengan Teknologi Surya







 Kamis, 10 Mei 2012
15:03 wib








Foto : UGM




Foto : UGM



JAKARTA - Inovasi dan kreativitas menjadi
kunci utama yang harus dipegang teguh oleh generasi muda Indonesia. Hal
ini yang mendasari mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta,
dalam mengembangkan pemanfaatan energi surya untuk mendukung usaha
perikanan di desa Sendangsari, Minggir, Sleman, Yogyakarta.



Para
mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Program Kreativitas Mahasiswa
(PKM) untuk pengabdian masyarakat ini membudidayakan diseminasi
teknologi tepat guna berupa pemasangan 10 panel surya untuk menyuplai
kebutuhan listrik untuk aerasi kolam pembibitan ikan gurame dan udang
galah. Untuk mengenalkan teknologi ini di kalangan petani ikan, empat
orang mahasiswa teknik UGM memberikan pelatihan dan pendampingan
pengoperasian dan perawatan teknologi sel surya kepada kelompok tani
budidaya ikan ‘Sembada Mina Mandiri’.



Saat ini sudah beroperasi
sistem penyedia energi yang berasal dari 10 panel surya dengan kapasitas
1.000 Wp yang dibantu oleh Kementerian Riset dan Teknologi
(Kemenristek). “Sejauh ini sudah dimanfaatkan untuk aerasi untuk 10
kolam bibit dan mampu menyuplai energi untuk penerangan tiga lampu di
sekitar areal kolam,” kata Igib Prasetyaningsari, salah satu mahasiswa
anggota kelompok PKM, seperti dinukil dari laman UGM, Kamis (10/5/2012).



Igib
mengatakan, penggunaan aerator dimaksudkan untuk menyuplai oksigen yang
mencukupi pada kolam sehingga memberikan kemungkinan terbaik untuk ikan
hidup dan berkembang. “Aerator juga dapat menghasilkan pergerakan air
yang biasanya disukai oleh ikan,” kata mahasiswi jurusan Teknik Fisika
tersebut.



Program pemberdayaan masyarakat dalam penggunaan energi
terbarukan, menurut Igib, dapat mendukung kegiatan usaha perikanan.
Dengan keberadaan listrik secara gratis, tentunya akan mengurangi biaya
produksi, di samping penerangan dan aerasi kolam. Dengan demikian,
diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



“Kami
ingin memberikan inspirasi, ilmu dan contoh nyata bagi wilayah-wilayah
di sekitarnya dalam memanfaatkan teknologi energi terbarukan untuk
mendukung kegiatan perekonomian mereka,” ujarnya menambahkan.



Ketua
kelompok budidaya ikan ‘Sembada Mina Mandiri’ Anwar Hadi mengaku,
mendapatkan manfaat dari pemasangan aerasi untuk kolam pembibitan.
Pasalnya, inovasi ini mampu mengunrangi angka kematian bibit benih ikan
yang sebelum mencapai 60-90 persen. Bahkan, adanya lampu yang
ditempatkan di sekitar areal kolam menurut Anwar mampu mencegah
datangnya hewan pemangsa seperti kelelawar yang suka memakan ikan-ikan
peliharaan.



Dari 10 kolam bibit seukuran 1x2 m ini, masing-masing
mampu menghasilkan 2.000-4.000 ekor ikan untuk setiap kali panen per
dua minggu. Untuk benih ikan seukuran "cupu" ini dijual Rp100-Rp150 per
ekor. “Sementara ini masih dibeli oleh anggota kelompok tani sendiri
yang mengelola kolam seluas 5 ha,” kata Anwar.



Keberadaan
teknologi sel surya bagi Anwar bersama tiga rekannya mendatangkan
konsekuensi untuk tahu bagimana merawat dan menjaga panel surya dalam
kondisi baik. Tidak hanya rutin membersihkan panel, tapi juga harus
lihai memperbaiki apabila ada salah satu komponen yang rusak. “Tidak
masalah, yang penting kualitas bibit ikan selalu terjaga dengan baik.
Kualitas bibit sangat menentukan hasil akhir pertambakan,” tuturnya.(mrg)(rfa)




http://kampus.okezone.com/read/2012/05/10/373/627211/budidaya-ikan-dengan-teknologi-surya 








Senin, 07 Mei 2012

Ade Suhidin Profit Sharing dari Kandang Bebek










Ade Suhidin lebih suka disebut peternak. Walaupun, lulusan ALA Berkley, Los Angeles, AS ini konglomerat dan pebisnis ulung. Ia adalah direktur utama PT Adess Sumberhidup Dinamika (Addfarm), perusahaan peternakan bebek yang beroperasi dengan sistem bagi hasil (profit sharing).

Saat ini Ade mempunyai mitra investor sebanyak 3.000 orang. Modal yang berhasil dihimpun dari mereka mencapai miliaran rupiah. Bisa jadi karena janji keuntungan hingga 44 persen per tahun, Addfarm tak sepi dari investor baru.

''Bahkan, kami sempat mempunyai investor hingga 8.000 orang. Tapi, yang aktif kini tinggal 3.000 orang saja,'' ujarnya kepada Republika, di sela-sela acara family gathering Addfarm, beberapa waktu lalu di Cirebon. ''Saya tak tahu persis mengapa mereka menarik diri, tapi saya juga optimis sistem yang kami kembangkan ini akan menarik lebih banyak investor lagi.''

Berawal dari modal Rp 200 juta saat mendirikan perusahaan peternakan itu pada 1995, kini aset yang dimiliki lelaki tinggi besar (38) asli Cirebon itu telah berkembang hingga Rp 140 miliar. Dalam dua tahun terakhir Addfarm membukukan keuntungan Rp 40 miliar. Usahanya pun tak lagi mengandalkan produk bebek semata. Ade kini juga mulai merambah perhotelan, pariwisata, dan penerbitan.

Tak lama lagi, jika programnya lancar, penikmat lagu-lagu God Bless itu akan mempunyai perusahaan asuransi sendiri, dan bahkan bank sendiri. ''Sementara ini masih berupa wacana. Namun, kami serius untuk merealisasikannya. Bukan apa-apa, asuransi dan bank sangat penting untuk mendukung usaha ternak bebek,'' lanjutnya.

''Kedua bidang itu selama ini kelihatannya belum sepenuhnya percaya kepada kami. Karena itu kami merasa perlu memiliki sendiri,'' imbuh suami Rina Damayanti itu. ''Asuransi penting untuk mengantisipasi risiko usaha.''

Ade mengaku dapat seperti sekarang tanpa bantuan dana dari bank. Dulu ia sempat meminjam degan syarat macam-macam dan sulit. ''Akhirnya saya berpikir bagaimana caranya mengembangkan usah tanpa bantuan dana bank,'' kenangnya.

Menurutnya, kemitraan dan niat baik berbagi keuntungan dengan orang lain menjadi kunci sukses. Berbagi keuntungan bukan hanya dilakukannya dengan para pemilik uang, namun juga dengan orang-orang kecil di sekitarnya. Kemudian muncullah konsep bisnis profit sharing ternak bebek itu.

Dalam bisnis ini Ade bermitra dengan para peternak sungguhan. Merekalah yang angon (menggembala) bebek milik para investor yang rata-rata orang kota. Ade mengaku ingin membantu mengentaskan kemiskinan di daerah kelahirannya. ''Kini para peternak bisa meraih pendapatan lumayan setiap bulannya. Desa-desa pun terbebas dari tawuran antarkampung karena pemudanya tidak lagi menganggur,'' imbuhnya.

Selama tujuh tahun Ade membangun ''kerajaan bebeknya.'' Ia mempuyai resep tersendiri mewujudkan usahanya itu. ''Yang mungkin membedakan saya dengan orang lain adalah cara memandang suatu hambatan. Saya selalu melihatnya sebagai suatu tantangan yang tetap harus ditaklukkan.''

Sabtu, 05 Mei 2012

SERI PETERNAKAN MODERN : BUDIDAYA SEMUT KROTO














Harga : Rp. 30.300,-

PELUANG BESAR MENJADI JUTAWAN

I Pohon I Bambu I Toples I Paralon I



- Habitat dan perilaku semut rangrang di alam dan upaya penangkarannya

- Teknik mengambil semut kroto di alam

- Prospek budidaya semut rangrang penghasil kroto

- Analisis usaha budidaya semut rangrang

- Teknik menyimpan kroto agar lebih awet

- Kisah-kisah pencari kroto di alam liar





Synopsis :


Budidaya semut rangrang penghasil kroto kini sedang naik daun. Semut ini
memiliki potensi mendatangkan uang sampai jutaan rupiah per bulannya.
Namun, tampaknya sulit menemukan refrensi buku yang membahas masalah
pembudidayaan kroto yang lengkap dan langsung bisa dipraktikkan.
Sebagian orang yang memang tahu tentang ilmu ini, tampaknya pelit untuk
membagi pengetahuannya. Sehingga usaha budidaya semut rangrang belum
banyak dilakukan (belum memasyarakat).




Untuk mengetahui ilmunya, Anda diharuskan mengikuti pelatihan dengan
biaya ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Sementara dengan buku ini, Anda
tidak perlu mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah. Dengan memiliki buku
ini Anda sudah bisa menjadi pebisnis kroto, karena ilmu yang tadinya
disembunyikan kini dibongkar habis-habisan.




Didalam buku ini dijelaskan secara gamblang bagaimana menagkarkan semut
rangrang baik dengan atau tanpa pohon. Kalau Anda tidak mempunyai kebun
dan hanya memiliki sedikit didalam rumah, tetapi ingin sekali budidaya
semut rangrang, maka buku ini adalah jawabannya. Cukup dengan sedikit
lahan, Anda bisa budidaya dengan media toples, bambu, dan paralon bekas.
Berapa keuntungannya? Yang jelas, kalau mampu rutin bisa sampai jutaan
rupiah. Selamat membaca dan mempraktikkan.




UNTUK PEMESANAN BUKU via SMS (0852.57090.372) 


Ketik : Judul Buku Lengkap + Alamat Pengiriman Buku








Kunjungi Website : KLIK DISINI








Melayani Pengiriman ke seluruh Nusantara :

Pulau
Sumatra Nanggroe Aceh Darussalam NAD Daerah Istimewa Ibu Kota Banda
Aceh Sumatera Utara Sumut Medan Sumatera Barat Sumbar Padang Bengkulu
Bengkulu Riau Pekan Baru Kepulauan Riau Kepri Tanjung Pinang Jambi Jambi
Sumatera Selatan Sumsel Palembang Lampung Bandar Lampung Kepulauan
Bangka Belitung Babel Pangkal Pinang Pulau Jawa DKI Jakarta Daerah
Khusus Ibu Kota Jakarta Jakarta Jawa Barat Jabar Bandung Banten Serang
Jawa Tengah Jateng Semarang DI Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta
Yogyakarta Jawa Timur Jatim Surabaya Pulau Kalimantan Kalimantan Barat
Kalbar Pontianak Kalimantan Tengah Kalteng Palangkaraya Kalimantan
Selatan Kalsel Banjarmasin Kalimantan Timur Kaltim Samarinda Nusa
Tenggara Bali Denpasar Nusa Tenggara Barat Mataram Nusa Tenggara Timur
Kupang Pulau Sulawesi Sulawesi Barat Sulbar Mamuju Sulawesi Utara Sulut
Manado Sulawesi Tengah Sulteng Palu Sulawesi Selatan Sulsel Makasar
Sulawesi Tenggara Sultra Kendari Gorontalo Gorontalo Kepulauan Maluku
dan Pulau Papua  Maluku Ambon Maluku Utara Ternate Papua Barat Sorong
Papua Daerah Khusus Jayapura Papua Barat Daerah Khusus Manokwari